Telaah Ringkas Novel Kau Bidadari Surgaku

HMINEWS.COM, Secara genre, novel Kau Bidadari Surgaku, termasuk dalam novel religi, atau novel islami, salah satu genre novel yang belakangan mulai populer, novel ini pada dasarnya tidak rumit, pembaca dari berbagai kalangan, akan mudah menemukan pesan dibalik teks novel tersebut, hal ini karena paparannya terbilang sederhana, gamblang, serta tak berbelit – belit, penulisnya mencoba mengangkat realitas sosial di sekitar kita, kejadian yang sering terjadi di lingkungan perkotaan, khususnya kota metropolitan, setting cerita mengambil tiga tempat: Jakarta, Bandung dan Kroya, novel ini menyajikan dilema kaum perempuan yang mencoba keluar dari ingkungan kerja yang telah merusak dirinya, apa yang dialami Marwah, sang tokoh utama, juga banyak dialami perempuan lain yang merantau ke ibukota, bahkan banyak diantara mereka yang menjadi korban perdagangan manusia, nasib Marwah masih lebih beruntung, ia sebatas menjadi wanita panggilan, aktifitas yang di kemudian hari ia tinggalkan.

Minimal ada dua sisi kehidupan yang dikupas dalam novel ini: agama dan kompleksitas sosial, agama menjadi topik utama dari ke duanya, bahkan beberapa Ayat Al Qur’an menghiasi novel ini, Marwah digambarkan sebagai tokoh utama yang mencoba kembali ke jalan Islam, dalam usahanya ini, ia terlibat pertarungan sengit dengan dirinya sendiri, antara tetap menjadi wanita panggilan dengan bergelimang uang, uang itu ia butuhkan demi menjaga status keluarganya di kampung agar tetap dihormati, atau kembali menjadi muslimah taat, dengan konsekuensi kehilangan uang yang selama ini didapat secara instan, lalu memulai hidup dari nol, semua berawal saat Marwah bertemu Hamzah, laki – laki yang menginspirasinya untuk kembali ke jalan benar, sekaligus ia memendam cinta diam – diam pada lelaki tersebut, dilema yang dialami Marwah untuk kembali ke jalan lurus, merupakan sindiran terhadap realitas masyarakat terkini, bagi masyarakat, orang yang telah dilabeli negatif, cenderung dijauhi, seolah tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk insaf, situasi ini menyebabkan orang bersangkutan, menjadi semakin nyaman dalam zona kesalahan.

Dari sisi kompleksitas sosial, novel ini menyajikan sisi kelam hidup di ibukota bagi mereka yang tidak punya keterampilan hidup, ini pula yang melanda Marwah, dengan maksud mengangkat kualitas hidup keluarga, ia lalu merantau ke ibukota, malangnya dirinya justru menjadi korban penipuan dari oknum yang menjanjikannya menjadi pembantu, situasi sulit ini, memaksa Marwah menerjunkan diri ke dalam dunia kelam, walaupun telah diperingati sahabatnya, shinta, namun saat itu ia merasa tak punya pilihan lain, novel ini juga menggambarkan betapa kejamnya dunia malam, selalu ada potensi menjadi korban kejahatan lain, itu yang dialami Shinta, saat ia harus berurusan dengan pihak berwajib karena dikaitkan kasus korupsi, walaupun ia sekadar menemani tamunya saja, yang ternyata seorang koruptor, saat digeledah KPK, ada ragam kompleksitas sosial yang disinggung dalam Bidadari Surgaku, bukan hanya korupsi, tapi juga kenaikan BBM dan rumitnya kehidupan kaum miskin, bagian ini memang tidak menjadi cerita utama, namun pesan sosialnya tetap tersampaikan.

Penulis, dalam novelnya, berupaya menyajikan pemahaman keislaman yang moderat, terbuka terhadap perbedaan tafsiran, juga penghargaan terhadap agama lain, penulis melihat Islam dari sisi keberagaman, sekaligus mengkritik pemahaman Islam yang sangat literal, hal itu tertuang saat tokoh utama menanggapi prilaku adiknya, sepertinya penyajian ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan penulis, terutama latar belakang pemahaman keislamannya yang disemai di lingkungan pesantren.

