Inilah Buku yang Kontroversial Itu : Membongkar Gurita Cikeas

galangpress.com

Inilah buku yang kontroversial itu : Membongkar Gurita Cikeas.

Dengan judul yang membuat heboh, tak heran buku ini langsung mengundang rasa penasaran masyarakat luas untuk mengetahui apa sebetulnya yang dibahas dalam buku ini. Di beberapa daerah, penjual buku sampai kewalahan dan kehabisan stok buku ini karena banyaknya permintaan.

Pesan inti dari buku Gurita Cikeas (Text Only) ini adalah bahwa yayasan-yayasan yang terkait keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pejabat negara (menteri, pimpinan BUMN) wajib diaudit. Tujuannya untuk menghindari konflik kepentingan.

Rendezvous Kekuasaan di Tepi Serayu

stainpress.com

Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.

Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) , Geidurrahman El-Mishry (penulis Novel Bait-Bait Cinta), Gugun El-Guyani (Juara I Lomba Esay), Mahwi Air Tawar (Juara I Lomba Cerpen) dengan dimoderatori oleh Abdul Wahid, B.S, SS, M.Hum (dosen dan sastrawan).

Acara yang digelar di Auditorium STAIN Purwokerto hari Sabtu (14/3) kemarin merupakan puncak dari rangkaian acara tahunan “Lomba Cipta Esay dan Tulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia” yang digelar sekitar Januari 2009 silam. Gelaran tahunan itu dimeriahkan oleh sekitar 400 naskah cerpen dan 317 naskah Esay dari mahasiswa di penjuru tanah air. Berdasarkan penilaian yang dilakukanoleh tim juri : Ahmadun Yosi Herfanda, Heru Kurniawan, Ridwan,M.Ag, dan Abdul Wahid BS, SS, M.Hum, berhasil meraih juara pertama, Gugun El-Guyani, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Gugun menguraikan idenya dalam esay berjudul “Khilafah Versus Demokrasi : Relasi Antara Agama dan Kekuasaan” . Sedangkan untuk lomba cerpen, Mahwi Air Tawar berhak menjadi pemenang I dengan judul cerpennya “Pulung”. Mahwi juga tercatat sebagai mahasiswa UIN Kalijaga Jogakarta. Bersama 27 nominator lainnya, esay dan cerpen yang ada masing-masing dibukukan oleh Penerbit Grafindo Press yang bekerjasama dengan Obsesi Press Publishing.

Dalam bedah buku yang berjalan selama durasi kurang lebih 2 x 60 menit tersebut, perbincangan yang berjalan cukup meriah. Gus Nas (panggilan akrab KH. Nashruddin) mencoba mengungkapkan mengenai filosofi kekuasaan dalam Islam. Sempat diungkapkan juga kegelisahannya dalam melihat hal-hal normatif (simbolis) Islam saja yang kemudian kadang diadopsi oleh para pelaku-pelaku kekuasaan. Bahwa kekuasaan dan kepemimpinan itu berbeda dan harus dipahami, dan diharapkan mampu memaknai kekuasan bukan sebagai sebuah alat penindasan. Di sisi lain, Gugun El-Guyani yang juga aktivis KUTUB – Yogyakarta, menguraikan dengan gamblang mengenai pola kekuasaan pada zaman khulafaur rasyidin. Gugun juga mengkritisi gerakan-gerakan mahasiswa yang tak mampu memberikan bergaining position fragmen kekuasaan di bangsa ini.

Sementara Geidurrahman mencoba membedah beberapa karya cerpen dalam buku “Rendezvous Di Tepi Serayu”. Beliau mengungkapkan banyak mengenai Sastra Religius dan Permasalahannya. Bahwa sastrawan memiliki tanggungjawab yang begitu besar dalam pemasifan nilai pada masyarakat. Dalam perkembangan diskusinya, terdapat kontroversi perbedaan pendapat antara Geidurrahman dan Mahwi Air Tawar dalam penyikapan sastra Religius. Diskusi semakin meriah dengan partisipasi para audiens yang siang itu memenuh ruangan audit.

Acara itu masih berlanjut hingga malam penganugerahan pada pemenang dan nominator lomba Esay dan Cerpen. Nampak para nominator dan pemenang menikmati rangkaian acara yang diselenggarakan dengan apik oleh panitia. Event itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para nominator yang hadir dari berbagai universitas di Indonesia. Rembulan meredup di tujuh belas Rabiul Awal-pun menjadi pertanda akhir rangkaian acara di hari itu. Namun semangat tak akan meredup di masing sanubari untuk terus menghidupkan nyala lilin pena dalam peradaban. Semua harus tetap mengalir…seperti tarian arus serayu. Semoga. (Nta)

Menatap Hukum Indonesia dalam Studi Perbandingan

unisa.edu.au

Secara defacto Indonesia menerima kenyataan pluralisme yang ada dalam masyarakat, namun produk hokumnya  jauh dari  kajian hukum secara plural.

