Ikhsan Hasbi Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kearifan Lokal

HMINEWS.Com – Ikhsan Hasbi, penulis muda asal Kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kearifan Lokal. Cerpennya berjudul “Apam” menyisihkan 57 cerpen karya peserta lainnya yang berasal dari berbagai kota di Tanah Air. Juara 2 diraih Raflish Chaniago (Painan, Sumatera Barat) dengan judul cerpen “Mamak”, sementara Juara 3 diraih Farihatun Nafiah (Jombang, Jawa Timur) dengan judul cerpen “Gerdu Papak”.

Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional yang dihelat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia itu, menurut Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela, pemenangnya diumumkan pada Rabu (12/11/2014), malam di Pare, Kediri, Jawa Timur.

“FAM Indonesia mengucapkan selamat kepada para pemenang, dan terima kasih kepada peserta yang ikut berpartisipasi,” ujar Aliya Nurlela, Kamis (13/11) siang.

Dia menyebutkan, selain mengumumkan pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih tujuh cerpen pilihan, yaitu karya: Reffi Dhinar, Sidoarjo-Jawa Timur (Nyadran), Latiffah Fajar Rahayu, Klaten-Jawa Tengah (Tenong Bu Sri), Jane Yova C, Palangkaraya (Saat Katiow Berbuah), Ana Nasir, Medan (Charles, Aku Keturunan Mandailing), Cinta Okta Edverliano, Semarang (Wamena Oh Wamena), Ajeng Mawaddah Puyo, Gorontalo (Satu Nol Nol Nol Lebih Alasan), dan Amrul Fajri, Sigli-Aceh (Prahara Meugang).

“Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia memberikan sejumlah hadiah sebagai kenang-kenangan berupa uang tunai, paket buku dan piagam penghargaan,” ujar Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh.”

Ditambahkan, lomba tersebut telah dimulai sejak tanggal 1 Oktober 2014 dan ditutup pada 31 Oktober 2014. FAM Indonesia menerima 58 naskah cerpen. Dari jumlah itu, sebanyak 35 naskah terpilih dibukukan, termasuk karya nominator dan pemenang.

“Setelah membaca keseluruhan naskah, menilai kesesuaian isi dan tema, teknik penceritaan, gaya bahasa dan EYD, serta amanat yang disampaikan penulis kepada pembaca, maka tim juri memilih tiga cerpen yang layak menjadi juara,” ujarnya. (rel)

“Mayat dalam Lumbung” Cerpen Terbaik FAM

FAMHMINEWS.Com – Cerpen “Mayat dalam Lumbung” karya Siti Sofiyah (Semarang, Jawa Tengah) dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan diumumkan Kamis (3/7), bertepatan dengan Hari Sastra Nasional.

Pemenang kedua diraih Inung Setyami (Tarakan, Kalimantan Timur) dengan cerpen berjudul “Topeng Ireng”, dan pemenang ketiga diraih Irzen Hawer (Padangpanjang, Sumatera Barat) dengan cerpen berjudul “Ampek Sen”.

Selain menetapkan tiga pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih delapan cerpen yang diunggulkan, masing-masing berjudul “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta), “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban, Jawa Timur), “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember, Jawa Timur), “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya), “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon, Banten), “Lelaki yang Usai Mengembara” (Reddy Suzayzt, Yogyakarta), “Tapung Tawar” (Novaldi Herman, Pekanbaru, Riau), dan “Bawal” (Ikhsan Hasbi, Banda Aceh).

Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela, Jumat (4/7) mengatakan, sejak lomba dibuka pada tanggal 5 Mei 2014 dan ditutup 25 Juni 2014, panitia menerima 204 naskah cerpen. Selain pemenang utama, juga dipilih 40 cerpen nominator yang dibukukan bersama karya pemenang.

“Peserta terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum,” kata Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”.

Dia menyebutkan, lomba cerpen tingkat nasional 2014 itu digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Sastra Nasional. Hari Sastra ditetapkan pemerintah RI pada tanggal 3 Juli dan dideklarasikan sejumlah sastrawan Indonesia tahun lalu di Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Kami harapkan, lewat kegiatan ini Hari Sastra Nasional dapat lebih semarak, terutama untuk membudayakan menulis karya sastra di kalangan generasi muda,” katanya.

Sebagai tanda apresiasi kepada para pemenang utama, FAM Indonesia memberikan hadiah berupa uang tunai, paket buku, dan piagam penghargaan.

FAM Indonesia adalah komunitas penulis nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 yang kehadirannya ditujukan untuk menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

“FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan,” tambah Aliya Nurlela. (rel)

Kurindukan Tanpa Engkau

Kurindukan bulan Juni tanpa Sapardi
barangkali rintik hujan akan tetap tabah
menjaga rindu meski tak terucapkan

kurindukan sebuah malam tanpa Sitor
dan bulan segera lingsir ke barat
lantas kita berlebaran usai menasik kuburan

kurindukan hamburan kata tanpa Sutardji
maka mereka yang hendak melucuti makna
menanggung o amuk di dalam hatinya

kurindukan sarung tanpa Pinurbo
semoga ia tetap berkibar demikian baka
agar nasib buruk dan simfoni batuk
tak henti mengalun di gang tanpa gapuro

kurindukan malam dengan sebuah tanda
medan pencarian penyair yang selalu tertunda.

