Telaah Ringkas Novel Kau Bidadari Surgaku

HMINEWS.COM, Secara genre, novel Kau Bidadari Surgaku, termasuk dalam novel religi, atau novel islami, salah satu genre novel yang belakangan mulai populer, novel ini pada dasarnya tidak rumit, pembaca dari berbagai kalangan, akan mudah menemukan pesan dibalik teks novel tersebut, hal ini karena paparannya terbilang sederhana, gamblang, serta tak berbelit – belit, penulisnya mencoba mengangkat realitas sosial di sekitar kita, kejadian yang sering terjadi di lingkungan perkotaan, khususnya kota metropolitan, setting cerita mengambil tiga tempat: Jakarta, Bandung dan Kroya, novel ini menyajikan dilema kaum perempuan yang mencoba keluar dari ingkungan kerja yang telah merusak dirinya, apa yang dialami Marwah, sang tokoh utama, juga banyak dialami perempuan lain yang merantau ke ibukota, bahkan banyak diantara mereka yang menjadi korban perdagangan manusia, nasib Marwah masih lebih beruntung, ia sebatas menjadi wanita panggilan, aktifitas yang di kemudian hari ia tinggalkan.

Minimal ada dua sisi kehidupan yang dikupas dalam novel ini: agama dan kompleksitas sosial, agama menjadi topik utama dari ke duanya, bahkan beberapa Ayat Al Qur’an menghiasi novel ini, Marwah digambarkan sebagai tokoh utama yang mencoba kembali ke jalan Islam, dalam usahanya ini, ia terlibat pertarungan sengit dengan dirinya sendiri, antara tetap menjadi wanita panggilan dengan bergelimang uang, uang itu ia butuhkan demi menjaga status keluarganya di kampung agar tetap dihormati, atau kembali menjadi muslimah taat, dengan konsekuensi kehilangan uang yang selama ini didapat secara instan, lalu memulai hidup dari nol, semua berawal saat Marwah bertemu Hamzah, laki – laki yang menginspirasinya untuk kembali ke jalan benar, sekaligus ia memendam cinta diam – diam pada lelaki tersebut, dilema yang dialami Marwah untuk kembali ke jalan lurus, merupakan sindiran terhadap realitas masyarakat terkini, bagi masyarakat, orang yang telah dilabeli negatif, cenderung dijauhi, seolah tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk insaf, situasi ini menyebabkan orang bersangkutan, menjadi semakin nyaman dalam zona kesalahan.

Dari sisi kompleksitas sosial, novel ini menyajikan sisi kelam hidup di ibukota bagi mereka yang tidak punya keterampilan hidup, ini pula yang melanda Marwah, dengan maksud mengangkat kualitas hidup keluarga, ia lalu merantau ke ibukota, malangnya dirinya justru menjadi korban penipuan dari oknum yang menjanjikannya menjadi pembantu, situasi sulit ini, memaksa Marwah menerjunkan diri ke dalam dunia kelam, walaupun telah diperingati sahabatnya, shinta, namun saat itu ia merasa tak punya pilihan lain, novel ini juga menggambarkan betapa kejamnya dunia malam, selalu ada potensi menjadi korban kejahatan lain, itu yang dialami Shinta, saat ia harus berurusan dengan pihak berwajib karena dikaitkan kasus korupsi, walaupun ia sekadar menemani tamunya saja, yang ternyata seorang koruptor, saat digeledah KPK, ada ragam kompleksitas sosial yang disinggung dalam Bidadari Surgaku, bukan hanya korupsi, tapi juga kenaikan BBM dan rumitnya kehidupan kaum miskin, bagian ini memang tidak menjadi cerita utama, namun pesan sosialnya tetap tersampaikan.

Penulis, dalam novelnya, berupaya menyajikan pemahaman keislaman yang moderat, terbuka terhadap perbedaan tafsiran, juga penghargaan terhadap agama lain, penulis melihat Islam dari sisi keberagaman, sekaligus mengkritik pemahaman Islam yang sangat literal, hal itu tertuang saat tokoh utama menanggapi prilaku adiknya, sepertinya penyajian ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan penulis, terutama latar belakang pemahaman keislamannya yang disemai di lingkungan pesantren.

Nuansa asmara terlihat kental dalam novel ini, nuansa asmara tersebut dibalut dalam konteks Ajaran Islam, boleh dikata asmara menjadi bahan perbincangan dominan dalam Bidadari Surgaku, modelnya terbilang klasik, menceritakan cinta segitiga, antara Marwah, Hamzah dan Shafa, pilihan Hamzah terhadap Marwah, yang notabenenya keluarga kelas atas, ditambah rekam jejak kelam Marwah di masa lalu, serta penolakannya terhadap Shafa, yang berasal dari keluarga konglomerat, juga merupakan drama cinta klasik, yang membuat drama cinta mereka menjadi berbeda, karena drama cinta ini terekspresikan dalam bentuk ajaran Islam, mulai saat Hamzah memiliki rasa terhadap Marwah, begitupun sebaliknya, Marwah yang menaruh harapan pada Hamzah, namun Hamzah tak sekalipun menyentuh Marwah dalam mengekspresikan cintanya, apalagi memacarinya, justru Hamzah memilih melamar Marwah setelah merasa cukup kenal dengannya, cara ini sengaja digambarkan secara jelas, untuk menampik anggapan bahwa pacaran merupakan cara satu – satunya menuju pelaminan, bahkan ada beberapa kalimat kritikan terhadap konsep pacaran dalam novel ini.

