Memaksimalkan Proses Berpikir

Judul buku: MindWeb: Konsep Berpikir Tanpa Mikir
Penulis : Eka Wartana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Pertama, 2012
Tebal : 221 halaman
Harga : Rp 60.000

Setiap hari manusia memproses rata-rata 50.000-60.000 pikiran. Setiap informasi yang didengar, dirasakan, dilihat, dipikirkan, dialami akan terekam di otak. Misalnya, kita sedang mendengarkan seminar dari seorang pakar. Setiap kata yang disebutkan akan direkam di otak. Secara sadar mungkin hanya sebagian saja yang bisa kita ingat. Semakin lama semakin sedikit yang bisa kita ingat. Sementara itu, semua informasi itu masih tersimpan dengan baik dibawah otak bawah sadar.

Di bawah pengaruh hipnotis, kita akan bisa menjawab dengan lancar tentang materi seminar, yang dalam keadaan sadar sudah tidak bisa diingat lagi. Hal ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa otak manusia mempunyai kapasitas yang sangat luar biasa, yang mampu menyimpan begitu banyak informasi. Hebatnya lagi otak kita tak pernah mengeluh dengan banjir informasi yang kita masukkan ke otak.

Sebenarnya rangkaian informasi yang tersimpan di alam bawah sadar itu bisa kita manfaatkan dengan maksimal. Meski demikian, untuk menggali informasi dari bawah sadar, tidaklah semudah kita mengatakannya. Diperlukan latihan yang kontinyu untuk menggabungkan berbagai hal dan informasi dalam pikiran sadar dengan apa yang kita ketahui, yang tersimpan di dalam memori jangka panjang “bawah sadar”.

Buku MindWeb ini sebagai acuan berpikir holistik yang memanfaatkan nilai keterkaitan rangkaian informasi untuk melipat-gandakan dan memaksimalkan kemampuan otak dalam olah pikir. Konsep ini digambarkan dalam diagram yang prosesnya terkait dengan menerima, menyimpan dan mengingat kembali informasi yang kita butuhkan secara utuh, cepat, cermat, tepat, teliti dan efisien.

Dengan sering melakukan latihan membuat diagram MindWeb, pengulangan ini akan menggerakkan subconscious mind untuk membentuk pola pikir yang diinginkan dan dibutuhkan. Diagram MindWeb menggambarkan keterkaitan satu informasi dengan sebuah informasi lainnya, atau dengan beberapa informasi lain. (Hal. 25) Ada dua hal yang sangat penting dan bermanfaat dari buku ini: Pertama, secara umum, hal yang bermanfaat bagi masyarakat adalah kemampuan otak untuk mengingat kembali segala informasi yang kita butuhkan secara utuh, dengan memilah-milah dan memilih kembali informasi tersebut dari kumpulan informasi yang tersimpan di memori bawah sadar kita. (hal. 102). Kedua, hal yang bermanfaat bagi masyarakat ilmiah adalah memanfaatkan mindweb diagram dalam dunia penelitian, terutama untuk menyusun kerangka berpikir ilmiah secara holistik dalam mendeskripsikan hubungan nilai keterkaitan proposisi, konsep, teori, ilmu dan paradigma, serta hopotesis sehingga alur berpikir dapat terlihat dengan jelas, tepat benar, baik dan teliti.

Buku mindweb yang disusun oleh Eka Wartana ini sangat bermanfaat untuk kegiatan sehari-hari di segala bidang dan profesi. Konsep berpikir MindWeb ini bisa diapilikasikan pada bidang mana saja, bisnis, sains, kesehatan, psikologi, kajian politik, hukum, entertainment, NLP, spritual dan lain sebagainya.

Saifullah, kader HMI Kom. Syariah IAIN Walisongo Semarang

Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan

Judul : Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis : N. Mursidi
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 1/Februari 2013
Tebal : xiv + 243 halaman
ISBN : 978-602-020-594-6
Harga : Rp44.800

“Di jalanan aku mengenal kehidupan. Dari halaman koran, aku bisa belajar menulis.” – Nur Mursidi

Tatkala masih kuliah di Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis pernah mengontrak rumah di dekat rel kereta api Sapen. Agar lebih murah, mereka urunan (membayar) beramai-ramai. Total penghuninya ada genap 8 orang. Uniknya, hampir setiap lima belas menit lantai rumah tersebut berguncang dan menimbulkan gempa lokal.

