Menyibak Kembali Kisruh BLBI yang Nyaris Dipetieskan

Judul Buku : BLBI Ektraordinary Crime; Satu Analisis Historis dan Kebijakan
Penulis : Djony Edward
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : 1,Februari 2010
Tebal : xiv + 500 halaman
Peresensi : Eny Maidah

Jauh sebelum kasus Bank Century bergulir beberapa bulan yang lalu, kasus yang tidak kalah besarnya yang merugikan keuangan Negara Triliunan lebih adalah skandal BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Bahkan, kasus BLBI oleh para pakar perbankan disebut sebagai kasus megakorupsi yang tergolong luar biasa (Ektraordinary Crime) karena berdampak besar terhadap sendi-sendi perekonomian bangsa.

BLBI merupakan bantuan pemerintah kepada 48 bank sawsta yang dimaksudkan untuk mengatasi krisis ekonomi pada tahun 1997. Namun, pertanggung jawaban dari dana itu tidak jelas. Skandal BLBI melibatkan banyak pihak yang sulit diungkap dalam waktu sekejap. Masing-masing pihak baik pejabat pemerintah(BI), konglomerat pemilik bank maupun pengelola BPPN (Badan Penyehatan perbankan Nasional) berkelit seolah lepas tanggung jawab. Apa pasal?.

Buku “ BLBI “ Ektraordinary Crime; Satu Analisis Historis dan Kebijakan” ini berusaha menyingkap tabir misteri teka- teki skandal BLBI. Menurut Djony Edward, penulis buku ini, menyatakan bahwa skandal BLBI jelas sebuah kejahatan luar biasa yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kasus ini telah menyebabkan kerugian Negara Triliunan rupiah sekaligus mengguncang perekonomian nasional. Dana yang digelontorkan pemerintah dalam kasus BLBI ini sebesar Rp. 144,54 triliunan Rupiah. Namun, sekali lagi, terjadi salah urus dalam proses penyaluran, penggunaan dan penyelesaian kewajiban.

Ironinsnya, lanjut penulis, kasus ini seolah disepelekan begitu saja oleh para penegak hokum. Para penegak hukum seolah menutup mata terhadap kasus BLBI sehingga membiarkan para pelakunya berkeliaran bebas. Para penegak hukum setengah hati dan tidak berani bertindak tegas terhadap para pelakunya. Bahkan, Dr. Frans H Winarta menduga keras adanya konspirasi antara penegak hokum dengan para konglomerat. Mereka berkongkalikong dan saling menutup-nutupi kasus BLBI.

Pada hal, menurut penulis, berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) per 31 Juli 2000, kerugian Negara ditaksir mencapai 138,44 T atau sebesar 95,78 % dari total dana BLBI. Potensi kerugian itu didasarkan pada temuan penyimpangan terhadap ketentuan, kelemahan system dan kelalaian. Karena BLBI, lanjut penulis, rakyat terpaksa menanggung beban kerugian sekitar 20-30 persen dari APBN untuk pos pembayaran utang berupa obligasi rekapitulasimaupun bunga obligasi BLBI. Akibatnya, dana yang seharusnya diperuntukkan untuk fasilitas kesejahteraan public terpaksa dialihkan untuk menutup utang. Sungguh terjadi sebuah fakta ketidakadilan yang sulit dimaafkan.

Dalam kasus BLBI, papar penulis, sungguh terjadi praktek perbuatan melawan hukum, baik berupa pelanggaran pidana korupsi maupun pidana perbankan. Perbuatan melawan hukum ini, lanjut penulis tentu terkait dengan orang-orang yang terlibat dalam penyaluran penggunaan dana BLBI serta settlement asset dari para obligor dan pemegang saham. Oleh para Obligor, penggunaan dana BLBI tidak digunakan sebagaimana mestinya. Niatan pemerintah yang pada mulanya membantu bank-bank yang kolaps bertepuk sebelah tangan.

Menurut penulis, proses melawan hokum ini tidak tanggung-tanggung, karena melibatkan 100- an pejabat BI, 203 pemilik dan pengurus 48 bank dan puluhan pejabat di BPPN. Jadi, proses ini selain melibatkan banyak orang, banyak modus, juga melibatkan likuiditas yang sangat besar, yakni Rp.144,54 T. wajar, bila kemudian, kasus ini sulit diungkap ke permukaan karena terjadi secara sistemik dan endemic.

