Lafran Pane dan Pilihannya di Garis Lurus

Nama Lafran Pane memiliki jangkauan spektrum yang semakin luas, kini dia bukan hanya dikenal di kalangan Himpunan Mahasiswa Islam, lebih dari itu namanya kini dikenal oleh rakyat Indonesia secara umum, hal tersebut setelah pemerintah melalui Presiden Joko Widodo menetapkan Lafran Pane sebagai salah satu pahlawan nasional. Bagi keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam, momen ini tidak mungkin bisa dilupakan, betapa tidak HMI dan Lafran Pane tidak mungkin dipisahkan, pria asal Sumatera Utara ini merupakan tokoh sentral pendiri HMI, sebuah organisasi yang dalam perjalanan sejarahnya bukan hanya mampu eksis di kampus yang sekarang telah bernama Universitas Islam Indonesia tempat HMI didirikan, melainkan mampu tersebar di Seluruh Indonesia, boleh jadi di masa itu Lafran Pane belum membayangkan bahwa organisasi yang didirikannya akan sebesar sekarang, namun yang pasti Lafran Pane mendirikan HMI berangkat dari niat yang tulus, berangkat dari kegelisahan yang tulus, niat yang tulus ini kemudian melahirkan manfaat besar.

Lafran Pane sesungguhnya berasal dari keluarga terpandang dan mapan, Lafran Pane bisa saja memilih untuk sekadar menikmati kemapanan hidup tanpa pusing dengan persoalan umat di masa itu, Lafran Pane juga bisa saja memilih menikmati nikmatnya dunia kampus tanpa memusingkan peran mahasiswa di luar koridor akademik yang perlu dijalankan, akan tetapi faktanya Lafran Pane memilih tidak mengambil pilihan itu, dia memilih menyibukkan dirinya dengan permasalahan umat yang sudah mulai kompleks di masa itu, khususnya bila ditinjau dari segi persatuan umat, dia memilih menaruh perhatian serius terhadap permasalah bangsa saat itu, khususnya bila ditinjau dari segi kedaulatan, dimana saat itu rezim kolonial Belanda berupaya menguasai kembali Indonesia, dirinya juga memilih menyibukkan diri dengan kompleksitas suasana mahasiswa yang menurutnya jauh dari cita ideal, khususnya bila ditinjau dari sisi peran yang seharusnya dijalankan mahasiswa, mahasiswa saat itu sudah mulai terjebak dalam lingkaran hedonisme untuk ukuran masanya. Ketiga aspek tersebut, yakni aspek keumatan, kebangsaan, dan kemahasiswaan merupakan penyebab dasar berdirinya HMI, pilihan yang diambil Lafran Pane merupakan pilihan untuk berada di garis lurus.

Pilhan Lafran Pane untuk melakukan kerja perjuangan di garis lurus seharusnya menjadi inspirasi tanpa henti bagi keluarga besar HMI, baik kader aktif maupun alumni. Dengan semakin berkembangnya organisasi ini, komunitas hijau hitam kerap diperhadapkan dengan suasana yang sering memancing lunturnya idealisme, lunturnya pilihan untuk tetap berada di garis lurus sebagaimana pilihan pendiri HMI, suasana tersebut mesti disikapi dengan matang dan cerdas, kesalahan dalam menyikapi hal ini bisa menimbulkan akibat yang fatal. Bahwa terjadi perbedaan cara pandang terhadap realitas dalam generasi yang berbeda di HMI adalah hal lumrah, hal tersebut bagian dari dinamika pemikiran, kekayaan gagasan, akan tetapi yang perlu diingat, model pandangan apapun yang dianut oleh setiap generasi di HMI namun komitmen perjuangan di garis lurus tidak boleh ditinggalkan.

Penetapan Lafran Pane sebagai pahlawan nasional merupakan berkah sekaligus ajang introspeksi bagi HMI, berkah karena perjuangan keluarga besar HMI untuk mendorong ditetapkannya Lafran Pane sebagai pahlawan nasional akhirnya terwujud, tentu perjuangan ini memakan energi yang banyak, dikatakan ajang introspeksi diri karena melalui momen ini HMI bisa melakukan refleksi bersama terhadap dinamika perjuangan Lafran Pane, sudah sejauh mana alumni dan kader menyerap nilai perjuangannya, sejauh mana komitmen alumni dan kader untuk terus berada di garis lurus, apakah kita bisa menyerapnya, tentu kita bisa dan harus bisa.[]

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

Kepemanduan LK I di Jombang

Cerita dalam tulisan ini saya buat karena ada hal yang membuat saya tergerak hatinya saat saya menikmati perjalanan dari Jogjakarta menuju Jombang. Saat perjalanan pulang dan saya saat itu berada di perbatasan Malang dengan Blitar. Dimana ada sebuah bendungan yang nampaknya elok untuk diabadikan momen tersebut, maka saya bercerita dengan Pak Mohtar Nasir untuk membuat tulsan ini. Saya mencoba membuatnya walaupun belum bisa menggambarkan cerita yang aslinya.

Perjalanan kepemanduan menuju jombang memiliki kesan tersendiri. Dengan bermodal niat yakin saya bersama dengan Mohtar Nasir yakni selaku Ketua Kooardinator Badko Jabagtengtim, juga ditemani oleh Pengurus Badko juga yang berada di Staf Perkaderan Badko yakni Hasanudin, yang aslinya dari perwakilan Cabang Purworejo. Sedangkang dari Ketua Badko sendiri yakni Muhtar Nasir berasal dari Cabang Yogjakara.

Berawal dari tugas dan amanah daripada seorang pengader saya sedang mengantar seorang kader untuk menjalani pendidikan kediriannya di Jogjakarta. Saya sebenarnya tidak ada niatan untuk mandu di Jombang maupun melakukan kepemanduan. Ini didasari dari permintaan Ketua Cabang Jombang yakni saudara Anam yang meminta pengader dari Cabang Wonosobo, maka saya yang ditunjuk sebagai perwakilan pengader dari Wonosobo. tetapi pada waktu itu saya tidak ada persiapan apa-apa apalagi posisi sedang mengantar kader, saat itu yang saya pikirkan adalah beberapa bekal maupun persiapan untuk ke Jombang. Tetapi Pak Muhtar sudah berada di tempat yang sama dengan saya dan pada saat itu juga saya sudah ditanya tentang kesanggupan untuk mandu di Jombang. Dalam kode etik kepemanduan, jika ada tugas amanah untuk memandu maka kata yang harus diucapkan adalah siap. Karena ini adalah bagian perjuangan yang paling urgen dalam ber-HMI.

Setelah diputuskan untuk saya mandu, hal yang pertama saya lakukan adalah persiapan berangkat. Pemberangkatan yang dilakukan dimulai dari Jogjakarta sambil menunggu Pak Hasan yang sedang berada dalam perjalanan dari Purworejo ke Jogja.  Setelah waktu menunjukkan pukul setengah satu Pak Hasan sudah berada di Jogja, setelah beristirahat dahulu kita menuju warung kopi didekat korkom UIN sampai waktu menunjukan pukul 00.01 WIB.

Pemberangkatan kita mulai dari pukul 00.01 WIB lebih sedikit, kita berangkat menggunakan sepeda motor dengan dua sepeda motor. Keluar Jogjakarta kita begitu menikmati perjalanan walaupun dalaM kondisi malam hari malah sudah menjelang dini hari. Sampai di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur kita beristirahat di Masjid Sragen. Kata Pak Muhtar itu adalah tempat yang biasanya untuk transit beliu saat melakukan perjalanan Jogjakarta-kampung halaman. Tepat pukul 00.04 waktu menunjukan subuh kami solat di masjid tersebut. dan beristirahat sebentar untuk mendapat tubuh yang fresh. Selanjutnya perjalanan dimulai kembali sekitar pukul 05.30 kami meninggalkan Masjid KK di Kota Madiun tersebut. dengan makanan khasnya yakni pecel madiun yang sangat enak dan memiliki ciri khasnya tersendiri. Dengan menikmati aura kota tersebut dengan khasnya yang begitu sedikit panas suhunya dibanding dengan kota saya sendiri. Kita begitu menikmati perjalanan maupun pecelnya ini. Sampai kami lupa akan rasa capek maupun pegal-pegal tubuh ini. Dan sampai kami puas dengan apa yang kami santap maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Jombang.

Dalam perjalana berbagai rintangan kami lalui adanya rintangan fisik seperti ban bocor sampai dengan keadaan Pak Hasan yang diharuskan untuk berisitarahat sejenak karena minimnya tenaga yang kita miliki. Maka harus adanya sikap sabar dan kekeluargaan yang harus kita junjung tinggi.

Pukul setengah satu kita sudah sampai di Jombang, selanjutnya kami mencari lokasi LK I. Baru beberapa menit kita sudah menemukan lokasi tersebut, sampainya kami di lokasi kami disambut begitu hangat dan penuh dengan keakraban dari teman-teman Jombang ini. Berhubung kita masih dalam keadaan yang kurang fit, maka kita beristirahat sejenak sebelum melakukan kepemanduan. Ternyata saya mendapat begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan di Jombang ini, dari berbagai segi dan juga dari perjuangan saya sebelumnya.

Empat hari kami melakukan amanah sebagai pengader dengan selalu mempertimbangkan nilai-nilai pengader dan juga semangat perjuangan dan perkaderan HMI. Kami khususnya saya pribadi telah banyak membaur dan juga belajar dari teman-teman yang ada di Jombang, dari suasananya, kulturnya, segi keadaannya sampai karakteristik orang-orangnya. Sampai kami mengenal stake holder Hmi Cabang Jombang ini.

Perjalan kami lanjutkan ke Kota Malang dengan maksud ingin bertemu dengan teman sekaligus kader disana. Maka pukul 20.00 kami berpamitan dengan para kader Jombang dan melanjutkan perjalanan ke Malang dengan dalih ingin mengetahui kota malang dan juga membuka deklarasi di daerah Malang. Kota malang merupakan kota terbesar setelah surabaya, dan suasanapun disana sangat berbeda dan juga sangat nyaman. Itu karena saya berasal dari kota kecil dan kota tertinggi di Jawa Tengah yakni Kota Wonosobo. dan Kota Wonosobo sendiri merupakan kota dingin dan juga masih asri. Setelah saya berada di Malang saya merasakan kota tersebut seperti kota sama dengan kota kelahiran saya, ya walaupun sedikit agak ramai dan juga padat kendaraan, tetapi itu tidak menghalangi perjalanan saya untuk keliling Kota Malang.

Akhirnya saya dan teman-teman bertemu dengan kader HMI, agung namanya. Dia adalah mahasiswa dari Universitas Brawijaya, universitas terbesar di Kota Malang ini. Dan ia mengikuti pendidikan LK I di Jogjakarta. Dengan berbagai konsolidasi dan juga diskusi bersama teman-teman yang lain kita diajak bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dan juga ingin berjuang menja eksistensi HMI juga. Kemudian kami lanjutkan perjalan pulang. Perjalanan pulang ini kami berbeda alur. Kita menggunakan jalur selatan. Kita akan melewati Blitar tempat kelahiran sang revolusiner dan bapak pejuang kita. kemudian kami lanjutkan perjalanan melewati pingggiran pantai yakni melewati Tulung Agung, trenggalek pacitan. Di tempat kelahiran presiden ke-6 ini kami berhenti sejenak di Pantai Soge namanya. Kita beristirahat sambil mengabadikan momen.

Pada pukul setengah sepuluh malam, sampailah saya pada Kota Gunung Kidul Jogjakarta. Dimana pada awalnya saya mengantar kader untuk mengikuti Pelatihan Senior Course. Saat itu saya menuju lokasi. Saat saya sampai ada teman saya yang menjadi pemandu sekaligus ada juga yang menjadi peserta. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Korkom UIN, tempat kumpul kader-kader HMI asal UIN. Setelah istirahat, paginya saya langsung berangkat menuju Wonosobo untuk kembali pulang di kampung halaman.