Alhasil, selama tiga bulan pertama, ia tak bisa tidur nyenyak di malam hari. Tapi ibarat blessings in disguise alias berkah terselubung, ia malah jadi lebih produktif menulis. Suara mesin ketiknya bertalu memecah kesunyian malam. Saat kereta api melintas, otomatis kantuknya sirna akibat guncangan kecil yang tercipta. Tahun 2003 merupakan puncak kreativitas Nur Mursidi. Ada total lima puluh enam tulisan dalam aneka genre seperti – resensi buku, cerpen, esai sastra, esai film, opini, dan puisi – bertebaran di berbagai media lokal dan nasional.

Begitulah sekilas perjuangan hidup penulis buku ini. Kini pria kelahiran Lasem, Jawa Tengah tersebut hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah Islam bernama Hidayah. Pada saat seleksi wawancara calon jurnalis, pimpinan redaksi kagum dengan karya tulisnya yang dilampirkan dalam surat lamaran. Ternyata ijazah sarjananya lebih sebagai formalitas belaka. “Rupanya banyak tulisanmu yang sudah dimuat di lembaran koran. Bahkan kau mampu menulis dalam banyak genre,” puji sang redaktur saat itu.

Tulisan-tulisan N. Mursidi ialah – meminjam istilah Tukul Arwana – hasil kristalisasi keringat. Dulu ia harus naik-turun bus antarkota untuk menjajakan koran di jalanan kota Gudeg. Lewat buku “Tidur Berbantal Koran” ini ia berbagi pengalaman tersebut. Setiap hari bertemu dengan tukang becak, penjual rokok, sopir bus, anak jalanan, pengamen, bahkan pencopet. Bahkan pada suatu siang perutnya pun nyaris ditikam preman yang mabuk. Uang Rp2.000 hasil menjual koran ludes seketika.

Kendati demikian, sederet pelajaran berharga dapat ia peroleh di jalanan. Dari kernet bus, ia belajar bagaimana naik dan turun bus agar tak jatuh terjerembab. Dari penjual rokok, ia belajar kesabaran kalau koran-korannya tak laku. Ia kerap kali menjumpai si penjual rokok menunggui kios sampai larut malam. Dari sopir bis, ia belajar mengendalikan emosi karena setiap sopir bus diburu waktu ngetem yang terbatas dan harus bersaing mencari penumpang. Dari tukang becak, ia sadar untuk rutin membaca koran di pagi hari. Dari gerombolan pencopet, ia belajar cara mencari uang dengan halal. Sebab ia jadi tahu kalau cara yang mereka tempuh tidak barokah itu justru merugikan orang lain (halaman 55).

“Tidur Berbantal Koran” merupakan potret perjuangan seorang anak manusia yang tak kenal lelah. Hingga ia mampu meraih mimpi di tengah keterbatasan. Sepakat dengan pendapat Effendi Bepe, “Buku ini perlu dibaca orang muda atau siapa saja yang sedang “galau” merajut masa depan. Sukses memang harus diperjuangkan, sebab tidak akan pernah jatuh dari langit.”

Selamat membaca!

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta

Menanti Kemandirian Ekonomi Indonesia

Data Buku
Penulis    : M. Dawam Rahardjo
Judul       : Pembangunan Pascamodernis. Esai-Esai Ekomoni Politik
Penerbit : INSIST Press, 2012
Tebal        : xxi + 182 halaman ISBN: 978-602-8384-50-6

Membayangkan kemandirian ekonomi Indonesia, layaknya membayangkan masa depan pasar tradisional. Derap modernisasi, menghendaki keberadaan pasar tradisional untuk kian ditinggalkan, dilupakan, sampai suatu saat nanti layak untuk ‘dimusiumkan’. Terlihat laju perkembangan pasar modern jauh lebih pesat, dibandingkan pasar trasidional. Kadang malah berdampingan. Kesan yang terbangun pun berbeda, yang satu bersih, bermandikan cahaya dan berpendingin udara, yang satunya lagi, kumuh, bermandikan peluh keringat dan pengap. Bukan tawar menawar yang terjadi, tetapi sejauh mana utilitas hasrat berbelanja termanifestasi. Pasar tradisional sebagai arena gerak akar rumput dalam memenuhi hal ihwal urusan rumah tangga, kian ‘diambang batas kemusnahan’, akibat laju developmentalisme, patut menjadi perhatian.