Nuansa asmara terlihat kental dalam novel ini, nuansa asmara tersebut dibalut dalam konteks Ajaran Islam, boleh dikata asmara menjadi bahan perbincangan dominan dalam Bidadari Surgaku, modelnya terbilang klasik, menceritakan cinta segitiga, antara Marwah, Hamzah dan Shafa, pilihan Hamzah terhadap Marwah, yang notabenenya keluarga kelas atas, ditambah rekam jejak kelam Marwah di masa lalu, serta penolakannya terhadap Shafa, yang berasal dari keluarga konglomerat, juga merupakan drama cinta klasik, yang membuat drama cinta mereka menjadi berbeda, karena drama cinta ini terekspresikan dalam bentuk ajaran Islam, mulai saat Hamzah memiliki rasa terhadap Marwah, begitupun sebaliknya, Marwah yang menaruh harapan pada Hamzah, namun Hamzah tak sekalipun menyentuh Marwah dalam mengekspresikan cintanya, apalagi memacarinya, justru Hamzah memilih melamar Marwah setelah merasa cukup kenal dengannya, cara ini sengaja digambarkan secara jelas, untuk menampik anggapan bahwa pacaran merupakan cara satu – satunya menuju pelaminan, bahkan ada beberapa kalimat kritikan terhadap konsep pacaran dalam novel ini.

Benar novel ini terlihat sederhana, tapi beberapa bagian ceritanya tidak mudah ditebak begitu saja, pada beberapa bagian, terdapat beberapa kejadian, yang bisa menampik prediksi mapan pembaca, semisal diagnosa palsu yang diberikan dokter kepada Marwah, ketidaktenangan Hamzah dalam mengambil keputusan, sehingga berujung pada penalakan istrinya, padahal sejak awal, Hamzah digambarkan sebagai sosok tenang dan matang, hingga meninggalnya Marwah sesaat setelah Hamzah menyadari kekeliruannya, dan juga mencabut talaknya, semua ini terjadi pada bagian akhir cerita, jika mengikuti prediksi mapan, maka pembaca bisa saja beranggapan bahwa puncak konflik, berada pada tarik ulur lamaran Hamzah ke Marwah, setelah itu mereka hidup bahagia hingga tua, namun prediksi semacam itu, tidak berlaku untuk novel ini, justru di bagiaan setelah pernikahan, penulisnya menyajikan drama ringan yang justru merupakan klimaks dalam novel ini, dan disinilah nilai lebih Kau Bidadari Surgaku dari segi alur cerita.

Penulis: Zaenal Abidin Riam

‘Yang Utama’, Buku Baru tentang H.O.S Tjokroaminoto

HMINEWS.Com – Aji Dedi Mulawarman, doktor akuntansi syariah di Universitas Brawijaya, Malang, menulis buku tentang Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto dengan judul ‘Yang Utama.’ Buku ini akan diluncurkan April mendatang.

Dalam bukunya yang diterbitkan oleh Penerbit Galang Press ini, Aji Dedi mengungkapkan banyak hal yang belum diketahui oleh khalayak tentang tokoh Sarekat Islam yang dijuluki ‘Raja Tanpa Mahkota’ tersebut. Bahkan fakta dan data yang dibantah oleh keluarga Cokro sendiri. Di antaranya adalah bahwasannya Tjokro merupakan satu di antara sedikit tokoh ‘priyayi’ pada zaman kolonial yang menanggalkan gelar kebangsawanannya dan memilih membaur dan bergerak bersama orang kecil.

“Tjokro menghilangkan gelar ‘Raden Mas’ di depan namanya yang merupakan identitas priyayi Jawa sebagai simbol anti aristokrasi,” ungkap Aji Dedi dalam suatu pertemuan di sebuah hotel di Jakarta, Ahad (1/3/2015) dinihari.

Tak hanya itu, gelar ‘Haji Oemar Said’ pun ia singkat menjadi ‘H.O.S’. Menurut Aji Dedi, ini merupakan bentuk konsistensi Tjokro pada Islam Kerakyatan dan anti aristokrasi. Sebagaimana tertulis dalam sejarah, Tjokro merupakan anak seorang pejabat pemerintah waktu itu, sedangkan kakeknya merupakan Bupati Ponorogo.

Aji Dedi mengungkapkan, Tjokro mengajarkan kepada kita semangat anti borjuasi, menghormati persamaan kedudukan manusia di hadapan Allah, sebagaiman yang dicontohkan oleh Nabi. Meski begitu, pembelaan Tjokro tidak hanya terhadap orang kecil sebagaimana sosialisme Marx, tetapi ia berusaha merangkul dan menyadarkan semua golongan. Maka tak heran jika Sarekat Islam yang dipimpinnya itu mempunyai anggota dari semua lapisan masyarakat dan mencapai jumlah yang sedemikian besarnya, tak tertandingi untuk ukuran zaman itu.

