Ali Jaka 4

“Kalau kita begini terus, aku pulang saja! Mana cukup belanja satu juta sebulan. Dapat apa uang segitu! Belanja harian saja sudah habis,” kata istri laki-laki muda itu. Anak-anak mereka sudah tidur. Laki-laki itu tertunduk. Dia sebetulnya tidak tahan harga dirinya dibanting begitu rupa. Habis mau nambah berapa lagi, gajinya juga Rp. 1,3 juta. Sementara istrinya tidak mau memahami keadaannya itu.

“Nih, ambil saja!” Tiba-tiba istrinya meletakkan uang 1 juta itu di hadapannya. Terbayang betapa susahnya dia mengumpulkan 1 juta rupiah itu dalam 25 hari kerja. Sebetulnya, jika tidak mempertimbangkan nasib anak-anaknya, sudah sejak lama dia berniat memulangkan perempuan itu ke orang tuanya. Namun terbayanglah di matanya bagaimana pilunya nasib buah hatinya, jika tumbuh dan dewasa tanpa belaian dua orang tuanya secara lengkap. Sementara istrinya, sama sekali tak memperhitungkan hal itu. Perempuan itu begitu ambisius dalam mengejar materi. Istrinya itu berhasrat sekali hidup layaknya kelas menengah, punya mobil, rumah yang besar, dan duit yang terus menerus tersedia.

“Aku besok sama anak-anak pulang saja. Aku tidak mau hidup miskin. Sudah 5 tahun kita lalui, hidup kok begini terus. Memang saya nggak bisa kaya tanpa kamu?” kata istrinya ketus.

“Ok. Silakan kau besok pulang.” Laki-laki malang itu tak mampu melanjutkan ucapannya. Luka hatinya sangat dalam. Dihina sebagai laki-laki dan ayah, disudutkan karena ketidakberdayaan secara ekonomi.

Dia tinggalkan perempuan berhati kasar itu. Dia pergi ke rumah temannya untuk meredakan luka hatinya. Kepingin sekali dia hendak menampar mulut istrinya yang lancung, tapi dia berusaha sadar diri jangan sampai tangannya menghantam pipi seorang perempuan. Dia tak sanggup lakukan perbuatan itu, karena dia ingat ibunya yang juga perempuan.

Malam itu dia benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Bayangan-bayangan peristiwa selama 5 tahun hidup bersama, muncul silih berganti. Mulai dari pertama berjumpa dengan perempuan itu. Waktu itu tampaklah kesan baginya bahwa perempuan itu cocok sekali dengan impiannya. Ada kesan tegar dalam sorot mata perempuan tersebut. Dia pun berpikir, sekiranya hidup bersama, susah senang bukanlah sesuatu yang berat bagi perempuan tersebut. Demikianlah dia menduga-duga waktu itu.

Kemudian muncul pulalah bayangan saat mereka di pelaminan. Dirayakan demikian megahnya. Seluruh kerabat meramaikannya. Lantas lahirlah anak-anak mereka yang lucu. Setiap hari, sebelum berangkat ke kantor di Jakarta, senantiasa dia antarkan terlebih dahulu anak-anaknya ke TK. Tidak hanya itu, dia pun selalu memandikan anak-anaknya. Menghandukinya, memakaikan baju seragam TK, menyisiri rambut anak-anaknya, sampai mengantarkan dengan mobil tuanya ke TK anak-anaknya. Dia tidak pernah lupa bagaimana indahnya ketika kedua buah hatinya duduk melambaikan tangan kepada Ibu mereka dengan mengucapkan, “Daaa….Ibu. assalamu’alaikum!!”

Kini dia merasa adegan-adegan semacam itu di hari-harinya yang akan datang sudah tidak ada lagi. Perempuan yang telah melahirkan anak-anaknya yang manis itu, telah menghancurkan cerita dan menggantikannya dengan cerita lain: seorang ayah yang terhina dan dipaksa pisah dengan permata-permata hatinya.

