“Mayat dalam Lumbung” Cerpen Terbaik FAM

FAMHMINEWS.Com – Cerpen “Mayat dalam Lumbung” karya Siti Sofiyah (Semarang, Jawa Tengah) dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan diumumkan Kamis (3/7), bertepatan dengan Hari Sastra Nasional.

Pemenang kedua diraih Inung Setyami (Tarakan, Kalimantan Timur) dengan cerpen berjudul “Topeng Ireng”, dan pemenang ketiga diraih Irzen Hawer (Padangpanjang, Sumatera Barat) dengan cerpen berjudul “Ampek Sen”.

Selain menetapkan tiga pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih delapan cerpen yang diunggulkan, masing-masing berjudul “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta), “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban, Jawa Timur), “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember, Jawa Timur), “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya), “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon, Banten), “Lelaki yang Usai Mengembara” (Reddy Suzayzt, Yogyakarta), “Tapung Tawar” (Novaldi Herman, Pekanbaru, Riau), dan “Bawal” (Ikhsan Hasbi, Banda Aceh).

Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela, Jumat (4/7) mengatakan, sejak lomba dibuka pada tanggal 5 Mei 2014 dan ditutup 25 Juni 2014, panitia menerima 204 naskah cerpen. Selain pemenang utama, juga dipilih 40 cerpen nominator yang dibukukan bersama karya pemenang.

“Peserta terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum,” kata Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”.

Dia menyebutkan, lomba cerpen tingkat nasional 2014 itu digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Sastra Nasional. Hari Sastra ditetapkan pemerintah RI pada tanggal 3 Juli dan dideklarasikan sejumlah sastrawan Indonesia tahun lalu di Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Kami harapkan, lewat kegiatan ini Hari Sastra Nasional dapat lebih semarak, terutama untuk membudayakan menulis karya sastra di kalangan generasi muda,” katanya.

Sebagai tanda apresiasi kepada para pemenang utama, FAM Indonesia memberikan hadiah berupa uang tunai, paket buku, dan piagam penghargaan.

FAM Indonesia adalah komunitas penulis nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 yang kehadirannya ditujukan untuk menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

“FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan,” tambah Aliya Nurlela. (rel)

Sehari Dua Novel Diluncurkan

HMINEWS.Com – Dalam sehari, di dua kota berbeda, dua novel diluncurkan. Kedua novel itu berjudul “Matahari di Aur Berduri” karya Kasrizal penulis muda Jambi dan “Gadis Berbudi” karya Irzen Hawer asal Padangpanjang, Sumatera Barat.

Novel “Matahari di Aur Berduri” diluncurkan Sabtu (5/10) di aula STMIK Nurdin Hamzah Jambi dan dihadiri 300-an peserta yang terdiri dari kalangan mahasiswa dan peminat umum lainnya. Sementara di hari yang sama novel “Gadis Berbudi” diluncurkan di SMA Negeri 1 Batipuh, Kabupaten Tanah Datar dan diikuti 200-an peserta yang terdiri dari guru dan siswa di sekolah itu. Kedua novel ini diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Muhammad Subhan, Senin (7/10) mengungkapkan, dari kedua acara peluncuran buku yang bersamaan di dua kota yang berbeda itu diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa untuk gemar membaca buku dan menulis karangan.

“Gerakan membaca buku dan menulis karangan ini harus bersama-sama kita gelorakan,” ujar Muhammad Subhan yang juga seorang penulis dan jurnalis.

Novel “Matahari di Aur Berduri” diluncurkan oleh dua trainer dan motivator nasional Sakti Sumbara dan Hendi Kurniah (asal Bandung, Jawa Barat) di STMIK Nurdin Hamzah Jambi dan dihadiri Wakil Ketua 1 STMIK Nurdin Hamzah Jambi, Faizarini, M.Kom dan Wakil Ketua 2 Windi.

“Sambutan dari pihak kampus dan peserta peluncuran novel saya ini sangat luar biasa dan memberikan motivasi kepada saya untuk terus berkarya,” ujar Kasrizal yang juga mahasiswa semester tiga STMIK Nurdin Hamzah Jambi.

Wakil Ketua 1 STMIK Nurdin Hamzah Jambi Faizarini, M.Kom., mengaku gembira ada mahasiswanya yang aktif menulis dan telah menghasilkan karya berbentuk novel. Dia berharap, karya itu memberi semangat menulis bagi mahasiswa baru di kampus itu untuk melakukan hal yang sama, yaitu menulis buku atau menerbitkan karya di media massa.

Sementara novel “Gadis Berbudi” karya Irzen Hawer diluncurkan oleh Kepala SMA Negeri 1 Batipuh Drs. Elfan, M.Pd. Sebagai pimpinan sekolah itu Elfan juga merasa gembira di sekolahnya ada guru yang telah menghasilkan banyak karya, salah seorangnya Irzen Hawer. “Saya sangat salut, Pak Irzen Hawer, dalam empat tahun telah menghasilkan empat buah novel,” ujarnya.

Dia juga mengimbau kepada guru dan siswa di SMA Negeri 1 Batipuh untuk mengikuti jejak Irzen Hawer menulis. Guru yang menulis, katanya, akan mendorong siswa gemar membaca buku dan berkarya. “Membaca buku dan menulis ini akan semakin kita budayakan di SMA Negeri 1 Batipuh,” tambahnya.