Besar dan kuatnya Sarekat Islam, semasa masih berupa ormas maupun setelah menjadi partai politik, juga tak lepas dari pola perkaderan yang diterapkannya. Pada waktu itu, masa perkaderan calon anggota SI memakan waktu hingga 6 bulan. Dalam perkaderan ini hanya disampaikan 3 hal dengan tiga orang pemateri; yaitu materi ‘Islam’ yang disampaikan KH. Mas Mansur, ‘Sosialisme’ yang disampaikan oleh Suryopranoto, serta ‘Islam dan Sosialisme’ oleh Tjokroaminoto sendiri.

Jika saat mengikuti materi ‘Islam’ dan ‘Sosialisme’ para peserta mengantuk, maka berbeda sama sekali ketika mereka mengikuti pemaparan tentang ‘Islam dan Sosialisme.’ Semua mengikuti dengan penuh antusias dan tidak ada yang mengantuk. Hal ini tak lepas dari retorika Tjokro yang luar biasa, yang kemudian hal ini pula yang tak diluputkan untuk dipelajari oleh Sukarno darinya.

Adapun kontroversi tentang sosok Tjokro, menurut Aji Dedi, tak lepas dari upaya pembunuhan karakter oleh pihak kolonial. Di antaranya adalah bahwa pernikahan kedua Tjokro, dengan seorang seniwati, selalu dihembuskan sebagai tindakan yang tidak terpuji. Hal ini pula, ketika Aji Dedi mencoba mengkonfirmasikan ke keluarga Tjokro, terlihat keengganan mereka membicarakannya.

Aji Dedi berkeyakinan, wanita dalam pernikahan kedua Tjokro tetap merupakan orang baik-baik. Tak mungkin Tjokro salah memilih atau terjebak dalam urusan ini. Juga, fitnah yang ditujukan kepada Tjokro pada periode akhir hayatnya, yitu fitnah menggelapkan uang organisasi.

Dalam banyak kesempatan berkunjung ke daerah-daerah Tjokro selalu menggunakan uang pribadinya untuk kepentingan partai. Bahkan tak jarang ia sampai harus berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya, naik turun gunung untuk menjangkau rakyatnya.

Jika Tjokro terindikasi menggelapkan uang partai, maka tak mungkin orang-orang seperti Haji Agus Salim terus membersamainya hingga akhir hayatnya.

Penasaran dengan kisah lengkap H.O.S. Tjokroaminoto? Nantikan buku ‘Yang Utama, Jejak H.O.S. Tjokroaminoto.’

Luncurkan Empat Buku, FAM Indonesia Rayakan Ulang Tahun Ketiga

HMINEWS.Com – Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia memperingati hari lahirnya yang ke-3 pada Ahad (1/3/2015). Helat ultah ditandai dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama sebagai tanda syukur atas eksisnya komunitas penulis yang berbasis di Pare, Kediri, Jawa Timur itu.

Di momen bahagia tersebut juga diluncurkan empat buku, yaitu “Sajak-Sajak Dibuang Sayang” (kumpulan puisi) karya Muhammad Subhan, “Sepucuk Surat Beku di Jendela” (kumpulan cerpen) karya Aliya Nurlela, “Glosarium Istilah Perpustakaan” dan “Serba-Serbi Koleksi Perpustakaan” (buku referensi perpustakaan) karya Suharyanto. Keempat buku karya pegiat dan anggota FAM Indonesia tersebut diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia.

Perayaan Ultah ke-3 FAM Indonesia dihadiri sejumlah anggota dan simpatisan FAM yang datang dari berbagai kota di Tanah Air, di antaranya Takengon (Aceh), Padangpanjang (Sumatera Barat), Ciamis (Jawa Barat), Kolaka (Sulawesi Tenggara), Toli-Toli (Sulawesi Tengah), Pare, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Lamongan, Surabaya (Jawa Timur), dan Papua.

Selain pemotongan tumpeng, juga dibacakan refleksi 3 tahun FAM Indonesia yang merupakan ulasan singkat perjalanan komunitas penulis itu sejak berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 lalu. Ketum FAM Indonesia Muhammad Subhan menyampaikan kilas-balik sejarah lahirnya FAM Indonesia yang bermula dari dunia maya lalu berkembang di dunia nyata.

“Semoga semangat gerakan menulis dari kota Pare ini bisa meluas hingga ke seluruh penjuru Tanah Air,” katanya.

Muhammad Subhan menyebutkan, FAM Indonesia ingin melanjutkan gerakan yang telah dibuat banyak penulis di masa lalu, yaitu gerakan cinta membaca buku dan menulis karangan. Gerakan itu harus dilakukan bersama-sama.