Penulis: Utsman, Kader HMI Cabang Wonosobo

Gema MA Desak RI Tekan Myanmar Hentikan Kekerasan dan Peganiayaan Terhadap Muslim Rohingya

HMINEWS.COM, Mengikuti pemberitaan media terkait Genosida yg dialami Suku Rohingya di Rakhine Myanmar, sangat mengoyak batas kesabaran kita sebagai sesama manusia. Pembunuhan massal secara brutal dan keji, yang dialami penduduk sipil Rohingya di Rakhine, menegaskan bahwa di abad modern ini pun prilaku primitif dan vandalisme masih berlangsung di muka bumi ini. Hal tersebut dikemukakan Ketua Umum DPP Generasi Muda (GEMA) Mathla’ul Anwar, Ahmad Nawawi.

Dikatakannya, Aung San Suu Kyi sebagai ikon gerakan Pro Demokrasi melawan Rezim Junta Militer Myanmar, yang kemudian memperoleh Nobel Perdamaian, yang hari ini memiliki kekuasaan di pemerintahan Myanmar, seharusnya dapat mengambil peran konkrit menyudahi aksi genosida di Rakhine.

“Diam nya Suu Kyi tentu tak ayal membuat kita semua, termasuk sejumlah tokoh dunia, juga para peraih nobel seperti Desmon Tutu, Malala Yousafzai dan lain lain sangat kecewa,” kata Ketua Umum DPP GEMA Mathla’ul Anwar seraya menambahkan “terlepas apapun agama kita, juga indikasi adanya kepentingan geopolitik, ekonomi dan lainnya, kekerasan yang dialami warga Rohingya di Rakhine Myanmar sudah mengoyak nilai-nilai kemanusiaan kita”.

Untuk itu, tambah Nawawi lagi, pihaknya meminta Pemerintah RI untuk  segara mengambil langkah cepat dan tegas menekan Pemerintah Myanmar melalui Jalur ASEAN dan PBB untuk segera menghentikan segala bentuk kekerasan dan peganiayaan terhadap warga Rohingya.

Dikatakannya, pembiaran atas tindakan brutal tentara Pemerintah Myanmar juga kelompok radikal agama di sana, dikhawatirkan akan berdampak serius terhadap keberlangsungan hidup Suku Rohingya di muka bumi. Konflik inipun tidak menutup kemungkinan mengganggu situasi dan kondisi keamanan kawasan ASEAN, Asia, bahkan dunia. (MAD)

Abraham Samad Akan Jadi Pembicara Dalam Pembukaan Pleno III PB HMI

HMINEWS.COM, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi 2011 – 2015, Abraham Samad, akan menjadi salah satu pembicara kunci dalam sesi orasi ilmiah di forum pembukaan Pleno III PB HMI MPO.

Seremonial pembukaan Pleno III PB HMI akan dilaksanakan pada 19 Agustus 2017, tema yang akan menjadi pembahasan Abraham Samad adalah “Memperkuat Kesadaran dan Gerakan Anti Korupsi di Indonesia”.

Saat dikonfirmasi tim redaksi, Kehadiran Abraham Samad sebagai keynote speaker dibenarkan oleh Ketua Panitia Kegiatan, Abdul Malik, pihaknya juga berharap kehadiran Abraham Samad mampu menumbuhkan sikap anti korupsi di kalangan kaum muda dan masyarakat secara umum.

“Bapak Abraham Samad memiliki pengetahuan dan pengalaman mendalam dalam pemberantasan korupsi, kita berharap kapasitas dan semangat beliau bisa ditransformasikan kepada masyarakat dalam rangka menggencarkan pemberantasan korupsi” ungkap Malik, Kamis (17/8).[]

The Key of Happiness is Gratitude

Kesalahan yang paling fatal yang terus saja kita lakukan adalah meletakkan  kebahagian pada apa yang belum kita miliki, misalnya akan merasa bahagia jika memiliki mobil padahal tahun lalu baru saja diganti, seandainya dilakukan pertimbangan plus minusnya, pergantian mobil tidak mempengaruhi aktivitas atau meningkatkan produktivitas, malahan ini akan mengganggu cash flow keuangan keluarga. Dalam financial management selalu disebutkan bahwa setiap pengeluaran harus berdampak pada peningkatan produktivitas atau positive income, apabila negatif, maka akan mengalami kebangkrutan atau collapse.Kebahagiaan pada dasarnya bisa diperoleh dengan melakukan interaksi sosial di lingkungan sekitar, seperti menghadiri acara walimahan, makan bersama walaupun dengan menu yang sederhana, membantu orang lain dll.

Kebahagiaan memiliki mobil baru (happines-materialistic based) dengan kebahagiaan yang diperoleh dari interaksi sosial  (happiness-social interaction based) sebenarnya memiliki tingkat yang sama, tetapi durasi ketahanannya berbeda. Social interaction happines cenderung lebih durable dibanding materialistic happiness. Dalam financial behaviour terdapat teori tentang “Hedonic treadmill” yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak menambah kebahagian kita hanya dengan mengganti cara atau benda yang membuat bahagia.

Sangat berbahaya saat manusia mulai memahami bahwa kebahagian terbesar datang dari kepemilikan benda, wanita, anak, kekuasaan dan yang sejenis dengannya sehingga mengorbankan kebahagian yang berasal dari sifat menyayangi, berbagi, toleransi, tenggang rasa dan rasa keadilan terhadap sesama manusia. Implikasi dari tindakan ini adalah melebarnya kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, korupsi, malnutrisi, eksploitasi alam secara masif tanpa menghiraukan efek negatif (negative externality) yang ditimbulkan, seperti pembabatan hutan gambut yang berakibat pada hancurnya ekosistem,berkurangnya paru-paru (menipisnya ozon), pemberian izin berbasis perkebunan korporasi dimana masyarakat pribumi menjadi budak di negerinya sendiri, padahal pengembangan perkebunan berbasis kelompok masih bisa dilakukan.

Perilaku kita sebagai generasi materialistik, telah menimbulkan kegoncangan di meja para ilmuwan dimana Economic Theory of Enough menjadi salah satu jalan keluar bagi mereka yang terjebak didalam dunia materialistik. Mulailah untuk merasa enough (cukup) and be gratitude ( bersyukur ).