“Om, kok belum tidur?” tegur Ali Jaka. Ali Jaka melihat lelaki itu menatap ke langit-langit kamar tidur bagaikan orang yang sedang menerawang.

“Nggak apa-apa,” jawab lelaki itu sembari menoleh ke Ali Jaka. “Ayahmu belum pulang, Li?” tanyanya balik.

“Belum, Om. Biasanya pulang jam satu malam.”

“Kok, gitu?”

“Ya. Lagi banyak kerjaan katanya.”

“Ohh.”

Tidak berapa lama kemudian, suara mobil menderu memasuki garasi rumah. Seorang laki-laki berusia 40 tahun, muncul dari balik pintu depan. “Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!”

“Hei, kompek. Datang kau rupanya. Sudah lama?” tanya laki-laki itu.

“Baru,” jawab laki-laki yang baru bertengkar dengan istrinya itu. Mereka berdua adalah kawan karib sejak sama-sama aktif pada sebuah kelompok mahasiswa. Kelompok mereka, 20 puluh tahun yang lalu merupakan kelompok yang paling menonjol melancarkan protes-protes kepada pemerintah dan perusahaan-perusahaan tambang.

Kini, masing-masing melakoni nasib dan hidupnya. Meski terpaut lima tahun antara mereka berdua, namun persahabatan mereka tidak terpisahkan oleh umur yang berjarak. Nasib saja yang berbeda. Konrad, ayah Ali Jaka, telah menikah sejak usia 20 tahun. Namun ketika melahirkan Ali Jaka, istri Konrad meninggal dunia akibat pendarahan hebat. Maklum, ketika itu, persalinan istrinya dilakukan di rumah seorang dukun kampung. Belum sempat diantar ke rumah sakit yang jaraknya puluhan kilo meter dari desa, istrinya telah menghembuskan nafas terakhir. Konrad sangat menyesal tidak sempat menolong nyawa istrinya. Yang dia syukuri, anak laki-laki yang dilahirkan istrinya, selamat dan kini sudah kuliah. Sejak itu dia tidak kunjung mencari pengganti istrinya.

“Man, kau tidurlah duluan. Besok pagi kita ngobrol,” pinta Konrad kepada sohibnya itu. Astaman yang mendengar saran Konrad, berjalan menuju kamar tidur. Kamar tidur itu, selalu menjadi tempatnya jika bermalam di rumah Konrad. Sedangkan Ali Jaka dan ayahnya, Konrad, sejak balita sudah tidur sekamar. Meskipun Ali Jaka telah dewasa, tetap saja dia tidak bisa pisah kamar dari ayahnya.

Astaman tetap tidak bisa memejamkan mata. Terbayang di matanya, kedua permata hatinya. Dia belum siap menjalani hidup seperti Konrad. Apalagi antara Konrad dengan dirinya berbeda. Konrad ditinggal mati istrinya. Sedangkan dia calon yang akan ditinggalkan hidup istrinya. Ah..hidup ini sangat memalukan jika cerai hanya gara-gara persoalan ekonomi. Tapi mau apa lagi. Itulah kenyataan yang sedang dia hadapi.

Selama ini dia tak pernah bayangkan, perceraian terjadi gara-gara ekonomi. Apalagi jika dia bandingkan dengan rumah tangga yang dibina oleh kedua orang tuanya yang jauh lebih susah dari rumah tangganya, tapi tak pernah dia mendengar pertengkaran meledak antara kedua orang tuanya. “Apa karena Ibu dan Ayahku tak mengecap perguruan tinggi yang mengajarkan sikap liberal?” batinnya. “Kurang sengsara apa, Ibu. Kadang kami harus makan nasi aking. Tapi nggak ada protes. Wajah Ibu tetap seteduh pohon beringin. Ibu…anakmu rindu memeluk wajah welas asihmu.”

