KAHMI Masuk Istana Bogor

Rimbunnya pepohonan dan sejuknya udara di Istana Bogor dapat di nikmati oleh para anggota Korp Alumni HMI yang menghadiri HUT ke-42 KAHMI, Minggu (19/09/08). Acara yang juga silaturrahmi Idul Fitri 1429 Hijriyah tersebut berlangsung di halaman belakang Istana Bogor.

Sejumlah pejabat tampak sudah hadir dalam acara itu, di antaranya Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Baharuddin Aritonang, Dirut Bank Koperasi Indonesia (Bukopin) Glen Glenardy, Deputi Seswapres Bidang Kesra Asyumardy Azra, dan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf.

Para pejabat dan tokoh-tokoh penting duduk di kursi-kursi khusus yang diatur dalam beberapa meja bulat dengan pembungkus kain berwarna putih, sedangkan undangan lainnya duduk di deretan kursi lainnya yang diatur secara berbaris memanjang ke belakang. Sementara itu, meja-meja prasmanan diletakkan di sekeliling tempat acara yang dipayungi dengan tenda besar berwarna putih.

Istana memang diperuntukan bagi acara-acara kenegaraan, terkecuali tempat-tempat tertentu yang sudah dibuka untuk umum pada akhir pekan. Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan Rumah Tangga Kepresidenan untuk membuka ruang-ruang di Istana Bogor untuk acara ini.

“Saya sudah minta supaya dibuka Istana Bogor ini. Istana ini milik bersama, silakan saja berkeliling. Silakan yang mau melihat-lihat. Kecuali ruangan di mana ada lukisan koleksi Bung Karno yang ditutup karena posenya bermacam-macam,” tandas Wapres. Ruang yang berisi lukisan koleksi mantan Presiden pertama RI Soekarno ditutup gorden karena terdapat lukisan dan patung dengan model wanita telanjang.

Sementara itu, Ketua Presidium KAHMI, Laode M Kamaluddin dalam sambutannya saat membuka acara menegaskan bahwa KAHMI mendesak pemerintah dan parlemen mengesahkan Rancangan Undang-Undang pornografi dan pornoaksi menjadi ketentuan hukum di Tanah Air.

Meski memastikan memberi dukungan atas RUU pornografi dan pornoaksi, KAHMI tidak merinci alasan sokongannya kepada ratusan anggota KAHMI yang hadir.

KAHMI juga mengingatkan pemerintah pusat terkait penerbitan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Pasalnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berpeluang untuk mengendus kebijakan tersebut dalam ranah korupsi.

“KAHMI memberi warning, jangan sampai niat baik dapat menimbulkan kebocoran dan penyimpangan yang membuka peluang masuknya KPK,” kata Laode M Kamaluddin. Menurut KAHMI, untuk menjaga agar tak terjerembab dalam ranah korupsi, KAHMI mengajak semua elemen masyarakat memiliki tekad yang sama dalam menghadapi krisis keuangan global. “Harus ada sikap patriotisme baru, mendahulukan kepentingan nasional untuk menghadapi krisis ini,” ujarnya.

Laode M Kamaluddin menambahkan, pemerintah sendiri memiliki modal politik, sosial, dan ekonomi yang lebih siap dibandingkan dengan saat krisis pada 1997-1998 menerpa Indonesia. “Kita berharap badai krisis ini segera berlalu,” ungkapnya. (Busthomi Rifa’i)

Rencana Kenaikan Harga BBM Memusingkan

Tingginya  harga minyak dunia yang sudah mencapai 127 Dollar AS per barrel  menyebabkan pemerintah berencana menaikkan harga BBM akhir Mei mendatang. Hal itu meresahkan masyarakat, terutama kalangan menengah kebawah. Kenaikan harga BBM akan berdampak pada melonjaknya harga bahan kebutuhan pokok yang menyebabkan pedagang keliling banyak mengeluh.

Sanen (42) misalnya. Pedagang mi ayam yang murah senyum ini mengatakan bahwa harga kebutuhan pokok sudah naik beberapa minggu terakhir menyusul akan dinaikkannya harga BBM. “setelah BBM naik pasti akan ada kenaikan harga lagi, dan ini akan membuat orang-orang seperti saya semakin terjepit” ungkap Sanen.

