Temu Sastra, Karya 100 Penyair Indonesia-Malaysia Dibukukan

HMINEWS.Com – Kawah Putih kawasan Cibidey menjadi saksi berakhirnya Temu Sastra Indonesia-Malaysia (TSIM) ke-3 yang berlangsung 18-20 September 2015 di Bandung, Jawa Barat.

Kunjungan peserta ke objek wisata yang ramai pengunjung itu merupakan wisata budaya yang menjadi salah satu bagian kegiatan TSIM selain seminar internasional bahasa dan sastra Melayu di FIB Unpad, serta malam baca puisi di Kampung Pa’go Cibidey.

Secara resmi TSIM dibuka Jumat (18/9/2015) di NuArt Gallery dan ditutup Ahad (20/9). Sebanyak 100 penyair dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengikuti kegiatan itu. Pada kesempatan tersebut diluncurkan buku antologi puisi “Syair Persahabatan Dua Negara” karya 100 penyair Indonesia-Malaysia.

Seminar Internasional bertajuk “Bahasa dan Sastra Negara Serumpun dalam Perspektif Sejarah dan Masa Depan” dihelat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dan diikuti 250 peserta dari Indonesia, Malaysia, China, Korea, dan Jepang.

Seminar tersebut menampilkan pembicara utama dari Indonesia, yaitu Dr. Maman S. Mahayana (Universitas Indonesia), Dr. Wahya, M.Hum dan Dr. Muhammad Adji (Universitas Padjadjaran).

Sementara pembicara dari Malaysia yaitu SN. Dato Dr. Ahmad Khamal Abdullah (Universiti Putra Malaysia dan Presiden Numera), Prof. Madya Arba’ie bin Sujud, PhD (Universitas Putra Malaysia), dan Dr. Raja Rajeswari Seetha Raman (Institut Pendidikan Guru Kampus Bahasa Melayu Malaysia). Acara dipandu Dr. Enung Nurhayati, MA., Ph.D yang juga Ketua Panitia Lokal TSIM.

Di tempat terpisah, di malam apresiasi sastra di Kampung Pa’go, pemakalah pendamping juga mempresentasikan pokok-pokok pikirannya, yaitu Hasyuda Abadi (Malaysia), Abizai (Malaysia), Dr. Wannofri Samry (Indonesia), dan La Ino (Indonesia). Sesi ini dimoderatori Muhammad Subhan, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Jamuan makan malam dan pembacaan puisi berlangsung meriah di Kampung Pa’go Cibidey, Sabtu (19/9), malam. Dipandu penyair “Galodo” asal Sumatera Barat, Syarifuddin Arifin, tampil membaca puisi Shirley Idris, Raja Rajeswari, Abizai, Arba’ie bin Sujud (Malaysia), Hasboulah, Nawawie (Thailand), Soni Farid Maulana, Wannofri Samry, Syarifuddin Arifin, Nani Tandjung, Akhmad Taufiq, Enung Nurhayati, Yurnaldi, Muhammad Subhan, Moh. Ghufron Cholid, Dimas Indiana Senja, Ebramsyah Barbarey, Kurniawan Junaedi, Dino Umahuk (Indonesia), dan sejumlah nama lainnya.

Antusias Peserta

Ketua Panitia TSIM Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, Akt., Msi., CA., mengatakan, antusias peserta dan pemakalah TSIM ke-3 cukup besar. Selain jumlah peserta yang hadir, juga terlihat dari banyaknya prosiding yang masuk.

“Namun, karena keterbatasan waktu, prosiding seminar internasional hanya membukukan sebanyak 12 makalah sastra dan bahasa dari Indonesia, Malaysia dan Thailand,” ujar Sastri Bakry, Selasa (22/9).

Hal menarik disampaikan Maman S. Mahayana menyikapi usaha memajukan dan mengakrabkan kesusasteraan Indonesia-Malaysia, yaitu melakukan penerjemahan karya sastra Indonesia-Malaysia dan sayembara kepenulisan kedua negara. Selain itu memperbanyak usaha penerbitan buku kedua negara.