Benar novel ini terlihat sederhana, tapi beberapa bagian ceritanya tidak mudah ditebak begitu saja, pada beberapa bagian, terdapat beberapa kejadian, yang bisa menampik prediksi mapan pembaca, semisal diagnosa palsu yang diberikan dokter kepada Marwah, ketidaktenangan Hamzah dalam mengambil keputusan, sehingga berujung pada penalakan istrinya, padahal sejak awal, Hamzah digambarkan sebagai sosok tenang dan matang, hingga meninggalnya Marwah sesaat setelah Hamzah menyadari kekeliruannya, dan juga mencabut talaknya, semua ini terjadi pada bagian akhir cerita, jika mengikuti prediksi mapan, maka pembaca bisa saja beranggapan bahwa puncak konflik, berada pada tarik ulur lamaran Hamzah ke Marwah, setelah itu mereka hidup bahagia hingga tua, namun prediksi semacam itu, tidak berlaku untuk novel ini, justru di bagiaan setelah pernikahan, penulisnya menyajikan drama ringan yang justru merupakan klimaks dalam novel ini, dan disinilah nilai lebih Kau Bidadari Surgaku dari segi alur cerita.

Penulis: Zaenal Abidin Riam

Aku Bukan Manusia, Aku Dinamit: Nietzsche dan Politik Anarkisme

Buku yang disusun berdasarkan riset mendalam dari London Anarchist Group membuka pencerahan-pencerahan baru terhadap model anarkisme modern yang saat ini sedang menghantui kota-kota besar di seluruh dunia. Gerakan Blac Block, Direct Action Network dan gerakan-gerakan lainnya menjadi salah satu varian anarkisme yang menolak sistem kapitalisme global. Esai-esai dalam kumpulan ini yang di edit oleh John Moore menduduki tempat istimewa dalam anarkisme.

Ia pernah menggambarkan karyanya sebagai ‘spekulasi anarkis’, perihal kekuasaan, epistemologi, dan ontologi, agar bisa dipertimbangkan, disempurnakan, direvisi dan ditindaklanjuti oleh orang lain, dan bukan sebagai kebenaran absolut yang harus dianut. Spekulasi-spekulasinya tidak hanya menampik klasifikasi intelektual gampangan dalam pemikiran libertarian itu sendiri, melainkan juga kerap menantang modus-modus ekspresi politik yang ada.

Disatu sisi, posisi ini menghasilkan serangkaian publikasi inovatif yang berusaha mengkaji ulang asumsi-asumsi intelektual filsafat pencerahan, modernisme, pemikiran antiotoritarian lainnya, dan anarkisme pada khsusunya. Disisi lain, karya John Moore mengajukan gugatan tentang kemungkinan-kemungkinan estetika liberatarian dan perlunya konsistensi dan bentuk filsafat revolusioner.

Karya Nieztsche itu sendiri rumit dan kontradiktif. Selama ini, Nietzche dibajak oleh Fasisme Jerman pada tahun 1940-an dan saat ini sedang diperbincangkan lagi di seminar-seminar agama liberal. Nietzche belum banyak dibaca sebagai alasan manusia memberontak terhadap pemerintahan. Dibandingkan Nietzche, Freud lebih menarik bagi kalangan intelektual. Dalam buku yang setebal 167 halaman ini, para penulis mencoba untuk menarik filasafat Nietzche ke dalam tataran anarkisme sebagai gerakan politik.

Ditengah hiruk pikuk wacana post-modernisme, post-kolonialisme, sosial-demokrat, kiri-nasionalis, dan sebagainya. Buku ini hadir untuk mengingatkan kembali bahwa Anarkisme belum tamat. Walaupun dihantam oleh kekuatan sosialis-komunis saat sidang internationale di Den Haag tahun 1872, semangat yang ditularkan oleh Bakunin, Kropotkin masih dirasakan hingga ke sudut-sudut kota New York, bahkan Jakarta dengan komunitas punk yang mengakar.

Ahmad Wahib : Telaah Kritis Pergolakan Pemikiran Islam

Mengenang Sosok Wahib

Ahmad WahibSosok Ahmad Wahib selalu diidentikan dengan nilai-nilai liberalisme, pluralisme, dan humanisme. Wahib adalah sesosok pribadi yang teguh dalam ‘mengembarakan pemikiranya’ dengan sebebas-bebasnya. Keresahan-keresahan wahib telah mengantarkan pemikiranya pada puncak rasionalisme-eksistensialistik yang berusaha mendestruksi seluruh kenyataan-kenyataan yang bersumber pada dogmatisme. Bagi wahib kenyataan harus mampu dibaca dengan kesadaran yang dibangun diatas rasionalisasi seluruh prinsip-prinsip kehidupan. Rasionalisme-eksistensialis selalu mencari ruang untuk hadirnya individu dalam setiap realitas kompleks dan mengajarkan tafsir individu sebagai garis mutlak yang tidak bisa hancurkan dengan penyeragaman makna. Wahib berusaha mereproduksi dirinya sebagai sosok eksistensialis yang ada dalam makna-makna yang dinamis dan tidak berpijak pada kemutlakan hasil melainkan proses.[1]

Memahami sosok wahib mungkin bisa dikomparasikan dengan sosok lain segenerasinya, misalnya Soe Hok Gie. Dua tokoh muda ini lahir pada generasi yang sezaman namun keduanya berada pada latar belakang dan kiprah yang berbeda. Gie yang kita kenal lahir dari keluarga intelektual tionghoa. Dalam keseluruhan proses hidupnya Gie berusaha melawan pragmatisasi politik. Gie sangat tekun mendalami berbagai persoalan politik kontemporer dan sangat jengah dengan perbedaan ideologi yang melahirkan garis demarkasi sesame anak bangsa. Gie menginginkan satu kehidupan pluralis yang bisa menaungi segala prinsip-prinsip tanpa kemunafikan atau “mereka hanya mengatasnamakan ideologi untuk memperteguh syahwat kekuasaanya:. Maka kiprah Gie sebagai tokoh gerakan mahasiswa “Gemasos” dan kedekatanya dengan tokoh-tokoh politik oposisi menjadikanya orang yang dianggap paling berbahaya bagi status quo.