06-2012

Bulan Jingga di Malam Ini

Bulan Jingga di Malam Ini

(2 Juni 2014)

 

Rembulan kembali membisik bisu.

Di antara malam yang masih berbaik memelukku.

Hadir kembali dalam cerita-cerita waktu.

Bulan sabit jingga.

Sejingga senja yang seberkas berlalu.

Tapi telah cukup menggurat makna seribu.

Sama seperti dulu, bulan tak pernah ragu.

Mengajakku teguh meyakinkan kalbu.

Dari jalan berliku penuh rindu

Pengajian Kebudayaan-Dialektika Politik Transaksional

Rumah Pendidikan Sciena Madani adakan pengajian kebudayaan dengan tema ”Dicari Wakil Rakyat yang Merakyat, Dialektika Politik Transaksional” di Banjardowo Rt 2 Rw 6 Genuk (Rumah Lukni Maulana pada Sabtu (5/4/14). Pembukaan acara ini dimulai pukul 20.30 diawali dengan pembacaan puisi oleh Basa Basuki, Aditya D. Sugiarso, Sugi dan Bambang Eka Prasetya.
Pembicara pada pengajian kali ini Djawahir Muhammad (Mantan Anggota DRPD Jateng) dan Lukman Wibowo (Wirausahawan, Mantan Aktivis PB HMI (MPO)) dengan moderator Lukni Maulana (Pengasuh Sciena Madani) yang dalam prolognya menyampaikan bahwa ”acara ini mencoba memberikan pendidikan politik, karena caleg yang ada kurang dalam pendidikan politik hanya memberi bantuan dalam bentuk materiil dan politik transasksional dengan dalih tidak ada yang gratis di dunia ini apalagi politik untuk memperoleh dukungan rakyat”.
Pembicara yang pertama, Djawahir Muhammad dalam paparannya menyampaikan 4 data yang menyimpulkan bahwa wakil rakyat tidak betul-betul menjadi wakil rakyat. Pertama, DPR bukanlah wakil rakyat tetapi wakil partai. Kedua, DPR bukan public service atau lapangan pengabdian tetapi lapangan kerja. Ketiga, cara menjadi DPR dengan politik transaksional jual beli suara mulai Rp. 10.000 ke atas. Keempat, DPR bekerja tidak atas dasar keikhlasan tetapi atas capaian gaji, bonus, dan fasilitas. Hal ini berbeda dengan di Amerika untuk menjadi anggota parlemen atau senator harus kaya dulu tidak berorientasi atau ingin capaian untuk memperkaya diri yang berbeda jika awalnya miskin.
Berbeda dengan pembicara sebelumnya, pembicara kedua Lukman Wibowo, lebih mengkaji permasalahan bangsa ini secara filosofis, ia menyorotinya ketika masih jadi aktivis di Jakarta mulai 2004-2007. Menurut Lukman, persoalan kebangsaan dari dulu sampai sekarang adalah sama tetapi kedok-kedok penguasanya saja yang berbeda. Ia mempertanyakan landasan filosofis dalam pemilu kita mencari apa? Siapa? Dan cara mencarinya bagaimana? Kalau dalam pemilu kita mencari wakil rakyat tetapi karena tidak ada landasan filosofisnya maka ketika tidak ketemu (golput) tidak apa-apa. Landasan politik sekarang adalah demokrasi di negara yang sudah maju yang dibangun dari politik ketidakpercayaan yang dicetuskan oleh John Locke yang berawal dari ketidakperyaan terhadap raja inggris, sehingga muncul pemisahan kekuasaan maka ketika memilih legislatif juga diplih eksekutifnya. Kondisi ini berbeda dengan indonesia yang semua masyarakatnya saling percaya maka ketika produk ketidakpercayaan dipraktikan di Indonesia sama dengan muspro (sia-sia).
Neoliberalisme adalah musuh utama
Lukman menyampaikan korupsi yang dilakukan para pejabat bukanlah musuh utama tetapi musuh utama adalah neoliberalisme yang menjajah semua aspek sosial budaya kita. Ia mencontohkan rusaknya jalanan yang mengakibatkan kecelakaan bukan disebabkan karena jalan yang sering dipakai oleh pengguna jalan tetapi karena jepang yang mengangkut kendaraan-kendaraannya di jalan dengan melebihi tonase atau muatan. Senada dengan Lukman, Djawahir menyampaikan sekarang di sepanjang jalan ada indomaret dan almart yang semakin dekat dan berderet memperlihatkan kekuatan neoliberalisme atau kapitalisme yang mengancam ekonomi masyarakat bahkan terhadap politik. Musuh utama indonesia adalah freeport yang mengeruk emas di papua dan mulai masuk di indonesia dengan persetujuan soeharto meskipun negara hanya mendapat keuntungan 10 %, oleh karena itu Djawahir berpesan kepada anak muda untuk menjadi orang profesional yang tidak bisa didikte oleh orang lain atau bangsa asing, jangan mau diperintah tetapi bekerja yang baik. Lebih baik jadi majikan kecil dari pada kacung yang besar.
Golput sebagai pemberontakan sipil
Lukman, menyampaikan jika ingin melakukan perlawanan terhadap sistem pemerintahan saat ini maka rakyat bisa melakukan pemberontakan sipil dengan cara diam atau golput. Angka golput di indonesia yang cukup tinggi dapat digunakan sebagai sarana pemberontakan sipil terhadap pemerintah misalnya pada pemilu presiden SBY sebanyak 48% memilih golput, sedangkan pemilu gubernur jateng Ganjar sebesar 58% angka golput. Sejalan dengan Lukman, Djawahir mengungkap bahwa jika angka golput di indonesia lebih dari 50% maka hasilnya bisa dibatalkan atau diratifikasi oleh Mahkamah Internasional  karena parlemen  indonesia tergabung dalam IPU (international Parlement United) dan jika melanggar indonesia bisa diembargo oleh dunia internasional dalam segala aspek bidang baik olahraga, maupun budaya. Lukman menambahkan bahwa golput atau tidak yang penting kita tetap memikirkan bangsa ini ke depan. (NR)
*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVIII April 2014M/1435 H
Info & Berlangganan : 085640281855