Kenaikan harga BBM tidak hanya mengkhawatirkan masyarakat kecil, sejumlah anggota DPR juga menolak rencana kenaikan harga BBM. Penolakan itu disampaikan melalui interupsi dalam sidang paripurna yang membahas program kerja dewan yang dibuka oleh ketua DPR Agung Laksono.

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh wapres Yusuf Kalla yang dikutip dari liputan6.com. Menurut Kalla,  80 persen subsidi BBM justru dinikmati orang kaya.

Hal itu bertentangan dengan realita yang terjadi di masyarakat. BBM bersubsidi tidak hanya dinikmati oleh kendaraan pribadi, akan tetapi kendaraan umum yang nota bene adalah alat transportasi utama masyarakat menengah kebawah.

Akan tetapi, beberapa mahasiswa setuju dengan recana pemerintah menaikkan harga BBM. Seperti yang diungkapkan Rahmat mahasiswa UIN Jakarta ” rencana pemerintah sudah bagus, yang terpenting kenaikan harga BBM sekitar 30% tersebut dapat mensejahterakan rakyat”.

Selain itu menurut Riski mahasiswa tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Langkah pemerintah menaikkan harga BBM sudah tepat, akan tetapi pemerintah harus memberikan pengertian pada rakyat tentang kenaikan tersebut. “pemerintah harus mencari alternatif lain untuk menunda kenaikan tersebut”.

Berbeda dengan Rahmat  dan Riski, Novi salah satu kader HMI Jakarta selatan menyatakan, kenaikan harga BBM mempunyai dampak positif dan negatif. Sisi positifnya, kenaikan ini akan membuat masyarakat berpikir untuk berhemat. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi kegiatan jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan pribadi.

“Kenaikan harga BBM ini dapat membunuh rakyat kecil” ungkap Novi. Terutama bagi orang-orang yang pekerjaannya tergantung pada BBM seperti supir angkot, tukang ojeg, dll.

Akan tetapi Novi menyatakan agar pemerintah mempertimbangkan  dampak negatif yang harus diderita rakyat jika kenaikan harga BBM ini terjadi, sehingga memberikan jalan keluar untuk masalah ini. (Rita & Daimah)

Reformasi Berproduk (lah!)

Di Fith Avenue, New York, AS. Menengadah menatap ke ujung gedung jangkung menjulang langit, membuat leher sakit, ujung bangunan tak kunjung tampak. Gedung-gedung tinggi laksana beton memagari penglihatan, membuat tatapan fokus ke lingkup datar. Di salah satu butik di bilangan jalan itu, Anda bisa menemukan produk tas bermerk The Sak. Kendati branded luar negeri, sebagian buatan Jogyakarta, Pulau Jawa, Indonesia. Di sana tas buatan Jogya itu dijual berkisar US 35 hingga US $ 105.

Saya menjadi teringat momentum di New York itu, sebagai sebuah “penyesalan” terhadap reformasi yang telah berjalan sepuluh tahun di Indonesia. “Penyesalan” akan kehidupan yang tak kunjung lebih baik; jumlah sarjana yang lahir tiap tahun mencapai 780.000 orang, hanya untuk menganggur.

Jumlah enterprener hanya 0,8% saja dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta orang. Semangat melahirkan berbagai produk dan jasa yang masuk ke pasaran, animonya terindikasi menyusut. Apalagi di daerah kini, yang tersosialisasikan jika ingin kaya, ya, berpolitiklah!
Setelah memperhatikan demo memprotes kenaikan Bahan Bakar Minyak, juga menyimak siaran televisi yang memberitakan pendaftaran partai politik pada 12 Mei 2008 lalu, melalui TV One, saya menyaksikan gerak, langkah, aktifitas partai politik menyiapkan diri, mengikuti verifikasi, mendaftar di KPU Pusat. Mencengangkan. Berlemari-lemari, bekoli-koli dokumen di berbagai dus, box plastik, berjejalan. Manca warna.

Melihat tumpukan bahan, melihat desak-desakkan rombongan pengantar berkas mengejar tenggat, laksana orang hendak kebelet ke belakang, semuanya buru-buru, untuk tampil dahulu.

