Adhyaksa Dault: Jadilah Pemimpin yang Niat, Cara dan Tujuannya Lillahi Ta’ala

P12HMINEWS.Com – Dr. Adhyaksa Dault, mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) hadir sebagai pembicara pertama program kepemimpinan Islamic Leadership Academy Batch 2 (ILA), pada Grand Opening ILA yang diadakan oleh organisasi kepemudaan Islam Young Islamic Leaders (YI Lead) di AQL Islamic Center, Jakarta, Ahad (2/11/2014).

Dengan gaya bicaranya yang khas dan humornya yang terus menggelitik peserta yang berjumlah 87 pemuda-pemudi usia 18 – 35 tahun dari berbagai wilayah Jabodetabek ini, doktor Teknik Kelautan lulusan Institut Pertanian Bogor ini menyuntikkan nasihat, motivasi, dan benih-benih pemikiran yang memancing keterlibatan peserta.

“Kalian jadilah pemimpin yang niat, cara, dan tujuannya sama, yaitu Lillahi Ta’ala, maka kalian akan selamat,” ujarnya membuka sesinya setelah mengutarakan kesenangannya bisa hadir di tengah-tengah pemuda yang komitmen belajar kepemimpinan Islam dan akan adanya program ILA.

Ia kemudian langsung menantang peserta untuk mengatakan pendapat mereka tentang apa arti kepemimpinan. Seorang peserta wanita yang bernama Herlina berhak mendapatkan hadiah yang dijanjikannya karena berhasil memberikan jawaban yang memuaskannya, yaitu “kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain.”

Menurut bapak yang aktif berorganisasi sejak usia muda ini, mempengaruhi orang lain dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara legitimasi, yaitu melalui posisi dan jabatan seperti kebanyakan raja-raja dan pemimpin, dan dengan cara akhlaq, yang contoh sempurnanya telah ada dalam diri Muhammad Rasulullah SAW.

Dengan gamblang, Adhyaksa mengingatkan peserta untuk selalu mencontoh teladan Rasulullah dan juga untuk jangan pernah sombong jika memegang posisi atau jabatan tertentu karena sejatinya, titel itu hanyalah sesuatu yang mampir sejenak dalam kehidupan manusia.

Untuk dapat mempengaruhi orang dengan baik, alumni HMI tersebut menyarankan peserta untuk melatih berbagai jenis kemampuan yang dimiliki. Baik kemampuan verbal (berbicara), grafis (seni), dan kinetik (bergerak melakukan kerja nyata). Ia juga menceritakan pengalamannya mengasah berbagai kemampuannya ini dari semenjak ia masih duduk di bangku sekolah dan mulai berorganisasi dulu.

Di bagian akhir sesinya, ia memaparkan kehancuran dan keberhasilan sebuah masyarakat bisa dengan melihat empat sisi penting aspek masyarakat tersebut: jenis industri, tipe investasi, tingkat individualisme, dan jenis informasi yang masuk dan beredar di masyarakat. Ia juga mengkritisi penyakit sosial yang menjangkiti pemuda Indonesia saat ini: kegilaan karena kesenangan (yang sia-sia) dan karena kemarahan yang mengikuti hawa nafsu.

Bagian akhir sesi inilah yang menantang para peserta untuk merenungi kenyataan tersebut dan memikirkan solusi yang bisa memperbaiki keadaan masyarakat Indonesia dalam aspek-aspek tersebut. Terakhir, beliau mengingatkan cita-cita yang pantas untuk orang Muslim adalah ridha Allah dan Surga-Nya, yang dicapai dengan mati syahid atau hidup mulia, dan jalannya bisa beragam cara sesuai dengan keinginan sang individu.

“Ikhlaslah selalu. Semoga kita bisa punya niat lurus, usaha yang istiqamah, dan jiwa yang tulus,” pesannya kepada semua yang hadir.

Siapkan Kader Pemimpin, YI-Lead Luncurkan Islamic Leadership Academy Kedua

P13HMINEWS.Com – Young Islamic Leaders (YI Lead) resmi membuka Islamic Leadership Academy (ILA) Batch 2 di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad, 2 November 2014.

ILA yang akan diadakan dari tanggal 2 November-21 Desember ini dimaksudkan sebagai program pelatihan kepemimpinan Islam berjenjang yang pertama kalinya di Indonesia. Sampai saat ini, program ILA yang angkatan pertamanya diadakan pada Oktober 2013 ini diklaim sebagai satu-satunya program pelatihan kepemimpinan di Indonesia yang menggunakan metode Tadabbur Al-Quran dan tuntunan As-Sunnah. YI Lead adalah organisasi kepemudaan Islam yang dibentuk pada tahun 2009 di AQL Islamic Center dengan tujuan menyiapkan kader-kader kepemimpinan Muslim yang menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman.

Acara ini dibuka secara resmi dengan pemotongan pita yang dihadiri oleh mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009), Dr. Adhyaksa Dault, selaku pembicara pertama pada program ini. Turut meresmikan pembukaan acara ini adalah Islahudin Idris (Ketua Umum YI Lead), Agastya Harjunadhi (Sekretaris Jenderal YI Lead), Herlyanto Bangkit Utomo (Ketua Divisi Kaderisasi YI Lead) dan Ketua Panitia ILA Batch 2; Andri Ronny, Wakil Sekretaris Jenderal YI Lead dan Koordinator Sie. Acara ILA Batch 2 yang juga berperan sebagai MC pada Pembukaan tersebut; serta Ary Al-Ayyubi, mantan Ketua Panitia untuk ILA Batch 1 dan selaku perwakilan dari Board of Directors YI Lead.

Dalam pembukaannya di sesi pertama, Agastya Harjunadhi menjelaskan bahwa krisis kepemimpinan di negara ini menjadi alasan utama pentingnya pelaksanaan ILA. Krisis kepemimpinan ini tersirat ketika Indonesia mendapat peringkat sebagai salah satu negara yang terindikasi “Negara Gagal” menurut Jurnal Foreign Policy dan juga merebaknya budaya korupsi di kalangan pejabat. Ia juga menyatakan pentingnya mempunyai Quranic Worldview untuk melawan kuatnya arus pemikiran sekuler, liberal, dan pluralisme di kalangan pemuda.

Sementara Dr. Adhyaksa Dault yang mengisi sesi kedua mengutarakan apresiasi dan kesalutannya akan adanya program ini. Ia berharap program bisa terus berlanjut dan berkembang, serta bisa mencetak calon-calon pemimpin negara yang berkomitmen terhadap nilai Islam. Ia juga mengingatkan agar semua yang terlibat mempunyai niat, cara, dan tujuan yang lurus yaitu Lillahi Ta’ala dan terus menjaga kelurusan niat, cara dan tujuan tersebut.

Selama 7 Ahad ke depan, 87 peserta dari Jabodetabek yang usianya berkisar antara 18-35 tahun ini akan mendapatkan coaching tema-tema dasar kepemimpinan dari berbagai pemateri, yang kesemuanya akan dilatarbelakangi Quranic Worldview sebagai kerangka kerjanya. Setelah selesai mengikuti pendidikan, peserta akan dibimbing menjadi kader YI Lead yang mampu menjadi pelaku dalam kiprah kepemimpinan dunia Islam yang mengedepankan nilai-nilai Tauhid serta bersungguh-sungguh berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah.