Kemenag Akan Festivalkan Qiraah Langgam Nusantara

HMINEWS.Com – Manusia memang cenderung menolak hal-hal yang tak mereka ketahui. Sama seperti kontroversi pembacaan Al Qur’an dengan langgam Nusantara pada Peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara beberapa hari lalu.

Selain itu, manusia sering mencampurkan ketidaksukaannya sehingga mempengaruhi penilaiannya. Seperti terjadi dengan adanya tilawah tersebut kemudian muncul tuduhan bahwa itu merupakan niat buruk dari Presiden Jokowi terhadap Agama Islam. Padahal, Langgam Nusantara dipilih oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dengan tujuan memperkaya khazanah qiraah di Indonesia.

Saat peringatan Milad Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal ke-18 di TMII (6/5/2015) sebelumnya, Menag Lukman Hakim telah menyatakan hal Indonesia perlu menunjukkan kekayaan yang terkait dengan Al Qur’an selain dari kekayaan iluminasi dan penulisannya.

“Untuk itu, saya minta kepada jajaran di Kemenag untuk mencari ragam langgam bacaan Al-Quran di nusantara ini,” kata Menag Lukman Hakim Saifuddin sebagaiman dikutip di situs Kementerian Agama RI.

Sejauh ini, terang Menag, Kementerian Agama memiliki beberapa qori yang sesuai dengan ilmu tajiwid bisa melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan langgam Jawa, Sunda, Madura, dan langgam Aceh, sementara baru tiga langgam itu.

“Oleh karenanya, bila didapatkan qori yang bisa membaca Al-Quran dengan langgam Melayu, Bugis, Medan dan dengan langgam apapun yang itu merupakan ciri Nusantara kita, saya pikir itu akan sangat memperkaya khazanah qiraah kita, dan suatu saat menarik juga kita festivalkan dalam acara-acara tertentu,” lanjutnya.

Menag juga mengungkapkan, selain mengkaji pesan yang terkandung dalam Al-Qur`an, menggali dan mengembangkan nilai-nilai seni yang terkait dengan Al-Qur`an juga tidak kalah menariknya. Kesultanan Islam Nusantara mewariskan banyak sekali naskah mushaf kuno dengan iluminasi yang sangat indah.

Satu hal yang menunjukkan tingginya perhatian umat Islam Indonesia, sejak dulu, terhadap aspek seni pada mushaf. Langgam bacaan Al-Qur`an khas nusantara, dengan kekayaan alam dan keragaman etniknya, menarik untuk dikaji dan dikembangkan.

“Tentu saja dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Dan saya berharap Bayt Al-Qur`an dapat menjadi rumah bagi segala sesuatu yang terkait dengan Al-Qur`an,” harap Menag.

Dalam pandangan Menag, kemampuan kita dalam menggali khazanah Islam Nusantara, yang berporos pada Al-Qur`an dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, akan membuat Islam Indonesia menjadi model dalam mempromosikan Islam yang berkarakter menghargai keragaman agama, budaya, bahasa dan etnik.

“Di saat banyak negara berpenduduk Muslim lainnya dilanda berbagai konflik yang bernuansa agama, Islam Nusantara bisa menjadi oase baru bagi dunia Islam dan masyarakat dunia pada umumnya,” ucap Menag. (Kemenag).

Tilawah Langgam Nusantara, Apa yang Salah?

Pembacaan Al Qur’an dengan Langgam Nusantara dalam Peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara berujung kontroversi. Banyak berita terutamanya di ‘situs/ media online Islam’ yang menyerangnya.

Komentar pedas, misalnya menyebutkan banyak kesalahan dalam acara tersebut gara-gara Al Qur’annya dibaca dengan langgam lokal. Ada pula komentar anggota MUI pusat yang menyatakan tilawah dengan langgam seperti itu konyol.

Apakah hal itu memang salah? Mari kita urai.

Tilawah yang dibawakan oleh Muhammad Yaser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga, dimaksudkan untuk melestarikan khazanah lokal.

  • Tidak ada pengucapan hurufnya yang salah. Tidak ada huruf-huruf krusial (yang sering salah karena ciri khas logat berbagai daerah) yang diucapkan dengan ‘lidah lokal’, seperti huruf fa (ف) diucapkan dengan ‘pa’, huruf ‘ain (ع) tidak dibaca ‘ngain’ sebagaimana orang Jawa yang ‘terlalu awam,’ huruf ta (ت) dan tha (ط) tetap diucapkan sebagaimana lidah Quraisy.
  • Kaidah tajwid tetap terpenuhi, huruf ikhfa‘, idgham, mâd tetap dibaca sebagaimana kaidah itu ditetapkan

Adapun yang tidak biasa, tepatnya bagi yang belum pernah mendengar langgam yang diwarisi secara turun temurun di pesantren Jawa tersebut, hanya lah pada cengkoknya.

Sedangkan adanya satu-dua kesalahan pembacaan, hal itu dimungkinkan karena pengucapan yang tidak pas, mungkin sang qari grogi, mengingat ia baru pertama tampil di Istana Negara di hadapan para pejabat penting negeri ini dan perwakilan negara lain.

Para pengkritik yang keterlaluan hendaknya memperhatikan: Jika Al Qur’an tidak boleh dibaca selain dengan langgam Arab, sakali lagi lamggam, maka apakah semua orang akan dilarang membaca Al Qur’an jika tidak menguasai satu dari tujuh Qira’ah Sab’ah? Jika demikian halnya maka dipastikan sebagian besar umat Islam akan terkena larangan tersebut.

Jika kita lihat umat Islam dari berbagai belahan dunia lain seperti Turki maupun Mesir yang relatif dekat ke Arab sekalipun, bukan hanya langgam yang berbeda yang mereka ucapkan, namun bahkan terdapat pengucapan-pengucapan huruf yang berbeda, atau mungkin salah.

Fathur

Berikut tautan tilawah yang dimaksud. https://www.youtube.com/watch?v=hYZX6L1k-I8