Berbeda dengan Gie, Wahib lahir dari keluarga santri tradisional. Ia merasa seluruh kesadaranya pada segala realitas memerlukan rasionalisasi. Ia bukan sosok seperti Gie yang hidup dalam dinamika politik. Sosok wahib identik dengan kiprahnya sebagai sesosok pengader di HMI cabang Yogyakarta, ia selalu meresahkan segala hal yang dilihatnya tidak rasional dalam perilaku beragama umat islam. Keresahanya didasarkan pada kekakuan dan kejumudan pada dogmatisasi agama yang  mengantarkan agama tidak lagi menjadi wahana penyadaran dan bangunan prinsip moral, melainkan sekedar menjadi alat legitimasi politik kekuasaan. Agama sering direproduksi oleh tokoh-tokoh islam sebagai alat mobilisasi untuk menghadapi lawan-lawan politiknya.  Wahib bukan orang yang banyak terlibat dalam perdebatan politik praksis ia lebih tertarik pada filsafat agama yang mengantarkanya berfikir tajam bagaimana menempatkan prinsip-prinsip agama dalam kehidupan yang kontekstual.

Pergolakan Pemikiran Islam dalam Ruang Gagasan

Wahib selalu mereproduksi gagasanya dalam ruang-ruang terbatas yang cukup intim, bukan pada khalayak luas. Limited Group yang dibentuknya beranggotakan Dawam Rahardjo, Djohan effendi, dan dimentori oleh Mukti Ali. Reproduksi gagasan yang sangat intim dilakukanya dalam kelompok ini, dilain sisi seringkali Wahib menantang pemikiran-pemikiranya dalam forum-forum pelatihan kader di HMI. Sosoknya sebagai konseptor dan pengader berhasil menerjemahkan prinsip-prinsip dalam lingkaran kultur dan tradisi organisasi yang digelutinya. Namun, kegelisahanya sebagai pribadi memang sangat sulit dipahami secara utuh tanpa melihat konteks dimana ia hidup.

Wahib sempat hidup bersama para romo katolik di asrama realino. Dia sangat banyak menyerap gagasan moralis kalangan gereja katolik yang berusaha membangunkan agama sebagai landasan moral publik. Namun, kedirian wahib sebagai seorang muslim, dan aktivis HMI mengidentikan dia dengan keseluruhan pilihan sikap HMI dalam kehidupan publik. Hal ini baginya agak sulit diterima, ia menyadari banyak perbedaan signifikan antara apa yang ia resahkan dengan praksis pilihan-pilihan sikap kawan-kawanya, baik dalam politik maupun dalam praksis pemahaman beragama. Tidak jelas, apa yang mendasari sosok wahib bergulat habis-habisan dengan hal ini, namun ada yang tersimpan bahwa ia memang tidak puas dengan kondisi aktual saat itu.

Dalam memahami wahib sangat penting untuk dilihat apa, dimana dan kapan pemikiranya ditelurkan. Wahib bukanlah pemikir yang telah selesai, ia benar-benar orang yang resah dalam mencari hakikat hidupnya sebagai hamba Allah dalam menempatkan diri dengan berbagai perubahan realitas yang begitu cepat. Periode dekade 60-70-an. Pada periode ini pergolakan sosial dan politik yang sangat dramatis terjadi akibat G 30 S.[2] Panasnya konflik ideologi menjadikan islam sebagai salah satu alat untuk menghabisi ideologi lain, termasuk jadi legitimasi untuk membenarkan pembunuhan pada mereka yang tak bedosa atasnama agama. Keresahan ini menyelimuti pola pikir wahib untuk membangun satu konsepsi islam yang butuh diterjemahkan ulang secara individual agar setiap individu menemukan makna atas keberislamanya secara otentik bukan semata-mata tafsir atau dogma dari orang-orang disekitarnya. [3]

Pemikiran wahib dalam buku Pergolakan pemikiran islam, bukanlah satu rangkaian utuh yang terstruktur, wahib menuliskanya dalam lembar-lembar catatan harian, jelas siapapun tahu catatan harian bukan konsumsi publik, bahkan sesuatu yang sangat intim bagi manusia dan lingkaran terdekatnya. Walaupun ada beberapa tulisan dan argumentasi yang tajam, tapi ini memiliki ruang personalitas yang tinggi. Keresahan ini jelas berbeda dengan kaum liberal proyekan yang menuangkan kekonyolan-kekonyolan diruang publik dan belum tentu ia mengamini apa yang diucap atau dituliskanya.

Wahib bukan sosok intelektual yang genit, tapi ia berusaha menerjemahkan apapun yang bebal dalam dirinya untuk dirinya pula. Sayangnya, ia meninggal di usia yang terlalu muda dan pada masa pencarianya yang belum pernah usai, mungkin akan berbeda ketika ia meninggal di era tuanya, jelas konsistensinya sebagai pemikir yang rasionalitis, skeptis dan kritis akan bisa dikoreksi apakah ia akan tetap bergulat dengan pemikiran demikian ditengah proyek-proyek atau ia mengartikulasikan keresahan justru pada pendirian liberalismenya sendiri. Bahkan dalam beberapa tulisan wahib menunjukan ketawaduanya dan sekaligus keraguan atas jalan pikirnya untuk menemukan kebenaran dengan mengatakan[4] :

 

 

Sekilas Pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib

Sebenarnya sulit untuk meringkas pemikiran wahib yang terkandung dalam buku catatan harianya. Hal ini dikarenakan kompleksitas isi buku tersebut dan kesingkatanya serta tidak ada penjelasan apa yang terjadi saat itu dan sebagai respon atas apa wahib kemudian menuliskan setiap jengkal kalimatnya. Beberapa bisa tertangkap dengan jelas sebagai ungkapan kekecewaan maupun sebagai ungkapan keresahan, namun banyak yang tidak bisa terlacak.

Secara umum pemikiran wahib cenderung identik dengan refleksi kritisnya atas segala kondisi yang dianggapnya tidak ideal. Wahib menginginkan satu rumusan ulang tentang agama yang tidak mewujud dalam dogmatisme, melainkan hidup sebagai kesadaran otentik. Pemikiran semacam ini nampaknya bukanlah sebuah pemikiran yang mudah untuk dicerna publik, melainkan suatu gagasan emosional pribadi yang kemudian lahir dari sebuah latar kecenderungan untuk menginginkan sebuah pembaharuan total menuju puncak idealitas.