Penulis: Purqan Gus, Ketua Bidang Pengembangan Intelektual HMI MPO Cabang Bireuen

Wabah Muhibah yang Menjadi Inspirasi

Masuk ke fakultas pertanian cinta-citanya sederhana, setelah lulus harapannya akan pulang kampung untuk meneruskan mengelola sawah orang tuanya di Karawang sana. Untung-untung bisa menjadi penyuluh di daerahnya, tetapi jikapun tidak, setidaknya dengan ilmu bekal sarjana pertanian yang dimilikinya bisa mengelola pertanian keluarganya dengan lebih baik.

Tetapi siapa sangka, anak seorang petani itu kini menjadi petinggi di salah satu bank pemerintah terbesar di negeri ini. Dialah Babay Farid Wajdi, sosok alumni Pertanian UGM yang menjadi tuan rumah acara buka bersama KALAMTANI (Keluarga Alumni HMI Pertanian UGM) di Jakarta, 10 Juni 2017.

“Semua berawal dari rumah bertiang besar di Jakarta yang saya kunjungi beberapa puluh tahun yang lalu itu”, dia bercerita. Tanpa ingat dengan jelas nama pemilik rumah itu, dia menceritakan bahwa keberaniannya untuk memancangkan cita-cita lebih tinggi terinspirasi sejak itu.

“Seandainya tak berkunjung dengan rumah bertiang besar itu, mungkin saya enggak akan jadi seperti sekarang ini’, kelakarnya.

Waktu itu, sebagai anggota HMI diirinya mengikuti program Muhibah ke alumni-alumni HMI di Jakarta. Program ini diselenggarakan setiap tahun oleh HMI Komisariat Fakultas Pertanian UGM. Memanfaatkan waktu liburan, mahasiswa diajak jalan-jalan berkeliling silaturahim ke para alumni HMI yang sudah sukses di kota lain. Kota tujuan utama biasanya Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mereka biasanya juga menginap di salah satu rumah alumni.

Alkisah pada suatu hari Farid terkesan dengan satu rumah alumni yang bagus dan bertiang besar. Baginya, rumah itu mewah dan megah. Dari situlah timbul pemikiran, “wah,…hebat juga alumni ini. Ternyata alumni pertanian juga bisa berkarir di Jakarta dan menjadi orang kaya dan memiliki rumah sebesar ini”.

Di situ dia mulai tergugah untuk mengubah cita-citanya, dari yang tadinya sebatas menjadi penyuluh pertanian, ingin menjadi seperti alumni yang dikunjunginya itu.

“Sama-sama kuliah di fakultas pertanian, jika bapak alumni ini bisa maka sayapun harus bisa”, gumannya dalam hati.

Selanjutnya, saat perjalanan keliling Jakarta, ia menyaksikan gedung-gedung tinggi yang megah. Ia mulai bermimpi untuk bisa bekerja di salah satu gedung itu. Salah satu gedung tinggi yang ia lewati bertuliskan Bank Indonesia. Waktu itu ia berguman dalam hati: “Inilah tempat dimana uang dicetak. Nanti setelah lulus, saya ingin melamar kerja di tempat ini.”

“Saya memang akhirnya tidak bekerja di BI melainkan di Bank Mandiri. Tetapi istri saya bekerja di sini. Dulu kami berdua sama-sama melamar di BI. Saya tidak diterima, tetapi mantan pacar saya yang diterima he he he”, dia menambahkan.

Saat hadir dalam sebuah acara temu alumni yang diselenggarakan di sebuah hotel di Yogyakarta. Acara tersebut berlangsung meriah, disponsori oleh salah satu alumni yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Bulog di era Presiden Soeharto. “Seumur hidup saya ingat momen itu. Itu pertama kali saya makan di hotel”, katanya. Ia sangat terkesan dengan sosok alumni yang bisa mensponsori acara semewah itu. Ternyata kuliah di pertanian juga bisa menjadi seperti dia yang sekolahnya bisa lanjut ke luar negeri lalu pulang menjadi orang penting di negeri ini.

Tiga segmen cerita di atas menjadi pembuka dari cerita pengalaman hidup Babay Farid Wajdi dalam acara. Cerita itu mengawali cerita-cerita lainnya tentang refleksi atas pengalaman saat menjadi anggota HMI dulu. Farid sebagai tuan rumah mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Pembicara kedua adalah Redi Roeslan. Mantan ketua komisariat HMI ini sekarang menjadi direktur salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang energi. Boleh dikata, dia adalah penggagas ide program Muhibah yang dulu diikuti oleh Farid. Dia tidak menyangka bahwa program jalan-jalan itu ternyata punya pengaruh yang sebegitu luar biasa pada pesertanya. Farid hanyalah salah satu contoh dari yang menuai manfaat itu, yang ternyata mengubah jalan hidupnya.

Kata Redi, dirinya bersama pengurus seangkatannya seperti Junianto dan yang lainnya menggalakkan program Muhibah Alumni karena terinspirasi oleh pengalaman dirinya waktu awal masuk HMI. Waktu itu, ia diberi tugas oleh seniornya di HMI untuk mencari dana ke alumni-alumni di Jakarta. Dengan muka tembok ia datang dari satu pintu ke pintu lainnya menawarkan proposal meminta sumbangan. Ia terkesan oleh sambutan para alumni yang luar biasa. Dari situ dirinya tidak saja pulang mendapatkan dana, tetapi yang jauh lebih terkesan adalah pengalaman interaksi dengan alumni yang sudah sukses.

“Pengalaman bertemu dengan alumni yang sukses di berbagai profesinya masing-masing menjadikan saya memiliki proyeksi tentang masa depan saya. Saat kuliah, saya sudah bisa punya gambaran nanti setelah lulus model karir seperti siapa yang ingin saya tempuh”, jelasnya.

Dari situlah kemudian, ketika dirinya mendapat amanat sebagai ketua komisariat, dia membuat program yang diberi nama Muhibah itu. Menanggapi tentang manfaat Muhibah ini, pembicara berikutnya yaitu Mulyanto Darmawan memberikan pemaknaan sebagai berikut: Intinya adalah silaturahim dan komunikasi. Semakin banyak silaturahim maka pengalaman dari orang lain yang bisa diserap semakin banyak. Demikian, silaturahim akan memperluas jaringan kita. Sementara komunikasi merupakan saran untuk menembus dan merawat jaringan sulaturahim itu.