Pelatihan Menulis Esai

Sementara itu, Ahad (6/10), Taman Bacaan Rang Mudo Sangka, Kota Batusangkar, Kabupataten Tanah Datar, Sumatera Barat mengadakan pelatihan menulis esai untuk pelajar SMA se Kabupaten Tanah Datar. Rang Mudo Sangka mengundang Muhammad Subhan, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia sebagai narasumber.

Pada kesempatan itu dibahas teknik menulis esai yang mudah dan kiat menerbitkan esai di media massa. Menurut Muhammad Subhan, media massa, terutama koran, tabloid dan majalah, selain mengandalkan berita dari para wartawannya, juga membutuhkan tulisan dari luar, terutama esai.

Menjadi Indonesia

Judul asli: Menjadi Indonesia
Pengarang: Parakitri T. Simbolon
Penerbit: Kompas
Hal: 846
Tahun terbit: 2007

Jika pernah membaca buku Imagined Community yang dikarang oleh Benedict Anderson, pasti tertarik untuk membaca buku ‘Menjadi Indonesia.’ Sebuah buku yang bercerita tentang sejarah meng-Indonesia. Sebuah negara yang dicita-citakan dari pengalaman penindasan, penjajahan, pergumulan intelektual hingga perpecahan pergerakan (PKI-Sarekat Islam hal.324). Dengan bahasa yang lugas namun padat, Parakitri Simbolon menggambarkan heroisme perlawanan kerajaan-kerajaan lokal terhadap Belanda, Inggris maupun Jepang, kebangkrutan VOC, munculnya gerakan nasional dan masalah kooperasi-non-kooperasi.

Ada hal menarik yang sangat disesali penulis buku ini, mengapa Sarekat Islam terpecah, hal tersebut memperlambat gerak perlawanan terhadap penjajah. Jika marxisme di dalam tubuh Sarekat Islam dapat bersatu di bawah panji Islam, maka niscaya kemerdekaan menjadi milik semua.

Menjelang peringatan kemerdekaan RI yang begitu-begitu saja, buku ini layak untuk dibaca oleh pencinta sejarah maupun aktivis gerakan mahasiswa. Menjadi Indonesia, menjadi melek terhadap sejarah, menjadi peka terhadap perubahan.

Memilih Sekolah Tak Seperti Memilih Kucing dalam Karung

Pada masa peralihan tahun ajaran baru seperti saat ini, orang tua mengalami dua perasaan sekaligus. Di satu sisi mereka merasa bahagia karena buah hati tercinta berhasil lulus TK/SD/SMP/SMA atau sekolah lain yang sederajat, di sisi lain mereka pun merasa was-was. Terutama terkait penentuan kelanjutan studi anak dan memilih sekolah yang baru.

Buku ini memuat beberapa penelitian mengenai efektifitas sebuah sekolah. Edmons (1979) menyebutkan bahwa ada lima karakteristik sekolah efektif, yakni: (1) kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran; (2) pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran; (3) iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran; (4) harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu; dan (5) peniliaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran nilai belajar siswa (halaman 119).

Setali tiga uang dengan pendapat Edward Henveld (1992). Ia pun mengungkapkan 16 indikator sebuah sekolah dapat disebut efektif, yakni: (1) dukungan orang tua siswa dan lingkungan; (2) dukungan yang efektif dari sistem pendidikan; (3) dukungan materi yang cukup; (4) kepemimpinan yang efektif; (5) pengajaran yang baik; (6) fleksibilitas dan otonomi; (7) waktu yang cukup di sekolah; (8) harapan yang tinggi dari siswa; (9) sikap yang positif dari guru; (10) peraturan yang disiplin; (11) kurikulum yang terorganisasi; (12) adanya penghargaan dan insentif; (13) waktu pembelajaran yang cukup; (14) variasi strategi pengajaran; (15) frekuensi pekerjaan rumah; dan (16) adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin.

Menurut penulis buku ini, orangtua jangan mudah tergiur oleh promosi heboh yang dilakukan oleh pihak sekolah jelang peralihan tahun ajaran baru. Selain itu, jangan pula silau dengan label standar nasional, label bertaraf internasional, dan label-label luaran lainnya. Pastikan terlebih dahulu sekolah tersebut memenuhi kriteria sekolah efektif dari Edmons (1979) dan Edward Henveld (1992) di atas. Sehingga saat memilih sekolah anak tidak seperti memilih kucing dalam karung.

Sistematika buku bersampul kuning ini terdiri atas 6 bab. Antara lain “Sebuah Cermin untuk Berbenah”, “Terus Mencintai dan Membenahi Sekolah”, dan “Penerang Ilmu Bernama Pendidik Berliterasi”. Tesis dasarnya sederhana tapi mendalam, menurut aktivis Sekolah Guru Indonesia tersebut, pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Setiap manusia toh memiliki impian, oleh sebab itu sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk mewujudkan impian murid-murid di masa depan. Dalam konteks ini, guru merupakan sosok yang mesti mampu mengembangkan keberanian murid-murid untuk bermimpi. Mimpi untuk menjadi manusia seutuhnya, unik, otentik, dan paham kenapa mereka memang harus memiliki mimpi (halaman 4).