Wahib menolak pula segala bentuk nostalgia dengan menempatkan sejarah hidup Nabi Muhammad saw, sebagai hasil final peradaban islam. Hal ini sering disebut wahib sebatas bentuk sikap apologetic islam untuk menutupi kegagalanya. Bagi wahib, sejarah memiliki dimensi proses yang tak pernah final, sehingga perlu kritik terhadap apa-apa yang telah final. Walaupun begitu, wahib cukup sering menjadikan refleksi sejarah Rasul sebagai bentuk interpretasi atas Al Quran dan Shunah.[5]  Bai wahib, islam harus menempati sebatas konsep sumber keluhuran moral dan perlu diterjemahkan kembali dalam praksis kehidupan.[6] Sebagaimana disebut wahin pada hal 115 “insane medeka”

Dalam catatan harian yang dibukukan ini, wahib juga banyak berbicara tentang budaya dan politik namun dua tema itu tidak lebih sekedar curahan gagasanya yang tidak terlalu mencolok. Wahib hanya menekankan perlunya pluralitas dan kemajuan. Hal ini identik dengan ideologi modernisme yang sedang hangat pada generasi masa awal orde baru. Gagasan wahib tentang budaya lebih sering menyerang budaya-budaya yang dianggapnya melawan kemajuan.

Gagasanya wahib, justru mencolak tentang bagaimana menghidupkan sebuah organisasi dan bagaimana dia menghayati semua proses ilmiah di kampus. Wahib mengajarkan konsistensi dan kekritisan yang mampu menghasilkan dinamisasi yang terus berjalan. Alhasil gagasanya secara tidak sadar terlembagakan dalam banyak proses di HMI. Walaupun, secara politis wahib dikalahkan oleh kubu Nur Cholis Majid yang pada waktu itu dianggap sebagai fundamentalis dan natsirian.

Refleksi terhadap Wahib

Di zaman mudah mengkafirkan orang dan susah mencari sosok yang memiliki integritas serta kepekaan moral, sosok wahib mungkin menjadi sosok yang aneh. Aneh karena ia dengan kekonyolanya menertawakan tuhan sedemikian rupa, dalam arti dia berusaha mencari pemahaman kebenaran tentang tuhan secara otentik. Sebuah proses pencarian yang sangat berharga dan tentunya sangat teramat menyiksa dan melelahkan. Wahib sebagai sesosok pluralis memang mudah disalah pahami sebagai pengkhianat agamanya, namun sebagai seorang yang berusaha memahami realitas kemanusiaan ia merupakan generasi yang berusaha keluar dari pertikaian dan kejumudan yang dipengaruhi realitas sosial politik yang mengatasnamakan agama ataupun ideologi demi syahwat kepentingan. Hal ini nyata-nyata masih eksis di era kini dimana pragmatisasi dan kepentingan menjadi ideologi resmi untuk mengejar kekuasaan, sedangkan islam, nasionalisme, kerakyatan sekadar pemanis untuk menggalang suara.

Wahib memang bukan panutan, dia sendiri belum selesai menemukan kebenaran yang ia yakininya, ia terjebak dalam penggunaan alat pencarian kebenaran yang tiada batasnya yaitu “akal”. Namun, konsistensi wahib bukanlah persoalan sederhana, yang sulit tergantikan sebagai sebuah proses pencarian kebenaran, Merefleksi wahib sebagai seorang pengembara pemikiran sedianya bukan untuk mencari sisi sesat apalagi mencari sebuah pembenaran atas kerancuan dan kegelisahan kita, melainkan merefleksi pada diri kita seberapa jauh kita telah menyelesaikan soal-soal prinsip pada diri kita, seberapa jauh pula kita menemukan kebenaran dan menyuarakanya, seberapa jauh pula kita selalu bersikap tawadu dan melakukan muhasabah “otokritik” yang tajam pada berbagai kerancuhan diri dan kolektif sebagai sebuah generasi.


[1] Lihat hal 43 “aku bukan wahib” dan hal 9 “kebebasan berfikir”

[2] Lihat hal 30 “haruskah aku memusuhi mereka yang bukan islam……”

[3] Lihat hal 11 “interpretasi Al Quran dan Hadist” -17 “emoh jadi orang munafik”

[4] Lihat hal 4 “pemahaman islam yang dinamis”, juga hal 16 “tuhan maklumi aku”

[5] Lihat hal 103-104 “Quran dan hadist untuk memahami sejarah Muhammad”

[6] Lihat hal 113-114 “kesempurnaan islam”

Membongkar Mitos Neolib

Upaya Merebut Kembali Makna Pembangunan

oleh Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel

Sebuah buku yang diterbitkan oleh INSIST press ini mengajukan sebuah kritik dan tesis baru tentang sistem ekonomi global saat ini. “Tidak ada alternatif” bagi ekonomi neoliberal. Pernyataan ini harus menjadi sikap dasar pengembangan kebijakan pembangunan internasional. Dalam buku ini, dua pakar ekonomi, Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel, memaparkan dengan gamblang pembentukan pola pikir umum di lembaga-lembaga pendidikan tentang pertumbuhan perekonomian dan kebijakan yang mesti diikuti semua warga, sesuatu yang telah menjadi asumsi umum tentang pembentukan kebijakan pembangunan internasional yang berkembang selama ini. Kedua penulis ini kemudian menggabungkan data dan membongkar logika ekonomi disertai analisis berdasarkan pengalaman sejarah perekonomian Barat dan Asia Timur sepanjang masa pembangunannya, sebagai upaya untuk mempertanyakan keabsahan model pembangunan Neoliberalisme.

Para penulis menyusun alternatif praktis dan kongkrit sebagai sanggahan terhadap kebijakan ekonomi neoliberal. Alternatif yang diajukan oleh penulis ini mencakup berbagai kebijakan utama dalam perekonomian, yakni kebijakan perdagangan dan industri, privatisasi, hak kekayaan intelektual; pinjaman luar negeri, investasi portfolio, dan investasi langsung asing (FDI), aturan finansial dalam negeri; manajemen nilai tukar, bank sentral dan kebijakan moneter, serta pendapatan dan pengeluaran Pemerintah. Dalam uraiannya, kedua penulis ini mengajukan beberapa usulan penting yang sudah terbukti di seluruh dunia, dipadukan dengan beberapa ketentuan baru dari temuan mereka sendiri.