“Penting juga dipertimbangkan pendirian sebuah bangunan bernama sastra serumpun sebagai pintu masuk untuk menciptakan kesepahaman tentang keberagaman budaya masing-masing dengan tetap dilandasi atau dijiwai semangat keserumpunan,” ujarnya. (rel)

‘Yang Utama’, Buku Baru tentang H.O.S Tjokroaminoto

HMINEWS.Com – Aji Dedi Mulawarman, doktor akuntansi syariah di Universitas Brawijaya, Malang, menulis buku tentang Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto dengan judul ‘Yang Utama.’ Buku ini akan diluncurkan April mendatang.

Dalam bukunya yang diterbitkan oleh Penerbit Galang Press ini, Aji Dedi mengungkapkan banyak hal yang belum diketahui oleh khalayak tentang tokoh Sarekat Islam yang dijuluki ‘Raja Tanpa Mahkota’ tersebut. Bahkan fakta dan data yang dibantah oleh keluarga Cokro sendiri. Di antaranya adalah bahwasannya Tjokro merupakan satu di antara sedikit tokoh ‘priyayi’ pada zaman kolonial yang menanggalkan gelar kebangsawanannya dan memilih membaur dan bergerak bersama orang kecil.

“Tjokro menghilangkan gelar ‘Raden Mas’ di depan namanya yang merupakan identitas priyayi Jawa sebagai simbol anti aristokrasi,” ungkap Aji Dedi dalam suatu pertemuan di sebuah hotel di Jakarta, Ahad (1/3/2015) dinihari.

Tak hanya itu, gelar ‘Haji Oemar Said’ pun ia singkat menjadi ‘H.O.S’. Menurut Aji Dedi, ini merupakan bentuk konsistensi Tjokro pada Islam Kerakyatan dan anti aristokrasi. Sebagaimana tertulis dalam sejarah, Tjokro merupakan anak seorang pejabat pemerintah waktu itu, sedangkan kakeknya merupakan Bupati Ponorogo.

Aji Dedi mengungkapkan, Tjokro mengajarkan kepada kita semangat anti borjuasi, menghormati persamaan kedudukan manusia di hadapan Allah, sebagaiman yang dicontohkan oleh Nabi. Meski begitu, pembelaan Tjokro tidak hanya terhadap orang kecil sebagaimana sosialisme Marx, tetapi ia berusaha merangkul dan menyadarkan semua golongan. Maka tak heran jika Sarekat Islam yang dipimpinnya itu mempunyai anggota dari semua lapisan masyarakat dan mencapai jumlah yang sedemikian besarnya, tak tertandingi untuk ukuran zaman itu.

Besar dan kuatnya Sarekat Islam, semasa masih berupa ormas maupun setelah menjadi partai politik, juga tak lepas dari pola perkaderan yang diterapkannya. Pada waktu itu, masa perkaderan calon anggota SI memakan waktu hingga 6 bulan. Dalam perkaderan ini hanya disampaikan 3 hal dengan tiga orang pemateri; yaitu materi ‘Islam’ yang disampaikan KH. Mas Mansur, ‘Sosialisme’ yang disampaikan oleh Suryopranoto, serta ‘Islam dan Sosialisme’ oleh Tjokroaminoto sendiri.

Jika saat mengikuti materi ‘Islam’ dan ‘Sosialisme’ para peserta mengantuk, maka berbeda sama sekali ketika mereka mengikuti pemaparan tentang ‘Islam dan Sosialisme.’ Semua mengikuti dengan penuh antusias dan tidak ada yang mengantuk. Hal ini tak lepas dari retorika Tjokro yang luar biasa, yang kemudian hal ini pula yang tak diluputkan untuk dipelajari oleh Sukarno darinya.

Adapun kontroversi tentang sosok Tjokro, menurut Aji Dedi, tak lepas dari upaya pembunuhan karakter oleh pihak kolonial. Di antaranya adalah bahwa pernikahan kedua Tjokro, dengan seorang seniwati, selalu dihembuskan sebagai tindakan yang tidak terpuji. Hal ini pula, ketika Aji Dedi mencoba mengkonfirmasikan ke keluarga Tjokro, terlihat keengganan mereka membicarakannya.