Secara Spesifik, bagi penulis, setidaknya terdapat lima bentuk pelanggaran hukum dalam kasus BLBI. Pertama, perbuatan yang bersifat penyimpangan dana BLBI sudah terbukti. Terjadi salah urus dalam proses penyaluran, penggunaan dan Settlement di BPPN. Kedua, perbuatan itu tentu saja melawan prinsip-prinsip hukum perbankan dan hukum perusahaan. Bank yang kolaps seharusnya tidak asal diberi pinjaman begitu saja, tetapi melalui prosedur yang berlaku. Ketiga, kesalahan terjadi pada saat penyaluran dan penggunaan serta penyelesaian kewajiban. Kesalahan dalam penyaluran dan penggunaan BLBI penulis mendapati sebesar Rp.84,84 Triliun. Sementara kesalahan dalam settlement aset sebesar 52, 3 Triliun.

Keempat, penulis mencatat kerugian Negara dalam kasus BLBI sebesar Rp.118,02 T. Kelima, besarnya kerugian itu jelas lantaran perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh para pihak terkait kasus BLBI tersebut. Itulah sebabnya, dibutuhkan solusi yang solutif. Memang, menurut penulis, menyelesaikan kasus BLBI tidak mudah laiknya menyembuhkan penyakit kanker yang sudah pada taraf gawat darurat. Akan tetapi, bukan tidak mungkin kasus ini diselesaikan.

Menyelesaikan kasus BLBI membutuhkan kekuatan besar. Menurut penulis semua elemen bangsa harus bersepakat untuk menuntaskan skandal BLBI. Aparat pemerintah wajib memiliki politicall will yang kuat untuk berjuang keras dalam menuntaskan skandal BLBI. Rule of law (penegakan hukum) harus ditegakkan setinggi-tingginya. Siapa saja yang terlibat harus diusut dan diseret ke pengadilan. Jangan sampai kasus ini dibiarkan begitu saja, karena sama halnya membiarkan kebusukan terjadi di negeri tercinta ini.

Pelbagai langkah penuntasan skandal BLBI sebenarnya telah dipalugodamkan. Akan tetapi, hingga kini belum memberikan hasil yang memuaskan. Kasus ini sebenarnya telah ditangani pihak Kejaksaan Agung (KA) selama 10 tahun terakhir ini. Akan tetapi, lagi-lagi menemui jalan buntu. Malahan, menurut penulis, KA telah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP 3) yang justru seolah-olah menutup kasus megakorupsi ini. Maka, penulis berharap agar KPK segera mengambil alih kasus ini sehingga bisa membuka kotak Pandora yang tertutup.

Buku ini patut dibaca bagi siaja yang concern dalam gerakan antikorupsi. Kelebihannya terletak pada kekayaan datanya yang cukup lengkap dan factual. Namun, tak ada gading yang tak retak, buku ini erkesan kaku dan njlimet sehingga sukar dipahami bagi khalyak awam. Namun, secara garis besar patut diparesiasi dalam memperjuangkan keadilan di negeri ini. Sebuah buku yang menyibak teka-teki BLBI secara apik melalui sudut analisis historis dan kebijakan.[] Sumber Kompas, 3 Mei 2010.

*) Penulis adalah Pustakawan. Peminat Kajian Ekonomi di STEIYO Yogyakarta.

Biografi Gusdur

Judul :  Biografi Gus Dur
Penulis :  Greg Barton
Penerbit :  LKiS 2007 (Hard Cover)
Jumlah Hal : 978 hlm