Sebuah Pesan

Di sini, bintang berkerlip redup.

Atap penerang pandang.

Rumah-rumah berselimut tanah.

 

Pohon kantil mewangi elegi.

Batu menatap haru.

Berbisik.

Mencelikkan malam.

Hening.

 

Daun-daun.

Lepas terhempas.

Dibawa angin kepangkuan.

 

Tanah.

Masihkah ada di memori.

Bersemi.

 

Tanah.

Terurai rupa dunia.

Daun-daun yang lupa.

Hakikat

(Bantul, 18 April 2014)
Jum’at malam.

Bintang menepi diri.
Menampak mata, tapi tak berupa.
Berjarak laju waktu.
Di sini di keramaian bisu.
Lampu-lampu memancar kalbu.
Seberkas penerang tak bertuan.
Terikat sunyi dalam sayup.
Membawa sampai.
Mengalir sampai.
Tertatih-tatih mengeja rasa.
Hingga hening muara di ujung muka.
Kapankah akan kembali si bintang? Menyeru di kedalaman.
Tak menampak, tapi menghentak.
Di persinggahan raga yang sementara.

Dusta Putihku

Namaku Alisha, entah apa yang harus aku perbuat saat ini semua telah terjadi, semua telah berakibat, semua telah merasuki tubuh ini, merenggut beberapa kekuatan yang ku punya, mengambil semangat dengan hati-hati. Aku terbaring lemas, tubuhku kaku, tanganku gemetar dan pikiranku melayang memikirkan sesuatu yang belum pasti dan sebenarnya apa yang telah terjadi. Kepala ini serasa berat bagai memikul beban seberat 100 kg, telinga tak mau mendengar apapun yang berbunyi dan mengusik semua terasa aku mau mati sajaa bukan tak ada yang peduli, tapi meraka tidak ada yang mengetahuinya. Aku hanya terbaring, berusaha menghibur diri sendiri dengan musik, walau telingaku sakit mendengarnya. Tetapi aku tetap bertahan agar mereka tidak mengetahuinya.

Sejenak aku terlelap seolah pergi meninggalkan dunia yang menyiksaku. Aku  pergi dengan damai tanpa teman dan tanpa semuanya dalam mimpiku yang nyaman dan tak merasa sakit, aku bertemu sosok yang ku rindukan tapi tak tau siapa wajahnya bercahaya separtinya aku mengenalnya tapi siapa? dalam kebingunganku ia berkata, “sabarr, sebentar lagi, kami selalu menunggu, belajar yang baik yaaa, jangan pikirkn kami, kembalilaah…. !!!!!” tiba-tiba aku terbangun dan rasanya masih sama badanku kaku, masih ada yang terasa sakit dalam mata tertutup aku menahan sakit dan mengingat mimpi yang membingungkan. Aku terus mencoba menafsirkannya, tapi tidak bisa. Nalar yang belum cukup ini takmampu memecahkan pesan yang hendak disampaikan. Mimpi itu selalu membayangiku seakan jadi teman abadi yang telah bersarang diimajinasiku. Hidup terusku jalani bersama teman-teman seperjuanganku tanpa ada beban sedikitpun.

Hari-hari yang indah dan masa-masa yang sangat membahagiakan membalut semua rasa sakit yang kuderita, seakan menjadi penghianat diantara teman-temanku, membohongi mereka tentang keadaanku.

Setelah ratusan hari telah kita lewati bersama bukan tidak percaya dengan teman-temanku, tapi semua itu aku lakukan karena aku sayang mereka, aku tak mau mereka mengetahui tentang diriku yang sebenarnya, aku tak mau mereka meyadari bahwa diriku yang terlihat setegar inii sebenarnya sangat lemah dan memprihatinkan. Aku bahagia degan keadaanku sekarang  yang hari-harinya selalu dipenuhi candatawa teman-teman tanpa ada beban sedikitpun walau terkadang aku  berpikir seandainya ini adalah waktu terakhirku di dunia, aku tetap merasa bahagia selalu didampingi teman-teman yang sayang padaku.