Fathur Rohim Syuhadi, anggota FAM Indonesia asal Lamongan dan Suryadi asal Malang menyampaikan syukur dan antusiasnya atas perjalanan FAM Indonesia yang telah mencapai usia tiga tahun. Di tahun-tahun berikutnya harapan mereka FAM semakin eksis dan terus menyebarkan semangat menulis, khususnya di kalangan pelajar.

Sementara itu, Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela memberikan motivasi khususnya kepada anggota FAM yang hadir untuk tidak pernah berhenti menulis. “Titik jenuh mungkin ada dan itu lumrah, tapi bagi seorang penulis tangguh tak kenal kata jenuh apalagi berhenti,” kata penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” itu. (rel)

Mendikbud Buka Islamic Book Fair 2015

HMINEWS.Com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, membuka Islamic Book Fair ke-14 di Istora Senayan, Jakarta. Dalam kesempatan ini ‘Mas Menteri’ juga menyampaikan sejumlah hal, terutama mengenai pentingnya buku dan kegiatan membaca.

“Pentingnya buku, dan pentingnya membaca adalah pesan yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan Al-Qurán yang agung pun disebut dengan nama ‘Kitab.’ Perintah membaca ada dalam wahyu pertama, Iqra’ bismi rabbika, dan walaupun ditujukan lewat Nabi yang tidak pandai membaca, ini menunjukkan pentingnya bacaan,” kata Anies Baswedan, Jumat (27/2/2015).

Menurut Mendikbud, dalam pandangan Islam, ada ungkapan yang sangat populer bahwa sebaik-baik teman adalah buku. Karena buku dapat mempengaruhi emosi – membawa kegembiraan dan kebanggaan atau sebaliknya. Buku juga teman yang luar biasa tulus, menyampaikan apa adanya.

Dalam konteks kebudayaan, Mendikbud menyatakan, buku menggambarkan peradaban dalam konteks masyarakatnya. karenanya di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, dan di pameran (Islamic Book Fair) ini pun kita melihat bahwa buku-buku Islami itu bukan hanya yang berbicara tentang berbagai aspek ibadah maupun aqidah, namun yang mencerminkan nilai-nilai dan budaya yang sejalan dengan Islam.

“Buku-buku Islami sangat luas berbicara tentang kedamaian, keadilan, tanggung jawab pada alam, profesionalisme dalam bekerja, penghormatan pada negara, dan lain sebagainya,” ujar Anies Baswedan.

Menurut Mendikbud, dukungan pada industri perbukuan juga merupakan sebuah pesan tegas menciptakan peradaban yang lebih baik. Dalam kaitan ini komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini ditunjukkan lewat dukungannya pada peran Indonesia sebagai guest of honour di Frankfurt Book Fair 2015, yang akan berlangsung beberapa bulan mendatang.

Menteri Anies Baswedan melihat dari sisi pendidikan, buku terbukti merupakan alat belajar-mengajar yang sangat efektif untuk memberdayakan siswa, guru dan semua pihak yang terlibat.

“Penggunaan berbagai jenis buku yang beragam sebagai sumber belajar dan dukungan dari Pemerintah untuk menyebarluaskan konten dan pemikiran yang inovatif menjadi bagian yang sangat penting dari upaya peningkatan mutu dan juga pemerataan akses pendidikan,” kata Anies yang juga menyebut bahwa peningkatan akses terhadap pendidikan merupakan salah satu dari tiga kerangka strategis (Trisentra) Kemendikbud.

Pertama, penguatan pelaku pendidikan dan kebudayaan. Kedua, percepatan peningkatan mutu dan akses pendidikan. Ketiga, pengembangan efektifitas birokrasi pendidikan melalui perbaikan tata kelola dan pelibatan publik.

Satu hal lagi yang penting, menurut Menikbud, adalah pembentukan kebiasaan membaca yang baik, setiap hari, yang dibangun di sekolah dan rumah lewat berbagai upaya.

“Pembaca yang baik, akan menjadi bagian dari pemikir dan orang-orang yang berkarya dengan baik bagi Indonesia,” kata Anies Baswedan.

Ikhsan Hasbi Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kearifan Lokal

HMINEWS.Com – Ikhsan Hasbi, penulis muda asal Kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kearifan Lokal. Cerpennya berjudul “Apam” menyisihkan 57 cerpen karya peserta lainnya yang berasal dari berbagai kota di Tanah Air. Juara 2 diraih Raflish Chaniago (Painan, Sumatera Barat) dengan judul cerpen “Mamak”, sementara Juara 3 diraih Farihatun Nafiah (Jombang, Jawa Timur) dengan judul cerpen “Gerdu Papak”.

Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional yang dihelat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia itu, menurut Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela, pemenangnya diumumkan pada Rabu (12/11/2014), malam di Pare, Kediri, Jawa Timur.

“FAM Indonesia mengucapkan selamat kepada para pemenang, dan terima kasih kepada peserta yang ikut berpartisipasi,” ujar Aliya Nurlela, Kamis (13/11) siang.

Dia menyebutkan, selain mengumumkan pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih tujuh cerpen pilihan, yaitu karya: Reffi Dhinar, Sidoarjo-Jawa Timur (Nyadran), Latiffah Fajar Rahayu, Klaten-Jawa Tengah (Tenong Bu Sri), Jane Yova C, Palangkaraya (Saat Katiow Berbuah), Ana Nasir, Medan (Charles, Aku Keturunan Mandailing), Cinta Okta Edverliano, Semarang (Wamena Oh Wamena), Ajeng Mawaddah Puyo, Gorontalo (Satu Nol Nol Nol Lebih Alasan), dan Amrul Fajri, Sigli-Aceh (Prahara Meugang).

“Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia memberikan sejumlah hadiah sebagai kenang-kenangan berupa uang tunai, paket buku dan piagam penghargaan,” ujar Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh.”

Ditambahkan, lomba tersebut telah dimulai sejak tanggal 1 Oktober 2014 dan ditutup pada 31 Oktober 2014. FAM Indonesia menerima 58 naskah cerpen. Dari jumlah itu, sebanyak 35 naskah terpilih dibukukan, termasuk karya nominator dan pemenang.

“Setelah membaca keseluruhan naskah, menilai kesesuaian isi dan tema, teknik penceritaan, gaya bahasa dan EYD, serta amanat yang disampaikan penulis kepada pembaca, maka tim juri memilih tiga cerpen yang layak menjadi juara,” ujarnya. (rel)

Relawan Terbitkan Buku Perjalanan Kampanye Jokowi

Buku JokowiHMINEWS.Com – Berbarengan dengan pelantikan Jokowi-Jusuf Kalla, Penerbit Bentang (Grup Mizan) menerbitkan sebuah buku yang mengisahkan pernik-pernik perjalanan kampanye Jokowi bersama para relawannya.

Buku berjudul “Selamat Datang Presiden Jokowi” tersebut ditulis oleh para relawan dan simpatisan Jokowi seperti komedian Pandji Pragiwaksono, penulis Dewi (Dee) Lestari, aktivis Usman Hamid, dan sebagainya.

Menurut salah satu penulis, M Chozin Amirullah, buku tersebut merupakan catatan-catatan berserakan dari para penulis yang kemudian dikumpulkan oleh penerbit.

“Penerbit Bentang Pustaka yang berjasa mengkompilasi berbagai tulisan relawan dan diwujudkan dalam sebuah buku. Setidaknya itu akan menjadi catatan sejarah mengenai hiruk-pikut perhelatan politik ke arah perubahan baru yang lebih baik,” ungkap mantan ketua umum PB HMI tersebut.

Chozin adalah salah satu relawan Jokowi yang berkesempatan mengikuti langsung perjalanan Jokowi keliling Indonesia selama satu bulan kampanye. Tulisan Chozin adalah petikan dari catatan perjalanannya bersama Jokowi selama sebulan tersebut.

Penerbit Bentang tidak mengkomersilkan buku tersebut, malah sengaja menggratiskannya. Versi e-book juga disediakan dan bisa didownload secara gratis di toko online Mizan.

Buku Kapita Umar Shihab Inspirasi dari Banyak Tokoh

bukuHMINEWS.Com – Menurut Prof. Dr. Umar Shihab, inilah orang-orang besar yang menginspirasinya menulis buku Kapita Selekta Mozaik Islam. Sebagaimana ia tulis dalam kata pengantar, pertama ada Dr. Mohammad Natsir (Ketua Masyumi), yang pernah memberinya buku ‘Capita Selecta’-nya yang terkenal itu dikala Umar Shihab masih SMA.

Di waktu itu Umar Shihab remaja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan tokoh yang pernah memimpin suatu partai yang mempersatukan semua partai Islam di Indonesia. “Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, memang memiliki cita-cita menjadi orang pandai. Seraya tersenyum, Pak Natsir megnatakan ‘Kamu harus banyak membaca dan belajar dari Abah, karena beliau orang alim!” tulisnya di paragraf pertama buku ini.