Review Buku

Jarang seorang penulis biografi tokoh mengalami pengalaman seperti yang dialami oleh Gregory Barton atau biasa dipanggil Greg Barton. Berikut pengalaman Greg Barton selama bertahun-tahun menjadi “Gusdurian” dan melukiskan secara detail tokoh ini dalam buku karyanya. PENULIS sejarah kehidupan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam dua versi, Indonesia dan Inggris, ini telah 20 tahun lalu mengenal secara dekat dengan pemikiran dan kehidupan Gus Dur. “Biasanya seorang penulis biografi tokoh hanya memerlukan beberapa waktu untuk mempelajari dokumen dan mewanwancarai keluarga dan kawan dekat tokoh tersebut. Saya termasuk yang beruntung, sebab selain sudah melakukan penelitian terhadap pemikiran Gus Dur selama bertahun-tahun, saya juga mendapatkan pengalaman menarik, masuk dalam keseharian dan kehidupan emosional Gus Dur dari dekat. Saya selalu bersama Gus Dur selama tujuh bulan dari 21 bulan masa kepresidennya,” kenang Greg kepada Duta di sela acara peluncuran biografi edisi bahasa Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Continue reading “Biografi Gusdur”

The Lost Symbol

Judul :  The Lost Symbol
Penulis    : Dan Brown
Penerbit : Bentang 2009
Review Buku

”Sekumpulan saudara yang mengelilinginya mengenakan pakaian kebesaran lengkap, terdiri dari celemek kulit domba, selempang, dan sarung tangan putih. Perhiasan upacara–yang berkilau seperti mata hantu dalam cahaya suram–mengalungi leher mereka. Banyak di antara lelaki ini yang punya kedudukan tinggi dalam hidup, tapi kandidat itu tahu bahwa peringkat dunia mereka tidak ada artinya di dalam kungkungan dinding-dinding ini. Di sini semua lelaki setara, saudara-saudara tersumpah yang saling terikat secara mistis. Continue reading “The Lost Symbol”

Atlantis

Judul Buku : Atlantis
Penulis         : Prof. Arysio Santos
Penerbit      : Ufuk Press 2009
15 x 23 cm, 684 hlm

Review Buku

Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi.
—Plato (Filosof Terbesar Yunani) & Prof. Arysio Santos, Ph.D.

Pernahkah terbetik dalam pikiran Anda bahwa negeri yang Anda diami saat ini sangat mungkin dulunya sebuah kekaisaran dunia yang menjadi sumber segala peradaban besar: Atlantis? Surga yang disebut-sebut oleh berbagai Tradisi Suci dunia? Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun dan menemukan bukti-bukti yang meyakinkan, Prof. Arysio Santos, Ph.D. memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia. Ciri-ciri Atlantis yang dicatat Plato dalam dua dialognya berjudul Timaeus dan Critias, secara mengejutkan, sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia.

Atlantis adalah negeri tropis berlimpah mineral dan kekayaan hayati. Namun kemudian, segala kemewahan itu lenyap, tersapu bencana mahabesar yang memisahkan Jawa dari Sumatra, menenggelamkan lebih dari separuh wilayah Nusantara. Gunung Berapi Krakatau menjadi sumber bencana global tersebut (diperkirakan terjadi 11.600 tahun yang lalu). Ia meletus, menimbulkan rentetan gempa dan tsunami mahadahsyat, seratus kali lebih besar dari bencana Aceh 2004, yang pada puncaknya mengakhiri Zaman Es. Beberapa kitab suci menyebut bencana itu sebagai Banjir Semesta. Prof. Santos juga mengungkap fakta bahwa:
• Atlantis adalah tempat ilmu dan penemuan besar manusia muncul kali pertama (budaya bercocok tanam, bahasa, metalurgi, astronomi, seni, dll.).
• Peradaban-peradaban sesudahnya (Yunani, Mesir, Maya, Aztec, Inca, dll.) sesungguhnya dibangun oleh bangsa Indonesia, yang mengungsi dari bencana, dan mewariskan pengetahuannya ke negeri baru mereka; sehingga ada banyak persamaan budaya dan arsitektur di setiap peradaban (teori difusi budaya).

Dalam banyak hal, buku ini berhasil mengkonfirmasi kebenaran kitab suci dan mitologi, mengawinkan sains dan agama, dan pasti akan mengubah cara pandang Anda terhadap sejarah umat manusia.

R.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)

Judul buku    : R.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)

Penulis            : Solichin Salam

Penerbit         : Gunung Muria, Jakarta, 1979.

—–

Oleh: Soeroto

Ada dua buku baru mengenai Kartini. Ditulis oleh Solichin Salam. Dengan maksud untuk memperingati 100 tahun lahirnya Kartini.