Pada tahun 1949, saat Presiden Harry S. Truman mengumumkan diskursus developmentalisme sebagai bahasa dan doktrin resmi kebijakan luar negeri AS, (Mansour Fakih, 2006: 200). Mulailah kerja developmentalisme yang menitikberatkan pada usaha pengentasan persoalan ekonomi dalam negeri, serta dari jerembab utang luar negeri. Berkaitan dengan usaha ini, dirumuskanlah kebijakan-kebijakan kepada Negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, untuk menjalankan ‘perintah-perintah’ dari pihak pemberi utang, agar ekonomi negara tersebut keluar dari krisis ekonomi. Perintah-perintah pihak pengutang, sukses dijalankan oleh masa Orde Baru, sekaligus menjadi daya tahan (status quo) rezim berkuasa. Cara pandang Negara Dunia Pertama terhadap ‘kelesuan’ ekonomi yang menerpa Negara Dunia Ketiga, dinilai akibat dari gejolak masyarakat yang tradisional. Agar beranjak kepada yang modern, pembangunan harus dilakukan.

Pembangunan sebagai rumusan jalan keluar ekonomi yang ditawarkan, kentara terlihat sebagai penundukan kembali negara-negara bekas jajahan. Penundukan bukan lagi secara fisik, tetapi secara ideologis, melalui kekuasaan, ketergantungan ekonomi dan langkah demi langkah mengikuti anjuran Bank Dunia, IMF, WTO, perusahaan/bank transnasional serta agen kapilatis yang lain. Dengan kata lain, dari pembangunan terus berlanjut ke globalisasi. Selain menancapkan dominasi asing di Indonesia dalam bentuk dana, developmentalisme adalah tameng menangkal kekuatan sosialis, pasca perang dingin. Sembari terus mendorong laju Negara-Negara Dunia Ketiga melalui sektor pembangunan, tirai penjajahan baru justru terlihat di dalamnya. Kolonialis format baru dalam bentuk utang luar negeri. Ketika rezim Orde Baru gencar melanjarkan agenda pembangunanisme, justru kemalangan didapat semenjak bantuan dana asing mulai beroperasi; peristiwa Malari, dan berdampak negatif; kemiskinan kian menggelayut di pelosook negeri.

Gelombang krisis moneter 1997 berlanjut dengan tumbangnya rezim. Lahirlah masa harapan baru; Reformasi. Reformasi 1998 satu sisi merupakan keberhasilan gerakan massa, memaksa mundur sang Bapak Pembangunan. Pada sisi lain, ekonomi politik dalam negeri tak serta merta beranjak keluar dari krisis. Akibat lanjut dari krisis adalah korupsi, kolusi dan nepotisme menggerogoti dari pusat sampai daerah. Desentralisasi kekuasaan memicu raja- jara kecil. Disintegrasi bangsa kian mengkhawatirkan. Basis ekonomi yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 seperti menjadi hiasan dinding, dan ditinggalkan. Justru, terlihat usaha menjalankan paradigma ekonomi bercorak neoliberalisme.

Geliat (neo)liberalisme sebenarnya sudah terlihat, semenjak pasal 33 UUD 1945 sebagai tulang punggung tegaknya ekonomi Indonesia, tak lantas menjadi punggawa. Kemandirian ekonomi dijalankan justru menengok pihak asing, membuka investasi, perdagangan bebas dan liberasi eksploitasi sumber daya alam kepada swasta seraya terlibat aras perdagangan global. Apa yang dicitakan Bung Karno; berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, berkepribadian di bidang kebudayaan, seolah menjadi angin lalu. Tiga prinsip berdaulat itu, kalah oleh rayuan praktis Negara Dunia Pertama.