Selanjutnya, pembicara di berbagai pertemuan ilmiah tentang pendidikan di dalam dan luar negeri (Hong Kong, Brunei Darussalam, Jepang, dll) tersebut mengajak pembaca belajar dari negeri Sakura. Dalam acara Conference of Lesson Study 2010, sebuah SMP di Lembang kedatangan tamu dari negeri manca. Salah satunya bernama Kubochi Ikuya. Dia adalah guru sains dari Ohzu High School, Ehime-Pre, Jepang. Uniknya, saat dipanggil untuk menjadi guru tamu dalam pembelajaran sains, semua orang terheran-heran. Kenapa? Karena tampilannya lebih mirip pemain musiak daripada seorang guru. Fotonya dapat dilihat di halaman 12. Tapi saat mulai mengajar semua orang pun berdecak kagum.

Jika ada anak yang mengangkat tangan tanda bersedia menjawab pertanyaan dari Kubochi, luar biasa! Ia bergegas menyalami murid yang satu itu, lantas meminta semua siswa lainnya memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi atas kesediaan anak tersebut. Bahkan jika jawaban anak tersebut salah sekalipun, ia tetap melakukan hal serupa. Intinya, setiap ucapan dan sikap Kubochi selalu menunjukkan rasa hormat dan percaya kepada kemampuan siswa. Hal kecil tapi berdampak besar inilah yang sering dilupakan oleh dunia pendidikan nasional kita dewasa ini.

Kebetulan penulis sempat mewawancarai Kubochi pasca sesi open class. “Apakah Anda mencintai profesi guru? Mengapa Anda mencintai profesi guru?” tanya Asep Sapa’at untuk menggali sisi unik pribadi sosok guru muda nan inspiratif tersebut. Dengan santai, Kubochi menjelaskan bahwa dirinya sangat mencintai anak-anak dan pelajaran sains. “Ketika siswa berhasil dalam belajar mereka, hal itu menjadi sesuatu yang teramat sangat berharga dalam hidup saya,” tuturnya dengan mata berbinar. Senada dengan petuah dari sensei Kodama, “Sensei (guru) yang baik itu tahu potensi anak-anaknya. Dan dia bersungguh-sungguh menjadi jalan kesuksesan bagi anak-anaknya.” (halaman 18).

Buku setebal 288 halaman ini menandaskan bahwa menjadi guru bukan profesi main-main. Guru ialah sebuah panggilan jiwa (inner calling). Kendati pemerintah belum menjadikan profesi guru sebagai profesi mulia saat ini, teruslah mendidik dan menginspirasi siswa-siswi kita di kelas. Sehingga kelak mereka menjadi pemimpin bangsa yang kebijakannya sungguh memberi kemaslahatan bagi profesi guru di tanah air tercinta.

Judul: Stop Menjadi Guru!
Penulis: Asep Sapa’at
Penerbit: Tangga Pustaka
Cetakan: I/2012
Tebal: xxii + 288 halaman
ISBN: 979-083-069-6

Selamat membaca dan salam pendidikan! 

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Kontributor Tetap Majalah Pendidikan Online Indonesia, Tinggal di Yogyakarta

Muhammad di Mata Orientalis

Sebenarnya telah banyak karangan para orientalis yang mengisahkan tentang kepribadian Muhammad, Sang Nabi ummat Muslim. Karya tersebut beragam bentuk sesuai kapasitas kepandaian penulisnya. Mulai dari abad pertengahan, Dante menulis Divine Comedy yang melukiskan Nabi Muhammad menanggung siksaan abadi di jurang neraka yang terdalam. Dante menulis itu karena merasa aneh dengan datangnya ‘agama baru’ dan kemudian secara politis berhasil menguasai wilayah Laut Tengah, yang awalnya termasuk wilayah Kristen.

Umat Islam tidak tinggal diam setelah muncul penggambaran Nabi mereka yang tidak patut. Syed Ameer Ali menulis buku berjudul Life and Teaching of Muhammad, or The Spirit of Islam yang diterbitkan pada 1897 M. Setelah itu muncullah biografi Sang Nabi yang dirujuk dari sumber-sumber Arab klasik dengan penelitian mendalam, Le Prophete d’Islam karya Muhammad Hamidullah. Ada lagi biografi Muhammad yang ditulis Martin Lings. Bahkan biografi Nabi terbaru ditulis bernuansa sastra, novel biografi Muhammad yang ditulis Tasaro GK. Sebuah gerakan baru dan menyegarkan.

Dalam pandangan umum, karya orientalis lebih objektif dalam menilai karena mereka terbebas dari kewajiban menghormati. Referensi buku yang menuliskan tentang kehidupan Sang Nabi begitu banyak, tetapi belum ada yang menuliskan tentang seberapa besar rasa cinta dan penghormatan seorang muslim pada Nabinya. Annemarie Schimmel memberikan perspektif baru tentang Nabi Muhammad saw. Buku bertajuk dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan ini mengeksplorasi perwujudan rasa cinta dan penghormatan umat Muslim yang mendalam pada Nabinya.