Minimnya perhatin terhadap kajian hukum yang sifatnya memperbadingkan antar berbagai tradisi memperjelas unifomisme hukum yang dilakukan oleh agen negara sejak awal, dan hal tersebut tampaknya membumi di masyarakat sehinga, Ratno Lukito (penulis buku ini) menyuguhkan tawaran terhadap dominasi aliran positivisme hukum negara (state legal positvism) dengan mengkampanyekan kembali kajian pluralisme hukum di Indonesia.

Keseriusan dan kedalaman ulasannya disajikan dalam bentuk buku berjudul Hukum sakral dan hukum sekuler diterbitkan oleh alva bert Jakarta, layak mendapat apresiasi oleh segenap akademisi dan pengkaji hukum untuk memperkaya khazanah pengetahuan. Disamping itu, ratno mengupas lebih dalam mengenai peran Negara dalam mencampuri hukum-hukum yang sebelumnya telah ada dalam tatanan masyarakat.

Hadirnya Buku ini merupakan bentuk keseriusan seorang anak bangsa dalam mentap kemajemukan negaranya sehingga paling tidak dia telah berhasil hasil membuka cakrawala pikiran kita untuk lebih arif dalam memandang warisan tananan masyarakat dulu. Melalui hasil disertasi program doktoralnya yang diselesaikan di McGill University, Montreal, Canada pada tahun 2006, buku ini tentunya menjadi sangat penting untuk dijadikan refrensi bagi perkembangan ke ilmuan di Indonesia.

Khazanah Hukum Indonesia

Terbagi dalam tiga jilid, buku ini diawali dengan jilid pertama(“tradisi hukum Indonesia”), yang intinya menggambarkan masyarakat Indonesia tidak pernah memahami adat sebagai entitas yang terpisah dari hukum. Ratno mengemukakan Istilah  Hukum Chthonic yang dijelaskan  mempunyai Karakter umum sebagai tradisi hukum yang terbuka, hal ini terbukti menjadi aset  terbaik bagi adat dalam memastikan hubungan yang positif dengan tradisi hukum lain yang diitrodusir dari luar.

Sedangkan Jilid kedua, (“pergumulan antar-tradisi hukum dalam lintasan sejarah di Indoensia) Sebagai kelanjutan dari bagian sebelumnya, maka bagian ini menitik beratkan pada proses perjumpaan hukum di Indonesia yang berpusat pada prilaku Negara ketika berhadapan dengan pluralisme hukum sebagi keragaman normative dalam masyarakat Indonesia. Pada masa Orde Baru hukum Islam mendapat nasib yang lebih baik sedangkan posisi hukum adat meski menawarkan akar nilai-nilai asli kebudayaan pribumi tetap berada pada posisi anak tiri. Walhasil dengan cara lain dapat dikatakan bahwa kecendrungan tanggapan positif Negara terhadap revitalisasi hukum Islam tak lain merupakan kelanjutan dari pola lama pengakuan pularisme di tanah air yang didasarkan pada untung rugi oleh Negara.

Pada Jilid terakhir buku ini mungupas lebih fokus memahami respon Negara terhadap  fakta-fakta konflik substatif antar tradisi hukum yang ada di Indonesia. Dalam konteks Indonesia berperan besar negara dalam mengupayakan resolusi konflik hukum substantif diserahkan kepada proses formal institusi. Akhirnya  Indonesia menganut dua pendekatan dalam menuntaskan konflik substantive yaitu, pendekatan legislative( legislasi) dan pendekatan yudisial (putusan pengadilan).

Memahami haidrnya buku ini, patut kiranya kita kembali mengkritisi ulang sejauhmanakah kemajuan yang dicapai oleh Negara dalam mengembangkan tatanan hokum nasional kita? Atau benrakah produk hokum kita masih menempatkan kepentingan secara nasional? masih  Maka buku ini lah jawabannya.