Mas Mul, panggilan akrab Mulyanto, adalah seniornya Redi di HMI. Dialah yang waktu itu ‘menyuruh’ Redi untuk pergi ke Jakarta menggalang dana.  “Jika dulu Mas Mulyanto tidak menyuruh saya mencari dana ke alumni-alumni, saya juga tidak mungkin punya ide membuat program Muhibah itu”, kata Redi. Tiga generasi hadir berbicara, satu inspirasi terjadi oleh adanya suatu program, yang program itu lagi karena terinspirasi adanya kegiatan dalam program sebelumnya. Intinya malam itu kami saling terinspirasi dan menginspirasi. Sesunggunya kita hidup dari inspirasi. Gagasan muncul karena inspirasi, cita-cita tumbuh karena inspirasi, dan inspirasi jugalah yang menjadikan seseorang berani untuk mewujudkan cita-cita itu.

Penulis: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI Periode 2009 – 2011

In Memoriam Ridwan Baswedan

Masih terpatri dengan kuat dalam ingatanku, kecakapannya saat memimpin pergerakan mahasiswa menjelang tahun 1998 di Yogyakarta. Rangkaian rapat-rapat antar organ kampus mempersiapkan demonstrasi, sosoknyalah yang paling kuingat. Sosok itu mudah kuingat bukan hanya karena jabatannya sebagai ketua Dewan Mahasiswa UII tetapi juga cakap dalam penguasaan forum. Tak berapi-api,tak terlalu banyak kata-kata dan tak perlu sedikit-sedikit menyela, tetapi saat bicara terlihat yang lain hening menyimak. Itu tandanya dia memang punya kharisma.

Sosok itu adalah Ridwan Baswedan, yang baru saja meninggalkan kita untuk selamanya pada malam hari pertama Ramadhan lalu. Mas Iwan, biasa dipanggil, waktu reformasi adalah salah satu figur sentral gerakan mahasiswa menentang rezim Orde Baru. Di HMI, nama itu sepantaran dengan tokoh-tokoh intra kampus kader HMI seperti Ridaya Laode Ngkowe (Ketua Senat UGM), Heni Yulianto (Ketua BEM UGM), Ardi Majo Endah (UII), Idrus Syarifuddin (UIN Suka), Lely Khair Nur (UIN Suka), Yana Aditya (UMY) dan nama-nama besar lainnya yang tak mungkin disebut satu per satu.

Pasca reformasi saya masih melanjutkan kuliah di UGM, Mas Iwan sesuai angkatannya, sudah menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Tak banyak kabar saya dengar mengenai Mas Iwan selain bahwa beliau melanjutkan kuliah ke Belanda dan kemudian pulang ke Indonesia berkecimpung di bisnis. Demikian pula saat saya selesai kuliah dan kemudian tinggal di Jakarta, tak sering berinteraksi lagi dengan beliau.

Perjumpaan intens kemudian terjadi mulai tahun 2013 saat Anies Baswedan, yang tiada lain adalah kakak kandungnya langsung, “berlaga” di arena Konvensi Partai Demokrat. Saya kebetulan ikut mengelola relawan Turuntangan yang waktu itu full support Mas Anies. Kami mengorganisir relawan yang jumlahnya tak kurang dari 50 ribu itu. Mas Iwan sering membantu kami. Beliau biasanya hadir saat debat kandidat yang dilangsungkan di beberapa kota. Konvensi telah memberikan pengalaman politik yang tidak sedikit bagi kami.

Saya masih ingat, Mas Iwan biasanya membantu pengorganisasian relawan bersama saya. Pernah ada suatu kejadian menarik, kira-kira 3 tahun yang lalu, waktu itu final debat kandidat di Hotel Sahid, Jakarta (27 April 2014). Dikarenakan ketatnya pengamanan, saya kesulitan untuk memasukkan relawan yang akan masuk menjadi supporter debat. Semua pintu sudah diblok oleh tim pengamanan yang berseragam. Padahal, biasanya saya punya trik-trik tertentu untuk memasukkan relawan ke dalam ruangan, tetapi kali ini semua trik sudah mentok, saya sudah tak mampu menembus.

Beruntunglah waktu itu ada Mas Iwan. Saya minta bantuan beliau untuk “menggertak” balik petugas keamanan. Makanya saya bilang, memang Mas Iwan itu punya kharisma khusus sejak masih mahasiswa dulu. Akhirnya Mas Iwan yang menghadapi tim keamanan tersebut. Beliau sendiri juga yang akhirnya berdiri menahan daun pintu agar tetap terbuka hingga relawan bisa semuanya masuk ke dalam ruangan.

Pasca Konvensi, kami mendapat amanah bergabung dalam tim kampanye Presiden Jokowi. Mas Iwan masih sekali-sekali membantu kami, meski tidak seintensif sebelumnya. Kesibukan bisnisnya mungkin menyita banyak waktunya. Pun saat Mas Anies menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya sebagai staf khusus Menteri, jarang sekali melihat Mas Iwan bertandang ke kantor Kementerian.

Jumlah kunjungannya bisa dihitung dengan jari. Padahal di kementerian lain beberapa kali saya dengan cerita, adik seorang menteri biasanya sering ‘main’ di Kementerian. Tetapi hal ini tidak dilakukannya. Ini yang saya rasakan ciri khas keluarga Baswedan, berusaha selalu menjaga integritas dan tidak saling “ngribeti” ketika ada saudaranya sedang mendapat amanah memimpin di suatu institusi.

Baru ketika Pilkada DKI2017 kemarin, Mas Iwan kembali terlibat intensif. Mas Iwan bergabung dalam tim pemenangan Anies-Sandi dan terjun langsung ke lapangan. Beliau adalah yang mengatur komunikasi dengan relawan, dan termasuk mengatur jadwal kunjungan kampanye Mas Anies. Posisi tersebut memang pas dengan karakter beliau yang memiliki sifat “ngemong” dan mau mendengar. Inilah sifat khas dari Mas Iwan yang kami dan seluruh relawan selalu ingat. Beliau orangnya tidak pernah marah, suka mendengarkan dan menjadi penengah jika ada yang berkonflik. Tahu sendiri, intensitas dan jumlah relawan yang sangat banyak menjadikan percikan-percikan konflik internal tak bisa dihindari. Mas Iwan adalah mediator yang handal, biasanya saya mengandalkan beliau untuk menengahi dan meredakan konflik-konflik tersebut.