Hari ini aku menjalani aktivitas seperti biasanya bercanda dengan teman-teman hingga semua nyaris terlupakan seperti dunia ini hanya milik kami berlima Lusi, Atha, Indah, Nany dan saya sendiri Alisha. Tapi tiba-tiba aku merasa seperti ada yang mengalir dari lubang hidung, sahabatku yang melihat langsung menghampiri dan memberitahuku, sebenarnya aku sudah menyadari tapi  aku bertingkah  seloah tak tau agar semua berjalan dengan alamiah. “Alisa hidungmu berdarah,,, Oh iyaaa aku tidak menyadari, makasihya”. Dengan wajah bingung Lusi bertanya “kamu kenapa??” “oh tidak apa-apa mungkin kepalaku terlalu panas karena terik matahari,, ini sudah biasa kok, aku tidak apa-apa”. Aku kebelakang duluya dengan langkah buru-buru aku manuju kamar mandi dan cepat-cepat menghilangkan darah yang terus mengalir ini. Aku gugup, badanku ikut gemetar, jantungku mulai dag dig dug takut teman-temanku mempermasalahkan kejadian ini dan akan bertanya lagi lebih lanjut.

Aku juga tidak tau tentang apa yang telah terjadi pada diriku. Yang aku tau hanyalah sesekali dada ini sesak dan jantung yang berdetak takkaruan dan yang aku tau juga aku hanya terbiasa hidup, tertawa, berbagi dengan teman-teman dan satu yang lebih aku ketahui yaitu menyembunyikan semua yang terjadi padaku yang sebenarnya aku pun tak mengetahuinya.

Sekembalinya dari kamar mandi yang aku hawatirkan ternyata tak terjadi, teman-temanku hanya tersenyum melihat ku dan bertanya “sudah selesai membersihkannya ??” “iya sudah, akukan punya alat ajaib yang kukeluarkan dari kantongku” kataku mencairkan suasanya yang sedikit tegang dengan sedikit lawakan agar mereka tidak panik. HahaaaJ semua temanku tertawa mendengar jawabanku kerena mereka tau aku mengidolakan tokoh Doraemon yang punya 1001 alat ajaib yang disimpan dikantong ajaibnya dan selalu membahagiakan teman-teman dihari-harinya. “Alhamdulillah meraka tak banyak bertanya tentang keadaanku sekarang, cukup aku yang merasa khawatir dengan keadaanku, jangan meraka” kataku dalam hati.

Masih ditaman belakang rumah Indah, memang karakterku yang pendiam, tidak suka curhat berbeda dengan teman-temanku yang lain. Mereka suka berbagi kejadian yang dialami sehri-hari bahkan masalah meraka pun diceritakan. Saling tukar informasi memang penting, menceritakan masalah yang sedang menghampiri juga perlu tapi buat yang satu ini aku tidak sanggup dan mampu melihat wajah jelek yang akan dikeluarkan teman-temanku jika mereka mengetahui keadaanku sekarang. Aku akan tetap merahasiakannya, sampai aku yakin tentang virus yang bersarang dengan nyaman di dalam tubuh ini. Yah, memang kita berbeda mereka saling ngobrol sedangkan aku hanya asyik main geme. Kita berteman sudah lama semenjak SD sampai sekarang SMA. Keluarga kecil yang indah yang terbangun bukan dari ikatan darah akan tetapi terbangun karena ikatan cinta, cinta yang sangat kuat yang mampu bertahan hingga saat ini.

Bukannya cuek, tetapi ketika aku bermain game bagai hidup didunia ini sendirian. Suara-suara yang menyeru tak lagi terdengar oleh telinga. Keseriusan bermain game mengalihkan semua pendangan dan konsentrasiku terhadap teman-teman yang berbicara dengnku seolah-olah aku masuk dalam dunia game itu. “Kebiasaan buruk”, kata Nany. “Plok” Atha menepuk bahuku menghilangkan konsentrasi bermain game “Alisha, sudah main ga­me-nya”, aku masih belum berhenti menatap game dilayar monitorku. “Alisha, sudah” Indah langsung menutup layar monitor. Dengan reflex aku menatap wajah Indah bersama kekesalan, hasrat hati ingin marah dan mengatakan “Kenapa ditutup Laptopnya? padahal sedikit lagi aku mengalahkan Raja monster dan berhasil menguasai kerajaan”. Tetapi, sebelum kata-kata itu keluar Indah langsung mendorongku dan berkata “main game terus kerjaannya, setiap berkumpul hanya game yang diperhatikan. “Kamu masih menganggap kami teman? Atau hanya game temanmu? Lihat, Lusi jadi marah karena kamu tidak memperhatikan dia ketika ingin bicara denganmu” belum sempat menjawab pertanyaan Indah, aku langsung belari mencari Lusi. Di antara teman-teman yang lain Lusi paling sensitive dengan kami kepekaannya terlalu berlebihan makanya aku harus mencari dan meminta maaf padanya.