Deskripsi Buku:

Judul Buku: Hukum Sakral Dan Hukum Sekuler Studi Tentang Konflik Dan Resolusi Sistem Hukum Indonesia. (Sacred And Seculer Laws:A Study Of Conflict And Resolution In Indoensia)

Penulis: Ratno Lukito

Penerjemah : Inyak Ridwan Muzir

Cetakan pertama : 2008 (572 hlm.15,5×23 cm

Penerbit : Pustaka Alvabet Jakarta

Lutsfi Siswanto lutsfi@gmail.com

Penulis adalah mahasiswa UIN fakultas Syariah jurusan perbandingan mazhab dan Hukum (PMH), sekarang menjabat sebagai Ketua pers HMI MPO cabang Yogkarta

Neoliberalisme: Ideologi yang Menghancurkan Kehidupan

hizbut-tahrir.or.id

Dengan dalih mengikuti harga pasar minyak dunia yang terus melambung, rejim SBY-JK akhirnya menaikkan lagi harga BBM. Sontak, para ekonom penetek kekuasan dan penyembah pasar bebas kembali menggaungkan tema pembodohan yang usang: “kenaikan harga BBM dilakukan untuk menyelamatkan APBN” serta “subsidi hanya menguntungkan kaum kaya”, atau “BLT akan mengurangi kemiskinan akibat kenaikan BBM”.

Jurus penangkal protes yang usang pun kembali digelar, dari memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) hingga beasiswa untuk mahasiswa miskin. Pola ini, tak lain, adalah upaya untuk meredam radikalisme kaum miskin dan mahasiswa yang semakin menderita akibat kenaikan tersebut. Akibat dari kebijakan tersebut, beberapa pengamat memprediksi bahwa jumlah orang miskin dan pengangguran akan semakin meningkat tajam.

Tema tentang politik ekonomi subsidi, kemiskinan, serta ancaman rejim pasar bebas sejak lama telah menjadi fokus utama dalam karya-karya Eko Prasetyo, termasuk dalam salah satu karyanya yang masih relevan untuk didiskusikan hingga kini, yaitu Orang Miskin Tanpa Subsidi. Seperti kebanyakan karyanya, buku ini bertumpu pada telaah politik ekonomi yang melandasi munculnya kenaikan harga BBM, pencabutan subsidi layanan publik, dan meningkatnya jumlah kaum miskin, serta semakin berlipat-gandanya akumulasi kaum kapitalis di jaman ini. Namun, kelebihan yang paling menonjol dalam buku ini adalah kemahiran penulis dalam memaparkan kontradiksi-kontradiksi yang tajam antara berbagai hal: antara subsidi berlimpah yang diberikan negara pada kaum kaya dengan dicabutnya subsidi yang menyangga kehidupan kaum miskin; antara menggelembungnya kekayaan segelintir elit kapitalis yang menangguk untung di jaman pasar bebas dengan semakin menderitanya sebagian besar rakyat miskin akibat didera oleh kemiskinan kronis, pengangguran dan kelaparan; antara korupsi dan penggelapan miliaran uang negara oleh para politisi busuk dan pengusaha bajingan dengan keengganan negara untuk memberikan subsidi untuk kemakmuran rakyatnya. Lebih lagi, buku ini sesungguhnya mengajak kita untuk menyingkap sebuah ideologi yang menjadi dalang dari semua anarkhi ini, ideologi terkini dari kaum kapitalis: neoliberalisme.

Pencabutan subsidi BBM dan layanan publik lainnya seperti pendidikan dan kesehatan sungguh tak bisa dilepaskan dari suatu perspektif tentang bagaimana neoliberalisme menjadi ideologi yang yang dominan. Sebagai ideologi yang menopang rejim pasar bebas, neoliberalisme memiliki tiga kredo: privatisasi-liberalisasi-deregulasi. Tiga kredo itu dijeratkan pada negara-negara Dunia Ketiga yang terlilit hutang najis melalui skema penyesuaian struktural- SAP (structural adjustment program)-agar negara-negara tersebut menganut sistem pasar bebas. Upaya ini dilakukan agar kapitalisme bisa keluar dari krisisnya, yaitu dengan perluasan pasar dan perebutan sumberdaya produktif baru. Juga bertujuan untuk meningkatkan akumulasi dan kekuasan elit kapitalis. Pokok yang terakhir ini adalah yang paling penting. Neoliberalisme bisa dipahami sebagai suatu modus ekonomi yang berkehendak untuk melakukan akumulasi kapital dengan cara merebut dan menjarah sumberdaya produktif, serta melakukan komodifikasi dan komersialisasi segala sesuatu (commodification of everything), termasuk layanan publik dan sosial yang di masa lalu menjadi tanggung jawab negara pada rakyatnya.