Saya baca dengan banyak harapan. Memang segala apa yang mengenai  Kartini menarik bagi saya. Maklum, saya anak kelahiran Japara. Dan Ibu saya (alm.) mengenal Kartini baik sekali. Tatkala saya masih kecil, ibuku sering cerita tentang Kartini. Cerita-ceritanya itu ada yang diulang-ulang berkali-kali, sehingga mengendap dalam ingatan saya, sampai sekarang.

Saya baca buku Solichin dengan banyak harapan. Mungkin ada hal-hal yang baru, yang mengungkap segi baru dalam kehidupan Kartini. Atau dalam perjuangannya. Sayang, saya tidak menemukannya, setidak-tidaknya tidak banyak.

Ada bagian-bagian yang lucu atau menggelikan. Umpamanya bab:  ”Dunia seabad yang lalu.” Di situ disajikan nama orang-orang yang dilahirkan dalam abad yang lalu, dan kita oleh Solichin diberondong dengan nama yang hebat-hebat, yang sedikit banyak membuat kita menjadi “groggy”. Albert Einstein dijajarkan dengan Stalin; Sarojini Naidu bersama-sama dengan Von Papen(!) dan  Ch’en Tu-hsiu. Dengan pejelasan bahwa yang terakhir adalah guru Mao Tsetung.

Sementara itu, dalam membaca buku Solichin Salam selanjutnya, saya rasa ada sesuatu yang aneh. Saya pikir-pikir apa, ya? Rasanya, seperti saya sudah pernah baca di tempat lain.

Ya, benar juga, kalimat-kalimat dalam buku Solichin Salam itu terdapat juga dalam buku Sitisoemandari Soeroto, Kartini. Sebuaf Biografi (Pen. Gunung Agung, Jakarta, 1977).

Ini sungguh keterlaluan! Yang jelas ialah: halaman 29 (kira-kira  tiga perempat); halaman 30 seluruhnya, dari garis paling atas sampai garis paling bawah; begitu pula halaman 31 dan 32 seluruhnya diambil dari buku Sitisoemandari. Halaman 16 sebagian; halaman 21 sebagian; halaman 33 sebagian. Halaman 68, bab “Butiran Mutiara Kata” seluruhnya dijiplak dari buku Kartini. Sebuah Biografi. Halaman 69 sebagian.

Wetenschappelijke Bladen

Itu yang dapat saya temukan. Mungkin masih banyak lagi, sebab tidak selalu mudah untuk menemukannya. Sebab kadang-kadang ia juga “pintar”. Umpamanya di halaman 21. Di buku Kartini. Sebuah Biografi ditulis:

Bacaan-bacaan lain dari Kartini ialah antara lain Maatschappelijk Werk in Indie dan Henri Borel. Tetapi ia juga tertarik kepada buku Fielding mengenai agama Budha, dan bukunya Felix Ort. Syair-syair De Genestet yang sering dikutipnya sudah kami sebut di atas. Tetapi bukunya Bas Veth yang tidak simpatik terhadap tanah Jawa, dikecamnya. Ia juga menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan vosmaer (halaman 145).

Solichin menulis dalam bukunya:

Bacaan-bacaan lain dari Kartini di antaranya ialah Maatschappelijk Werk in Indie dari (!!) Henri Borel. Selain itu ia tertarik juga kepada bukunya Fielding mengenai, Agama Budha, demikian juga buku karya Felix Ort, Apabila syair-syair De Genestet sering dikutipnya, maka sebaliknya bukunya Bas Veth yang tidak simpatik terhadap Tanah Jawa, dikecamnya. Selain itu Kartini sering menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan Vosmaer,” (halaman 21).

Ada juga yang lucu. Dalam buku Kartini. Sebuah Biografi di halaman 154 ditulis; mengenai pembacaan Kartini:

“Belum lagi kita sebut majalah-majalah seperti Belang en Recht,  Wetenschappelijke Werken, De Gids, dan suratkabar-suratkabar yang selalu juga diikuti dengan banyak perhatian.”