Buku ini diharapkan dapat membangkitkan sebuah model perlawanan dan kritik yang baru terhadap sistem neolib. Pemberontakan negara-negara berkembang yang tidak ingin lagi didikte oleh IMF maupun World Bank. Sebuah buku sebanyak 227 halaman yang patut dibaca oleh mereka yang kritis.

Bhima Yudhistira

Anggota Formatur LAPMI PB HMI

Partai Islam di Kancah Nasional

Partai Islam di Pentas Nasional

Delian Noor

 

“Tidak bisa disangkal bahwa berbagai keputusan politik berskala nasional di masa lampau, khususnya pada masa revolusi kemerdekaan dan masa demokrasi parlementer, banyak merupakan hasil kerja orang-orang partai. Meskipun di sisi mereka mustahil kita abaikan prestasi non-affiliated intellectuals dan kalangan tentara. Dan dengan menyebut partai, mustahil pula menutup mata terhadap peranan partai-partai Islam seperti Masjumi, PSII, NU, dan Perti.

Deliar Noer melakukan studi mengenai pasang-surut partai-partai Islam sebatas 1945-1965, terutama menyangkut peranan dan organsisasi partai-partai tersebut. Kajian dan telusurannya mau tidak mau membeberkan konflik-konflik yang terjadi antarpartai dan intrapartai. Dan tokoh-tokoh yang memang menonjol dalam keputusan dan peristiwa politik penting ditampilkan dominan.”

Buku yang merupakan masterpiece dari alumni Himpunan Mahasiswa Islam, Deliar Noer patut dibaca oleh seluruh kalangan intelektual di Indonesia, ahli sejarawan dan mereka yang ingin membaca lebih dalam peran partai Islam dalam percaturan politik di Indonesia.

Dalam buku ini, Deliar mencoba membahas secara rinci kebangkitan Masjumi dengan segala intrik politiknya hingga masa kejatuhannya saat Masjumi di cap anti Pemerintahan Soekarno dan dikaitkan dengan peristiwa PRRI/Permesta. Perpecahan di dalam Masjumi pun dibahas, seperti perbedaan pandangan antara Natsir dan Sukiman. Natsir telah mempelajari Islam dengan dalam; ia termasuk ulama juga. Ia bergabung dan menjadi eksponen Persatuan Islam di Bandung di masa mudanya, dan sering menjadi pejuang pahamnya pada berbagai kesempatan. Adakalanya pada waktu sebelum Perang itu ia turut serta mewakili organisasi nya berdebat dengan pihak NU yang antara lain diwakili oleh Kiai Wahab, tokoh yang pada tahun 1952 menghendaki agar pos menteri agama diserahkan kepada NU.

Buku setebal 493 halaman yang diterbitkan Grafiti Pers ini merupakan tesis yang diajukan di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Jika membaca buku ini secara tutas, pembaca akan mendapatkan kesimpulan bahwa perpecahan merupakan masalah serius umat Islam, dan menjadi refleksi bagi partai-partai Islam hari ini yang berebut kuasa atas nama faham, aliran dsb untuk mendapatkan massa. Perbedaan antara partai Islam hari ini dan partai Islam di zaman kemerdekaan terlihat jelas. Jika partai Islam hari ini berdebat soal anggaran, partai Islam zaman kemerdekaan berdebat soal ide, pandangan tentang masa depan Indonesia.

 

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI

Perang Petani

Perang Petani

Eric R. Wolf

 

Studi-studi kasus yang ditampilkan di sini dibangun di atas dasar bahan-bahan sekunder. Hanya sedikit kasus merupakan peristiwa-peristiwa yang diamati dan dicatat oleh suatu investigator dengan mata antropologikal, dengan suatu kepentingan dalam pertnyaan-pertanyaan yang kita jadikan garis besar. Ini berarti bahwa antropolog perlu dihalangi oleh sifat material yang ia sendiri tak berbuat apapun untuk mengumpulkannya.

Ketika Revolusi Meksiko pecah mengejutkan dunia pada tahun 1910, perang tersebut menarik perhatian banyak orang, karena, “begitu banyak suara—semuanya lemah dan senyap—telah meramalkannya”. Selama lebih dari seperempat abad, diktator Meksiko Porifirio Diaz memerintah negerinya dengan tangan besi demi apa yang disebut kemerdekaan, pemerintah dan kemajuan. Sejarah perjuangan di Meksiko yang akhirnya melahirkan legenda perjuangan proletar sepanjang zaman, Emilio Zapata menjadi inspirasi hingga hari ini. Puluhan orang bertopeng parka dengan senjata AK-47 dan kuda tercermin dari inspirasi Zapata, yang kemudian di politisir oleh Sub Comandante Marcos menjadi gerakan Zapatista atau Zapata modern di lembah Chiapas, Meksiko. Petani yang direpresi oleh sistem hacienda, akan terus berontak sepanjang zaman.

Sejarah pemberontakan petani lainnya dapat kita temukan di hal. 71, yaitu pemberontakan petani di Rusia. Perkembangan perbudakan di Rusia melahirkan kemiripan dengan perkembangan peonase di Meksiko. Ada banyak budak di Rusia, tetapi pada abad ke enam belas, jumlahnya sungguh tak berarti. Selama abad keenam belas, bagaimanapun jenis peon yang diikat dengan hutang ini mulai muncul di rusia Moskow, yakni seorang pekerja yang dimasukkan ke dalam tanah garapan dalam bentuk kabala khalop, yang bekerja di tanah untuk membayar hutang. Perkembangan berikutnya adalah munculnya kebijakan Tsar yang membebaskan perbudakan di Rusia, namun dampak dari kebijakan itu justru memperberat kehidupan petani. Petani memilih menjadi budak daripada bebas namun terjerat hutang. Inilah api yang akan memicu pemberontakan Bolshevik 1918.