Schimmel mengawali dengan menyebutkan catatan biografis karya terdahulu para orientalis dan orang muslim sendiri. Dia menjelaskan perubahan-perubahan pandangan orientalis pada Nabi. Dari karya yang sekadar berupa rasa kesal, karya apologis, hingga karya yang dilakukan dengan riset yang mendalam. Ketidakpahaman orang non-muslim bahwa sebegitu mulianya Muhammad di mata muslim menjadi landasan ricuhnya sebuah karya.

Buku ini mencoba menengahi dua kubu tersebut. Selanjutnya Schimmel memaparkan kepribadian Nabi Muhammad. Mulai dari masa kecil, remaja, berkeluarga, bahkan sikap istri-istrinya. Teladan sikapnya begitu memukau. Nabi Muhammad merasa bahwa apapun yang terjadi atas dirinya adalah anugerah Allah swt yang tak dapat dijelaskan. Nabi tidak pernah menyangka bahwa wahyu akan diturunkan kepadanya. Semuanya bukanlah inisiatif Nabi Muhammad sendiri. (hlm. 43)

Kecintaan umat Islam sendiri pada Nabi Muhammad begitu tinggi. Begitu banyak syair yang menyanjung sang nabi dengan bahasa Arab dan Persia. Semua tahu bahwa sastra Arab dan Persia begitu indah dan syahdu. Segala bentuk pujian tersanjung pada Sang Nabi. Al-Khaqani mendiskripsikan dalam sajaknya “Dengan pakaian putih, dia tampak bagai mutiara. Dengan baju merah, dia bagaikan bunga mawar.” Muslim Indonesia mengenal burdah dan diba’an. Keduanya berisi sajak-sajak sanjungan dan shalawat pada Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Schimmel melhat posisi Muhammad sebagai pribadi yang unik. Sebagaimana Nabi lainnya, ia adalah lelaki ma’shum (terpelihara dari dosa). Nabi Muhammad juga memiliki predikat ulul azmi (memiliki keteguhan hati yang kuat). Ada lima Nabi yang mendapat gelar ulul azmi; Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Nuh. (hlm. 89) Dengan istilah lain, ulul azmi diartikan sebagai orang yang memiliki kesabaran yang teguh. Tetapi, ini bukanlah dalil bahwa Nabi lain tidak sabar, karena semua Nabi adalah penyabar.

Sebagai seorang Nabi, tentulah memiliki mukjizat dan legenda. Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa dan berfungsi dapat melemahkan sesuatu yang lain. Biasanya mukjizat lebih diidentikkan dengan keistimewaan yang ada dalam diri Nabi dan Rasul. Artinya mukjizat ini mucul manakala ada seseorang yang meminta bukti kebenaran berita kenabian. Sedangkan legenda, maksudnya peristiwa-peristiwa istimewa dan biasanya tidak masuk akal. Seperti kisah masa kecil Nabi yang hatinya dicuci oleh malaikat atau pun kisah perjalanan malam (isra’ mi’raj) Sang Nabi.

Schimmel tidak hanya merekam jejak Nabi Muhammad saja. Dia juga mengeksplore pemikiran muslim pramodern yang mengulas tentang kepribadian Sang Nabi. Seperti adanya Thariqah Muhammadiyah di India. Kemudia, jika berbicara penghormatan pada Nabi, aspek ini tidak akan lepas dari karya Muhammad Iqbal, seorang filsuf India-muslim. Dalam karya Iqbal, Nabi tampil menjadi pusat spiritual muslim. Bahkan secara radikal Iqbal dalam Javidnama mengungkapkan “Tuhan dapat kau ingkari, namun Nabi tidak!”. (hlm. 344)

Dengan risetnya yang cukup komplit, dapat dikatakan karya Annemarie Schimmel ini sebagai karya monumental. Sebagai seorang orietalis, Schimmel menceritakan sosok Muhammad sebagai pribadi nomor wahid di dunia. Ia sepakat dengan riset yang dilakukan Michael H. Hart dalam karya terkenalnya 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Agar tidak terjadi kealpaan pemahaman, buku ini wajib dibaca siapapun yang ingin mengenal Sang Nabi secara personal, terutama umat muslim sendiri. Wallahua’lam bishhawab.

Data Buku

Judul: dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan
Penulis: Annemarie Schimmel
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: I, Juni 2012
Tebal: 474 Halama

Peresensi: Achmad Marzuki
Kader HMI Komisariat Syariah IAIN Walisongo Semarang, Pegiat Farabi Institute Semarang

n

 

Meneropong Jejak Ulama dalam Sejarah Indonesia

Melihat sejarah Indonesia memang tidak pernah lepas dari peran ulama membangun masyarakat Indonesia dalam segala bidang. Jejak mereka dapat dilihat dari pergulatan mereka di masa penjajahan prakolonial (kerajaan), zaman kolonial, hingga sekarang. Dalam dunia pesantren ulama menjadi titik pusat dari setiap kebijakan yang ada.