Aji Dedi berkeyakinan, wanita dalam pernikahan kedua Tjokro tetap merupakan orang baik-baik. Tak mungkin Tjokro salah memilih atau terjebak dalam urusan ini. Juga, fitnah yang ditujukan kepada Tjokro pada periode akhir hayatnya, yitu fitnah menggelapkan uang organisasi.

Dalam banyak kesempatan berkunjung ke daerah-daerah Tjokro selalu menggunakan uang pribadinya untuk kepentingan partai. Bahkan tak jarang ia sampai harus berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya, naik turun gunung untuk menjangkau rakyatnya.

Jika Tjokro terindikasi menggelapkan uang partai, maka tak mungkin orang-orang seperti Haji Agus Salim terus membersamainya hingga akhir hayatnya.

Penasaran dengan kisah lengkap H.O.S. Tjokroaminoto? Nantikan buku ‘Yang Utama, Jejak H.O.S. Tjokroaminoto.’

Luncurkan Empat Buku, FAM Indonesia Rayakan Ulang Tahun Ketiga

HMINEWS.Com – Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia memperingati hari lahirnya yang ke-3 pada Ahad (1/3/2015). Helat ultah ditandai dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama sebagai tanda syukur atas eksisnya komunitas penulis yang berbasis di Pare, Kediri, Jawa Timur itu.

Di momen bahagia tersebut juga diluncurkan empat buku, yaitu “Sajak-Sajak Dibuang Sayang” (kumpulan puisi) karya Muhammad Subhan, “Sepucuk Surat Beku di Jendela” (kumpulan cerpen) karya Aliya Nurlela, “Glosarium Istilah Perpustakaan” dan “Serba-Serbi Koleksi Perpustakaan” (buku referensi perpustakaan) karya Suharyanto. Keempat buku karya pegiat dan anggota FAM Indonesia tersebut diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia.

Perayaan Ultah ke-3 FAM Indonesia dihadiri sejumlah anggota dan simpatisan FAM yang datang dari berbagai kota di Tanah Air, di antaranya Takengon (Aceh), Padangpanjang (Sumatera Barat), Ciamis (Jawa Barat), Kolaka (Sulawesi Tenggara), Toli-Toli (Sulawesi Tengah), Pare, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Lamongan, Surabaya (Jawa Timur), dan Papua.

Selain pemotongan tumpeng, juga dibacakan refleksi 3 tahun FAM Indonesia yang merupakan ulasan singkat perjalanan komunitas penulis itu sejak berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 lalu. Ketum FAM Indonesia Muhammad Subhan menyampaikan kilas-balik sejarah lahirnya FAM Indonesia yang bermula dari dunia maya lalu berkembang di dunia nyata.

“Semoga semangat gerakan menulis dari kota Pare ini bisa meluas hingga ke seluruh penjuru Tanah Air,” katanya.

Muhammad Subhan menyebutkan, FAM Indonesia ingin melanjutkan gerakan yang telah dibuat banyak penulis di masa lalu, yaitu gerakan cinta membaca buku dan menulis karangan. Gerakan itu harus dilakukan bersama-sama.

Fathur Rohim Syuhadi, anggota FAM Indonesia asal Lamongan dan Suryadi asal Malang menyampaikan syukur dan antusiasnya atas perjalanan FAM Indonesia yang telah mencapai usia tiga tahun. Di tahun-tahun berikutnya harapan mereka FAM semakin eksis dan terus menyebarkan semangat menulis, khususnya di kalangan pelajar.

Sementara itu, Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela memberikan motivasi khususnya kepada anggota FAM yang hadir untuk tidak pernah berhenti menulis. “Titik jenuh mungkin ada dan itu lumrah, tapi bagi seorang penulis tangguh tak kenal kata jenuh apalagi berhenti,” kata penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” itu. (rel)

Mendikbud Buka Islamic Book Fair 2015

HMINEWS.Com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, membuka Islamic Book Fair ke-14 di Istora Senayan, Jakarta. Dalam kesempatan ini ‘Mas Menteri’ juga menyampaikan sejumlah hal, terutama mengenai pentingnya buku dan kegiatan membaca.