Buku ini memiliki kekurangan di bagian bahasa yaitu penerjemah rupanya menggunakan alat translasi seperti google translate sehingga bahasa yang digunakan terkesan kaku. Mungkin lebih baik membaca buku yang masih ditulis dalam bahasa inggris (teks asli). Jumlah total halaman buku ini 171 diterbitkan oleh Insist press.

 

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI

Filsafat sebagai Senjata Revolusi

Filsafat sebagai Senjata Revolusi

Louis Althusser

Althusser yang kita baca ulang saat ini bukanlah Althusser yang pernah menjadi pusat polemik yang sengit dan pertarungan ideologis yang menjadi wajah khas Marxisme tahun 1960-an dan 1970-an. Apakah ini karena sekarang Althusser telah termasuk ke dalam kategori seorang Marxis klasik? Jawabannya sebagian bergantung pada akan menjadi seperti apakah Marxisme pada abad mendatang, dan sebagian lagi pada situasi baru dari globalisasi dan komodifikasi universal pasca Perang Dingin yang menjadi sasaran dari medan aksi dari pemikirian Althusser.

Karya ini terbagi ke dalam 9 bab yang merangkum berbagai tema, mulai dari soal filsafat Lenin hingga seni sebagai jawaban untuk Andre Daspre. Selain tema yang beragam, Althusser tidak lupa berpijak pada pandangan Marxis yang tidak kaku, lentur namun tajam. Saat ia membedah Das Kapital jilid satu, pembaca diajak untuk melakukan lompatan intelektual dengan beberapa tips yang diberikan oleh Althusser. “Loncati bab satu langsung ke bab tiga Das Kapital hingga kau tidak akan bingung,” begitu kata Althusser.

Kemungkinan besar buku ini tidak memuaskan dahaga intelektual pembaca tentang sosok Althusser dan pemikirannya. Namun buku ini menjadi seperti resep masakan, bagaimana memasukkan bumbu, menggorengnya lalu menyajikannya dan mengkritiknya sampai habis. Althusser memang bukan Marxist yang ortodok, ia mencoba menghidupkan lagi kajian Marxisme yang sudah habis saat zaman Stalin berkuasa. Dengan menelaah kembali ke kesalahan berpikir Lenin, tentang praktis lebih penting dari teori dsb.

Di akhir bab Lenin dan Filsafat, Althusser memberikan sebuah analisis yang tajam, “Di jantung teori Marxis, terdapat sebuah sains: sebuah sains yang cukup unik, namun tetap saja sebuah sains. Apa yang baru dalam sumbangan Marx terhadap filsafat ialah sebuah praktek berfilsafat yang baru. Marxisme sendiri bukanlah sebuah filsafat praktis (yang baru), namun merupakan sebuah praktek berfilsafat yang baru.

Praktek berfilsafat yang baru ini bisa mentransformasi filsafat. Dan selain it, dalam tingkatan tertentu, praktek tersebut bisa membantu mentransformasi dunia. Hanya membantu karena sesungguhnya bukan para teoretisi, saintis atau filosof, juga bukan ‘orang-orang’, bukan mereka semua ini yang menciptakan sejarah, namun ‘massa’ lah yang menciptakan sejarah, yaitu kelas-kelas yang beraliansi dalam sebuah perjuangan kelas yang tunggal.

 

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI

What the Dog Saw

“Dalam artikel-artikel terbaik, apa yang harus kita pikirkan itu tidak penting. Sebaliknya, saya lebih tertarik menjabarkan: apabila orang berpikir mengenai tunawisma, saus tomat, atau skandal keuangan, apa sebenarnya yang mereka pikirkan mengenai tunawisma, saus tomat, atau skandal keuangan?”

Satu kata untuk buku terbaru dari Malcom Gladwell yang merupakan penulis buku favorit the New York Times best seller. Keluar dari konteks penulisan berita mainstream, bosan dengan opini yang cenderung mengangkat heroisme, megalomania orang-orang besar abad ini. Malcolm dalam buku ini menawarkan sesuatu yang berbeda. What the Dog Saw merupakan serial artikel yang menggambarkan orang-orang biasa dengan prestasi luar biasa. Dibalik kejeniusan Cessar, sang penjinak anjing yang terkenal di Amerika Serikat, ternyata seorang imigran gelap asal Meksiko yang menerobos masuk ke Amerika Serikat, tidak memiliki pekerjaan, hingga akhirnya ia berhasil berbicara dengan anjing milik tetangga. Boom. Mendadak ia terkenal, penghasilan memenuhi rekening bank nya. Atau kisah tentang Enron dan McKinsey, keduanya perusahaan terkenal, yang pertama terkena skandal keuangan dan satunya konsultas bisnis yang menyarankan Enron agar memperkerjakan orang-orang terbaik yang penuh berbakat. Namun dibalik kesuksesan Enron terdapat kesalahan yang sangat fatal.

Kisah lainnya yang menarik adalah agen FBI yang tugasnya membuat profil kriminal. Ia menebak, ia sering salah, tapi penjahat pasti tertangkap. Sebuah biro yang berhasil menangkap pelaku pengeboman serial di New York. Hanya dengan sketsa perilaku, dugaan wajah, atau sekedar boneka yang tertinggal di apartemen korban, dapat menangkap si pelaku.

Kejeniusan Picaso yang berbeda dengan kejeniusan pelukis Cezanne. Picaso memiliki uang banyak, karya nya yang paling mahal terdapat dikala usianya 23 tahun. Sedangkan Cezanne memiliki maha karya justru di usia 65 tahun. Bukankah hal itu sangat aneh? Mengapa kejeniusan bagi Cezanne sangat terlambat di usianya yang senja?

Malcom Gladwell memang penulis jenius, buku ini sangat ringan, bahkan dalam waktu 1 hari dapat menamatkan seluruh isi buku. Dengan gaya bahasa yang cerdas serta mengalir. Ia membuka rahasia dari orang-orang biasa yang tidak dipedulikan manusia kebanyakan. Namun memiliki sisi kejeniusan abadi.