Di adegan itu, luar biasa etos dan kegigihan yang tampak. Sayangnya etos itu bukan dipusatkan melahirkan sebuah produk dan atau jasa tertentu. Sebaliknya animo berpolitik di berbagai lini kini, terutama di daerah kini, kian meninggi.

Saya sempat mengamati persiapan sebuah partai baru. Mulai dari menyiapkan berkas untuk pendaftaran Depkumham, lalu kini ke KPU, mulai dari tingkat desa di pelesok daerah, hingga kelurahan, camat, kabupaten, propinsi, berlapis-lapis. Untuk memfotokopi data perkabupaten saja, seorang kawan di Kupang, Nusa Tenggara Timur menghabiskan Rp 5 juta, sebuah angka yang ironis bila dibandingkan keadaan dengan masih banyaknya balita kurang gizi di sana.
Menjelang pemilu tahun depan, kehebohan perpolitikan memang manjadi-jadi. Ada partai-partai baru yang membagi Mobil untuk tingkat propinsi, membagikan komputer untuk tiap kabupaten. Juga membagi uang, mulai dari Rp 300 juta propinsi dan Rp 50 juta untuk kabupaten. Luar biasa heboh tampaknya.Inilah yang bisa disebut salah satu hikmah Reformasi?

EMPAT tahun silam, di sebuah hotel di Jogya. Seorang wanita menyetir mobil Jaguarnya seorang diri. Saya tak mengira. Berhenti di lobby hotel, ia menjemput saya. Usia kami sama. Ia mengajak ngobrol di sebuah café di sebuah mall di kota gudek itu.
Dialah, Delia Murwihartini. Ia sosok wanita pembuat tas yang dijual di Fith Avenue, New York, AS, itu. The Sak, mengorder khusus kepada Dolly – – begitu ia akrab disapa – – untuk dijual di butik-butik mahal dunia.

Bukan saja The Sak. Beberapa produk fashion lain, seperti Gian Franco Ferre, juga mengorder tas padanya. Keunikan tas produksi Dolly, berbahan alami. Ia memadukan bahan enceng gondok dengan rotan. Atau kombinasi kulit, dan rotan. Kombinasi ramin dan kulit. Pokoknya serba ada bahan alaminya.

Saya teringat menuliskan kembali Dolly di saat perayaan sepuluh tahun reformasi, demo-demo mulai lagi terjadi di petang di sebuah mall di Jogya itu, saya begitu bangga ketika Dolly mengucapkan, ekspornya kala itu sudah US $ 7 juta setahun. Untuk pembayar pajak ukuran usaha UKM, dia menempati yang terbesar sedaerah istemewa Jogyakarta. Lalu jika banyak pengusaha lain begitu bergantung kepada proyek pemerintah, Dolly sama sekali tak menjamah.

Bahkan Sultan pun sering mengajaknya berbisnis. Dolly lebih banyak menampik. Hal itu telah membuat langkahnya ringan: dalam setiap seminar jika ia diundang, Dolly bisa bicara apa adanya, misalnya, tentang isu rencana pembangunan airport baru di Jogya, kala itu. Dolly tampil kritis.

Terbayangkankah oleh Anda, jika reformasi yang ada, melahirkan orang-orang seperti Dolly? Ia menciptakan lapangan kerja. Untuk pasar lokal ia memilki merek sendiri dengan label Reads Bag. DOLLY seorang sarjana komunikasi lulusan Universitas Gadjah Mada. Lantaran ogah bekerja kantoran seperti teman-temannya, selepas kuliah Delia malah kursus menjahit. Buntutnya, sejak 1989 ia menjahit tas yang ia titipkan di berbagai penginapan yang banyak mendapat tamu asing, di Prawirotaman, Yogyakarta.

Setiap minggu, tak lebih dari 15 buah tas berhasil ia produksi. “Saya nenteng-nenteng anak pertama saya ikut ngasong,” kenang Delia. Modalnya hanya gunting, jarum dan sebuah mesin jahit merek Butterfly.
Menjajakan tas dari satu guest house ke guest house lainnya, Delia berkeliling mengendarai sepeda motor bututnya. Selain di guest house, ia juga menitipkan tas di Tourist Information Center, di bilangan Malioboro.