Buku Capita Selecta pemberian Pak Natsir itu ia baca halaman demi halaman, hingga akhirnya timbul harapan untuk bisa membuat buku seperti itu. “Tahun demi tahun harapan itu terngiang selalu, bahkan hingga saat setelah sarjana, sewaktu saya belajar di Kairo. Kini, setelah lebih dari lima dekade, keinginan saya untuk memebuat karya seperti Pak Natsir akhirnya dapat terwujud. Buku dengan judul Kapita Selekta Mozaik Islam ini tidak lain adalah terinspirasi dari karya Pak Natsir di atas.”

Kemudian ada tokoh Buya Hamka, yang pertama jumpa di Masjid As-Sa’id guna menghadiri perayaanMaulid Nabi. Buya sengaja diundang oleh Prof. Abdurrahman Shihab, ayah Umar Shihab, untuk berceramah.

Buya memberikan contoh toleransi dalam perbedaan sesama muslim, yaitu beliau ikut berdiri saat pembacan Maulid. Sedangkan dalam ceramahnya Buya Hamka mengajak hadirin pada persatuan Islam dan tidak mudah terpancing dan terprovokasi menanggapi isu-isu khlafiyah.

“Beliau menyebut bagaimana sikap Syafi’i saat berada di Baghdad, di mana mayoritas masyarakat muslim di sana penganut Hanafi. Wkatu salah subuh, Imam Syaafi’i tidakqunut. Orang bertanya, ‘Mengapa Anda tidak qunut?” Imam menjawab, “Aku menghormati penghuni kuburan di situ;” maksudnya adalah menghormati Abu Hanifah.”

Berturut-turut, tokoh lain disebutkan ada Abu Bakar Atjeh, Ustad Husain al-Habsyi pendiri Pesantren YAPI Bangil, Abdul Ghafar Ismail ayah dari Taufiq Ismail, yang dikenal sebagai mubalig ulung, yang juga dijuluki ‘pencerah qalbu.’ Ada pula A.R Baswedan,  yang pernah mendirikan Partai Arab Indonesia, serta K.H Saefuddin Zuhri, Menteri Agama di era Sukarno.

Semua tokoh tersebut juga menggambar beragamnya corak Islam di Indonesia, yang dengan demikian membuat Umar Shihab untuk berpandangan terbuka dan bisa menerima berbagai perbedaan itu sebagai suatu kekayaan atau khazanah yang patut dipelihara. Hal itu juga tak lepas dari corak yang diwariskan sang ayah, Prof. Abdurrahman Shihab, yang pada masanya merupakan tokoh yang dekat dengan semua kalangan.

Adapun buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama Tafsir Al Qur’an, yang membahas seputar orisinalitas Al Qurna, signifikansi dan relevansi aspek sosio-historis dalam penafsiran Al Qur’an, tafsir tematik, titik temu ijtiha dan tafsir.

Bagian dua membahas Ijtihad dan isu-isu kontemporer, perbedaan pendapat dan cara menyikapinya, dimanika sosial, signifikansi Islam terhadap perubahan perilaku dan pola pikir, dunia modern dan tantangannya terhadap Islam, serta manusia, hak asasi serta probelamtikanya.

Bagian tiga mengulas Hukum Islam dan Tantangan Zaman, meliputi hukum dalam ranah ibadah, pidana, perdata dan lainnya. Seputar pembaharuan hukum, orientasi hukum dalam Islam, serta fleksibiltas hukum dalam Al Qur’an. Buku setebal 464 halaman ini diberi pengantar oleh Din Syamsuddin.

Milad ke-75, Umar Shihab Luncurkan Buku

B0LsTvyCUAAKF0H
Prof. Dr. Umar Shihab memberikan buku kepada beberapa tamu kehormatan (foto: @khoirondurori)

HMINEWS.Com – Di usianya yang ke-75, Prof. Dr. Umar Shihab menerbitkan sebuah buku yang telah lama diidamkannya. Buku yang merupakan inspirasi dari sejumlah tokoh nasional yang pernah bertemu dan mewarnai corak keberagamaan sang professor.

Peluncuran buku digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014) malam. Dihadiri ratusan orang, termasuk sejumlah tokoh nasional seperti mantan Wapres Tri Sutrisno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan KH Ma’ruf Amin.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pertama dekat dengan Prof. Umar Shihab sewaktu sama-sama satu komisi DPR RI tahun 99 dan membahas Undang-undang, khususnya Undang-undang tentang penyelenggaraan haji dan undang-undang zakat. Saat itu Lukman Hakim Saifuddin pernah lebih dahulu berbicara, di forum, kemudian, Prof. Umar Shihab berbicara setelahnya, yang menyampaikan hal yang berbeda. Dengan itu ia pun mengetahui bagaimana keluasan ilmu Prof. Umar Shihab, sehingga..