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI

Radikal itu Menjual

radical-unionismPada tahun ’60-an, generasi baby boomers mencanangkan oposisi telak mereka terhadap “sistem”. Mereka menampik materialisme dan keserakahan, menolak disiplin dan keseragaman dari era 50-an yang represif, dan bertekad mendirikan dunia baru yang dipijakkan pada kebebasan individu. Apa yang terjadi pada proyek ini? Empat puluh tahun kemudian, “sang sistem” kelihatannya tidak banyak berubah. Kalau ada perubahan, justru kapitalisme konsumtif telah bangkit dari sekian dekade pemberontakan budaya-tanding jauh lebih beringas ketimbang sebelumnya. Kalau Debord menyangka dunia sudah jenuh oleh iklan dan media pada awal 60-an, lalu apa yang akan ia pikirkan tentang abad 21 ini?

Satu paragraf yang ditulis dalam pendahuluan di buku “Radikal itu menjual” menggambarkan secara presisi posisi kaum radikal di abad 21, terseok-seok dalam budaya yang makin konsumtif, menolak segala kompromi kapitalisme namun pada akhirnya justru mempopulerkan kapitalisme itu sendiri. Buku ini berisi sebuah ulasan panjang tentang awal mula budaya tanding, penyimpangan dan akhir dari pemberontakan budaya.

Joseph Heater secara jelas mengkritik tanpa ampun para pemberontak yang berulah seolah-olah mereka pemimpin pemberontakan yang baru. Bercinta daripada berperang, atau meminum obat batuk dosis tinggi hingga masuk ke dalam alam bawah sadar yang memimpikan dunia tanpa penindasan, jatuh pada lubang yang justru diperangi oleh Gandhi, Thoreau dan orang-orang yang menginisiasi budaya tanding itu sendiri.

Buku setebal 435 halaman yang dicetak oleh penerbit Antipasti ini sangat populer, wajib dibaca bagi pengamat kebudayaan, kaum intelektual, mahasiswa, maupun mereka yang sudah jenuh terhadap “pemberontak” asal-asalan di sekitar kita.

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI

Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan

Bupers mahasiswaku ini melihat bagaimana strategi pers mahasiswa dalam memberitakan wacana komersialisasi pendidikan. Isu ini sendiri mendapatkan perhatian dari pers umum dan pers mahasiswa. Perhatian yang begitu luas menunjukkan bahwa komersialisasi pendidikan tidak hanya merupakan isu kampus melainkan juga isu nasional. Meskipun demikian, pers mahasiswa menunjukkan keberpihakan yang tegas. Pers mahasiswa memposisikan diri anti komersialisasi pendidikan. Diskursus komersialisasi pendidikan memunculkan perdebatan ketegangan tegangan berdasarkan perspektif  ideologi neoliberal dan sosial demokrat.

Mereka yang mengusung ide-ide neoliberal – liberalisme ortodoks – menganggap bahwa campur tangan negara dalam dunia pendidikan tinggi mesti dihilangkan. Konsekuensinya, biaya kuliah begitu mahal dan ditanggung oleh masyarakat. Sementara di sisi yang berhadapan adalah mereka yang menganut gagasan sosial demokrat. Komersialisasi pendidikan dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap demokratisasi seperti diamanatkan dalam konstitusi Indonesia yaitu UU Dasar 45.  Para penganut gagasan ini meyakini konsep social market economy. Dalam sistem ekonomi pasar harus ada fungsi dan peran sosialnya. Contoh  paling tepat untuk hal ini adalah negara Skandinavia yang secara tepat  mempraktikkan social market economy.

Di negara-negara seperti Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia, pendidikan itu gratis. Akses masyarakat terhadap pendidikan dibuka seluas-luasnya. Bahkan di Amerika Serikat yang sering dianggap paling liberal, pemerintah mengusahakan warganya bisa mengakses pendidikan tinggi terutama di state university. Dengan kata lain, komersialisasi lebih banyak terjadi di private university. Perlawanan terhadap komersialisasi pendidikan tersebut muncul ketika pers mahasiswa masih dilanda kegamangan sebagai konsekuensi dibukanya keran demokrasi pada 1998. Perubahan sistem politik secara drastis memaksa pers mahasiswa menyesuaikan diri.

Dalam sistem otoritarian yang ditandai dengan pembungkaman terhadap pers umum, pers mahasiswa menjadi alternatif. Berita-beritanya dibaca oleh banyak orang. Namun, dalam sistem demokrasi, pers mahasiswa merasakan kondisi yang serba sulit. Di satu sisi, pers mahasiswa harus bersaing ketat dengan pers umum jika ingin memberitakan isu-isu nasional. Jaminan kebebasan pers membuat pers umum menjadi lebih berani dalam memberitakan berbagai isu. Di sisi lain, jika hanya mengangkat berita-berita seputar kampus sama artinya dengan mengingkari idealisme kemahasiswaan.

Dilema tersebut muncul karena di negara berkembang seperti Indonesia, mahasiswa memang dituntut sumbangan pemikirannya terhadap problem sosial ekonomi politik kemasyarakatan sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Secara naluriah mahasiswa akan terus mempertanyakan apabila kondisi negeri tidak sesuai dengan harapan ideal seperti yang ia pelajari di kelas. Maka, pers mahasiswa yang dikelola oleh para mahasiswa juga secara otomatis akan terdorong untuk menyajikan informasi yang berkaitan dengan problem kebangsaan.

Ia terikat komitmen untuk ikut menuntaskan berbagai permasalahan tersebut.  Pada titik ini, pers mahasiswa harus merumuskan kembali peran dan posisi agar tetap bisa menunjukkan eksistensinya. Di negara maju, pers mahasiswa secara jelas berorientasi pada komunitasnya sendiri yaitu civitas academica. Ia menjadi satucommunity news paper. Sebabnya, nyaris tidak ada celah bagi pers mahasiswa untuk menulis berita-berita nasional. Penetrasi pers umum begitu kuat dengan variasi yang luar biasa banyak. Sebagai contoh di Amerika Serikat. Oplah media cetak sekitar 400 juta eksemplar dan jumlah stasiun televisi sebanyak 1750 dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta.