Semalaman penuh dia mengenang perjalanan hidupnya. Mulai dari kecil hidup di pelosok Jawa. Kuliah di Bandung, lalu bertemu seorang gadis sekampus yang kemudian menjadi istrinya. Hingga kokok ayam bersahutan menandakan subuh telah datang, matanya tetap menyala. Jiwanya lelah. Dia mencoba menyegarkan pikirannya dengan menunaikan shalat Subuh. Setelah itu tetap saja dia tidak bisa tidur.

Pagi sudah menyapa. Mbok Sita telah menghidangkan sarapan di meja makan. Ali Jaka sudah siap dengan sendok dan garpunya. Demikian pun dengan Konrad, ayah Ali Jaka. Astaman dengan tenang melangkah untuk bergabung ke meja makan. Buah-buahan segar terdiri dari semangka, pepaya, rambutan, dan manggis telah dari tadi menunggu tangan-tangan yang siap menyantapnya.  Segelas susu coklat di hadapan masing-masing dari orang-orang yang mengitari meja itu telah tersedia. Nasi, gule asam ikan baung hasil tangkapan Konrad seminggu sebelumnya, mengepul di hadapan mereka. Udang goreng dan sambal goreng teri medan tidak kalah sedapnya merayu-rayu selera makan.

Sebetulnya mereka sedang makan siang apa sarapan? Begitu kira-kira dugaan heran orang Jakarta yang tidak mengenal gaya makan Konrad yang berasal dari Tapanuli. Bagi orang Tapanuli, pagi, siang, atau malam, jika makan, ya tetap makan dalam porsi besar. Semua waktu jika tiba saatnya makan, ya makan besar, selama bisa dipenuhi.

Ayah dan anak itu seperti beradu kuat menyantap hidangan. Tapi tidak dengan Astaman. “Hei, Man! Ada apa denganmu? Kenapa kau tak santap gule baung, tu? Biasanya kau yang duluan menyambarnya, jika ada gule baung,” tanya Konrad kepada sahabatnya, Astaman.

“Nggak apa-apa, Rad,” jawab Astaman singkat.

“Ada masalah apa, kau?”

“Ah, kau tak perlu tahu.”

“Woi! Sejak kapan pula aku tak perlu tahu dengan masalahmu, Man? Mana boleh.”

“Ah…sudahlah, Rad.”

Konrad memandangi sahabatnya itu dengan tajam. Dia dapat menangkap ada masalah serius yang membebani Astaman.

“Om, Ayah. Ali duluan, ya.” Tiba-tiba Ali Jaka menyela.

“Sepagi ini? Tumben kau ini,” jawab Ayahnya.

“Ya. Aku mau ada urusan dengan calon pembimbing skripsi.”

“Ya, sudah. Hati-hati ya, Nak.”

“Sip. Assalamu’alaikum!”

“Kum salam.”

Selepas Ali Jaka meninggalkan mereka, kembali Konrad bertanya kepada Astaman. “Man, cobalah kau cerita. Ada masalah apa rupanya, kawan?”

“Begini, Rad. Istriku memutuskan pulang ke orang tuanya. Sebetulnya dia sudah berkali-kali menguatarakan hal itu, tapi selalu dapat kuurungkan niatnya. Kalau ada masalah sedikit, selalu saja dia mengancam pulang. Selama ini memang aku sengaja merendahkan hati untuk menghalangi niatnya. Bagaimana pun aku lebih baik menanggung rasa sakit hati ketimbang melihat anak-anakku menghadapi kenyataan pahit berpisah dari ayahnya. Tapi tadi malam aku sudah panas, Rad. Dia betul-betul merendahkanku hanya karena uang pemberianku tak cukup bagi dia. Aku persilahkan saja dia pulang seperti keinginannya itu,” ujar Astaman panjang lebar.

“Jadi istrimu itu sudah pulang?” tanya Konrad bermaksud memastikan.

“Pulang atau tidak pulang, aku tak peduli.”

“Bagaimana dengan anak-anakmu?”

“Mereka ikut ibunya.”

“Kenapa tidak ikut kau saja?”