Hadirnya buku Pembangunan Pascamodernis karya M. Dawam Rahardjo, setidaknya membawa hawa baru. Dalam buku ini, terpapar melacak kembali jalan dalam menatap pembangunanisme, dalam ulasan Esai-Esai Ekonomi Politik. Ada enam belas esai. Satu esai dengan esai lainnya menyusun bersambung, meski tidak bersatu utuh, tetapi memiliki keterikatan dalam konteks pokok bahasan. Secara keseluruhan, buku ini merunut praktik developmentalisme. Mencakup aspek; ontologis, perekonomian Indonesia di awal perkembangannya; epistemologis, khususnya paradigma pembangunan; dan aksiologis, terutama dampaknya terhadap perekonomian Indonesia desawa ini. (hlm. xvii).

Menurut M. Dawam Rahardjo, untuk melangkah ke depan, agar ekonomi Indonesia belajar mandiri dan berdiri di kaki sendiri. Segera beranjak dari ekonomi modernisasi menuju ekonomi pascamodernis. Dengan berciri pada; kembali pada cita-cita Proklamasi yang tercermin dalam Pancasila dan UUD 1945 sebelum perubahan, membangun kembali tradisi, desentralisasi dan pembangunan yang merata, membangun ekonomi rakyat sebagai bentuk praktis dari fondasi pembangunan berbasis kerakyatan, dan pembangunan sebagai gerakan rakyat. (hlm. 8-9).

Bagian bab akhir dari esai buku, didapati jalan, dalam bentuk rekayasa ulang manajemen pembangunan. Jalannya adalah ekonomi kerakyatan. Suatu konsep strategi pembangunan dalam konteks Indonesia. Inti dari konsep ini adalah pembangunan pedesaan dan industrialisasi pedesaan dalam rangka pemberantasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan rakyat kecil. (hlm. 167). Secara konsep seperti terumuskan diatas terpapar jelas, tetapi belum menyentuh aspek operasional praksis untuk bagaimana ekonomi kerakyatan itu mewujud dalam praktek ekonomi Indonesia.

Dalam realitasnya saat ini, menunjukkan hal yang berbeda, ketika ingin ber-daulat dalam politik dan ber-ekonomi secara kerakyatan dari pada pendahulu (founding fathers), dalam prakteknya seperti adagium “besar pasak dari pada tiang”. Perjalanan ekonomi Indonesia, kian bergerak mengikuti mekanisme pasar, peran negara dikesampingkan. Kedaulatan atas bumi, tanah, air, energi dikelola perusahaan asing. Rakyat tak berkuasa di tanah air negeri sendiri, merana. Ekonomi kerakyatan, sejatinya menjadi langkah nyata penyelenggara negara, bila memang benar-benar berpihak kepada rakyat, tak semata hanya sebatas retorika politik belaka. Sudah seharusnya Indonesia mandiri secara ekonomi. Merdeka dari belenggu pembangunanisme.

*Nur Wahid
Ketua Bidang Perkaderan HMI (MPO) Badko Jawa Bagian Tengah dan Timur

Ummah dan Imamah- Ali Syari’ati

Konon, pernah serombongan mahasiswa Iran menemui Imam Khomeini. Kemudian mahasiswa tersebut bertanya tentang buku Ali Syari’ati yang mungkin direkomendasikan oleh Imam Khomeini. Lalu spontan Imam menjawab: “Baca buku-buku karya Muthahari.” Sampai tiga kali berulang-ulang sang Imam menyuruh mahasiswa tersebut untuk mengenal buku Muthahari terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan buku-buku yang ditulis oleh Ali Syari’ati memiliki beragam perspektif yang mungkin sering disalahpahami oleh kaum awam, termasuk para mahasiswa. Sebagai contoh, dalam buku Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati dengan tegas mengatakan bahwa tujuan dari revolusi Islam adalah menciptakan masyarakat tanpa kelas. Apakah Ali Syari’ati seorang marxis? Disatu sisi ia menolak konsep kepemimpinan ala Komunisme? Ataukah ia seorang pemikir Sy’iah yang anti-mullah? Atau tidak diantara keduanya? Pertanyaan itu yang hendak dijawab dalam buku setebal 256 halaman ini.

Diantara 20 buku judul buku Ali Syari’ati yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini merupakan buku dengan terjemahan terbaik dan mudah dipahami bahkan bagi pembaca awam yang belum mengenal sosok Ali Syari’ati.