Hari itu, menjelang berakhirnya putaran pertama kampanye, saat di lapangan mendampingi Mas Anies kampanye, Mas Iwan merasakan sesak di dada. Hari berikutnya, tepatnya 25 Februari 2017, beliau dirawat di rumah sakit Pondok Indah, kemudian dipindahkan ke RS Harapan dan berakhir di RSCM Salemba. Dokter memvonis beliau terkena serangan jantung yang kemudian berujung pada komplikasi infeksi di paru-parunya.

Saya mendapat pesan dari adindanya, Abdillah Baswedan, agar mengabarkan kepada relawan bahwa Mas Ridwan off dari kampanye karena sedang dirawat. Mohon doa dari seluruh relawan semuanya. Begitulah kira-kira isi pesan yang saya kirim ke grup-grup whatsapp relawan. Para relawan sedih, saat itupun kami sudah mulai merasa kehilangan.

Kami, para relawan, sudah tidak pernah bertemu lagi. Mereka hanya bisa mendoakan melalui majlis Yasinan yang setiap malam Jumat rutin diselenggarakan di Pendopo relawan. Dalam setiap yasinan, kami selalu memastikan agar di penghujung doa, nama Ridwan Rasyid Baswedan bin Abdul Rasyid Baswedan jangan sampai lupa disebut bersama nama-nama yang lain seperti Ayahanda Abdul Rasyid Baswedan, Anies Rasyid Baswedan, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, serta para pahlawan lain serta tokoh-tokoh guru utama di Betawi.

Putaran kedua Pilkada, Mas Iwan sudah tidak bisa bergabung lagi. Meskipun demikian, kami telah mewarisi semangat dan ketulusan niatnya. Di putaran pertama, kami sudah banyak belajar dari Mas Iwan. Di putaran kedua, saatnyalah untuk mempraktikkannya. Kami bergerak penuh semangat dan rancak, sehingga akhirnya diberi kemenangan pada 19 April 2017. Berbeda dengan kami yang melihat gegap-gempitanya, nuansa kemenangan itu tak pernah dirasakan oleh Mas Iwan karena beliau mesti terus ditidurkan dalam perawatannya. Dokter mengatakan, Mas Iwan bukan tidak sadar, tetapi sengaja ditidurkan agar obat pelawan infeksi diparu-parunya bisa bekerja dengan lebih baik.

Pagi itu, sebulan setelah Pilkada, pagi-pagi saya mendengar kabar bahwa kondisi Mas Iwan semakin menurun. Keluarga diminta berkumpul di RSCM. Rapat yang sedianya kami gelar pagi itu, dibatalkan. Dan benar, di RSCM saya lihat kondisinya sudah sangat melemah. Dokter menyampaikan harapan tinggal 5%. Isak-tangis pecah.

Saya sudah merasa akan kehilangan orang yang selama ini sudah seperti kakak sendiri. Orang yang kebaikannya tak pernah bisa dipungkiri karena berasal dari hati. Jumat malam Sabtu, 27 Mei 2017, pukul 00.50 WIB Mas Iwan menghembuskan nafas terakhirnya di bawah bimbingan dan keikhlasan Sang Ibunda Aliyah Alganis. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesunggunya segalanya milik Allah, dan kepada-Nya lah tempat kembali.

Kami telah kehilangan seseorang yang kebaikannya bukan saja dirasakan setelah selesai interaksi, bahkan auranya sudah terasa saat baru pertama kali berkenalan. Kebaikan budi Mas Iwan ini tidak hanya dirasakan oleh kami para relawan saja, mantan sekretaris di perusahaannya yang lebih dari10 tahun bekerjasama dengan beliau juga kagum dengan keluhuran budinya. Dalam sebuah pesan whatsapp yang dikirim ke saya, Mbak Anggi (mantan sekretaris Mas Iwan) menulis begini: “Sepuluh tahun bareng…sudah lebih dari seperti abang sendiri. Tiap hari ketemu. Beneer,… baik banget”.

Selamat jalan Mas Ridwan Baswedan…! Kami menjadi saksi kebaikan-kebaikan yang pernah kau taburkan. Kebaikan-kebaikan itu akan menjadi kendaraanmu menuju ke pangkuan-Nya.

Penulis: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI Periode 2009 – 2011

Mengenang Ridwan Baswedan: Selamat Jalan, Orang Baik

Tahun 2008, di taxi, hp saya berdering. Telepon masuk dari Mas Anies Baswedan. “Yogie, sekarang tinggal tiga hari sebelum hari pernikahan Ridwan, tapi kita belum mendapat konfirmasi kehadiran Wapres Pak Jusuf Kalla. Tolong Yogie atas nama keluarga koordinasi dengan istana”, demikian pesan Mas Anies dari ujung sana. Anies Baswedan, Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan adalah tiga bersaudara.

Saya menghubungi beberapa kontak, besoknya langsung rapat dengan protokol istana. Saya hadir bersama Abdillah dan sekretaris Mas Ridwan bernama Anggie Affan. Pak JK confirmed hadir, detail keperluan untuk menyambutnya langsung disiapkan dalam dua hari.

Alhamdulillah, kehadiran beliau di pernikahan Mas Ridwan sesuai harapan. Saya mendampingi Mas Anies beserta istrinya, Mbak Ferry Farhati Ganies, menyambut Pak JK dan istri di pintu masuk Graha Niaga.

Saya ingat, sepatu Bu Mufidah Kalla sempat tersangkut kabel yang kurang rapi di koridor penyambutan. Beliau sedikit kaget kala itu. Paspampres sigap menahan Bu Mufidah Kalla agar tidak terpeleset.

Dari pelaminan di samping mempelai wanita yang cantik jelita, Mas Ridwan melirik saya sambil tersenyum lebar sumringah. Alis matanya sampai terangkat. Dia terlihat jelas bahagia sekali.