“Aku ini tak tega jika anak-anak nanti bertanya dimana Ibu mereka. Kalau aku, karena sering bepergian, anak-anak tidak terlalu heran jika aku tak ada. Mungkin nanti saatnya, anak-anak aku tarik ke sini.”

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Konrad.

“Lagi pula aku sudah muak, Rad. Kayak aku tak bisa cari yang lebih baik dia pikir. Kupikir selama ini aku sangat setia, Rad. Persoalan kami hanya soal duit. Aku akui aku miskin, Rad, sehingga tak bisa memberinya uang berlebih. Tapi, tak pernah juga kami terancam kelaparan.”

Konrad dengan cepat menghubungi nomor istri Astaman. “Hallo! Asslamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam,” jawab istri Astaman. “Siapa ini?” sambungnya.

“Ada Astaman, Bu?” tanya Konrad berpura-pura.

“Nggak ada.”

“Saya Konrad, temannya Astaman. Ibu ada di rumah?”

“Nggak. Saya lagi menuju stasiun.”

“Emang, mau kemana, Bu?”

“Mau jalan-jalan sama anak. Pulang ke rumah neneknya.”

“Apa masih pulang lagi ke rumah di Bekasi?”

“Lho, kenapa tanya?”

“Nggak apa-apa kok, Bu. Soalnya saya ada proyek dengan Astaman. Tadi saya pikir Astaman ikut juga menyusul Ibu ke rumah neneknya.”

“Nggak. Dia tetap di Bekasi, kok. Saya dan anak-anak saja yang pulang.”

Astaman tidak menyangka jika Konrad sekonyong-konyong menghubungi istrinya. Timbul rasa ngilu jika mengingat sikap istrinya tadi malam. “Kau nggak usah bela-belain hubungi istriku, Rad. Sudah kubilang, mau pulang atau tidak, aku sudah biarkan. Yang penting, anak-anak aman dulu.”

“Aku turut prihatin, Man. Semoga jalan keluar tidak lama datang menghampirimu, kawan,” hibur Konrad.

“Terima kasih perhatianmu, Rad. Aku dalam waktu dekat ini, mengambil S2 ke Medan saja. Sekalian melupakan dia. Kebetulan telah lama aku menaruh minat studi antropologi terkait objek kajian Mandailing. Kudengar di Unimed ada seorang professor yang siap membimbing mahasiswa S2 dalam kajian budaya Mandailing.”

“Kenapa pula kau tertarik dengan objek studi semacam itu?”

“Rad, biar bagaimana pun, meskipun aku lahir di Jawa, ibuku juga Jawa, tapi kan ayahku Mandailing. Aku mau memahami akarku sendiri.”

Konrad pun sebetulnya menyimpan hasrat untuk melanjutkan studi. Namun karena kesibukannya sebagai pengusaha, hasrat itu dia tepiskan. Usahanya di bidang alat-alat kesehatan dan farmasi belum sepenuhnya mapan, tetapi keuntungan yang dia raih sudah lebih dari cukup untuk membiayai dirinya dan putranya, Ali Jaka.

“Aku mau membantumu, Man. Aku tahu problemmu adalah soal uang. Aku ini kawanmu. Kupikir tak ada salahnya kau sambil kuliah di Medan, menyambi pula sebagai prinsipalu untuk perusahaan. Bagaimana? Kau mau, Man?” tanya Ali Jaka.

“Kau serius, Rad?” tanya Astaman balik.

“Ah…kau kayak tak kenal aku saja. Kapan aku tak serius padamu, Man?”

“Baiklah. Aku terima usulmu.”

Akhirnya mendung yang menggelantung di raut wajah Astaman, perlahan-lahan sirna, berganti setitik demi setitik sinar cerah. Betapa tidak, dia tidak saja akan menggenapi hasratnya untuk S2 antropologi, tapi juga sekalian bisa cari duit lewat bisnis alat kesehatan di tempatnya nanti yang baru.