Meski satu-dua bule terlihat membeli tas buatannya sebagai buah tangan dari Indonesia. Saat itu tas buatannya tidak punya label merek. Harganya cuma US$ 3 – US$ 5.

Di saat betrkeliling mejajakan tas itu, tanpa malu Dolly menceritakan pula pengalamannya “ditawar” oleh pria hidung belang. Ia tentu menolak, karena dagangannya adalah: tas!

Mujur tak dapat ditampik. Kurang dari setahun mengasong tas, Delia bertemu bule Swedia yang langsung memesan tas senilai US$ 6.000. Ia harus mengirim pesanan itu dalam waktu satu bulan. Bermodal nekat, ia menyanggupi pesanan itu.

Sayang, pinjaman bank tak juga mengucur ke kantongnya. Padahal, ia harus segera menggarap pesanan tas dalam jumlah ribuan unit. Tak kehabisan akal, Delia lalu menyambangi toko-toko yang menjual bahan baku. Pada mereka, Delia bilang bahwa ia sedang mendapat order namun tak punya uang untuk membeli bahan baku. Karenanya, ia mengajak kerja sama untuk memberikan barang-barang yang dibutuhkan, dan akan dibayar kemudian. “Dan itu berjalan!” ujarnya.

Dengan bahan baku “utangan”, Delia merangkul lima orang perajin lokal untuk menggarap pesanan itu. Para perajin itu memproduksi tas di rumah mereka sendiri lantaran Dolly tak punya lahan yang cukup untuk menampung mereka.

Makanya, ia rela setiap hari menyambangi para perajin dari satu desa ke desa lain demi mengontrol kualitas tas sesuai standarnya.
Maret 1990, ekspor pertama tas Delly berangkat ke Swedia. Inilah pengalaman pertamanya membuat tas dalam jumlah ribuan dan harus mengatur pengerjaan, mengontrol kualitas, serta mengirimnya dengan rapi. “Dari situ saya punya keberanian, bahwa ternyata barang ini bisa terjual dengan bagus,” ungkapnya.

Sejak itu Dolly lebih berani berhadapan dengan calon-calon pemesannya. Pesanan senilai US$ 3.000-US$ 4.000 kemudian masuk dalam daftar order yang biasa ia garap. Salah satu cara menggaet pembeli dari mancanegara itu, ia mendatangi kantor Departemen Perdagangan dan minta daftar perusahaan-perusahaan di Eropa yang membutuhkan tas dari Indonesia.

Setelah nama dan alamat ada di tangan, ia mengirimkan katalog tas produksinya. Tak hanya itu, ia berkorespondensi dengan calon pembeli dan berniat menyambangi mereka satu per satu di Eropa.
Akhirnya niat itu kesampaian. Tahun 1991 Dolly menyeret satu koper besar berisi contoh tas ke Eropa. Ia menuju Italia, Belanda, Belgia, dan berakhir di Paris. Di negara-negara itu ia menggelar dagangannya di depan calon pembeli dan berpromosi menjajakan tas buatannya. “Wah, saya seperti bakul. Buka koper, dagang sampel tas di sana,” kenangnya.

Pulang ke Indonesia, ia membawa setumpuk order. Ia pun menggandeng sekitar 100 orang perajin lokal untuk menyelesaikan pesanan itu. Terpaksa, ia juga mengubah rumah orang tuanya menjadi pabrik tas dadakan.

Berikutnya, Dolly juga menyambangi Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) untuk mencari tahu jadwal pameran yang kerap digelar di Eropa.
Ia bertekad harus mampu menembus pasar Eropa. Lantaran tabungannya masih tipis, ia mendapat bantuan Dewan Penunjang Ekspor terbang ke Paris untuk menggelar pameran di sana. Pameran ini merupakan awal ia berhubungan dengan dunia internasional untuk perdagangan tas. “Setelah itu saya ketagihan untuk pameran di luar negeri,” tukasnya.
Kerja kerasnya berbuah manis. Pada 1994 ia sudah mampu membangun pabrik di lahan seluas 2.000 m2, di kawasan Parangtritis. Kini pabrik ini luasnya sudah menjadi 1 ha. Delia pun mengibarkan bendera bisnis dengan nama PT Rumindo Pratama.