Ulama mengajarkan Islam kepada para santri seputar pelajaran yang berkaitan dengan praktek-praktek ritual, bahasa Arab, teologi, dan sufisme (halaman 85). Di Jawa ulama dikenal dengan istilah Kiyai. Mereka begitu dihormati dan berada pada ruang khusus dalam hati tiap santri. Tak pelak para masyarakat sekitar pun ikut menghormatinya. Wejangan dan wasiat keagamaan darinya begitu ditunggu, sehingga tidak salah jika mereka disebut sebagai penyanggah kebudayaan Islam yang adiluhung. Akulturasi yang dilakukan ulama cukup jitu dengan menerjemahkan kitab-kitab yang berbahasa arab dengan bahasa –Jawa dan Madura– daerah (halaman 196).

Buku yang awalnya merupakan disertasi penulisya di Universitas Leiden, Belanda, mencoba menelusuri eksistensi ulama di Nusantara melalui analisis sejarah. Jajat Burhanudin tidak hanya menjelaskan peran ulama dalam penyebaran agama dan akulturasi kebudayaan, tapi lebih menekankan pengaruh ulama dalam bidang sosial-politik. Ulama sebagai agen kontrol sosial dan aktor politik. Kajian ini dimaksudkan untuk memberi sebuah penjelasan historis tentang apa yang sekarang muncul sebagai suatu bahasa konseptual tentang ulama kontemporer: revitalisasi dan reformasi tradisi dalam rangka beradaptasi dengan tuntunan-tuntunan baru modernitas (halaman 6).

Konsen awal Jajat dalam bukunya membahas tuntas masalah penyebaran Islam melalui jalur perdagangan, keberadaan ulama dalam kerajaan, dan berdirinya Jaringan Ulama Nusantara dengan pusat keilmuan Islam Timur Tengah, Mekah-Madinah. Saat itu ulama demikian dihormati sehingga tak jarang menemukan ulama pada kedudukan kerajaan yang dihormati (halaman 17). Menjadi penasehat kerajaan, pendidik keluarga raja, dan di pelbagai institusi hukum kerajaan untuk ikut andil dalam pemutusan perkara.

Setelah sekian lama, muncullah komunitas orang Jawa di Mekah sehingga Jaringan Ulama Nusantara – Timur Tengah kian berkembang pesat. Banyak ulama yang setelah lama belajar kemudian pulang ke tanah air dengan membawa pemikiran-pemikiran baru tentang ajaran Islam. Puncaknya dengan adanya organisasi masyarakat yang pertama kali yaitu Muhammadiyah yang didirikan oleh Kiyai Ahmad Dahlam pada tahun 1912. Hal ini menjadi wadah baru bagi ulama Nusantara setelah belajar dari Mekah.

Konsen dari organisasi Muhammadiyah pada pembersihan Islam dari praktik-praktik yang berbau mistisme jawi yang dinilai khurafat. Dan empat belas tahun kemudian Kiai Hasyim Asy’ari dengan organisasi pedesaan dengan nama Nahdlatul Ulama yang dikenal dengan sebutan NU mewadahi pemikiran tradisionalis.

Walapun NU tidak menolak segala aspek yang dibawa Muhammadiyah namun peresensi yakin sejak itulah persinggungan-persinggungan pendapat antara NU dan Muhammadiyah dimulai. Ada yang berpedoman teguh agar keberadaan budaya di Indonesia tidak diberangus habis melainkan cukup diluruskan dan ditata dengan wajah Islam saja. Dan ulama lainnya ingin menjadikan ajaran Islam sebagaimana ajaran yang otentik dan hanya berpegang teguh pada nas.

Buku ini menarik dibaca karena menyuguhkan gambaran tentang terbentuknya kelompok eksklusif ulama dan peran mereka dalam merespon setiap perubahan di tengah-tengah masyarakat. Peran yang mereka mainkan tidak hanya sebatas pada ranah kultural tapi juga pada ranah politik elit pemerintah setempat dan juga pada institusi keagamaan yang dibeking oleh pemerintah. Tidak hanya itu, organisasi Islam kemasyarakatan yang modern dan tradisional juga mereka genggam.

Data Buku

Judul : Ulama & Kekuasaan; Pergumulan Elit Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanudin
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun : I, Juni 2012
Tebal : xii + 482 Halaman
ISBN : 978-979-433-691-5

Peresensi:
Achmad Marzuki
Pegiat Farabi Institute, Kader HMI Komisariat Syariah IAIN Walisongo Semarang

Kembali Pada Kearifan Jawa Melalui Puisi

Judul buku    : Ziarah Tanah Jawa, Kumpulan Puisi 2006-2012
Pengarang      : Iman Budhi Santosa
Penerbit           : Penerbit Intan Cendekia
Terbitan           : cetakan pertama maret 2013
Tebal                  :  x + 128 halaman