Ali Jaka 3

Awal bulan Mei. Jakarta kembali bergeliat dinamis. Warna merah, biru, dan sebagian putih, mewarnai jalan Sudirman, Thamrin hingga Medan Merdeka. Warna-warna itu bergerak bagaikan sapuan kuas di atas kanvas yang memanjang berkilo-kilo meter. Mobil-mobil dan bus yang biasa menjadi penguasa jalanan Ibu Kota, kali ini terpaksa tersingkir dan hanya mampu merangkak. Suara dari pengeras suara dengan lantang keluar.

“Kawan-kawan! Rapatkan barisan. Jangan terprovokasi. Ingat, tuntutan kita sederhana. Naikkan upah sekarang juga!!,” kata seorang orator.

Dua ratus meter di atas massa menyemut itu, sebuah heli lewat membisingkan telinga. Di dalamnya tiga orang pria, plengak-plengok melihat ke bawah mereka. Yang seorang pilot, dua yang lainnya, bos besar berusia 60 tahun, dan seorang CEO berumur 40 tahun. Mereka itulah pemilik perusahaan real estate raksasa dan pemimpin puncak dari PT. Pigland Tbk. Rupanya pagi itu mereka hendak menuju kantor pusat PT. Pigland yang berdiri megah di bilangan Rasuna Said.

CEO yang berpakaian jas hitam dengan dasi biru itu mulai mengoceh. “Buruh di sini memang nggak tahu diri,” katanya sambil menoleh ke bawah dari kursinya di heli itu. “Syukur mereka dikasi kerjaan sama pengusaha. Coba kalau pengusaha pindah ke Vietnam, mereka bisa apa?” lanjutnya. Bos besar dengan jas biru tanpa dasi tidak menyahuti ocehan CEO kesayangannya itu. Dia terus saja mengawasi buruh-buruh yang bergerak ritmis di bawah mereka.

Dari sekian banyak CEO-CEO perusahaan miliknya, hanya George Sudibyo yang paling sering diajak mendampingi dirinya jika sedang berada di Indonesia. Maklum, dalam sebulan dia dengan teratur membagi waktu. Sepekan di Singapura, sepekan lagi di Hongkong, sepekan lainnya di Shanghai, barulah sepekan berikutnya di Jakarta.

Meskipun dia kelahiran Surabaya, tapi familinya masih banyak yang tinggal di Cina daratan. Kakeknya, pertama kali datang ke Indonesia, jauh sebelum kepulauan ini bernama Indonesia. Saat itu, di Cina daratan terjadi perang candu. Berbekal nekat dan informasi alakadarnya bahwa sepupunya ada yang menetap di Surabaya, maka kakeknya pun berlayar menuju Surabaya. Hanya dalam sebulan setelah tiba di Jawa, kakeknya sudah menemukan sepupunya itu. Ternyata sepupu kakeknya itu merupakan pengusaha yang menekuni usaha perdagangan beras. Usahanya berkembang hingga sepupu kakeknya itu telah memiliki 10 toko beras dan 2 kilang penggilingan padi.

Pertama kalinya, kakeknya membantu sebagai juru bayar terhadap para petani yang menjual beras ke pabrik sepupunya. Dengan cepat, kakeknya sudah menguasai seluk beluk bisnis beras dan menguasai pula sifat dan kelemahan para petani. Para petani itu, jika tiba saatnya panen, tiba-tiba nafsu konsumtif mereka melonjak drastis. Beli ini, beli itu. Yang tidak seharusnya dibeli pun, dibeli hanya untuk bersenang-senang. Bahkan yang menyedihkan, para petani itu tidak segan untuk berutang.