Tak puas dengan menembus pasar Eropa, Delia terus merangsek ke pasar Amerika. Berikutnya, ia malah mandek mengirimkan tas untuk pasar Eropa yang bermerek Russel and Brownly, Missoni, dan Massini. Ia ingin berkonsentrasi penuh membangun pasar Amerika.
Tahun 1998 ia mendirikan pabrik di atas lahan seluas 6.000 meter persegi di Sleman. Ia juga meladeni kembali pasar Eropa yang sempat ia hentikan. Karyawannya bertambah hingga 600 orang dengan kapasitas produksi tak kurang dari 100.000 unit tas per bulan.
Jika sedang peak season, antara Agustus-September, produksinya mencapai 150.000 unit per bulan. Di tahun yang sama, ia mematenkan merek Read’s yang kualitas dan desainnya mirip dengan tas-tas yang ia produksi sebelumnya. Merek ini ada di pasar Indonesia, Australia dan Swis.

Kini Delia sudah menjadi pemain besar. Salah satu indikasinya, produk-produknya sudah menjadi sasaran pembajak, terutama dari China. The Sak dijiplak dengan menggunakan bahan baku yang berkualitas lebih rendah. “Kalau punya saya harganya US$ 10, mereka jual jiplakannya US$ 3.”

Di saat mengantar saya kembali ke hotel, Dolly menceritakan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Saya pun begitu memprihatinkan konten pengajaran anak-anak kini. Dengan adanya pengusaha yang mandiri, memang seharusnya mampu menggerakkan masyarakat menjadi madani.
Ketika melihat demo-demo di hari ini mulai membuncah lagi, kenangan saya lebih tertuju kepada Dolly, yang memiliki produk merambah pasar dunia dibanding melirik sosok politikus muda macam Budiman Sujatmiko, misalnya.

Di saat lapangan kerja kian berkurang, Dolly-Dolly baru dibutuhkan bangsa kini. Premis saya, di era reformasi, berproduklah! Dan berjasalah. Tetapi jangan pula jasa penyelenggara demonstrasi. (Iwan Piliang)

Pemerintah Masih Korup, BBM Naik Lagi

Siang ini jum’at 29/08/2008, Dua kelompok massa aksi turun jalan warnai bunderan UGM. Massa yang pertama berasal dari BEM UGM yang berjumlah skita 30 orang melakukan sosialisasi anti korupsi dengan membagikan sejumlah gambar serta buku panduan melawan koruspsi kepada para pengendara mobil dan motor yang melintasi bunderan UGM. Mereka juga berorasi dengan meminta masyarakat untuk terus membantu dan menuntut pemerintah lebih berat dalam memberikan sanksi pidana bagi koruptor.

Sedangkan massa berikutnya yang berjumlah Sekitar lima puluh orang merupakan gabungan aliansi mahasiswa Yogyakarta (AMY) yakni, HMI-MPO, PMII, GMNI, IMM, KAMMI GMKI, PMKRI, HMI, untuk menyuarakan penolakan terhadap naiknya harga BBM .

Rasionalisasi kenaikan BBM oleh pemerintah SBY-Kalla dinilai sebuah kebohongan kolektif. sat ini, harga minyak dunia sudah turun dari 137 dolar AS menjadi 133 dolar As ironisnya, pemerintah justru kembali melakukan kesalahan besar dengan tidak bisa menekan harga elpiji yang naik 23% pada akhir juni 2008, dari harga dasar elpiji 12kg Rp 63.000 kini naik menjadi Rp 69.000.

Bantahan secara akademis yang disodorkan kepada pemerintah menjadi lemah dengan adanya tekanan asing yang lebih kuat hingga rakyat kembali menjadi korban konspirasi. Hal ini membuktikan lemahnya karakter pemrintahn SBY-Kalla yang selalu tunduk dengan pihak asing, Padahal Indonesia memiliki ratusan sumur minyak yang subur namun antrian masyarakat mencari BBM menjadi pemandangan setiap hari.

AMY menilai kinerja panitia angket BBM masih disangsikan bila sekedar membongkar penyimpangan dalam pengelolaan migas. AMY mendesak temuan penyimpangan dalam pengelolaan migas harus diarahkan untuk membatalkan kenaikan BBM.