“Pentingnya buku, dan pentingnya membaca adalah pesan yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan Al-Qurán yang agung pun disebut dengan nama ‘Kitab.’ Perintah membaca ada dalam wahyu pertama, Iqra’ bismi rabbika, dan walaupun ditujukan lewat Nabi yang tidak pandai membaca, ini menunjukkan pentingnya bacaan,” kata Anies Baswedan, Jumat (27/2/2015).

Menurut Mendikbud, dalam pandangan Islam, ada ungkapan yang sangat populer bahwa sebaik-baik teman adalah buku. Karena buku dapat mempengaruhi emosi – membawa kegembiraan dan kebanggaan atau sebaliknya. Buku juga teman yang luar biasa tulus, menyampaikan apa adanya.

Dalam konteks kebudayaan, Mendikbud menyatakan, buku menggambarkan peradaban dalam konteks masyarakatnya. karenanya di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, dan di pameran (Islamic Book Fair) ini pun kita melihat bahwa buku-buku Islami itu bukan hanya yang berbicara tentang berbagai aspek ibadah maupun aqidah, namun yang mencerminkan nilai-nilai dan budaya yang sejalan dengan Islam.

“Buku-buku Islami sangat luas berbicara tentang kedamaian, keadilan, tanggung jawab pada alam, profesionalisme dalam bekerja, penghormatan pada negara, dan lain sebagainya,” ujar Anies Baswedan.

Menurut Mendikbud, dukungan pada industri perbukuan juga merupakan sebuah pesan tegas menciptakan peradaban yang lebih baik. Dalam kaitan ini komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini ditunjukkan lewat dukungannya pada peran Indonesia sebagai guest of honour di Frankfurt Book Fair 2015, yang akan berlangsung beberapa bulan mendatang.

Menteri Anies Baswedan melihat dari sisi pendidikan, buku terbukti merupakan alat belajar-mengajar yang sangat efektif untuk memberdayakan siswa, guru dan semua pihak yang terlibat.

“Penggunaan berbagai jenis buku yang beragam sebagai sumber belajar dan dukungan dari Pemerintah untuk menyebarluaskan konten dan pemikiran yang inovatif menjadi bagian yang sangat penting dari upaya peningkatan mutu dan juga pemerataan akses pendidikan,” kata Anies yang juga menyebut bahwa peningkatan akses terhadap pendidikan merupakan salah satu dari tiga kerangka strategis (Trisentra) Kemendikbud.

Pertama, penguatan pelaku pendidikan dan kebudayaan. Kedua, percepatan peningkatan mutu dan akses pendidikan. Ketiga, pengembangan efektifitas birokrasi pendidikan melalui perbaikan tata kelola dan pelibatan publik.

Satu hal lagi yang penting, menurut Menikbud, adalah pembentukan kebiasaan membaca yang baik, setiap hari, yang dibangun di sekolah dan rumah lewat berbagai upaya.

“Pembaca yang baik, akan menjadi bagian dari pemikir dan orang-orang yang berkarya dengan baik bagi Indonesia,” kata Anies Baswedan.

Antisipasi V-Day, Hizbul Wathan Lamongan Gelar Workshop Menulis

??????????????????????HMINEWS.Com – Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Daerah Lamongan- Jawa Timur menggelar Workshop Motivasi Menulis, Sabtu (14/2). Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Aliya Nurlela tampil sebagai narasumber.

Acara yang bertempat di lantai 3 Kampus STIKES Muhammadiyah Lamongan itu, diikuti 150-an siswa dan guru perwakilan dari 34 SMA/MA/SMK se-Kabupaten Lamongan. Peserta sangat antusias mendapatkan materi motivasi dari Aliya Nurlela yang juga seorang novelis.

Pembina Hizbul Wathan Lamongan Fathurochim Suryadi mengatakan, motivasi menulis tersebut diadakan dalam rangka memotivasi siswa bagaimana seharusnya mereka menyalurkan bakat.

“Acara ini juga sengaja diadakan pada tanggal 14 Februari, bertepatan hari Valentine Day, agar konsentrasi siswa dialihkan pada kegiatan yang lebih positif,” ujarnya.