Demikianlah, kakeknya melihat celah bisnis yang bagus. Dia pun menawarkan pinjaman uang yang bisa dibayar atau dicicil setelah panen dengan cara dipotong dari harga jual panenan, tapi dengan syarat, para petani itu harus membeli barang yang dibutuhkan tersebut ke dia. Dan syarat berikutnya adalah jaminan sawah, tanah dan rumah para petani yang mengutang tersebut. Para petani melihat tawaran tersebut suatu yang bagus bagi jalan keluar bagi mereka. Banyaklah di antara para petani itu yang meminjam uang kepada kakeknya. Mereka meminjam untuk konsumsi barang-barang seperti baju, lemari, sepeda, dan peralatan dapur. Semua barang-barang itu dipasok oleh kakeknya juga. Ibaratnya, kakeknya yang menyediakan uang, kakeknya pula yang menyediakan barang. Para petani cukup menyiapkan stamina untuk kuat mencicil dan menyediakan kolateral berupa tanah, rumah dan sawah. Tiba-tiba sejumlah besar petani telah tergantung hidupnya kepada kakeknya. Satu per satu aset pare petani berpindah tangan kepada kakeknya.

Tanpa pernah belajar jadi bankir, kakeknya yang tamatan ELS pun tidak, telah menerapkan fungsi dan cara kerja bank dalam menjalankan bisnis. Di samping itu, kakeknya dengan cerdik memompa hasrat konsumtif para petani, supaya terus berbelanja kepadanya. Singkat cerita, aset kakeknya meluas kemana-mana. Pabrik, sawah, armada angkutan, toko, dan orang-orang yang menggantungkan hidup dengan suka cita, baik sebagai babu, jongos, centeng, administratur, backing polisi, kuli, hingga pejabat yang kartu trupnya ada di tangan kakeknya, sudah menjadi satu kesatuan organik yang selalu siap menjadi tulang punggung usahanya,

Dari kakeknya, kemudian diturunkan ke ayahnya, lalu sekarang kepada dirinya sebagai generasi ketiga. Semua aset, semua arsip, semua tradisi, semua reputasi, semua rahasia, semua jaringan, semua resep, semua amanat kakeknya, semua-muanya kini berada di genggamannya. Dia bertanggung jawab menjaga warisan dan amanat itu. Laiknya seorang pangeran bertanggung jawab menjaga warisan kerajaan. Tidak juga itu, tapi warisan itu harus dikembangkan, dan jangan pernah runtuh. Hanya ketika masa-masa perang, usaha yang dirintis kakeknya itu mengalami kemerosotan yang parah.

Beberapa pabriknya ada yang terbakar. Tidak diketahui secara pasti, apakah dibakar para serdadu untuk taktik bumi hangus, atau memang terbakar tanpa sengaja. Namun dengan kelihaian dan ketajaman intuisi kakeknya dalam melihat mata angin perubahan, akhirnya usahanya tersebut selamat hingga sekarang. Saat itu, kakeknya dengan cerdik membangun hubungan dengan salah seorang komandan tentara republik. Dia dengan suka rela memainkan fungsi perdagangan klandestein guna mengatasi suplai logistik pasukan maupun rakyat pada umumnya. Beberapa kapalnya yang masih tersisa, mengimpor barang-barang dari Penang dan Singapura. Sesekali dia juga menyelundupkan bahan bakar dan senjata kepada kaum Republikan. Pada saat yang sama dia juga mengapalkan hasil-hasil bumi lokal seperti kopra, lada, kedelai, jagung, cengkeh, dan kopi ke Penang dan Singapura untuk kemudian masuk ke dalam sistem perdagangan internasional. Mengingat saudara-saudaranya ada yang berbisnis di Penang, Singapura dan Hongkong, dia mengaktifkan hubungan famili itu menjadi poros yang mengembangkan bisnisnya secara kuat. Demikianlah zaman berganti, tantangan juga berganti, tapi usahanya tidak pernah surut. Bahkan setelah masuk zaman normal, ketika kaum Republik memenangkan peperangan, bisnisnya tak ada kerikil yang dapat menghambat lajunya lagi. Pemerintah suka sekali menunjuk perusahaan kakeknya untuk menangani proyek-proyek besar.

Di heli itu, owner PT. Pigland Tbk tersebut terkenang wajah kakeknya yang teguh. Sama seperti raut wajahnya. Teguh, kening lebar, rambut memutih, dan botak yang menginvasi sebagian rambut di kepalanya.