Keesokn harinya di sekolah, aku tidak hadir. Teman-teman menanyakanku pada Lusi. “Mana Alisha, Lusi ?” tidak tau, jawab Lusi. “Bukankah terakhir dia bersama kamu kemarin?” tidak tau, lanjut Lusi. “Terus kemana Alisha, kenapa dia tidak mengirim kabar?” tegas Nany. Semua bingung, karena Aku tidak biasa menghilang dan tanpa kabar apapun. Kehawatiran merka berlanjut setelah seminggu tak ada kabar dariku. Bukan tidak mencari tahu tentang aku, akan tetapi setelah semua tempatku mereka kunjungi tak ada satupun kabar yang mereka dapatkan tentang kebaradaanku. Sudah mencoba kerumah, tetapi rumahku kosong tanpa penghuni. Dengan segala usaha yang telah dilakukan, mereka menarik kesimpulan bahwa aku pindah tanpa pamit dan tidak membaritahukan meraka. Lusi, Indah dan Atha sangat kecewa dan tak mau mencari tentang kabarku lagi. Nany yang masih berusaha keras mencariku sedikit demi sedikit mundur tidak menyerah tapi tak tau lagi harus mencari kamana, semua telah dilakukan tapi hasilnya tetap sama keberadaanku juga belum mereka katahui.

Sebulan pasca bertemu di rumah Indah, merupakan hari terakhiraku bersama teman-teman. “Aku merindukan kalian sahabatku, bagaimana kabar kalian? Semoga kalian tetap tersenyum tanpa aku, jangan cari aku teman-teman, bahagialah dihari-hari kalian, aku akan selalu mendoakan kalian” kataku dengan suara yang tersisa. Mengingat masa-masa indah bersama teman-teman, membuat aku terharu. Air mata yang masih bersarang dikelopak mata ini seolah berteriak ingin keluar karena penampungan sudah  penuh.

Bilik yang semua berwarna putih itu sudah menjadi rumah kedua selama sebulan belakangan ini. Pandanganku terbatasi, aku tak bisa melihat dunia luar bahkan menghirup udara segar aku tak mampu hanya mengandalkan udara yang tersaring dari sebuah tabung yang dialirkan melalui plastic yang menutup hidung dan mulut. Kini aku punya teman baru yang sangat perhatian dan selalu menanyaakan kabarku setiap dua jam sekali yang tak pernah marah ketika aku mengeluh kesakitan, tak pernah marah ketika aku menolak untuk minum obat. Mereka sangat baik, selalu ada saat aku membutuhkan. Tetap bersikap tegar, menyembunyikan sakit yang benar-benar sakit berharap ketika aku menjerit kesakitan tak ada seorang pun yang melihatnya, berharap hanya senyum yang selalu terlihat walaupun hanya berbaring dengan pesan bahwa aku baik-baik saja, aku bisa melewati semuanya, tidak usah khawatir.

Pagi pukul 09.01, Ayah masih setia menemani tidur disamping bibir kasur tempatku berbaring. “Ayah bangun, aku mau memakai baju yang Ayah belikan dua minggu lalu” kataku membangunkan Ayah dari tidurnya. “Oh kamu sudah bangun nak, kenapa? Baju? Mau pakai baju yang Ayah belikan? Ia ia, tunggu Ibu ambilkan dirumah ya, ada yang Alisha butuhkan lagi? Ayo katakana nanti Ayah ambilkan” dengan panic Ibu mengatakan semuanya. “Tidak Ayah, Alisha hanya ingin memakai baju yang Ayah belikan itu saja cukup” jawabku tersenyum sambil menatap wajah Ayah yang penuh kasih sayang itu.

Sepuluh menit Ayah diperjalanan pulang mengambilkan baju yang aku inginkan, aku merasakan sakit yang begitu dahsyat. Sakit yang selama ini bisa aku tahan kini meledak secara tiba-tiba tanpa menunggu aku mempersiapkan mental untuk menahannya. Sempat menahan dan berkata “Semua akan baik-baik saja, aku bisa melawannya separti dalam game” tiba-tiba ada seorang suster yang masuk dengan tergesah-gesah ia memanggil dokter. Suasana menjadi kacau aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakana yang aku lakukan hanyalah berusaha menahan rasa sakit yang mengamuk bagai raja monster yang keluar dari markas untuk balas dendam karena anak buahnya telah aku kalahkan.

Detik-detik terakhir menghampiri. Dengan pandangan sayup, aku melihat sesosok yang hadir dimimpiku dulu bercahaya dan cantik. “Kemari anakku, kamu terlalu lelah, istrahatlah dipangkuanku” kali ini semua terlihat jelas ternyata itu adalah sesosok Ibu yang selalu ku rindukan. “Ibu….. ia, akhir-akhir ini aku lelah tanpa sebab. Aku ingin beristirahat dipangkuanmu” terdengar bunyi “tit tit tit” suara apa itu Ibu ? tanyaku berlanjut. “Tidur saja nak, tidak usah hiraukan suara-suara yang menggagu ketika kamu ingin beristirahat” lanjut Ibu.”Tapi bagaimana dengan Ayah? Dia belum datang dari rumah mengambilkan baju untukku? Aku menyambung. “Ayahmu pasti akan mengerti” tegas Ibu. Perlahan aku menutup mata dan tak ada lagi yang terdengar. Tiiiiiiiiiiiiiiitttttttttt…….