“Sejak itulah saya kemudian tidak berani berbicara sebelum beliau bicara,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Din Syamsuddin, yang juga menyinggung apa yang ditulisnya dalam pengantar buku, menyampaikan tentang toleransi dan tafsir kontekstual atas problematika kontempores.

“Tasir semacam ini sejalan dengan ijtihad yang berfungsi sebagai instrumen yang dapat mengantisipasi sekaligus memberikan solusi bagi segala persoalan kemasyarakatan dalam dunia islam. Dua senjata intelektual Islam inilah, tafsir kontekstual dan ijtihad yang nantinya menghasilkan produk hukum maupun kebijakan yang menjadi jawaban bagi beragam persoalan yang datang,” ungkapnya.

Din juga menyinggung dinamika sunni-syiah, yang timbul pasca wafatnya Rasulullah. Untuk itu, ia mengajak, agar umat muslim Indonesia menyikapinya dengan arif, dan sebaiknya memakai ‘standar minimal’ dalam menilai keislaman seseorang, yaitu pengakuan atau persaksiannya terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini saja seharusnya bisa mencegah sesama muslim dari permusuhan.

Dari sekitar duaratus lebih hadirin, sebagian di antaranya merupakan masyarakat keturunan Arab. Di akhir acara, KH. Ma’ruf Amin membawakan doa untuk bangsa, para hadirin dan khususnya yang tengah berulang tahun ke-75, yaitu Prof. Dr. Umar Shihab sendiri. Seluruh peserta yang datang mendapatkan buku yang dicetak penerbit Mizan tersebut.

Sirikit Syah Terima FAM Writer Award 2014

Sirikit SyahHMINEWS.Com – Direktur Sirikit School of Writing (SSW) Dra. Sirikit Syah, M.A., yang juga pegiat literasi Kota Surabaya menerima FAM Writer Award 2014 yang diberikan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Wilayah Surabaya. Sirikit Syah merupakan tokoh literasi pertama yang menerima penghargaan itu.

Penghargaan diserahkan Koordinator FAM Wilayah Surabaya, Yudha Prima, dalam rangkaian kegiatan Diskusi Menulis bertajuk “Menjadi Keren dengan Menulis”, Ahad (14/9), di aula Perpustakaan Kota Surabaya, disaksikan puluhan pegiat literasi yang datang dari beberapa kota, di antaranya Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, dan Jombang. Turut hadir tokoh literasi lainnya, di antaranya Much Khoiri dari Jaringan Literasi Indonesia.

Koordinator FAM Wilayah Surabaya Yudha Prima lewat Siaran Pers Senin (15/9) di Surabaya mengatakan, Sirikit Syah adalah sosok pejuang literasi yang istiqamah dalam menekuni dunia kepenulisan.

“Selama puluhan tahun beliau banyak memproduksi karya-karya yang mencerahkan. FAM juga respect atas dedikasi beliau dalam membina generasi muda dengan mendirikan SSW. Selain itu, beliau juga sosok survival yang tak kenal menyerah dengan segala ujian hidup, meski harus terus menjalani kemoterapi secara rutin akibat kanker, namun itu tak membuatnya berhenti berkarya,” kata Yudha Prima.

Ditambahkan Yudha Prima, perjalanan literasi Sirikit Syah selama puluhan tahun di jalur kepenulisan telah dimulai sejak kelas 5 SD. Dengan menulis, beliau mendapatkan banyak reward, mulai dari beasiswa hingga sering diundang berkunjung ke mancanegara, salah satunya undangan dari Walikota San Fransisco.

“Award berupa plakat FAM Writer Award 2014 dan piagam ini semata bentuk perhatian kepedulian FAM Indonesia terhadap tokoh-tokoh peduli literasi,” ujarnya.

Acara tersebut juga merupakan pertemuan ke-20 dalam usia 2 tahun FAM Wilayah Surabaya. Pada kesempatan itu  FAM Surabaya memperkenalkan sejumlah buku karya pengurus dan anggota FAM Surabaya, di antaranya buku Jembatan Merah, Semanggi Surabaya, Meraih Impian, Menjadi Indonesia, dan juga Antologi Cerita Anak yang salah satu ceritanya didongengkan Cak Handoko.

Smada Muslim Competition

Sementara itu, SKI SMA Negeri 2 Surabaya menggandeng FAM Cabang Surabaya untuk menjadi juri lomba karya tulis ilmiah dalam ajang Smada Muslim Competition (SMC) 2014, Sabtu (13/9). Sebanyak sepuluh karya pelajar diuji di hadapan tiga juri, yaitu Eko Praseto (FAM Surabaya), Edy Hartolo Rayes dan Mashudi (keduanya Pengawas PAI Departemen Agama Surabaya).

