Bekasi: Islamic Center KH Noer Alie Diresmikan

HMINEWS.Com – Islamic Center pertama di Indonesia, yaitu Islamic Center Bekasi, kini berubah menjadi Islamic Center KH Noer Alie, mengambil nama Pahlawan Nasional asal Bekasi. Perubahan nama itu seiring dengan selesainya pembangunan gedung baru Islamic Center, yang diresmikan pada Rabu (11/11/2015).

Peresmian ditandai dengan penandatanganan Prasasti oleh Walikota Bekasi Dr. Rahmat Effendi dan pihak keluarga pahlawan KH Noer Alie yang diwakili putranya, yaitu KH Nurul Anwar, disaksikan ribuan warga Bekasi beserta tokoh-tokohnya. Sedangkan pembukaan tirai dilakukan oleh Ketua Pembina Yayasan Nurul Islam, yang mengelola Islamic Center ini, yaitu H Luthfi, didampingi Ketua Yayasan Nurul Islam (H Rusmin), dan wakil keluarga KH Noer Alie.

KH Abid Marzuki, Ketua STAI Attaqwa, salah satu perguruan tinggi yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan yang dirintis KH Noer Alie, dalam sambutannya menceritakan bagaimana dahulu KH Noer Alie berjuang.

Menurutnya, hingga tahun 60-an hanya ada satu Diniyah Putri di Indonesia, yaitu di Padang Panjang. Kemudian tahun 64, KH Noer Alie mendirikan Diniyah Putri di Bekasi, yang menjadi diniyah putri pertama di Jawa.

“Baru ada satu pesantren wanita, diniyah putri di Padang Panjang, maka pada 1964 Almaghfurlah mendirikan Diniyah Putri yang pertama di Pulau Jawa. Ini sebuah lonjakan pemikiran yang luar biasa. Almaghfurlah ingin umat menjadi umat yg wasathan, umat yang maju,” paparnya.

Pesantrennya pun dimodernisasi, yaitu dengan menjadikannya madrasah. Dalam mengembangkan pesantrennya itu pun, Diniyah Putra-Putri, Almaghfurlah KH Noer Alie tak segan-segan menjalin kerjasama dengan rekannya yang orang Tionghoa, yaitu Siauw Wat Eng. Kemudian sosok inilah yang mengusahakan diesel listrik bagi pesantren itu, yang pembayarannya dengan padi, dan itu pun menuggu masa panen.

“Ini menandakan KH Noer Alie memahami kemajemukan, heterogenitas, bergaul dengan siapa saja, tapi tidak menggadaikan ideologi, tidak menggadaikan aqidah,” lanjut KH Abid Marzuki.

Selain itu, tak jarang sebenarnya KH Noer Alie berseberangan secara ideologi politik dengan Presiden Sukarno maupun Presiden Suharto, “Namun justru dari beliau lahir ide-ide cemerlang, bukan ngambek, tapi lahir ide-ide cemerlang,” ujarnya lagi.

Walikota Bekasi, Dr Rahmat Efendi, dalam sambutanya, menyatakan Bekasi kini makin majemuk, seiring makin banyaknya para pendatang yang mengadu nasib di Bekasi, namun penduduk asli Bekasi sendiri banyak pula yang kemudian menyingkir ke pinggiran. Untuk itu, Pemerintah Kota Bekasi akan selalu memberi perhatian besar pada upaya-upaya seperti ini, yaitu dengan memberi bantuan pembangunan Islamic Center serta lembaga-lembaga pendidikan milik pribumi.

Pada peresmian Islamic Center juga dibagikan buku biografi KH Noer Alie oleh KH Nurul Anwar Lc, serta tausiyah oleh ulama Betawi KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i.

Kecemburuan Sosial, Pembangunan Bekasi yang Tidak Merata

HMINEWS.Com – Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, menilai peradaban Bekasi sebelum tahun 1970-an peradaban Bekasi sesungguhnya ada di Utara. Sebelum adanya Kawasan Industri.

“Peradaban Bekasi itu adanya di Utara, lembaga-lembaga pendidikan itu ada di Utara, orang mencari kerja itu di Utara sebagai petani,” kata Sejarawan Bekasi Ali Anwar, Rabu (1/4/15).

Nah, di Selatan itu kan cenderung di perkebunan, karena di Selatan kehidupan sedikit. Lahannya luas, tapi pekerjanya sedikit. Sedangkan di Utara itu banyak penduduk, kalau kita mengacu kepada peta dari tahun 1970-an sampai awal 1990 itu kelihatan betul perkampungan itu adanya di Utara.

Tiba-tiba ada Industri yang justru memberikan limbah ke utara, dampaknya membuat mereka tidak dapat mencari mata pencaharian disitu.  Selain itu, lanjut dia, untuk mencuci mereka sudah tidak bisa lagi, karena sungai sudah tercemar. Kata dia, seiring perkembangan zaman perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi juga beralih kepusat kota.