Selain workshop, Fathurochim Suryadi juga berencana menggagas pembentukan cabang FAM Lamongan. Saat ini telah dipersiapkan calon pengurus yang terdiri dari kalangan guru, mahasiswa dan pelajar di daerah itu.

Sementara di Padangpanjang, Sumatera Barat, sebanyak 20-an siswa MAN X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, mengikuti Training Jurnalistik bersama Muhammad Subhan, penulis dan Ketum FAM Indonesia. Narasumber lainnya, Ismail Sakban, mantap wartawan di salah satu televisi swasta di Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, Muhammad Subhan menyebutkan bahwa keterampilan jurnalistik harus dimiliki siswa sebab banyak peristiwa di lingkungan sekolah yang bisa ditulis dan dilaporkan.

“Menjadi wartawan sekolah dengan sendirinya siswa mengangkat potensi sekolah,” kata Muhammad Subhan yang juga mantan wartawan surat kabar harian di Padang.

Dia menganjurkan kepada pihak sekolah agar mewadahi bakat menulis siswa lewat penerbitan majalah sekolah. Dengan adanya majalah itu, siswa dapat menyalurkan kemampuan menulisnya. “Belum banyak sekolah yang mampu dan berani menerbitkan majalah sekolah. Tentu terkait dana juga. Tetapi sejumlah sekolah lain di Indonesia malah eksis menerbitkan majalah siswa,” katanya.

Ditambahkan, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia sebagai komunitas kepenulisan nasional, secara rutin masuk ke sekolah-sekolah di berbagai kota di Indonesia untuk memberikan bimbingan menulis kreatif dan jurnalistik. Dari bimbingan itu diharapkan melahirkan banyak penulis aktif dan kreatif. (rel)

Perlakukan Karya Tulis Seperti “Anak Sendiri”

HMINEWS.Com – Karya tulis, apa pun jenisnya, perlu diperlakukan seperti anak sendiri. Penulis, sebagai orang yang melahirkan karya itu, harus mempunyai rasa kasih sayang sehingga “anak” yang dilahirkannya dapat tumbuh besar, dan kelak, kehadirannya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Demikian dikatakan Muhammad Subhan, motivator kepenulisan dari Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang tampil sebagai pembicara bersama penulis best seller Asma Nadia di hadapan 200-an peserta Seminar Nasional bertajuk “Bring Your Future Today With Writing” yang ditaja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (25/12).

“Karya tulis saya ibaratkan anak yang dilahirkan seorang ibu. Proses melahirkannya berdarah-darah, antara hidup dan mati. Ketika anak itu lahir, orangtua si anak harus ikhlas menerima apa pun bentuk fisik anaknya, baik sehat maupun cacat,” ujar Muhammad Subhan yang juga penulis sejumlah buku.

Dia mengilustrasikan, dalam kehidupan nyata, banyak bayi atau anak yang “dibuang” dan ditelantarkan orangtuanya lantaran si anak tidak sesuai harapan, seperti cacat fisik atau berkebutuhan khusus. Padahal, anak itu karunia Tuhan.

“Kejam sekali jika ada orangtua membuang atau menelantarkan anaknya. Padahal, siapa tahu, atas izin Tuhan, kelak si anak menjadi orang hebat,” papar mantan Manajer Program Rumah Puisi Taufiq Ismail (2009-2012) itu.

Dalam proses kreatif menulis, karya tulis yang lahir, sejelek apa pun, tetap memberikan manfaat, setidaknya bagi diri si penulis. Sebab menurutnya, inspirasi tulisan juga merupakan anugerah Tuhan. Maka, ketika tulisan lahir tetapi hasilnya kurang bagus, tugas penulis sebagai “orangtua” merawat dan membesarkannya, agar kelak menjadi bagus.

“Cara merawatnya, lakukan editing berkali-kali, perbaiki jika terdapat kekeliruan, tulis sekreatif mungkin. Selain itu, setelah karya terbit, penulis harus sadar promosi untuk membesarkan karyanya,” kata Muhammad Subhan yang juga mantan wartawan salah satu koran harian di Padang.