Setelah melalui penilaian dari berbagai kriteria yang ditetapkan, diputuskan pemenang di antaranya: Juara 1 Rinaldiyanti Rukmana (judul karya: Peranan Sanggar Kepoedang dan Kudaireng Pada Sarana Dakwah dalam Membentuk Muslim Exist Generations), Juara 2 Fatmah Cholid Bawazir (Hijab For A Healthier Life), dan Juara 3 Sandy Gio Pratama (Danadyaksa Pandawa).

Kompetisi bertema “Young Exist Generation of Muslim” itu secara resmi pemenangnya diumumkan bersamaan tabligh akbar Ahad (14/9) di halaman SMA Negeri 2 Surabaya. (rel)

Bule Hunter Nyaris Terjebak Trafficking

buhunBule hunter alias pemburu bule merupakan orang—laki-laki maupun perempuan—yang mengejar orang kulit putih dari Amerika, Australia maupun Eropa. Pengejaran yang dimaksud adalah untuk menjadikan Sang Bule sebagai pendamping hidup, sebagai pacar, suami, klien dalam bisnis prostitusi, ataupun teman kencan saja.

Apa istimewanya bule? Fisik, isi dompet hingga kehidupan seks dikupas gamblang dalam buku Bule Hunter, yang ditulis Elisabeth Oktofani, wartawan salah satu media outlet yang sedang berkembang di Indonesia. Sebelumya, Fani juga pernah menjadi reporter di Jakarta Globe, dan kontributor lepas di Khabar Southeast Asia.

Dengan latar belakang sebagai jurnalis, Fani menuliskan kisah-kisah para perempuan pemburu bule dengan lugas dan berdasarkan fakta, wawancara serta investigasi yang ditemuinya di lapangan. Cetta Padma Rini, rela meninggalkan Henry suaminya yang sangat mencintainya dan memanjakannya dengan uang untuk menerima tawaran Martin, mantan pacarnya yang berasal dari Jerman. Martin menawarkan uang sebesar 5,000 euro jika Cetta dapat mengirimkan satu perempuan Indonesia untuk dijadikan sebagai pelacur di Eropa.

Keadaan membuat Cetta nyaris terjerumus dalam trafficking karena Henry suaminya tiba-tiba saja bangkrut dan mengungkit-ungkit uang pemberiannya kepada Cetta. Marriage life with no sex, ini juga yang mendorong Cetta terbang ke Bangkok, Thailand menemui Martin dan memulai bisnisnya human trafficking.

Moral issue Cetta diuji, terlebih dirinya ingat dengan seorang pelacur bernama Teh Nurmali yang menjual dirinya kepada bule semata-mata hanya karena mencari uang untuk membiayai anak-anaknya.

Tidak hanya Cetta dan Teh Nurmali, buku ini juga bercerita tentang perempuan-perempuan pemburu bule yang tidak jarang harus menghadapi kenyataan pahit karena kehidupan yang tidak seindah dalam angannya. “Beberapa teman saya mengatakan bahwa alasan mereka memilih bule karena sebagai perempuan Indonesia yang berkulit cokelat, kerempeng dan rambut keriting, mereka merasa susah mencari pacar orang Indonesia. Kebanyakan laki-laki Indonesia sudah menjadi korban iklan dimana perempuan cantik itu harus berkulit putih atau kuning langsat, ramping, dan berambut lurus panjang,” tutur Fani.

Sebaliknya, lanjut dia, orang-orang dari Ras Kaukasoid justru menganggap bahwa perempuan Indonesia sangat eksotik dengan kulit mereka. “Saya sendiri dulu waktu masih SD dan SMP kerap diejek dengan sebutan Amazon karena rambut keriting dan kulit cokelat saya,” tukasnya.

Rencananya, buku yang juga menceritakan pengalaman pribadinya yang menikah dengan laki-laki dari Ras Kaukasoid akan dilaunching pada Rabu, 10 September 2014 di Reading Room Jl. Kemang Timur No.57 Jakarta Pukul 14.30 – 16.30 WIB. Dalam acara tersebut akan hadir Myra Diarsi (aktivis Perempuan).

Buku setebal 311 halaman ini diterbitkan renebook, penerbit sejumlah buku yang laris dipasaran antara lain “Allah, Liberty and Love” (Irshad Manji), Puisi Esai “Atas Nama Cinta” (Denny JA), “Menghadang Negara Gagal (Adhyaksa Dault), dan lain-lain.