Heli itu bergerak turun perlahan menuju helipad yang tersedia di puncak sebuah gedung jangkung. Meraung-raung  memekakkan telinga. Debu-debu beterbangan. Pohon-pohon berkibar-kibar akibat dorongan angin yang dihempas-hempaskan oleh baling-baling helikopter berwarna perak tersebut.

Dua orang laki-laki turun tergopoh-gopoh dari dalam heli. Jas mereka melambai-lambai terkena terpaan angin. Beberapa orang pengawal pribadi, atau lebih tepatnya, jongos keamanan pribadi, telah menunggu dengan sigap. Potongan rambut mereka cepak, tinggi atletis, raut wajah keras seperti karang, beringas, tapi ketika menerima tips yang kadang-kadang jumlahnya 100 dollar, wajah beringas itu tiba-tiba sumringah dan ayu, seolah menyampaikan pesan kepada si pemberi tips: saya akan selalu setia kepada tuan, kapan pun.

Entah kapan CEO dan pemilik PT. Pigland Tbk pernah berdinas di militer, anehnya para jongos itu mengangkat tangan ke kening masing-masing seraya memberi hormat secara militer. CEO dan lelaki botak pemilik PT. Pigland hanya menatap sekilas untuk memastikan apa benar para jongos itu masih orang-orang yang sama. Kemudian mereka menuruni anak tangga dan akhirnya tiba di depan sebuah lift khusus yang menghubungkan helipad dengan sebuah ruangan besar yang menjadi kantor bos besar tersebut.

Beberapa orang telah menunggu dengan siap di jejeran kursi yang mengitari sebuah meja besar. Tampaklah di sana, Meiliana, Vice President untuk Corporate Communication dan Pengawasan Citra Perusahaan. Gadis itu sibuk menyiapkan data di laptopnya. Ada juga, Musdiono yang dirinya lebih suka dipanggil Pak Dion daripada Pak Mus, karena menurutnya nama Dion lebih keren, memberi kesan internasional, ketimbang Mus, yang terkesan lokal dan udik. Musdiono adalah Direktur PT. Security Andalan, mitra kerja PT. Pigland Tbk untuk upaya pembebasan lahan yang akan disulap menjadi Superblok baru di Jakarta. Sebetulnya tidak tepat 100 % jika disebutkan PT. Security Andalan sebagai mitra bagi PT. Pigland. Karena antara PT. Pigland dan PT. Security Andalan tidak dalam posisi sejajar. Seringkali PT. Security Andalan menempatkan diri sebagai piaraan sekaligus perusahaan suruhan bagi PT. Pigland. Lagi pula setiap ada order dari PT. Pigland, jarang sekali terjadi penandatanganan MOU atau SPK. Toh setiap bulan PT. Security Andalan menerima aliran dana dari PT. Pigland Tbk, ada atau tidak ada order. Bagi PT. Pigland sendiri, keberadaan PT. Security Andalan yang terikat secara moral kepada mereka, merupakan keuntungan tersendiri. PT. Pigland mendapatkan benteng dan nama baik di kalangan para pemuda pengangguran yang direkrut melalui PT. Security Andalan secara outsourching. Banyak dari pemuda-pemuda tersebut ditempatkan sebagai Satpam, petugas parkir, driver perusahaan, office boy, cleaning service, dan aneka pekerjaan mengandalkan otot lainnya. Pemuda-pemuda tersingkir dari arena pertarungan ekonomi tersebut, tentu saja senang dengan kesempatan yang diberikan oleh PT. Pigland. Sedangkan PT. Security Andalan hanya bertugas melatih kedisiplinan khas tentara kepada pemuda-pemuda yang rata-rata tidak hanya sampai lulus SMP-SMA tersebut.  Begitu mereka direkrut oleh PT. Security Andalan, jangan harap ada pilihan untuk keluar sebelum mencapai 10 tahun batas kontrak kerja. Jika sebelum masa ikatan kerja 10 tahun itu diakhiri sepihak oleh rekrutan tersebut, maka sama halnya dipandang desersi. Dan apabila desersi, nyawa terancam.