Sementara itu, Asma Nadia berbagi kiat bagaimana menulis novel yang baik dan diminati pembaca, khususnya kalangan muda. Penulis buku best seller “Catatan Hati Seorang Istri” yang telah disinetronkan itu, saat ini merilis novel terbarunya dan juga diangkat ke layar lebar, yaitu “Assalamualaikum Beijing”.

“Insya Allah film ini tayang perdana akhir bulan ini (Desember) di seluruh bioskop di Indonesia,” kata Asma Nadia.

Seminar Kepenulisan Nasional itu diikuti para calon penulis, di antaranya pelajar, mahasiswa dan kalangan umum lainnya yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Peserta juga dihibur oleh seniman musik, M. Jujur yang membawakan beberapa lagu ciptaannya. M. Jujur pernah diundang menjadi bintang tamu di acara Kick Andy Metro TV (2012).  (rel)

Ikhsan Hasbi Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kearifan Lokal

HMINEWS.Com – Ikhsan Hasbi, penulis muda asal Kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kearifan Lokal. Cerpennya berjudul “Apam” menyisihkan 57 cerpen karya peserta lainnya yang berasal dari berbagai kota di Tanah Air. Juara 2 diraih Raflish Chaniago (Painan, Sumatera Barat) dengan judul cerpen “Mamak”, sementara Juara 3 diraih Farihatun Nafiah (Jombang, Jawa Timur) dengan judul cerpen “Gerdu Papak”.

Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional yang dihelat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia itu, menurut Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela, pemenangnya diumumkan pada Rabu (12/11/2014), malam di Pare, Kediri, Jawa Timur.

“FAM Indonesia mengucapkan selamat kepada para pemenang, dan terima kasih kepada peserta yang ikut berpartisipasi,” ujar Aliya Nurlela, Kamis (13/11) siang.

Dia menyebutkan, selain mengumumkan pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih tujuh cerpen pilihan, yaitu karya: Reffi Dhinar, Sidoarjo-Jawa Timur (Nyadran), Latiffah Fajar Rahayu, Klaten-Jawa Tengah (Tenong Bu Sri), Jane Yova C, Palangkaraya (Saat Katiow Berbuah), Ana Nasir, Medan (Charles, Aku Keturunan Mandailing), Cinta Okta Edverliano, Semarang (Wamena Oh Wamena), Ajeng Mawaddah Puyo, Gorontalo (Satu Nol Nol Nol Lebih Alasan), dan Amrul Fajri, Sigli-Aceh (Prahara Meugang).

“Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia memberikan sejumlah hadiah sebagai kenang-kenangan berupa uang tunai, paket buku dan piagam penghargaan,” ujar Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh.”

Ditambahkan, lomba tersebut telah dimulai sejak tanggal 1 Oktober 2014 dan ditutup pada 31 Oktober 2014. FAM Indonesia menerima 58 naskah cerpen. Dari jumlah itu, sebanyak 35 naskah terpilih dibukukan, termasuk karya nominator dan pemenang.

“Setelah membaca keseluruhan naskah, menilai kesesuaian isi dan tema, teknik penceritaan, gaya bahasa dan EYD, serta amanat yang disampaikan penulis kepada pembaca, maka tim juri memilih tiga cerpen yang layak menjadi juara,” ujarnya. (rel)

Relawan Terbitkan Buku Perjalanan Kampanye Jokowi

Buku JokowiHMINEWS.Com – Berbarengan dengan pelantikan Jokowi-Jusuf Kalla, Penerbit Bentang (Grup Mizan) menerbitkan sebuah buku yang mengisahkan pernik-pernik perjalanan kampanye Jokowi bersama para relawannya.

Buku berjudul “Selamat Datang Presiden Jokowi” tersebut ditulis oleh para relawan dan simpatisan Jokowi seperti komedian Pandji Pragiwaksono, penulis Dewi (Dee) Lestari, aktivis Usman Hamid, dan sebagainya.

Menurut salah satu penulis, M Chozin Amirullah, buku tersebut merupakan catatan-catatan berserakan dari para penulis yang kemudian dikumpulkan oleh penerbit.