“Perhatian Pemkab hanya ke pusat kota, yakni di Cikarang, Tambun, dan Lemah Abang, dan akhirnya wilayah utara pun tertinggal,” bebernya.

Dalam kondisi ketertinggalan ini, sambung dia, ditambah perhatian yang lemah, infrastruktur yang sedikit, SDM yang rendah, akhirnya terjadilah kecemburuan sosial.

“Jadi sangat wajar jika ada kecemburuan sosial, karena peradaban itu ada di Utara kemudian beralih ke Selatan, itu wajar jika mereka cemburu. Kalau Pemkab mau mensejahterakan masyarakat, sejahterahkan dulu yang paling bawah,” ujarnya.

Sebelum kita merdeka, terang dia, kita masih dijajah, yang disejahterakan itu kan level atas atau Selatan, sementara yang mayoritasnya justru diabaikan bahkan dieksploitasi. Begitu kita merdeka sudah jelas-jelas dalam Pacasila dan UUD 1945 semua itu rakyat. Jadi seharusnya pola pikirnya yang paling pertama yang diutamakan itu lapisan paling bawah.

“Orang miskin masuk Rumah Sakit, gak punya duit itu yang diutamakan, orang yang sudah kaya gak perlu lah, mereka sudah bisa mandiri. Nah, orang miskin naik ojek saja susah,” tegasnya.

Termasuk infrastruktur seharusnya dibangun daerah yang terjauh dulu, kata dia, jadi pada saat mereka mengirimkan hasil pertaniannya mereka tidak sulit mengirimnya karena akses infrastruktur yang hancur, yang di kota ini kan pendatang baru, sedangkan yang di pelosok mungkin sudah 7 turunan di situ.

“Dahulukan yang di Pelosok yang mayoritas orang pribumi asli, jangan yang di kota yang notabanenya mereka pendatang,” pungkasnya. (Gun)

Para Wartawan Pamerkan Foto dan Gelar Budaya Bekasi

HMINEWS.Com – Kumpulan pewarta di Kota dan Kabupaten Bekasi menggelar pameran foto budaya. Betempat di halaman Kantor Kecamatan Tarumajaya, Bekasi, Sabtu (28/3/2015). Pameran juga dimeriahkan dengan atraksi pencak silat Betawi dalam ritual ‘Palang Pintu.’

Menurut salah seorang panitia, Ahmad Suryadi, perhelatan ‘Pameran Foto dan Gelar Budaya Bekasi’ ini merupakan bentuk kepedulian forum Lintas Wartawan Bekasi (Liwasi) terhadap budaya Bekasi, yang menurutnya kurang mendapat perhatian pemerintah setempat. Pameran ini terbuka dan gratis bagi warga masyarakat.

Foto-foto yang dipamerkan adalah hasil jepretan para pewarta yang tergabung dalam Liwasi. Dalam penampilan atraksi pencak silat, para pesilat menggunakan golok tajam. Ada juga yang menggunakan tongkat pada sesi penampilan tarung ‘Ujungan’.

“Seperti atraksi palang pintu, atraksi seni ujungan dan penampilan golok besar yang merupakan senjata tajam ciri khas Bekasi,” tutur pria yang akrab disapa dengan sebutan Kong Are ini.

 Sementara itu, Bupati Bekasi yang diwakili oleh Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas), Iyan Priyatna, mengatakan, bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Jurnalis Bekasi.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan positif, seperti melestarikan Budaya Bekasi dan menampilkan hasil foto para jurnalis Bekasi,” ujarnya.

Selah satu pengunjung Pamera Foto, Noni (12) mengatakan, adanya kegiatan ini menjadi inspirasi tersendiri bagi pelajar di wilayah Tarumajaya. Seperti mengenal Budaya Bekasi dan mengetahui langsung foto hasil jepretan wartawan Bekasi, terlebih kegiatan seperti ini jarang sekali ada di Tarumajaya.

“Kegiatan ini sangat menginspirasi bagi kita khususnya pelajar, dalam mengetahui budaya dan foto hasil jerpretan wartawan Bekasi,” ujar Noni di lokasi acara.

Hadir pula dalam pameran ini, Camat Tarumajaya Agus Sopian, Kapolsek Babelan Kompol Ardi Rahananto, Waka Polsek Tarumajaya AKP Kliwon, Danramil Tarumajaya Surya, Ketua Apdesi Agus Sopyan serta Tokoh Seni dan Budaya Bekasi. Ratusan warga pun berdatangan untuk melihat langsung pameran foto dan atraksi Budaya Bekasi yang makin langka ini.