Ayah datang dengan memasang wajah heran melihat banyak dokter yang keluar masuk dari ruang kamarku. Sambil membuang baju yang ia pegang berlari kencang menghampiri kamarku. Didepan pintu Ayah melihat seorang suster menarik kain manutupi badan sampai kepala. Sebagai Ayah yang sudah dewasa mengerti dengan apa yang telah terjadi. Tangis menghampiri wajah tegar Ayah yang duduk disudut pintu. Kemudian, entah dari mana mereka tahu tentang kabarku, teman-temanku datang bersama daraiaan air mata, mereka menghampiri tubuhku yang terbujur kaku.  “Alisha jangan pergi, kenapa kamu meninggalkan kami? Kenapa dengan cara seperti ini? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal sehingga kami bisa menemani hari-harimu?” kata teman-teman. Seorang suster mengatakan bahwa Alisha masuk rumah sakit ini satu bulan yang lalu sore hari. “Jadi karna itu Alisha masuk rumah sakit?” kata Lusi. Semua mata tertuju padanya mendengar pengakuan itu. “Kenapa Lusi? Apa yang kamu lakukan sama Alisha?” Tanya Indah. Sambil menangis Lusi menjawab “A..aku tidak melakukan apa-apa.. saat itu Alisha mengejarku, entah apa yang akan ia katakana aku langsung menolaknya dan lari menjauh tanpa menoleh kebelakang” sedikit memicu kemarahan Nany dan teman-teman, Ayah menghampiri mereka. “Tidak nak, bukan karena kamu Lusi, Alisha memang sudah menderita pemyakit ini dan diketahui sejak dua bulan lalu”. “Tapi, kenapa Alisha tidak memberithu kamu Om kita kan teman-temannya?” sahut Atha. “Alish tidak mau kalian merasa cemas dengn keadannya, Alisha juga yang melarang Om untuk memberitahu kalian” lanjut Ayah. “Tapi kenapa?” kata Lusi dengan isak yang tersisa. “Jadi selama ini Alisha menderita sendirian? Saat darah yang keluar dari hidung Alisha waktu dirumahku itu dia sudah menderita? Kenapa aku tidak mengetahuinya waktu itu? Aku memang teman yang tidak baik” sambung Indah. “Sudahlah nak, bukan kesalahan kalian, inilah jalan yang dipilih Alisha dan dia bahagia” kata Ayah menenangkan.

            Kemudian seorang suster menghampiri mereka dan menyerahkan sepotong kertas, dan ternyata itu adalah tulisan Alisha yang menitipkan pesan untuk teman-temannya.

            Isi pesan

Teman-teman, terima kasih atas semuanya. Setelah kalian membaca surat ini mungkin aku telah tiada. Jangan menagis dan tetap tersenyum. Teman-teman cukup berat menyembunyikan semua dan menjalani hidup yang penuh sandiwara. Tahukah kalian dibalik senyumku ini ada tangis yang mendalam bahkan sangat dalam tersimpan jauh di pelupuk mata yang sayup dan biarkan ku masuk dalam tangis mungkin berbohong adalah jalan terbaik. Aku sayang kalian dan maaf karena aku tidak memberitahu lebih awal. Alisha sima 

0leh: Asriani

(Mahasiswa Program studi Bahasa Indonesia, Kader HMI Cabang Palu)

Dialog Interdimensi

“Hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum dia menjalankan tugas. Ada sebuah instruksi kosmos yang turun kepadanya.” ujar Bima Sakti, galaksi tempat tinggalku.

“Siapa?” aku kebingungan

“Elemen air di planetmu”

“Musibah lagi?” Aku curiga.

“Hanya menjalani siklus. Mencari keseimbangan.”

“Lalu apa yang akan terjadi dengan manusia?” tanyaku khawatir.

Bima Sakti atau Milky Way dalam sebutan Ilmuwan Barat, kemudian melanjutkan ceramahnya.

“Inilah alam. Manusia harus menghadapinya. Tampaknya, belakangan ini, manusia lebih suka memilih untuk memposisikan diri di luar aturan main sistem konstelatika kosmos. Konsekuensinya, keseimbangan tatanan kosmos terganggu oleh karena ulah manusia…..”

Mendengar kata manusia disebut, tentu saja aku tersinggung dan segera menjatuhkan interupsi.

“Manusia? Bagaimana kau dapat membuktikan bahwa manusia merusak sistem.”

“Berbeda dengan kami yang diprogram untuk tidak dapat menolak perintah, kau adalah makhluk yang dianugerahkan hak untuk memilih serta membuat keputusan sendiri secara sadar meskipun keputusan itu adalah menolak perintahNya, namun kau harus bertanggungjawab terhadap pilihan itu.

Dan sejak waktu bermula, kau diperintahkan untuk memakmurkan alam. Kau pun hidup berdampingan dengan alam, tapi pikiranmu membawa eksistensi dirimu jauh dari alam. Kau ciptakan sendiri tabir yang mutlak membatasi dirimu dari alam…” ceramah Bima Sakti.

“…pertanyaanku belum kau jawab.”

“Dengarkan dulu nak! Aku belum tuntas. Pikiran adalah benang merah antara kau dan rusaknya sistem keseimbangan alam. Jangan anggap semua baik-baik saja ketika kau berpikir negatif! Ada frekuensi yang terpancar ke ruang hampa jagad raya, biarlah hal ini dijelaskan oleh saudara Orion nanti. Yang jelas pikiranmu haruslah selaras dengan hati sebagai pusat emosi dan biarlah keduanya saling mengendalikan.

Namun sebaliknya, ketika fungsi sinergis akal kau pisah dari fungsi hati, maka sistematika manusia sebagai belalang mikrokosmos akan cenderung destruktif dengan mengalirkan energi-energi negatif yang terpancar ke alam semesta. Ketika sebuah subsistem memisahkan perannya dari sistem, tahukah kau apa yang terjadi?”