Dalam buku Solichin, halaman 21:

“Selain yang sudah tersebut di atas, belum lagi kita sebut berbagai majalah seperti Belang in Recht, Wetenschappelijke Werken, De Gids dan surat-surat kabar yang senantiasa diikutinya dengan penuh perhatian.”

Apa yang lucu di sini? “Wetenschappelijke Werken” dalam Kartini. Sebuah Biografi itu salah. Harusnya: “Wetenschappelijke Bladen”. Solichin tidak tahu itu, dan kutip saja: ”Wetenschappelijke Weken”!

Saya terpaksa menyatakan bahwa Saudara Solichin Salam telah melakukan plagiat atau pembajakan besar-besaran atas buku Sitisoemandari: Kartini. Sebuah Biografi.

Sumber: TEMPO, No T11091850, Edisi 11/09, 12  May  1979, hlm 16 dengan judul resensi “KARTINI, SEBUAH PLAGIAT”

Mengapa Kita Menggugat Pelarangan Buku?

Segepok dokumen itu dibundel dalam map khusus. Isinya : surat gugatan, surat kuasa, selembar dokumen bertulis judul buku-buku terlarang, kutipan pasal perundangan, kutipan koran, artikel, dalam dokumen adapula fotokopi KTP. Inilah dokumen yang hendak dibawa Pengurus Besar HMI MPO ke Mahkamah Konstitusi  pada Kamis 18 Februari silam. Mereka mendaftarkan judicial review terhadap UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum dan UU Kejaksaan No.16 Tahun 2004. Aturan inilah yang telah membuat sejumlah buku dilarang di Indonesia. Continue reading “Mengapa Kita Menggugat Pelarangan Buku?”

Buku Lintasan Sejarah Iran Diluncurkan


sufferthegringo

UIN Jakarta bekerja sama dengan Bagian Kebudayaan Kedutaan Republik Islam Iran meluncurkan buku Lintasan Sejarah Iran dari Dinasti Achaemania ke Republik Revolusi Islam. Buku karya Muhammad Hasyim Assegaf  tersebut diluncurkan di tengah berlangsungnya Indonesian and Iranian Arts Festival 2010 yang digelar di Auditorium Utama, Kamis (11/3).

Hasyim menyatakan, sebenarnya buku tersebut ditulis pada tahun 1978, namun baru diterbitkan pada 2009 lalu. Di antara buku-buku mengenai sejarah Iran, buku karya Hasyim merupakan salah satu buku yang menjelaskan sejarah negeri para Mullah itu secara komprehensif. Buku  ini terdiri dari tiga bagian yaitu Iran pra-Islam, masa kedatangan Islam, hingga abad ke-18.

“Selain itu, saya juga mencantumkan dinasti-dinasti yang berkembang di Iran dan tokoh–tokoh yang berperan besar dalam sejarah Iran. Saya ingin memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa Iran merupakan negara yang patut dijadikan contoh dalam segala bidang,” kata Hasyim.

Hasyim melanjutkan, Iran merupakan negara Islam yang dikenal memiliki peradaban terlama dan hingga saat ini menjadi negara dengan teknologi paling canggih. (MN/Rif)

The White Castle

Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang asal Venesia yang konon menjalani kehidupan sebagai seorang budak di Istanbul, Turki, pada sekitar abad ke-17. Karena pengetahuannya yang luas, tuannya yang segala-galanya sangat mirip dengannya berusaha dengan segala cara menggali semua pengetahuan dan sekaligus menguras semua pengalaman hidup si budak. Continue reading “The White Castle”

Mantra Itu Berbunyi, “Man Jadda Wajada”

Satu lagi karya fiksi bernuansa pendidikan mencoba menyusul kesuksesan Laskar Pelangi dan tetraloginya. Bila tantangan pendidikan yang dihadapi oleh anak-anak Laskar Pelangi adalah keterbatasan kehidupan dan kemiskinan, maka Negeri 5 Menara menggambarkan suatu tantangan lain yang tidak kalah berat yang dialami oleh anak-anak muda dalam suatu proses meraih mimpi. Tantangan itu berada dalam suatu tradisi dan kehidupan yang bernama pesantren.