Secara garis besar, Ummah dan Imamah adalah prinsip akidah Islamiyah yang paling penting dan terkenal, khususnya dikalangan mazhab Syi’ah. Pokok permasalahan terbesar adalah makin jauhnya Islam dari nilai-nilai intelektual, perubahan, dan kehadiran Imam teladan diantara Ummah. Dengan cerdas beliau menulis “Sejak masa Sayyid Jamaluddin Al-Afghani, kita lihat Islam sudah tidak lagi seperti apa yang tampil di permukaan. Kita ketahui bahwa di dalamnya terdapat banyak sekali sendi-sendi yang meragukan—seperti yang kita saksikan dewasa ini—atau akidah tersebut bercampur aduk dengan unsur-unsur budaya asing”.

Kritik tajam Ali Syari’ati dalam membandingkan gerakan kaum Protestan yang disebut sebagai pembaharu dunia dengan keadaan kaum Muslim yang jauh tertinggal, membuka mata pembaca terhadap kesalahan-kesalahan berpikir yang selama ini mengganggu jalannya perkembangan ilmu di kalangan Muslim.

Konsep Imam sendiri dalam mempersiapkan revolusi Islam menurut Syari’ati memiliki posisi sentral: “Imam mempunyai peranan penting dalam kehidupan, dan beriman kepada Imam memiliki makna yang besar dalam kehidupan para pemikir dan cendekiawan, khususnya para pengkaji masalah-masalah sosial…Imam juga dapat diartikan sebagai Nabi bersenjata yang baru.”. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi aktivis mahasiswa yang konsern dalam gerakan sosial. Ali Syari’ati pantas disebut sebagai pemikir Iran terbesar di abad ini, karena penjelasan tentang konsep-konsep dasar Ummah dan Imamah-nya sangat terperinci dan detail, dari cara memilih seorang Imam, kepatuhan terhadap Imam, dan strategi taktis lainnya untuk menggerakan Ummah menuju revolusi.

Pengarang DR. Ali Syari’ati
Penerjemah Afif Muhammad
Penerbit RausyanFikr Institute
Jumlah halaman 256 hal.
Tahun terbit 2012
Buku Tersedia di TB. Rausyanfikr YogyakartaJl. Kaliurang Km 5,6 Gg. Pandega Wreksa No.1B

Resensi oleh: Darsono

Islamic Book Fair Akan Ditingkatkan Ke Taraf Internasional

HMINEWS.Com – Sukses menggelar Islamic Book Fair (IBF) di Jakarta, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) berencana melebarkan sayap. Menggelar perhelatan serupa di provinsi lain di seluruh Indonesia, dengan taraf yang lebih besar (internasional) dan menghadirkan penerbit-penerbit dari berbagai penjuru dunia.

 “Akan digagas menjadi go internasional. Mulai 2014 akan berpameran dari kota ke kota, roadshow dan dengan dukungan pemerintah dan IKAPI-IKAPI daerah untuk melaksanakan kegiatan di daerah,” kata Ketua IKAPI Jakarta, Afrizal Sinar dalam konfernsi pers penutupan IBF, Ahad (10/3/2013).

Sejumlah daerah diusulkan sebagi tempat penyelenggaraan pameran buku bertaraf internasional tersebut, seperti Bali dan Lombok yang sekaligus mempunyai daya tarik tinggi dari sisi kepariwisataan dan terkenal di dunia.

Syafii Antonio, peraih penghargaan tokoh perbukuan 2013, menyatakan kegiatan tersebut akan dibuat seperti pameran buku internasional di Kairo dan Frankfurt. Tidak hanya sebagai ajang menghadirkan penerbit dunia, pameran buku internasional nantinya juga diharapkan menjadi sarana untuk mengekspor pemikian keislaman Indonesia yang lebih toleran ke kancah dunia, yaitu dengan adanya penerjemahan buku-buku  berbahasa Indonesia ke bahasa Arab dan Inggris.

Kata Syafii Antonio, selama ini banyak penerbit di Indonesia hanya mencari jalan mudah, yaitu dengan menerjemahkan buku-buku berbahasa asing ke Bahasa Indonesia. “Itu merupakan kemalasan intelektual, yang paling gampang menerjemahkan dan dijual.

Untuk beberapa buku yang sifatnya pakem, seperti tafsir, hadits, hal itu masih bisa dimaklumi. Tetapi yang sifatnya pemikiran Isam, Indonesia jelas berbeda dari dunia lain termasuk dunia Arab.