Penetrasi internet pun mencapai angka 70-80 %. Kondisi ini membuat pers mahasiswa tidak memiliki celah untuk ikut mengangkat isu nasional. Bila dibandingkan dengan Indonesi, kondisi berbeda jauh. Oplah media cetak sebesar 20 juta dan 300 stasiun televisi untuk 200 juta penduduk. Sementara penetrasi internet hanya berkisar di angka 20 %. Celah ini yang bisa digunakan pers mahasiswa untuk tetap menunjukkan eksistensinya. Konteks tersebut berguna untuk memahami problem yang melanda pers mahasiswa. Peranan ganda dalam mengangkat isu nasional sekaligus isu lokal tetap harus diambil. Namun pendekatan dalam dalam peran ganda tersebut mesti diubah.

Pers mahasiswa tidak perlu takut mengangkat isu-isu nasional seperti korupsi, partai politik, maupun persoalan kebangsaan lainnya. Catatannya, berita-berita yang ditampilkan tidak boleh dangkal atau hanya bersifat permukaan. Informasi yang dimunculkan mesti based on research dan mengandung bobot akademis yang tinggi. Model penulisannya menggunakan indepth reporting dan atau interpretative reporting dengan kaya data atau yang lebih dikenal sebagai jurnalisme presisi. Dengan demikian ia bisa dijadikan referensi oleh pers umum dan terutama masyarakat luas.

Penulisan berita yang kaya data memang merupakan tuntutan pers mahasiswa saat ini. Ini jauh bertolak belakang dengan kondisi di zaman saya – era Orde Baru – ketika pers mahasiswa ketika itu seringkali bersifat partisan dan menjadi pers pamflet. Kondisi di tengah otoritarianisme memang membuat mahasiswa, mau tidak mau, memposisikan diri menolak negara yang dianggap sebagai musuh bersama. Sifat partisan yang agitatif dan provokatif adalah salah ciri dan cara untuk melawan musuh bersama tersebut. Satu situasi yang sudah tidak terlalu relevan jika diterapkan pada zaman sekarang.

Dalam sistem demokratis, informasi yang ditampilkan mesti menampilkan sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Penerapan prinsip-prinsip jurnalistik yang ketat menjadi pegangan dalam menyajikan informasi tersebut. Ketika sudah memutuskan bergerak di dunia pers, pers mahasiswa mesti concern terhadap prinsip-prinsip jurnalistik. Berita yang ditampilkan harus bisa diverifikasi kebenarannya. Kecuali pers mahasiswa mau mendaku dirinya sebagai pers pamflet atau media propaganda.

Dilema amatirisme dan profesionalisme yang merupakan persoalan klise pers mahasiswa tidak akan pernah berakhir. Profesionalisme menuntut keterampilan dalam mengelola organisasi dari mulai rutinitas periode terbit sampai pembiayaan penerbitan. Namun karena pengelolanya adalah mahasiswa-mahasiswa yang dibatasi waktu aktif kuliah di kampus, sifat amatirisme menjadi tak terhindarkan. Dilema tersebut juga merupakan konsekuensi dari peran ganda pers mahasiswa. Hal tersebut bisa menjadi kekurangan sekaligus juga kelebihan. Geraknya yang bebas membuat pers mahasiswa bisa memberitakan berbagai berita tanpa takut diberedel, nothing to lose.

Gerak bebas inilah yang semestinya bisa dimanfaatkan. Apalagi perkembangan teknologi internet membuat pers mahasiswa memiliki banyak pilihan untuk menerbitkan tulisan-tulisannya dengan mengabaikan keterbatasan dana. Jaringan organisasi pers mahasiswa di tingkat nasional juga tidak bisa dipinggirkan. Sebagai sebuahnetworking, organisasi di tingkat nasional dibutuhkan sebagai ajang tukar pikiran sesama pers mahasiswa.

Misalnya saja sharing tentang pengelolaan organisasi maupun penerbitan majalah. Bahkan dalam isu tertentu misalnya, pers mahasiswa bisa melakukan join research. Bahkan juga bisa membentuk pusat informas pers mahasiswa Indonesia. Dengan sekup wilayah yang luas, kerjasama ini bisa membuat pers mahasiswa mengimbangi dan menjadi alternatif pers umum. Tentang bagaimana bentuk organisasi tersebut – apakah organisasi tertutup atau hanya forum komunikasi – bisa diketahui setelah ada perumusan ulang problem mendasar pers mahasiswa. Sebabnya, ketiadaan pembacaan posisi membuat pers mahasiswa bersikap reaktif. Membuat sebuah organisasi tapi tidak tahu apa yang akan dilakukan karena tidak tahu apa yang sedang dihadapi.

Sampai di sini, kehadiran buku ini menjadi penting di tengah minimnya literatur tentang pers mahasiswa. Studi ini melengkapi kajian Amir Effendi Siregar (1983), Francois Raillon (1985), Ana Nadhya Abrar (1992), Didik Supriyanto (1998), serta Satrio Arismunandar (2005). Selain melengkapi literatur tentang pers mahasiswa, buku ini juga membantu para pegiat pers mahasiswa untuk melihat gejala atau problem yang selama ini melanda. Dengan pembacaan atas gejala, ia berguna untuk melihat posisi dan peran pers mahasiswa Indonesia.

Pada tahap selanjutnya, pers mahasiswa bisa menjawab tantangan barunya dalam hidup di alam demokrasi Indonesia yang masih bersifat prosedural, belum substansial. Selamat membaca dan saya percaya sangat bermanfaat.

*Amir Effendi Siregar adalah Ketua Umum Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Cabang Yogyakarta dan Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPMI pada tahun 1970-an.  Anggota Dewan Pers tahun 2003-2006. Sekarang adalah Ketua Dewan Pimpinan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat dan Ketua Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)