Saya membalasnya dengan tersenyum lega dan mengacungkan jempol. Dalam hati terucap: tugas sudah saya kerjakan.

Untuk hadir di pernikahan itu, saya beli batik lengan panjang di Ramayana Depok. Batik murah meriah, yang penting terlihat baru. Jas saya sudah tidak layak pakai, berumur sekitar lima tahun.

Saya mengenal Mas Ridwan 19 tahun lalu. Waktu itu para eksponen gerakan mahasiswa 98 masih melangsungkan konsolidasi pasca jatuhnya Suharto dan menggagas kelompok bernama Majelis Reformasi Total (MRT). Saya baru masuk kuliah dan mungkin karena keaktifan saya di forum-forum mahasiswa, saya diajak oleh eksponen 98 ikut beberapa kali pertemuan MRT.

Dua nama yang paling awal menjadi mentor saya di dunia pergerakan adalah mantan Ketua Senat Mahasiswa UMY Bang Cahyadi Jogjakarta dan mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa UMY Mas M Yana Aditya. Melalui mereka, saya masuk ke jaringan eksponen 98, lalu proses itu mendorong kiprah saya lebih lanjut kemudian hari di HMI.

Kali pertama MRT mengadakan pertemuan di Solo. Mas Ridwan selaku mantan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UII turut hadir. Saya ikut di mobilnya dari Yogyakarta ke Solo, bersama beberapa yang lain.

Mas Ridwan bukan tipe aktivis yang senang bicara. Dia hanya bicara seperlunya, tapi berisi. Tata kramanya tinggi, sebagaimana tabiat di keluarga Baswedan. Demikian juga saat diskusi di MRT, saya mengingat Mas Ridwan sebagai figur aktivis yang dihormati oleh teman-temannya sesama aktivis. Cara berpikir dan bicaranya tertata rapi dan selalu perlu untuk didengar.

Dari situ saya mengenal Mas Ridwan. Sebagai kader yang lebih muda, saya proaktif memelihara komunikasi dengan para pendahulu di gerakan mahasiswa, termasuk Mas Ridwan.

Sampai dia melanjutkan studi di Leiden University, Belanda. Saya menunggu-nunggu waktu dia pulang untuk berlibur atau keperluan lain. Saya selalu memantau dan mencari peluang untuk bertemu lagi.

Dari dulu, saya sangat senang dan menikmati silaturahmi dengan para senior pergerakan. Tidak jarang, saya temui mereka di kota-kota luar Yogyakarta hanya untuk bertukar pikiran dan menimba pengalaman.

Sampai datang satu kesempatan, Mas Ridwan pulang ke Yogyakarta. Saya langsung telepon dia, kami berbincang lama. Waktu itu saya sudah diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

“Bagaimana rasanya kuliah di Belanda? Apa beda pendidikan kita dengan Belanda? Apakah di sana sambil bekerja? Bagaimana orang Belanda melihat perkembangan terkini di Indonesia?”, berbagai pertanyaan dan keingintahuan saya utarakan kepada Mas Ridwan. Dia menjawab semuanya. Pembicaraan di telepon tersebut mengalir lebih dari satu jam. Rasanya diskusi masih kurang.

Hingga saya meminta Mas Ridwan untuk berdiskusi lebih banyak di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta, di Karangkajen. Tiba di sekretariat, Mas Ridwan berkata sambil senyum, “Baru kali ini saya diundang menjadi pembicara di HMI Cabang Yogyakarta. Biasanya dulu diundang rapat saja sebagai staf Bidang PTK (Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan)”. Mas Ridwan memang pernah menjadi staf Bidang PTK HMI Cabang Yogyakarta. Diskusi tentang pengalamannya mengenyam pendidikan di Belanda menjadi salah satu pemantik kami untuk lebih mendorong kader-kader HMI membangun orientasi melanjutkan studi ke luar negeri.

Tahun 2004 saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia (LKDI). Usai studi di Belanda, Mas Ridwan juga memulai kiprah bisnisnya di Jakarta. Selang beberapa waktu kemudian dia menjadi Direktur PT KDK Technologies. “Saya businessman, Yogie. Saya marketer”, ujarnya suatu saat. Ya, dia memilih menapaki jalur profesional sebagai pebisnis.

Beberapa kali saya ke kantornya untuk sekedar silaturahmi dan berbagi informasi. Saya menangkap kesan Mas Ridwan punya tekad kuat berbisnis, tapi saya juga merasakan tantangan yang dia hadapi tidak mudah meski dia tidak mengungkapnya. Dia tidak menyerah. Sikapnya terkontrol dalam menghadapi tekanan dan masalah.

Dan dia seorang dermawan. Salah satu kisah pernah ketika sekembali kami dari Puncak menuju Jakarta, sebagaimana lazimnya obrolan berdua, saya bercerita tentang suatu keadaan sulit yang sedang saya jalani. Seketika dan tiba-tiba, Mas Ridwan menghentikan mobil di depan mesin ATM yang kami lalui, dia tarik tunai sejumlah uang dan diberikan untuk saya.

“Yogie, ini untuk keperluan yang Yogie ceritakan tadi”, katanya sambil tersenyum. Saya kaget dan merasa tidak enak hati. “Maaf, Mas Ridwan. Saya cerita tadi bukan untuk minta bantuan uang. Kita kan lagi ngobrol biasa”, saya berusaha menolak. Tapi Mas Ridwan tak bergeming, dia dengan santun tetap minta saya menerima uang darinya. Tidak lupa dia belikan saya talas dan pisang tanduk yang berjejer sepanjang jalanan Puncak menuju Jakarta.

Kami pernah ke Labuan Banten, mengunjungi proyek pembangunan PLTU. Menikmati makan siang dengan menu urab dan udang bakar yang nikmatnya masih teringat sampai sekarang. Ikhtiar untuk mengembangkan bisnisnya pernah kami lakukan bersama.