“hati nurani Pemerintah sudah tertutup, mereka sudah tidak peduli lagi dengan nasib rakyat miskin terbukti bahwa pemerintah malah menghianati kemerdekaan dengan menaikkan BBM “,jelas Purwadi dosen UGM yang ikut berorasi. Massa aksi yang lain juga menghimbau masyarakat untuk turun kejalan dalam menyuarakan penolakaan kenaikan BBM.

Erwin Natosman selaku kordum (Koordinator Umum) AMY menyatakan dalam orasinya, bahwa saat iini pemerintah hanya menjual janji manis dalam menyuarakan kepentingan rakyat bahkan meraka selalu pura-pura peduli tapi akhirnya malah menghianati, oleh karena itu Erwin menegaskan pula kepada masyarakat untuk tidak memilih para calon pemerintah yang gombal. Rencana kembali melakukan aksi dengan massa yang lebih banyak serta akan membentuk pansus bayangan dalam penolakan terhadap kenaikan BBM juga disuarakan oleh Erwin.

AMY mengeluarkan empat tuntutan sebagi pernyataan sikap diantaranya : menuntut Pembatalan kenaikan BBM, merevisi UU migas, naisonalisasi asset serta transparansi pansus hak angket BBM. (Lutsfi Siswanto)

Pilkada dan Kesejahteraan Rakyat

Perhelatan pesta demokrasi seperti Pilkada merupakan salah satu agenda besar dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Bayangkan, selama kurun waktu 2003-2009, akan ada sekitar 160 pemilihan berlangsung, baik itu tingkat daerah, provinsi, maupun nasional.

Sebagai event pergantian pemimpin, Pilkada menyandang pengharapan yang besar dari ratusan juta masyarakat.  Ditengah kemiskinan rakyat Indonesia yang relative tinggi, tuntutan bahwa perhelatan pilkada bukan hanya sekedar membawa nilai demokrasi saja, akan tetapi juga dapat membawa dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Dosen Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang Abdurrahman menilai ada korelasi signifikan antara pemimpin yang terpilih dengan kondisi kesejahteraan rakyat. Menurutnya, pemimpin yang baik tidak hanya akan mengumbar janji akan memberikan kesejahteraan pada saat dan menjelang Pilkada, tapi membuktikan janji-janjinya saat dirinya memegang kekuasaan.

Abdurrahman menyebut sidiq,amanah,tabligh dan fathonah sebagai difat-sifat Rosulllah SAW yang patut diteladani seorang pemimpin.

“Pemimpin yang ideal ya yang meneladani sifat-sifat Rasulullah itu,” katanya ketika berbicara dalam Seminar ” Pilkada dan Kesejahteraan Rakyat : Sebuah Kritik dan Solusi” Jumat (11/4) yang lalu di Semarang. Seminar ini merupakan rangkaian dari Pleno II HMI MPO.  Pembicara lain yang turut hadir adalah Tokoh HMI Awalil Rizky.

Salah satu calon Gubernur Jateng, Agus Setiono, dan Cawagub Jateng  Sudarto, turut  diundang dalam seminar itu. Namun keduanya batal datang.

Sementara itu, Awalil Rizky mengatakan, dalam Pilkada, pemilih harus jeli dalam menilai visi dan misi calon pemimpin terutama visi mereka dalam peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Banyak yang mengkampanyekan untuk meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah), tetap yang lebih adalah bagaimana meningkatkan pendapatan perkapita rakyat per tahun,” katanya.

Menurut Awalil, jika pendapatan rakyat meningkat maka akan jadi stimulus dalam peningkatan produksi barang dan jasa, dengan demikian akan terjadi penurunan pada tingkat kemiskinan.

Namun, kata Awalil, upaya membawa kesejahteraan perlu waktu yang tidak sebentar. Dalam perhitungan kasar, semua itu dapat terlaksana kira-kira dalam waktu lima -enam tahun, atau dalam kata lain melebihi periode sebuah pemerintahan.

“Maka kini sudah saatnya kita mencari pemimpin yang tidak hnya bervisimisi jangka pendek, tapi berfikir pogresif untuk keadaan jangka panjang dan dapat mentransformasikan pemikiran serta kinerjanya untuk pasca pemerintahan sehingga pembangunan akan terus berkelanjutan.” (Redaksi)