Dalam bentangan sejarah, Iman Budi Santosa mengekspresikan karya sastranya dalam bentuk puisi. Ekspresi jiwa dalam perjalanan spiritual selama ini. Hiruk pikuk dan kebisingan dunia modern di tengah kehidupan manusia yang sedang mengalami krisis identitas dan krisis eksistensialnya, dan cendrung materialistis Iman Budi Santosa dengan kearifan lokalnya, melalui puisi yang telah diterbitkan dalam buku yang berjudul Ziarah Tanah Jawa hendak mencari jawaban, bahwa tidak ada jalan lain kecuali kembali. Yaitu kehendak terus mencari jati diri yang dalam istilah Jawa adalah Sangkan Paraning Dumadi, dari mana dia berasal, dengan apa ia mengada dan kemana akan berakhir.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya, Wong Jawa anggone semu, sinamun samudana, sesadone ing adu manis. Artinya orang Jawa cendrung semu atau terselubung, menutup kata-katanya apik dan tersamar, masalah apapun dihadapi dengan muka manis. Makna yang lebih luas yang dimaksud adalah seperti halnya isbat  yang sering didendangkan ki dalang, yaitu pergulatan mencari jati diri dibalik simbol atau pertamsilan. Karena dunia pasemon (nalar simbolis) orang Jawa adalah lelakon, untuk menemukan hakikat kedirian, dengan berpikir bijak dan olah batin (spiritual) yang cendrung bersifat simbolik, penuh sanepa, kiasan dan perlambangan. Semuanya itu berkecimpung dengan olah batin, dalam terminologi Abdul Karim al-Jilli disebut potensi ruhani (ruhiyah robbaniyah). Sehingga terminal terakhir yang didatangi manusia adalah berupa perjumpaan dengan Tuhan (Manunggaling kawulo Gusti). Drajat ini bisa diraih oleh manusia sempurna (insan kamil).

Ajakan ziarah kembali ke tanah (kearifan) Jawa oleh IBS ini menjadi obat penawar bagi kesadaran manusia modern (untuk orang Jawa sendiri), tentang bahasa dan kata-kata yang kian hari kian berhamburan di media massa, hiruk pikuk politik dan kekuasaan, yang kerap dipandang menentukan besar kecil perbuatan yang dilakukannya. Sehingga siapapun yang gagal melewati nalar simbolis, maka ia akan tenggelam dalam pemahaman Wong Jawa ora nJawani (Jawa yang tidak melakoni ke-Jawa-annya).

Kedua, pusi pembuka ziarah tanah jawa ini sebuah manifesto yang mengejutkan di tengah-tengah nasib selintir perpuisian kita yang paling mutakhir yang cendrung mengalienasi diri kita dari menjadi manusia seutuhnya, lahir dan batin. Betapa banyaknya puisi kini yang hanya seperti puisi, puisi yang terjebak hanya dalam permainan bunyi dan diksi semata, sekedar menonjolkan sensualisme bahasa yang akrobatik yang sepi dengan makna.

Karenanya puisi-puisi yang IBS yang telah dibukukan dalam bentuk buku yang berjudul ziarah tanah jawa dalam bentuk perlawanan zaman. Seperti dalam kutipan puisi berikut ini: 

Maka, aku tak akan memainkan gelap terang
Dalam puisi dan membuat tercengang
Aku hanya mendendangkan tembang
Ketika lebah kumbang datang dan pergi
Menghisap madu dan terang

Terlebih dari semua itu, seni hanya untuk seni sendiri. Puisi yang hanya berlaku kepada mereka yang hidup di dalamnya, yang entah untuk siapa ia tulis puisi itu, karena hening makna batin, baik dalam konteks spiritual individual maupun sosialnya, ia mungkin semacam pameo “Yang bukan penyair ambil bagian”. Sebuah ironi yang tampak mirip dengan gambaran karya Yunani, Tuhan yang tak dikenal. Kita tahu bahwa Dia ada, tetapi karena ia jauh dan sukar dipahami, maka pengetahuan atas-Nya pun menjadi kuasa yang sok saja.

Selanjutnya puisi-puisi yang tercatat dalam tinta emas sejarah, tidaklah  lahir dari kekosongan budaya, dan canggihnya akrobatik bahasa. Namun puisi-puisi itu langsung berhubungan dengan proses membangun makna hidup dalam konteks pribadi maupun sosial, baik dalam ruang temporal maupun prennial. Puisi yang berjudul Ziarah Tembuni bait pertama: berkaca pada lantai pendapa, malam wangi wijayakusuma// keriput uban serentak melawan, karena di sudut// dekat pot bunga berlumut, saudaraku// tembuni yang ikut serta dari gua garba bunda// masih tersimpan aman dan patut.

Selanjutnya pada bait ke 3 yang berbunyi: tetapi engkau merasa jadi tamu..// padahal, di sana masih ada makam leluhur// ada nisan kayu ditatah dengan goresan paku//mereka tak penah lupa siapa anak cucu// yang dulu nakal, suka mencuri ketela// dan membakarnya malam-malam saat bulan puasa// maka seperti terbangun dari mimpi, kucabuti  rumput teki// yang berakar pada dahi mereka, yang menjalar// menatap nama yang pernah mendongengkan kisah nabi// ramayana hingga mahabarata.

Buku Ziarah Tanah Jawa ini mengajak kita untuk bangkit dan mengingat kembali pada tanah kelahiran. Kembali menjadi orang Jawa beneran bukan Jawa sing ora njawani. Laku spiritual yang dituangkan dalam bentuk puisi oleh Iman Budi Santosa sangat menggugah ke dalam rohani sebagaimana semestinya orang Jawa, selain itu juga  mampu mengangkat kembali pemikiran-pemikiran orang jawa tempo dulu. Kemasan kata yang menghiasi pusi dalam buku tersebut, membuat kita tercengang, bahasanya amat lugas dan bersahaja.