“Penerbit Bentang Pustaka yang berjasa mengkompilasi berbagai tulisan relawan dan diwujudkan dalam sebuah buku. Setidaknya itu akan menjadi catatan sejarah mengenai hiruk-pikut perhelatan politik ke arah perubahan baru yang lebih baik,” ungkap mantan ketua umum PB HMI tersebut.

Chozin adalah salah satu relawan Jokowi yang berkesempatan mengikuti langsung perjalanan Jokowi keliling Indonesia selama satu bulan kampanye. Tulisan Chozin adalah petikan dari catatan perjalanannya bersama Jokowi selama sebulan tersebut.

Penerbit Bentang tidak mengkomersilkan buku tersebut, malah sengaja menggratiskannya. Versi e-book juga disediakan dan bisa didownload secara gratis di toko online Mizan.

Buku Kapita Umar Shihab Inspirasi dari Banyak Tokoh

bukuHMINEWS.Com – Menurut Prof. Dr. Umar Shihab, inilah orang-orang besar yang menginspirasinya menulis buku Kapita Selekta Mozaik Islam. Sebagaimana ia tulis dalam kata pengantar, pertama ada Dr. Mohammad Natsir (Ketua Masyumi), yang pernah memberinya buku ‘Capita Selecta’-nya yang terkenal itu dikala Umar Shihab masih SMA.

Di waktu itu Umar Shihab remaja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan tokoh yang pernah memimpin suatu partai yang mempersatukan semua partai Islam di Indonesia. “Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, memang memiliki cita-cita menjadi orang pandai. Seraya tersenyum, Pak Natsir megnatakan ‘Kamu harus banyak membaca dan belajar dari Abah, karena beliau orang alim!” tulisnya di paragraf pertama buku ini.

Buku Capita Selecta pemberian Pak Natsir itu ia baca halaman demi halaman, hingga akhirnya timbul harapan untuk bisa membuat buku seperti itu. “Tahun demi tahun harapan itu terngiang selalu, bahkan hingga saat setelah sarjana, sewaktu saya belajar di Kairo. Kini, setelah lebih dari lima dekade, keinginan saya untuk memebuat karya seperti Pak Natsir akhirnya dapat terwujud. Buku dengan judul Kapita Selekta Mozaik Islam ini tidak lain adalah terinspirasi dari karya Pak Natsir di atas.”

Kemudian ada tokoh Buya Hamka, yang pertama jumpa di Masjid As-Sa’id guna menghadiri perayaanMaulid Nabi. Buya sengaja diundang oleh Prof. Abdurrahman Shihab, ayah Umar Shihab, untuk berceramah.

Buya memberikan contoh toleransi dalam perbedaan sesama muslim, yaitu beliau ikut berdiri saat pembacan Maulid. Sedangkan dalam ceramahnya Buya Hamka mengajak hadirin pada persatuan Islam dan tidak mudah terpancing dan terprovokasi menanggapi isu-isu khlafiyah.

“Beliau menyebut bagaimana sikap Syafi’i saat berada di Baghdad, di mana mayoritas masyarakat muslim di sana penganut Hanafi. Wkatu salah subuh, Imam Syaafi’i tidakqunut. Orang bertanya, ‘Mengapa Anda tidak qunut?” Imam menjawab, “Aku menghormati penghuni kuburan di situ;” maksudnya adalah menghormati Abu Hanifah.”

Berturut-turut, tokoh lain disebutkan ada Abu Bakar Atjeh, Ustad Husain al-Habsyi pendiri Pesantren YAPI Bangil, Abdul Ghafar Ismail ayah dari Taufiq Ismail, yang dikenal sebagai mubalig ulung, yang juga dijuluki ‘pencerah qalbu.’ Ada pula A.R Baswedan,  yang pernah mendirikan Partai Arab Indonesia, serta K.H Saefuddin Zuhri, Menteri Agama di era Sukarno.