“Sistem tidak lagi memiliki substansi totalitas dalam konteks keseimbangan karena meski subsistem yang lain masih berfungsi sempurna tetap saja hilangnya peran salah satu subsistem menyebabkan kinerja sistem menjadi kacau dan tidak seimbang” kujawab sekenanya.

“Dan untung saja masih ada manusia yang melakukan harmonisasi subsistemik dengan kosmos di tengah masyarakat yang semakin apatis psikopat. Namun demikian tetap saja dibutuhkan sebuah totalitas demi sempurnanya kinerja sistem kosmos.”

“Hey saudara Bima Sakti, aku punya pertanyaan. Makhluk itu diciptakan serba terbatas. Namun kenapa ada istilah totalitas? bukankah keterbatasan dan totalitas adalah dua hal yang kontras berbeda? Di tengah-tengah keterbatasan ini kenapa kita malah diharuskan bersikap totalitas?”

“Anak muda. Totalitas berarti kau menggunakan segenap daya dan upaya yang kau miliki. Bagaimana kau bisa belajar caranya bersyukur bila totalitas itu tidak ada? Dengan keseluruhan kemampuanmu yang terbatas, jika kau hanya menggunakan setengahnya berarti ada sisa kemampuan yang kau sia-siakan. Maka, bila demikian, kau sebenarnya lebih berhak mendapatkan kemampuan hanya sebesar yang kau gunakan itu dan kau dianggap tidak mensyukuri nikmat Allah.”

Orion, salah satu gugus bintang tiba-tiba hadir dalam pembicaraan dan langsung melanjutkan substansi dialog.

“Jadi, terdapat gelombang elektromagnetik yang memadati semesta dan mengelilingi dirimu. Segala yang kaupikirkan akan terpancar keluar menjadi frekuensi yang kemudian ditangkap oleh alam semesta. Lalu, frekuensi itu akan berubah menjadi energi dan alam semesta kemudian mengembalikan energi ini kepadamu, kau secara natural akan menangkapnya. Maka kau adalah apa yang kau pikirkan. Perilakumu adalah pengejawantahan dari apa yang kau pikirkan.”

“Oh iya, aku teringat teori tentang medan morfogenetika dalam istilah biologi.”

“Yup. Karl Jung menyebut misteri keterhubungan pikiran ini sebagai universal consciousness

“Eh sebentar, aku jadi ingat kalimatnya John Kehoe: kalau kita paham bahwa kita adalah bagian dari semesta nan terbuka dan dinamis, dan pikiran kita adalah bagian dari pembentukan realitas, maka kita dapat memilih hidup secara kreatif dan sentosa. Yang kutanyakan, realita itu tadinya adalah sebuah energi kan?”

“Ya, dan tahukah kau bahwa alam semesta hanya menerima pancaran negatif selama beberapa millennium belakangan. Energi-energi itu tidak sedikit yang kemudian mengganggu keseimbangan alam. Pikiran, perilaku, dan sikap umat manusia sudah lebih dari cukup untuk mengganggu sistem keseimbangan kosmos. Akibatnya, setiap komposisi dari bangunan semesta ini selalu bergerak mencari keseimbangan.”

“Tapi apakah pergerakan materi semesta mencari keseimbangan harus bersifat destruktif? Manusia sebagai subyek pun banyak yang jadi korbannya. Holocaust?”

“Lidah umat manusia memang terlatih untuk mengatakan bahwa pergerakan materi alam mencari keseimbangan adalah bersifat destruktif. Ini bukan holocaust. Lihatlah secara sempurna dari awal hingga akhir proses siklus itu. Awal Agustus beberapa tahun lalu, empat galaksi yang berada pada cluster galaksi CL0958+4702 yang berjarak 5 miliar tahun cahaya dari bumi bertabrakan. Tabrakan itu merobek jala-jala galaksi, menceraiberaikan bintang, planet serta semua benda di keempat galaksi itu.

Hebatnya, tabrakan itu justru malah menggabungkan keempat galaksi dan ianya membentuk sebuah galaksi baru yang berukuran sepuluh kali galaksimu, Bima Sakti. Padahal tadinya kau pasti berpikiran sesuatu yang destruktif. Memang sehubungan dengan jauhnya substansi materi semesta dari equilibrium, banyak proses yang harus dilewati materi jagad raya. Kau sudah belajar ilmu fisika?”

“Sudah.”

“Kau hanya tau tapi tidak paham. Bayangkan sebuah timbangan pasir yang memiliki sisi lebih berat pada salah satu sudut timbangannya! Secara otomatis sisi yang lebih berat tadi berada di bawah. Untuk mencapai keseimbangan, maka harus ada pengurangan dan penambahan: pasir yang berada di sudut terberat harus dikurangi untuk kemudian ditambahkan pada sisi yang lebih ringan agar tercapai kata seimbang, kau tidak boleh menambah pasir baru dari luar timbangan karena takaran pasir sudah tetap.”

“Lalu, dimana letak korelasinya antara manusia dan semesta?”