Jadi, hasil akhir dari neoliberalisme ini di satu sisi adalah munculnya kembali kelas penguasa ekonomi yang mengalami kemandekan di masa kapitalisme negara, dan di sisi lain adalah hancurnya kehidupan kaum miskin. Neoliberalisme secara sistematis mencabut ‘selang infus’ yang menyangga kehidupan kaum miskin melalui dua jalur utama: pertama, mencabut berbagai subsidi layanan publik yang selama ini menjadi tanggung jawab negara-suatu modus yang mengakibatkan orang miskin harus menguras lebih dalam isi dompetnya untuk belanja biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya; kedua, menguasai akses-akses sumberdaya yang berguna, baik dalam tenaga produksi maupun rantai distribusi, lalu melemparkannya pada mekanisme pasar bebas yang monopolistik. Alih-alih mendatangkan kemakmuran dan keberlimpahan sebagaimana yang dijanjikan, neoliberalisme justru mendatangkan petaka kesenjangan dan kemiskinan global yang tiada duanya sepanjang sejarah manusia.

Dengan analisa semacam itulah kita mestinya membaca kenaikan BBM. Asumsi para pendukung neoliberal bahwa harga minyak harus naik seiring dengan kenaikan harga minyak dunia, dan karenanya perlu demi menyelamatkan APBN, pada dasarnya adalah argumen yang ilusif dan menyesatkan. Mengapa? Pertama, argumen itu menyembunyikan fakta bahwa liberalisasi migas telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah sejak penandatangan LOI 1999 yang merubah struktur permigasan di Indonesia. Liberalisasi migas ini ditopang oleh perubahan UU di sektor energi yang didukung oleh World Bank dengan tujuan membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke berbagai tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir (Baswir: 2008). Kedua, istilah subsidi sendiri juga cenderung menyesatkan, sebab pemerintah sebenarnya masih menangguk untung dari selisih produksi minyak dengan harga internasional yang sedemikian tinggi. Karenanya, tak ada yang disebut sebagai subsidi dan jebol APBN! Sebab kenaikan itu justru membuat pemerintah memiliki kelebihan uang yang sangat banyak (Gie: 2008).

Jadi, akar kekacauan dan ketertindasan rakyat di negeri ini bersumber dari dua hal, pertama cengkeraman gurita neoliberalisme di sekujur tubuh negeri ini; dan kedua, akibat dari perilaku korup, salah urus, dan menyeleweng dari rejim penguasa yang tidak membaktikan kekuasaannya untuk kemakmuran rakyat melainkan kemakmuran segelintir elit penguasa ekonomi dan politik. Paduan dari dua hal ini adalah anarki yang tak terperikan: air, hutan, migas, energi, pangan, dan seluruh sumber kehidupan kita berada dalam ancaman penguasaan rejim pasar yang hanya mempunyai logika akumulasi tanpa henti. Proyek penghancuran kehidupan ini terus melaju hingga saat ini. Tak ada cara lain selain berlawan dan mengajukan jalan alternatif baru.

Judul Buku: Orang Miskin Tanpa Subsidi
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2005

Sumber : http://readresist.wordpress.com

25 Tahun Mizan: Membaca Membangun Karekter Bangsa

paragondesign.web.id

Perkembangan multimedia dan budaya menonton yang tinggi di kalangan masyarakat menyebabkan fenomena menyusutnya budaya baca. Masyarakat lebih suka memonton daripada membaca. Mizan yang sudah 25 tahun berdiri, kini mengembangkan usahanya guna meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia.

“Kebenaran adalah sesuatu yang mutlak. Menegakkan kebenaran tak mempan waktu. Seberapa kecil pun, seberapa lama pun, tak ada waktu yang hilang. Sementara, kesabaran menjulang mengatasi keterbatasan durasi hidup manusia. Tak ada waktu yang terlalu panjang di hadapan kesabaran. Kebenaran dan kesabaran, di hadapan durasi waktu, adalah dua sisi dari satu koin yang sama.”
Itulah kata-kata pembuka Haidar Bagir ketika mengantarkan perjalanan 25 tahun Mizan yang acara puncaknya akan diadakan pada Sabtu, 20 September 2008, di Jakarta. Mizan saat ini tentu berbeda dengan Mizan ketika didirikan pertama kali oleh anak-anak muda yang belum menuntaskan kuliahnya. Mizan awal, yang didirikan pada 7 Maret 1983, adalah sebuah penerbit buku Islam. Dalam sepuluh tahun perjalanannya (1983-1993), Mizan berhasil “mengukuhkan matra-baru pemikiran Islam di Indonesia”.