Semua tokoh tersebut juga menggambar beragamnya corak Islam di Indonesia, yang dengan demikian membuat Umar Shihab untuk berpandangan terbuka dan bisa menerima berbagai perbedaan itu sebagai suatu kekayaan atau khazanah yang patut dipelihara. Hal itu juga tak lepas dari corak yang diwariskan sang ayah, Prof. Abdurrahman Shihab, yang pada masanya merupakan tokoh yang dekat dengan semua kalangan.

Adapun buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama Tafsir Al Qur’an, yang membahas seputar orisinalitas Al Qurna, signifikansi dan relevansi aspek sosio-historis dalam penafsiran Al Qur’an, tafsir tematik, titik temu ijtiha dan tafsir.

Bagian dua membahas Ijtihad dan isu-isu kontemporer, perbedaan pendapat dan cara menyikapinya, dimanika sosial, signifikansi Islam terhadap perubahan perilaku dan pola pikir, dunia modern dan tantangannya terhadap Islam, serta manusia, hak asasi serta probelamtikanya.

Bagian tiga mengulas Hukum Islam dan Tantangan Zaman, meliputi hukum dalam ranah ibadah, pidana, perdata dan lainnya. Seputar pembaharuan hukum, orientasi hukum dalam Islam, serta fleksibiltas hukum dalam Al Qur’an. Buku setebal 464 halaman ini diberi pengantar oleh Din Syamsuddin.

Milad ke-75, Umar Shihab Luncurkan Buku

B0LsTvyCUAAKF0H
Prof. Dr. Umar Shihab memberikan buku kepada beberapa tamu kehormatan (foto: @khoirondurori)

HMINEWS.Com – Di usianya yang ke-75, Prof. Dr. Umar Shihab menerbitkan sebuah buku yang telah lama diidamkannya. Buku yang merupakan inspirasi dari sejumlah tokoh nasional yang pernah bertemu dan mewarnai corak keberagamaan sang professor.

Peluncuran buku digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014) malam. Dihadiri ratusan orang, termasuk sejumlah tokoh nasional seperti mantan Wapres Tri Sutrisno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan KH Ma’ruf Amin.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pertama dekat dengan Prof. Umar Shihab sewaktu sama-sama satu komisi DPR RI tahun 99 dan membahas Undang-undang, khususnya Undang-undang tentang penyelenggaraan haji dan undang-undang zakat. Saat itu Lukman Hakim Saifuddin pernah lebih dahulu berbicara, di forum, kemudian, Prof. Umar Shihab berbicara setelahnya, yang menyampaikan hal yang berbeda. Dengan itu ia pun mengetahui bagaimana keluasan ilmu Prof. Umar Shihab, sehingga..

“Sejak itulah saya kemudian tidak berani berbicara sebelum beliau bicara,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Din Syamsuddin, yang juga menyinggung apa yang ditulisnya dalam pengantar buku, menyampaikan tentang toleransi dan tafsir kontekstual atas problematika kontempores.

“Tasir semacam ini sejalan dengan ijtihad yang berfungsi sebagai instrumen yang dapat mengantisipasi sekaligus memberikan solusi bagi segala persoalan kemasyarakatan dalam dunia islam. Dua senjata intelektual Islam inilah, tafsir kontekstual dan ijtihad yang nantinya menghasilkan produk hukum maupun kebijakan yang menjadi jawaban bagi beragam persoalan yang datang,” ungkapnya.

Din juga menyinggung dinamika sunni-syiah, yang timbul pasca wafatnya Rasulullah. Untuk itu, ia mengajak, agar umat muslim Indonesia menyikapinya dengan arif, dan sebaiknya memakai ‘standar minimal’ dalam menilai keislaman seseorang, yaitu pengakuan atau persaksiannya terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini saja seharusnya bisa mencegah sesama muslim dari permusuhan.

Dari sekitar duaratus lebih hadirin, sebagian di antaranya merupakan masyarakat keturunan Arab. Di akhir acara, KH. Ma’ruf Amin membawakan doa untuk bangsa, para hadirin dan khususnya yang tengah berulang tahun ke-75, yaitu Prof. Dr. Umar Shihab sendiri. Seluruh peserta yang datang mendapatkan buku yang dicetak penerbit Mizan tersebut.