“Ketika timbangan semesta berat di salah satu sisinya, maka itu artinya kau, sebagai subyek, mengalokasikan energi secara tidak proporsional. Bila demikian, akan selalu ada yang dikurangi dan selalu ada yang ditambahkan. Dalam konteks yang sama, bagi manusia, selalu ada yang merasa dirugikan dan selalu ada yang merasa diuntungkan. Bagi manusia bencana itu sangat merugikan, tapi sebenarnya alam hanya ingin mencapai titik seimbang melalui beberapa proses. Maka demi berlangsungnya hukum keseimbangan dalam semesta, terdapat sebuah alat penyeimbang. Pujangga Oriental menyebutnya Karma.”

“Wah, ini jelas-jelas doktrin Hinduisme. Aku ini muslim.”

“Bodoh! Tidak ada ilmu yang berasal dari suatu kaum. Sumber ilmu hanya satu: Allah, Penguasa Kosmos. Berpikirlah global maka kau akan dapat membedakan berlian dan kerikil di antara tumpukan pasir. Artinya, dengan berpikir global dan dengan iman yang terasah, kau akan dapat melihat apakah sebuah doktrin itu benar dari Allah ataukah sudah ditambah-tambah. Hampir saja kau menolak doktrin Hindu yang satu ini karna justifikasi subyektifmu. Jika demikian, mengapa kau justru menerima doktrin-doktrin yang berasal dari Barat?”

“Karena kukira doktrin Hindu itu beraroma animisme. Dan… Ya karena doktrin-doktrin Barat terasa lebih masuk akal.”

“Dasar bocah, akal saja yang kau beri makan. Hati pun butuh. Baiklah, apa yang kau lakukan untuk memahami substansi akan sesuatu?”

“Memahami kenapa dan atas dasar apa sesuatu itu ada?”

“Itu benar, tapi lebih tepatnya penjiwaan. Mulailah dengan memposisikan dirimu pada sebuah titik dimana kau dapat melihat segalanya secara komprehensif. Bila ada istilah berpikir global, maka kuciptakan sebuah istilah: penjiwaan global. Lalu awali dengan penjiwaan tentang apa peran dan tugasmu serta mengapa dan atas dasar apa kau ada serta dimana kau berada. Dari penjiwaan ini, substansi mengenai hal-hal lainnya akan terungkap dan tenagamu tidak terbuang demi memahami satu persatu masing-masing hal.”

“Baiklah nanti dicoba.”

“Wajib. Dan dari sini kau akan menemukan mengapa ilmu filsafat wajib ada. Disini kau membutuhkan sinergisme antara mata kasatmu dan mata hatimu. Bukalah mata hatimu karena hanya ialah yang mampu merasakan substansi-substansi transendental.”

“Oya, aku ingat. Dalam dunia teater setiap pemeran membutuhkan penjiwaan masing-masing karakter agar mereka dapat memerankannya dengan sempurna. Lalu akan tercipta sebuah drama yang kental nilai emosional. Bila dihubungkan, justru hal-hal emosional lah yang membuat manusia terhubung dengan alam. Semua itu hanya dari penjiwaan.”

“Nah, sudah menjadi tugasmu, sebagai subyek, untuk melakukan penjiwaan dengan lingkungan demi terciptanya sebuah harmonisasi sempurna yang akan bermuara pada keseimbangan kosmos. Keseimbangan kosmos pada gilirannya akan mengantarkan balik energi-energi positif kepada umat manusia. Energi itu akan mempengaruhi umat manusia secara individu maupun keseluruhan untuk benar-benar berada dalam posisinya sebagai subyek yang toleran.”

Entah mengapa suasana tiba-tiba menjadi hening. Dalam kehampaan ruang angkasa ini, sesuatu mengusap mukaku hingga segar. Sebuah elemen yang familiar. Air. Lalu mataku kemudian memandang tempat tinggal ragaku. Bumi. Ia tersenyum lalu mengingatkan.

“Ayo anakku. Kau harus kembali! Ada sesuatu yang harus kau lihat dan pelajari sekarang.”

 ———————————

“Tuuuttuuut…tuuuttuuut…tuuuttuuut…” dering ponsel memecah fantasiku. Membawaku kembali ke alam nyata.

“Haus. Aku mau minum dulu.” Batinku.

Televisi masih menyala ketika kubuka langkah menuju lokasi dimana dispenserku berada. Lalu, dari tempatku berdiri, sayup-sayup terdengar suara Zelda Savitri dalam saluran MetroTV. Hari itu tepat tanggal 11 maret 2011.

“Pagi ini, setidaknya gelombang tsunami sudah menerjang beberapa kota di Tokyo, Jepang dengan ketinggian lima sampai enam meter…”

Aku terhenyak.

Oleh: Muhibbuddin Ahmad Al-Muqorrobin

Kader HMI FE UMY

Surat Tantangan

kutulis puisiku

untuk engkau yang tak pernah disapa

engkau yang hanya diam terkesima

diantara gelak tawa para menak

 

kutautkan kata-kataku

kepada engkau yang dilirik sepi

engkau yang termangu sendiri

disela abab basa-basi kaum priayi

 

lalu kutinju mulut para pangeran atas angin itu

yang tak henti meruda-paksa kata-kata kita

yang memompa syahwat kedirian di ranjang pemujaan

hingga pecah di anak tekak mereka.

 

pada genangan darah yang mengamisi bumi

kutuliskan kata-kataku sendiri

 

untuk

mu.