Untuk Han

menjumpaimu ketika rumah kita masih terlindung pohon waru

engkau bersuja dalam geremang asap hio

semoga hujan turun bersama naga malam ini

dan lampion ini untukmu, dik,

katamu bagai memasrahkan pertanda

 

lalu bertahun aku mengenang kehilangan

esok kembali kutandai alamanak

ingin kukabarkan kepadamu:

sudah kubuat lampionku sendiri, Koko

semoga nyalanya sampai kepadamu.

Sajak Rindu

Setiap hujan ruang memori ini selalu tertuju padamu.
Seolah kita dekat dan tak terpisah oleh dimensi waktu.
Yang terpatri dalam alunan rindu.

Andai aku bisa menakar, pastilah terlalu besar untuk mampu ditimbang.
Mungkin, hanya lewat hujan aku bisa berbisik.
Menyuarakan nada-nada yang tak tersampaikan.
Tentang dalamnya rasa pengharapan.

Namun, kutahu pengharapan hanyalah angan.
Karena dia bukanlah sajak yang mengikuti kehendak.
Karena sejatinya Kaulah yang selalu ada.
Menyertai dalamnya rasa yang disebut jiwa.

Agama

Agama itu arah, agama itu pegangan, agama itu penyeimbang kehidupan.
Maka, jangan jadikan agama sebagai tameng untuk menyebar virus kebencian.
Agama bukanlah sarana untuk menjadikan diri jadi yang paling benar.
Agama bukanlah teriakan ambisi.
Bukan pula alat untuk permainan strategi.
Agama adalah suara hati.
Jadi, bijaklah dalam memaknai.

Balada Nenek Penjual Kayu Bakar

Balada Nenek Penjual Kayu Bakar
Bantul, 29 Maret 2013

Di antara malam dan fajar yang membentang
Kau telusuri gelapnya jalan menuju peraduan
Dengan kawanmu yang juga renta
Kadang bertiga atau berdua

Selendang lusuh dan usang menjadi saksi
Betapa beratnya beban yang kau nikmati
Setiap waktu, menuju tempatmu beradu

Daun-daun sirih yang terkunyah di mulut tak bergigi
Obor dari bara merang yang tergenggam di jemari
Penanda kau masih turut menyertai
Hadir kini, menepi lorong zaman

Di saat seperti ini
Kau masih mencoba setia
Menyapa dan memeluk dinginnya romansa
Untuk menaklukkan senja

Havana

larilah bersama saxopone, yang menghilang
dari kabaretmu, di El Tropico ketika asap cerutu Che
membentur mukamu: sebab tak kulihat percikan nyala revolusi,
barangkali telah tenggelam di gelas-gelas anggur orang berada
sepanjang malam yang hangat.

tetapi apakah revolusi, bahkan ketika dari podium sepasang
merpati menjauhi segala janji, dan tarian juga nyanyian
diayunkan tongkat komando begitu rapi?

Fidel, ya, Fidel,
telah kau sembunyikan kota Havana yang melewati malam
dari lantai-lantai dansa, gelak tawa borjuis di ketiak Batista,
dan sepotong cinta yang tersisa di keremangan El Tropico.

Tembang Pengungsi

tidurlah nak, barangkali sejenak bisa kau lupakan jasad bapak yang terkelupas. Selimuti tubuhmu dengan sarung mendiang, sempat kusaut tadi setelah raungan sirine menggegas kita turun ke barak.

bapakmu, tentu saja tak bermaksud menjemput maut. Ia hanya ingin menghela sapi kita yang masih tertambat—satu-satunya gantungan hidup selain bumi Merapi yang kita cintai ini. Ia tak hendak melupakan budi ternak kita, limpahan rizky tanah yang tertapak sepanjang hayat, segala berkat yang telah mereka anugerahkan tanpo kendhat.

oh, lelaplah anakku. Usah kau hiraukan orang-orang pintar yang sibuk mencerca bahwa para sedulur kita memang sengaja mendada ajal. Biarlah mereka jumawa dengan kerumitan pikiran mereka sendiri. Mungkin itu cara yang tersisa bagi para penghuni kota untuk merasa bahagia.

Anakku, tugas kita, bekti kita, hari ini sampai waktu yang tak bertepi nanti, adalah senantiasa menyediakan syukur dan keikhlasan tak terkira untuk setiap yang telah dipasrahkan Gusti-Allah sepanjang hari. Kita akan menghikmatinya seperti embah yang tak pernah cidra ing janji.

Dan sebelum benar-benar pulas, anakku, kubisikkan kepadamu: kita akan selalu menjadi warga lereng Merapi…

Surat Seorang Indon

selamat pagi,
sudahkah kau minum teh hangatmu?
terasa maniskah?
atau sedikit pahit setelah kau baca
headline koran pagi ini?

indon! indon! indon!
dan empat polis berpesta
di atas tubuh indon saudaraku
yang menjadi sansak tinju

selamat pagi,
dan masih ingatkah engkau pada nirmala bonat
pada ceriyati, pada ribuan saudara indonku
yang melata di bawah sepatu malay-mu
seolah engkaulah yang menentukan
garis hidup mereka

bagaimana kini engkau begitu nyaman
duduk di kursi rotanmu, menghirup teh hangat,
berkuah-kuah kepanasan menyeruput
mi instan, hasil impor dari negeri serumpun
yang kau sebut indon seraya mengedipkan
sebelah matamu itu?

selamat pagi saudaraku,
terima kasih atas ekspor dua pria cerdik pandai
doktor azahari dan noordin m top, namanya
yang menyusup-nyusup dalam kelambu tidur kami
dan mencecerkan darah tubuh saudara indon-nya
di sekujur peta kehidupan kami.

terima kasih saudaraku
nikmati kebanggaanmu
tersenyumlah manis
karena kami pasti tak mampu membaca
seringai di benakmu:
ah, indon!