Indra Gunawan

Syamsul Falah Kembali Pimpin Ikatan Keluarga Abituren Attaqwa

attaqwaHMINEWS.Com – Alumni Pesantren Attaqwa Bekasi, yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Abituren Attaqwa (IKAA) menggelar musyawarah nasional (Munas) di Griya Wulansari 3, Bekasi Selatan. Dalam Munas tersebut, Syamsul Falah kembali terpilih menjadi ketua umum, untuk satu periode selama 3 tahun ke depan (2014-2017).

Pemilihan formatur dalam musyawarah tersebut berlangsung Ahad (16/11/2014) sore, yang dipimpin oleh Dr. Umam dan Ustadz Kholil. Selain H. Syamsul Falah, M.Ec, ada beberapa nama lain dari angkatan atau periode yang berbeda mengemuka yaitu Dr. H. Saiful Bahri, M.Pd yang memperoleh 38 suara, dan H. Labib Rusydi, SE yang mendapatkan 10 suara. Syamsul mengungguli keduanya dengan perolehan 42 suara.

Sebelumnya, Munas yang berlangsung sehari tersebut dibuka oleh KH. Mista Suhanda. Sementara KH. Amin Noer sedang ada acara di tempat lain, sedangkan KH. Nurul Anwar tengah sakit. Hadir pula KH. Madrais Hajar yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Da’wah Bekasi dan kini mengelola Pesantren Darul Amal di Kampung Buni, Babelan Bekasi. Juga datang Ustazah Abidah serta para ustazah lain sesama alumni Pesantren Attaqwa yang didirikan oleh Pahlawan Nasional Alm KH Noer Alie tersebut.

Ketua terpilih, Syamsul Falah mengajak semua alumni Attaqwa untuk bersama-sama memajukan IKAA menjadi organisasi yang lebih baik lagi, serta lebih besar lagi kontribusinya bagi Bekasi dan Indonesia.

Wahyudin

Ribuan Peminat Padati Bekasi Edu Fair 2014

yangmuda1HMINEWS.Com – Ribuan pelajar dan calon mahasiswa datang berjubel memenuhi ruang Krakatau II Hotel Horison Bekasi, memilah-milih kampus mana yang akan menjadi tujuan mereka menempuh pendidikan tinggi. Saling bergantian mendatangi stand 48 perguruan tinggi peserta Bekasi Edu Fair 2014.

Acara tersebut diselenggarakan yangmuda.com, mutco, trenindonesia, serta disponsori hminews.com dan mustang88 FM, bertempat di Hotel Horison Bekasi, 15-16 November 2014.

Peserta yang datang adalah pelajar dan lulusan SMA di Bekasi dan Jakarta. Dengan hadirnya 48 perwakilan universitas di satu lokasi, memudahkan muda-mudi tersebut mendapatkan informasi yang dibutuhkan seputar kampus dengan seluk beluk pendidikannya.

Salah seorang ibu yang datang, Yati, datang bersama anaknya, Dito. Ia mengaku sebenarnya bisa saja mengakses informasi kampus-kampus dari internet, tetapi ia memutuskan untuk datang langsung ke tempat pameran, agar lebih memotivasi anaknya.

“Ya biar tahu bagaimana ketatnya persaingan kalau lihat banyaknya peminat,” ujarnya di sela pameran.

Seorang pelajar, Rendi, mengatakan sudah dua kali mengikuti pameran pendidikan. Pada pameran yang diadakan yangmuda.com ini, menurutnya, sangat memudahkan dia untuk membandingkan banyak kampus sekaligus, tidak sebagaimana pameran pendidikan yang ia datangi di Bandung, yang hanya diselenggarakan oleh sebuah kampus, itu pun di lapangan dengan panas yang terik.

Ia masih kelas 3 di SMA 9 Bekasi. Ia mengutarakan minatnya untuk kuliah di UNJ, dengan jarak yang juga menjadi pertimbangannya. Berbeda dengan Rendi, senior satu sekolahnya, Langgeng, telah kuliah di semester awal Universitas Trisakti. Ia masih memerlukan datang ke pameran untuk menambah wawasan terhadap kampus-kampus lain.

Minat Calon Mahasiswa

Peminatan calon mahasiswa cukup beragam. Menurut Cecep yang menjaga stand UIN Bandung, para pengunjung paling banyak menanyakan fakultas teknik. Sementara pada stand Paramadina, paling banyak diminati adalah program studi Hubungan Internasional, kedua adalah manajemen. Sedangkan pada stand Universitas Tarumanegara, kedokteran paling banyak ditanyakan, meski kuota mahasiswa kedokteran dibatasi 50 orang tiap tahunnya.

IMG_20141116_161231Tidak hanya berjaga di stand, delegasi kampus pun mempresentasikan kampus masing-masing di hadapan pengunjung. Menyampaikan keunggulan yang sekiranya bisa menjadi penyebab para calon mahasiswa itu menjatuhkan pilihan. Kampus yang membuka stand pun beragam, negeri dan swasta di Jawa dan Sumatra.