Februari 2017 lalu, saya makan siang berdua Mas Ridwan di TIM Cikini, menjelang pencoblosan putaran pertama pilgub DKI Jakarta. Dia banyak cerita tentang perjuangan dan susah payah tim pemenangan Anies-Sandi di lapangan, termasuk keterlibatannya secara langsung untuk menggalang dukungan bagi sang kakak.

Lelah dapat saya lihat dari rautnya. Tapi tetap lebih nampak dominan semangatnya. Mas Ridwan tidak pernah mengeluh. “Yang kita lawan ini kekuasaan”, ujarnya sambil menerawang. Saya lebih banyak menyimak sambil menyeruput es kacang merah di siang terik itu. Diam-diam saya mengagumi watak pekerja keras dan pejuangnya, seperti watak Baswedan-Baswedan yang lain.

Tak lama setelahnya, tanpa sengaja saya berjumpa Abdillah Baswedan di bandara Soekarno Hatta. Saya sampaikan bahwa pesan wa saya tidak Mas Ridwan balas. Abdillah hanya bilang Mas Ridwan kurang sehat.

Hanya sekitar satu hari kemudian, saya mendapat kabar Mas Ridwan terkena serangan jantung. Saya belum pernah menjenguknya karena menurut informasi, dia butuh perawatan intensif dan istirahat total. Saya hanya mendo’akan untuk kesehatannya.

Hari ini Sabtu 27 Mei 2017 saat bangun sahur di hari pertama Ramadhan 1438 H, berita duka itu datang dari pesan wa. Mas Ridwan telah berpulang ke rahmatullah setelah tiga bulan menjalani perawatan.

Saya termenung cukup lama. Kepergiannya terasa terlalu cepat. Sampai saat membangunkan anak, saya bukan bilang agar bangun sahur, tapi saya bilang: “Teman ayah meninggal, adiknya Mas Anies meninggal”. Izzan bergegas bangun, “Beneran, Yah?”. Lalu istri juga saya kabarkan.

Siang tadi, saya turut mengantar ke peristirahatan terakhir Mas Ridwan di TPU Tanah Kusir. Banyak aktivis, sahabat, senior dan tokoh hadir di sana.

Saya banyak melamun selama prosesi pemakaman. Memandang jenazahnya, mengenang hubungan baik dengan almarhum. Saat saya berpamitan, Mas Anies yang didampingi Abdillah berkata, “Yogie, tolong maafkan kalau Ridwan ada salah”. Saya hanya menjawab, “Mas Ridwan orang baik”.

Selamat menjumpai Allah SWT di hari dan bulan yang indah ini, Mas Ridwan. Insya Allah husnul khatimah.

Penulis: Yogie Maharesi, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2002 – 2003

Sebuah Reinkarnasi

Dalam petang yang mencipta sunyi

Membisik tiap semilir yang tak tahu arah tujuan

Coba rapal rasa dalam hati dengan kepala menengadah

bulir air buncah menggelanyut di pelupuk mata

gemuruh langit kandas dalam gelora sanubari

jiwaku telah mati

Kemana seluruh jasad pergi

Mengunjungi aku di kehidupan berikutnya

Berkelabat enggan berhenti

Menjerembabkan pusara tanya tanpa muara

Aku tak benar-benar mati

Mengakhiri perjumpaan nafas ini

Tanpa secuil rasa untuk sadar dan berniat hidup kembali

Ainur Rizki Erian, Jombang, 30-3-2017

 

 

Selamat Hari Kartini Bagi Para Srikandi Sejati

Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan perempuan itu menjadi saingan bagi lelaki dalam perjuangan dan kehidupan, Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar kami lebih cakap melakukan kewajiban. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangan perempuan: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

(surat RA. Kartini  kepada Prof. Anton dan istrinya pada 4 Oktober 1902)

 

Kartini kekinian yang memperjuangkan Emansipasi

Hak-hak perempuan dan menuntut kesetaraan kesejajaran

Ketahuilah bukan itu sejatinya asa  yang kartini citakan

Kelak agar perempuan memiliki bekal yang layak untuk menjalankan kewajiban

Melahirkan generasi sebagai penentu peradaban

Perempuan yang diserahi tanggung jawab oleh alam

Sebagai pendidik pertama memberikan pengaruh paling utama

Bagi keberhasilan perjuangan dan masa depan bangsa

 

Dewi sartika 1884-1947

Perjuangan dan gerak nyata akan  pendidikan perempuan

Mempersiapkan para istri cerdas dalam sekolah kautamaan

Agar menjadi mulia pantas dan  layak sebagai pengemban tugas utama dan terdepan

Memiliki ahlak budi nan dimuliakan

 

Cut nyak dien 1840-1908

Pejuang perempuan panglima perang

Lembut hati, namun tegas menghalau penjajahan

Memimpin dan tak gentar dalam setiap peperangan

Maju ke medan juang dengan hati yang berkobar

Meski nyawa sebagai taruhan

 

Rasuna said 1910-1965

Pejuang perempuan dengan gagasan dan tulisan

Pemilik pena yang tajam

Pada surat-surat kabar mengkampanyekan perlawanan

Demi kemajuan Perjuangan dan pemikiran untuk pergerakan kaum perempuan

 

Laksamana malahayati 1589-1604 M.

Laksamana laut pertama pemimpin pasukan putri

Penentang penjajahan dan ditakuti

Pengarung bahari nan gagah bestari

Pedobrak gender emansipasi

 

Renungan  risalah perjuangan para pahlawan perempuan mestinya menyadarkan

Bahwa sesungguhnya betapa begitu hebat dan mulianya peranan perempuan dalam kancah dunia

Ia berdiri dan berkiprah atas  titah Tuhan

Tiada beda tanggung jawab perempuan dan lelaki dalam kemaslahatan umat dan peradaban

Sebagai khalifah di muka bumi selaku tugas yang diembankan

Sebagai penyempurna keseimbangan yin dan yang

Lihatlah betapa perempuan telah menjadi pendidik utama.

Lihatlah betapa perempuan telah menjadi sosok putri ksatria gagah nan jelita

Lihatlah betapa perempuan telah menjadi pedang tajam dengan pena

Maka sesungguhnya betapa perempuan mengemban kodrat yang amat mulia

Selamat hari pahlawan perempuan Indonesia.

Penulis: Arofiah Afifi