Peresensi : Moh. Fuad Hasan

HMI Komfak Dakwah UIN Sunan Kalijaga
No hp. 085725816448//email:cahbagus8763@yahoo.com/

Praksis Kepemimimpinan Kuno untuk Manusia Modern

Judul : The Way of The Shepherd, Prinsip Sang Gembala, 7 Rahasia Kuno untuk Mengelola Orang Menjadi Lebih Produktif
Penulis : Dr. Kevin Leman dan William Pentak
Penerjemah : Denny Pranolo
Editor : James Yanuar
Penerbit : Visi Press Bandung
Cetakan : 1/ Juli 2010
Tebal : 116 halaman
ISBN : 9786028073332
Harga : Rp30.000

Ibarat botol ketemu tutup, jika sidang pembaca sedang mencari jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana cara memimpin bawahan agar tercipta satu tim yang kompak, loyal, dan produktif?” maka buku ini adalah jawabannya. “Prinsip Sang Gembala” berisi 7 pedoman kepemimpinan untuk mengelola individu-individu agar jadi lebih sinergis. Rumusannya sederhana, dalam ilmu managemen mutakhir 1 + 1 tidak selalu sama dengan 2, karena ternyata bisa menjadi 11 dan bahkan tak terhingga.

Salah satu prinsip utamanya ialah orang harus bebas dari rasa takut. Sehingga ia dapat berkreasi secara optimal. William Pentak pernah bekerja di sebuah bank selama 2 tahun pasca lulus kuliah S1. Tapi pada tahun kedua bank tersebut diguncang masalah keuangan. Setiap dua minggu sekali, ada gosip beredar mengatakan bahwa bank tersebut akan memangkas jumlah pegawai. Alhasil, ia bekerja dengan penuh kekuatiran, pun takut kalau sewaktu-waktu dipecat. Penulis jadi tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya di kantor.

Lantas, Dr. Newman selaku mentor Mc. Bride memberi alternatif solusi. Pemimpin harus bertindak seperti layaknya seorang gembala. Ia perlu memeriksa semua domba-dombanya. Bahkan dengan penuh kesabaran satu-persatu secara teliti. Dari kepala sampai kaki, apakah ada ulat di bulunya, apakah mereka sakit. Bagian kuku kaki domba juga diperiksa, apakah ada yang terkena infeksi. Selain itu, gembala yang baik senantiasa menyediakan padang rumput yang luas dan hijau. Ia pun memagari secara melingkar agar mereka terlindung dari ancaman binatang buas dan srigala jahat. Terakhir tapi penting, kolam air minum harus terisi penuh.

Ironisnya, dewasa ini banyak manager tidak bisa mengatur bawahan mereka. Sebab si gembala tak mengenal kawanan dombanya. “Jadi seorang pemimpin harus tahu bukan hanya status kerja mereka, tapi kondisi pribadi mereka. Banyak manager yang terlalu berfokus pada proyek bukan pada manusianya. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan bukan dengan pekerjanya.” (halaman 26). Padahal para pegawai ingin diperlakukan sebagai individu bukan sekadar angka statistik.

Tapi bukankah di era globalisasi yang sarat kompetisi ini target dan pekerjaan begitu penting? Berikut ini penjelasan yang masuk akal dari Dr. Newman, “Ya, memang benar demikian. Tapi ingat selalu bahwa pegawai kamu yang mengerjakan dan mencapai target-target tersebut. Mereka itu bukan benda mati, tapi makhluk hidup dan merupakan potensi terbesar dalam perusahaan.” (halaman 26). Banyak manager mengamini tesis tersebut, tapi berapa banyak yang sungguh melakoninya di lokus bisnis mereka?

Sistematika buku ini terdiri atas 7 bab. Mulai dari “Kenali Kondisi Domba Anda”, “Temukan SHAPE Kawanan Domba Anda”, “Tongkat Arahan”, sampai “Hati Gembala”. Semua dipaparkan lewat story telling (bercerita). Sehingga mudah pesan yang terkandung di dalamnya. Selain itu, tak ada kesan menggurui karena sekadar sharing pengalaman. Referensi utamanya ialah wawancara eksklusif antara penulis dan McBride, CEO General Technologies pada 12 April 1957. Kendati sudah lewat 6 dekade lebih, isinya tetap relevan diterapkan di abad ke-21 ini.

Salah satu istilah yang unik ialah SHAPE (Strength, Heart, Attitude, Personality, Experiences) alias kekuatan, hati, sikap, kepribadian, dan pengalaman-pengalaman. Kalau kekuatan lebih merupakan kemampuan (skill) maka hati (heart) merepresentasikan niat. Dr. Neuman menjelaskan secara gamblang, “Perusahaan yang penuh dengan orang pintar dan berbakat tapi tidak memiliki hasrat untuk bekerja sama saja bohong. Tak peduli seberapa berbakatnya orang tersebut, kalau ia tak memiliki komitmen untuk memanfaatkan bakatnya, percuma saja. Jadi saya selalu mencari orang yang memiliki hasrat. Kalau saya mempekerjakan mereka pada posisi yang tepat, mereka akan seperti peluru meriam yang melesat. Mereka akan melihat pekerjaan sebagai hidup itu sendiri dan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hal ini yang akan memberi perbedaan besar!” (halaman 33).