Kini, 25 tahun sudah Mizan menancapkan eksistensinya di bumi Indonesia. Mizan tidak lagi hanya menerbitkan buku-buku Islam. Meskipun buku-buku yang menjadi ciri-khas Mizan tetap dipertahankan, Mizan masa kini telah meluas dan melebar serta berhasil menerbitkan buku-buku yang dapat dikonsumsi oleh banyak sekali kelompok masyarakat. Di bawah payung Mizan Publika, yang didirikan pada 1999, kini ada sembilan perusahaan yang disebut sebagai unit usaha Kelompok Mizan. Kesembilan perusahaan tersebut terdiri atas lima perusahaan penerbitan buku dan empat perusahaan jasa untuk melayani penerbitan buku.

Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama yang turut hadir dan memberikan orasinya menyampaikan, Perkembangan multimedia dan budaya menonton yang tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, dan menjadi bagian dari budaya kita, merupakan tantangan yang harus dijawab. Sebab hal ini menyebabkan fenomena menyusutnya budaya baca. Walaupun jumlah penerbit bertambah, jumlah toko buku bertambah, budaya baca harus terus dipicu dan dipacu. Karena budaya baca yang masih rendah, Human Index Indonesia berada pada peringkat 107 dari 177 negara.

“Membaca buku, budaya membaca, masih merupakan sesuatu yang harus kita picu dan pacu, agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara maju, ” tandasnya.

Syukuran 25 Mizan yang bertajuk Menjelajah Semesta Hikmah, dihadiri sekitar 300 orang dan tampak hadir sejumlah tokoh antara lain Komaruddin Hidayat, Mudji Sutrisno, Anis Baswedan, Mochtar Pabotinggi, dan August Parengkuan.

Jakob Oetama menilai 25 tahun Mizan yang mengesankan tidak saja menjelajah semesta, tapi juga telah memberikan sumbangsih untuk membangun karakter bangsa, sesuatu yang masih diperlukan bangsa ini. “Dengan kerja keras, disiplin waktu, dan dengan rasa saling percaya dan menafikan rasa curiga, Mizan mencoba menjawab tantangan bangsa ini. Tantangan justru membangkitkan jawaban,” ujarnya.

Kuntowijoyo Award

Syukuran 25 Tahun Mizan juga ditandai dengan peluncuran Kuntowijoyo Award. Komaruddin Hidayat selaku Ketua Komite Kontowijoyo Award mengatakan, Kuntowijoyo namanya diabadikan untuk Kuntowijoyo Award guna mengenang dia selaku cendekiawan, pemikir dan penggagas ilmu sosial profetik dan ilmu sastra profetik yang telah menulis lebih dari 50 buku.

“Kuntowijoyo Award akan diberikan kepada para cendekiawan yang berprestasi dalam mengembangkan penelitian dan praktik di berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, ” katanya.

Kepada hadirin sempat ditayangkan dokumenter tentang Kuntowijoyo yang semasa produktifnya sebagai penulis, karya-karya sastranya banyak meraih berbagai penghargaan. Bahkan ketika sembuh dari sakit, dengan dipaksakan, walau menulis dengan satu jari, Kuntowijoyo masih terus memberikan pemikiran buat bangsa. “Mas Kunto adalah sosok yang pantas diteladani, ” tandas Komaruddin Hidayat.

Selain peluncuran Kuntowijoyo Award, Mizan juga memberikan penghargaan kepada Andi F Noya (Host Progran TV Kick Andy) sebagai tokoh yang berjasa bagi dunia perbukuan. Dan Penghargaan Penulis Paling Fenomenal kepada Andrea Hirata.

Film Laskar Pelangi

Yang tak kalah menarik pada kesempatan malam itu ialah “Meet and Greet Produser dan Pemain Film Laskar Pelangi“. Para bintang dan produser film Laskar Pelangi maju ke atas panggung setelah trailer film Laskar Pelangi di putar.

Film yang disutradari Riri Reza ini diproduksi bersama Mizan Production dan Milis Film. Mizan Productiion semula bernama Mizan Cinema yang merupakan unit usaha baru di kelompok Mizan yang bergerak dibidang event organizind dan productiion house. Kemunculan Mizan Production ini bersamaaan dengan dirintiskannya Mizan New Media yang akan memastikan produk-produk Kelompok Mizan dapat diakses di berbagai media. (Busthomi Rifa’i)