Dipajaki Selangit, Penyelenggara Islamic Book Fair Tekor

HMINEWS.Com – Ketua Ikatan Penerbit  Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta, Afrizal Sinaro, mengatakan penyelenggara Islamic Book Fair (IBF) tekor. Meski terlihat wah dan begitu gegap gempita, tetapi proyek peradaban tersebut, IBF, dikenakan pajak yang terlalu besar, mencapai ratusan juta rupiah.

“Sebenarnya panitia tidak sanggup lagi  membayar (sewa) Istora ini. Tidak sanggup lagi. Karena pajaknya saja ratusan juta,” kata Afrizal Sinaro dalam konferensi pers usai talkshow penutupan IBF di Istora Senayan Jakarta, Ahad (10/3/2013).

Menurut Afrizal, dari luar tampaknya memang wah, pengunjung yang datang  per hari mencapai 40.000-an orang, akan tetapi semua uang yang didapat habis tersedot untuk pajak. Seharusnya, kata Afrizal mengulang sambutan Hatta Radjasa sebelumnya, harus ada regulasi dan kebijakan khusus untuk membangun budaya baca.

Pihak pemerintah, kata Afrizal, selama ini hanya datang untuk meresmikan acara IBF, sedangkan pihak pengelola Gelora Bung Karno dan Pemprov DKI Jakarta memungut pajak terlalu besar, padahal untuk kegiatan tersebut seharusnya mendapat keringanan, karena sifatnya yang tidak semata berorientasi keuntungan.

Selain itu, karena pameran dilangsungkan di tempat atau fasilitas untuk olahraga, maka sudah tentu fasilitasnya tidak memadai untuk pameran sebesar IBF. Pengunjung pun banyak mengeluh lokasi yang terlalu sempit dan berjubel, minim sanitasi dan sarana ibadah.

Buku ‘Api Putih di Kampus Hijau,’ Mengenang Slamet Saroyo

HMINEWS.Com – Telah terbit, buku yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan Almarhum Slamet Saroyo, salah seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Yogya. Berjudul “Api Putih di Kampus Hijau, Gerakan Mahasiswa UII Dekade 1980-an.”

Buku ini merupakan kumpulan tulisan untuk mengenang tragedi kematian Slamet Saroyo – mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) yang dibunuh pada 4 November 1989 karena berusaha mengungkap kasus korupsi di kampusnya tersebut.

“Beliau Insyaallah wafat sebagai syuhada 23 tahun yang lalu memperjuangkan kebenaran dengan membongkar kasus korupsi di kampus UII Yogyakarta. Almarhum merupakan salah seorang Pemandu dan Instruktur HMI MPO Cabang Yogya pada akhir 80 an,” ujar Eko Budi Wibowo, Ketua HMI Komisariat FTI UII, Jum’at (25/1/2013).

Menurut Eko, karena merupakan kumpulan tulisan tetang aktualisasi perjuangan kader HMI MPO, sebaiknya semua kader atau anggota membacanya.

Untuk mendapatkan buku tersebut bisa menghubungi Eko (088806112245), dengan harga mahasiswa Rp 35.000 dan Rp 50.000 harga alumni. Buku tersebut juga telah tersedia di toko-toko buku.

Adhyaksa Dault Menghadang Negara Gagal

HMINEWS.Com – Mantan Menpora, Adhyaksa Dault meluncurkan buku ‘Menghadang Negara Gagal. Sebuah Ijtihad Politik.’  Dimaksudkan sebagai kritik dan mencoba mencari jalankeluar dari krisis bangsa yang diakibatkan para elitnya.

Mengenai karut-marutnya perpolitikan, Adhyaksa menyatakan bahwa reformasi telah kehilangan arah, dan para pemuda sudah jengah menghadapi kenyataan tersebut.

“Reformasi sudah semakin kehilangan arah. Ini karena kita belum punya blue print soal bagaimana dan ke mana bangsa ini akan dibawa,” kata Adhyaksa Dault dalam peluncuran bukunya tersebut di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Adhyaksa menyampaikan agar para elit politik lebih mengedepankan kepentingan bangsa, dan atidak terkooptasi kepentingan kelompok masing-masing.