Khusus terkait kepribadian (personality), ada orang introvert ada juga yang extrovert, bukan? Begitupula dalam diri para pekerja, ada yang suka tantangan baru, ada yang tidak suka dengan perubahan. Sehingga apabila sebuah perusahaan sering merubah segala sesuatunya setiap 6 bulan sebagai proses rotasi, maka dalam seleksi karyawan harus dicari orang-orang yang suka tantangan baru dan siap menyongsong angin perubahan.

Buku setebal 116 halaman ini mengingatkan kita semua pada prinsip golden rule (aturan emas). Kalau kita mengharapkan yang terbaik dari bawahan, maka kita pun harus memberikan yang terbaik pada mereka terlebih dahulu. Sebab, “We get what we give,” kita senantiasa memperoleh apa yang kita berikan. Selamat membaca!

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Kontributor Tetap di Majalah Pendidikan Online Indonesia http://mjeducation.co/)

Setahun Penerbit Independen Terbitkan 60 Buku

HMINEWS.Com – Sebuah penerbit independen di Pare, Kediri-Jawa Timur, FAM Publishing, dalam setahun belakangan telah menerbitkan 60 judul buku. Buku-buku itu ditulis oleh berbagai kalangan, mulai dari siswa SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga, dosen, jurnalis, hingga kalangan pemerintah.

“Bulan Juni 2013 ini, sudah setahun FAM Publishing berdiri, dan dalam setahun ini kami telah menerbitkan 60 judul buku,” ujar Aliya Nurlela, Manajer FAM Publishing, Kamis (6/6/2013).

Dikatakan, FAM Publishing adalah divisi penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang awalnya didirikan untuk menerbitkan buku-buku karya bersama anggota FAM Indonesia. Namun dalam perjalanannya, berbagai pihak tertarik untuk menerbitkan buku-buku mereka di FAM Publishing.

“Yang kami syukuri, eksistensi FAM Publishing dapat memberikan manfaat kepada banyak orang, tidak hanya untuk anggota FAM Indonesia binaan kami,” ujar Aliya Nurlela yang juga penulis sejumlah buku baik fiksi maupun nonfiksi.

Sebagai penerbit independen, jelas Aliya Nurlela, FAM Publishing tetap menjaga kualitas karya yang diterbitkan dan kualitas hasil cetakan. Dengan demikian diharapkan buku-buku terbitan FAM Publishing tidak kalah saing dengan buku-buku yang terbit di penerbit lain.

“Harapan kami, ke depan FAM Publishing bisa menjadi penerbit konvensional yang kiprahnya dapat sejalan dengan penerbit lainnya guna menyemarakkan industri perbukuan di Tanah Air,” ujarnya.

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang memayungi FAM Publishing berdiri pada 2 Maret 2012 dan berkantor pusat di Jalan Mayor Bismo, No. 28, Pare, Kediri, Jawa Timur. Bertujuan menyebarkan semangat aishiteru (cinta) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

“FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan,” tambah Aliya. (REL)

Bedah Buku HMI 1963-1966

HMINEWS.Com – Buku terbaru karya M Alfan Alfian ‘HMI 1963-1966; Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara’ dibedah. Acara digelar di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) dengan pembedah yang merupakan para pelaku sejarah kala itu, dari kalangan HMI maupun non-HMI.

Para pembedah adalah Sayidiman Suryohadiprojo (mantan Danyon Siliwangi di masa Orba), Harry Tjan Silalahi (mantan aktivis PMKRI),  Waluyo Martosugito (mantan aktivis GMNI) dan moderator sekaligus komentator Fachri Ali (mantan aktivis HMI). Hadir pula dan memebrikan sambutannya, mantan KEtua PB HMI 1963-1966 Sulastomo dan mantan Ketua MK, Mahfud MD, serta mantan aktivis HMI lintas generasi.

Sebagaimana diketahui, Periode 1963-1966, merupakan periode yang sangat kritis bagi Indonesia maupun HMI dengan musuh bersama yaitu pihak komunis yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi yang berafiliasi dengannya seperti CGMI dan BTI (Barisan Tani Indonesia). Waktu itu PKI ingin mengganti Pancasila dengan ideologi komunis yang dipaksakan dengan berbagai cara.

PKI berhasil pula mempengaruhi Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno, sehingga menciptakan konsep ‘Nasakom’ (Nasionalis-Agama-Komunis). Menurut Sayidiman, bahkan Pancasila dari lima sila diperas sampai menjadi hanya satu sila yaitu gotong-royong, hal itu akibat pengaruh PKI. Eka Sila ‘Gotong royong’ di sinilah yang menjadi kemenangan komunis atas kelompok nasionalis dan Islam, yang masing-masing diwakili PNI dengan sejumlah partai lainnya serta Masyumi (dibubarkan 1960) dan NU.

HMI turut memainkan peran penting dalam perlawanan terhadap PKI. Bekerjasama dengan TNI Angkatan Darat dan elemen lainnya, setelah pemberontakan G30S/PKI, menggalang kekuatan secara nasional mengganyang PKI. Pemerintah yang baru (Orde Baru) akhirnya resmi membubarkan dan melarang PKI di Indonesia.