Istilah pesantren memang bukan hal yang aneh dan sudah populer di telinga masyarakat Indonesia. Ia adalah sebuah tradisi yang mengawali proses perjalanan pendidikan di Indonesia. Jauh sebelum adanya sistem pendidikan modern seperti sekarang, pesantren telah memainkan perannya dalan transformasi keilmuan seiring dengan transformasi ajaran Islam di Indonesia. Meski demikian, bukan berarti semua kehidupan dan tradisi dalam pesantren dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas.

Tentu kita masih ingat dengan fenomena kontroversi film Perempuan Berkalung Surban yang mengguncang dunia pesantren. Dalam film tersebut diungkap salah satu sudut fakta pesantren yang dianggap oleh sebagian kelompok sebagai tradisi pesantren, seperti poligami, diskriminasi terhadap perempuan, kuno, ketinggalan zaman, tradisional, dan kesan-kesan negatif lainnya. Tentu saja tidak semua gambaran itu bisa dibenarkan. Karena bagaimanapun, peran dunia pesantren dalam pembentukan generasi-generasi unggul di negeri ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Salah satu fakta penting pesantren dalam pembentukan karakter generasi muda, begitu apik disajikan oleh novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Dalam karyanya, Fuadi banyak mengungkap fakta penting yang selama ini menurut sebagian orang masih teka-teki. Ia misalnya mengungkap tradisi sebagian pesantren yang mewajibkan setiap santrinya untuk bisa menguasai bahasa Inggris dalam waktu tiga bulan. Pesantren juga menerapkan tradisi disiplin tinggi yang tidak kalah dengan tradisi disiplin militer. Melalui karya ini pula, Fuadi mencoba menghilangkan kesan pesantren yang kuno dan ketinggalan zaman. Dan dari karya ini juga terungkap, bahwa kelompok santri yang terkesan kolot dengan simbol sarungan ternyata tidak serta merta ketinggalan zaman.

Kisah dalam novel ini berisi tentang semangat tinggi, motivasi kuat, dan optimisme yang keras enam anak muda dalam memperjuangkan cita-cita mereka. Dengan kekuatan pandangan hidup, kekuatan ikhlas, dan perasaan prasangka baik kepada Tuhan, keenam anak muda ini berusaha mencapai prestasi serta mimpi tinggi. Kisah ini semakin lengkap dengan kisah kasih dari hubungan persahabatan yang kokoh, kasih sayang antara anak dan ibu, dan juga kasih hangat murid dan guru.

Sekali lagi kekuatan mimpi itu terbukti, siapapun mereka yang bermimpi. Anak-anak muda dari berbagai pelosok negeri, bahkan dari pelosok terpecil sekalipun mampu meraih mimpi-mimpi mereka dengan kerja keras dan semangat juang yang luar biasa. Mantera mereka yang sangat terkenal, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, senantiasa memotivasi mereka, dan juga pasitnya para pemimpi-pemimpi lain dalam peraihan mimpi-mimpinya.

Kisah ini menjadi menarik karena seperti halnya Laskar Pelangi, kisah yang diceritakan berdasarkan kisah nyata. Dari dasar ini, pembaca seolah-olah diajak ke suatu daerah di pelosok desa di Jawa Timur dengan ragam kehidupan nyata di dalamnya dengan elaborasi-elaborasi apiki layaknya karya fiksi lainnya. Kisah yang tertulis juga terkesan mengalir, tidak menggurui, dan ringan, namun tetap mampu menyampaikan pesan-pesan utamanya, yaitu suatu realita dunia pesantren yang indah dan menantang. Dan akhirnya kehidupan yang penuh teka-teki itupun terungkap. (Zuhriyyah)

“Soe Hok-Gie …Sekali Lagi”, Kegilaan yang Menginspirasi

Benar-benar gila. Enam tahun musuhan, hanya karena demi Soe Hok-Gie (lahir di Jakarta, 17 Desember 1942, wafat di puncak Mahameru, 16 Desember 1969), mereka bersatu kembali. Saking tergila-gilanya, dalam tempo dua minggu, seorang Mira Lesmana, misalnya, di sela-sela kesibukan yang luar biasa, bisa menyelesaikan tulisan dua jam menjelang tenggat. Continue reading ““Soe Hok-Gie …Sekali Lagi”, Kegilaan yang Menginspirasi”