“Saya hanya ingin menyadarkan para pemimpin bangsa ini agar tidak terkotak-kotak dalam kamar. Keluar dari kamar itu, ada ruang makan bersama. Ada rumah yang namanya NKRI,” lanjutnya.

Adhyaksa mengkritik banyaknya kebijakan yang kini telah menyimpang dari apa yang telah dirintis para pemipin sebelumnya. Untuk menghindarkan bangsa dari kegagalan, kata dia, solusinya adalah kembali pada Pancasila sebagai jatidiri bangsa.

“Salah satu saolusinya adalah kembali ke Pancasila seperti yang diciptakan oleh bapak-bapak pendiri bangsa. Bangsa ini kehilangan penjiwaan dari pancasila terutama sila keempat.”

Sejumlah tokoh nasional hadir dan memberi komentar mengenai isi buku yang diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun ke-70  ibunda Adhyaksa Dault tersebut. Di antaranya mantan Wapres Tri Sutrisno, Ketua Umum Ormas Nasdem Surya Paloh, Menteri Hatta Rajasa, Wakil Ketua DPR Pramono Anung dan lainnya. []

Aktivis Mahasiswa Belajar Merawat Indonesia

HMINEWS.Com – Tak bisa dipungkiri, gerakan mahasiswa masih merupakan basis untuk membina dan menggembleng calon-calon pemimpin bangsa. Meski dalam prakteknya tidak luput dari berbagai kenyataan miris, seperti maraknya korupsi oleh mereka yang dulunya merupakan aktivis sewaktu menjadi mahasiswa.

Karenanya, mahasiswa harus kembali ke khitahnya sebagai agen perubahan, demikian kata Agung Mahdi, panitia peluncuran dan bedah buku “Belajar Merawat Indonesia di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta, Rabu (15/2/2011).

“Kenapa mahasiswa, karena gerakan mahasiswa merupakan wadah untuk menggembleng calon-calon pemimpin bangsa. Kita tidak bisa menafikan, para pemimpin bangsa adalah mereka yang pernah digembleng melalui wadah ini,” kata Agung Mahdi kepada HMINEWS.Com.

Menurutnya, karena itu pulalah, Dompet Du’afa memberikan beasiswa bagi kalangan aktivis. Mereka kuliah di 3 perguruan tinggi negeri, yaitu Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Buku “Belajar Merawat Indonesia” merupakan kumpulan tulisan 24 aktivis penerima beasiswa Bakti Nusantara dari Dompet Du’afa tersebut. Salah satu penulis, Laras Susanti yang kuliah di UGM menjadi pembicara pada peluncuran dan bedah buku tersebut bersama Fajroel Rachman dan Bimar Arya.

Sengaja dipilih tema “Peran Aktivis Gerakan Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia” dalam peluncuran buku tersebut untuk mencari formula penyelesaian masalah besar bangsa ini. (fathur)

Bedah Buku “Mengapa Gerakan Islam Gagal?” di GPI

HMINEWS.Com, – Sejak Pemilu 2009, wibawa politik Islam di Indonesia telah sirna ditelan sistem demokrasi transaksional. Kemerosotan itu telah sampai pada titik terendah yang tiada presedennya dalam sejarah Indonesia modern. Sayangnya sangat sedikit yang mencoba membicarakan masalah besar ini.

Menyikapi hal, Lembaga Pers Gerakan Pemuda Islam (GPI) akan mengangkat wacana “Mengapa Gerakan Islam Gagal?” dalam bentuk diskusi dan bedah buku bersama teman-teman Gerakan Islam. Buku “Mengapa Gerakan Islam Gagal?” tersebut merupakan tulisan mantan Ketua Umum PB HMI (MPO) Syahrul Effendi Dasopang.

Acara bedah buku akan dilangsungkan hari Ahad, 29 Januari 2012 pukul 13.00-selesai di Aula PP GPI Jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat.

Direncanakan hadir sebagai pembedah, penulis buku, Syahrul Effendi Dasopang, Dr Muhammad Nasi (pengamat politik) serta ketua-ketua OKP yang terdiri dari PP GPI, PB PII, PB HMI, PP IMM, PB PMII, PP Hima Persis, PP KAMMI dan Masika ICMI.

Dalam buku tersebut diulas berbagai ironi politik umat Islam di Indonesia, partai politik, peran ulama dan kaum cendekiawan serta kemunduran generasi muda Islam.