Demikianlah, baik PT. Pigland Tbk maupun PT. Security Andalan, mendapatkan surplus tenaga buruh yang murah dan pasti. Beratus-ratus milyar telah direguk oleh PT. Security Andalan dari jasa suplai buruh murah ke berbagai perusahaan, baik di lingkungan grup PT. Pigland Tbk maupun mitra-mitra perusahaan PT. Pigland sendiri. Pendeknya, sistem outsourching benar-benar memberikan keuntungan yang tak tertara bagi PT. Security Andalan maupun PT. Pigland Tbk.

Bos besar dan CEO PT. Pigland Tbk masuk ke dalam ruangan. Musdiono, spontan bangkit member hormat secara militer. Meiliana juga berdiri sembari membungkukkan badan. Bos besar dan CEO PT. Pigland Tbk mengambil tempat duduknya masing-masing. Rapat pun dimulai.

“Selamat siang. Sebagaimana yang sudah saudara-saudari ketahui, kami ingin mendengar secara langsung laporan perkembangan upaya pembebasan lahan untuk Superblok Permata Pigland yang sedianya dapat diselesaikan akhir akhir bulan ini. Sebab, jika upaya pembebasan lahan itu tersendat, maka rencana akan mempengaruhi rangkaian rencana berikutnya. Sekarang saya silahkan saudari Meiliana melaporkan terlebih dahulu,” ujar CEO PT. Pigland membuka rapat secara langsung. Memang gaya rapat orang-orang PT. Pigland selalu to the point. Mereka pantang buang-buang waktu untuk basa-basi yang tidak perlu. Mereka menyadari betul pentingnya waktu, barang semenit pun.

Baik, Pak Goerge,” sambut Meiliana. “Perkembangan terakhir terkair upaya pembebasan lahan memang tersendat di lokasi 101.” Meiliana menunjukkan titik lokasi pada layar infocus. Selain lokasi 101, yang lain nyaris tidak ada hambatan berarti. Sebagian tinggal dibayar saja. Namun ada kehawatiran, pemilik lahan 101 ini dapat mempengaruhi pemilik lahan-lahan lain.”

“Apa sih masalahnya?” tanya Soe Kiat, Bos besar agak penasaran.

“Lokasi 101 dengan luas 1000 meter milik seorang bernama Haji Maih. Sudah dicoba untuk membujuk yang bersangkutan supaya melepas tanah tersebut, tapi orang ini tidak bergeming. Terakhir kita sudah minta Pak Dion, pimpinan PT. Security Andalan, membereskan masalah tersebut. Mungkin kita perlu mendengarkan laporan langsung dari Pak Dion,” ujar Meiliana panjang lebar seraya mengalihkan pandangannya kepada Musdiono. Semua mata beralih menuju Musdiono.

“Begini, Pak. Saya sudah mulai tangani masalah pembebasan lahan 101 tersebut, begitu email Ibu Mei kami terima. Saya sudah ketemu langsung pemilik tanah. Orangnya memang rada-rada keras kepala. Biasalah, orang Betawi. Tapi jangan hawatir, bisa dibereskan, Pak,” kata Musdiono dengan maksud menenangkan hati Bos besar sembari cari muka.

“Gini, Mus,” Soe Kiat angkat bicara. “Masa lu nggak bisa bereskan masalah sekecil itu?” tekan Soe Kiat.

“Saya usahakan secepatnya, Pak!” jawab Musdiono. Dalam hatinya ngedumel, “Ini Pak Soe Kiat, mentang-mentang Bos, dari dulu, nggak pernah panggil saya dengan nama Dion.”

“Ok. Kalau gitu, paling telat seminggu ini, kami tunggu goodnewsnya dari Pak Dion,” ujar Goerge Sudibyo, CEO PT. Pigland Tbk seraya hendak mengakhiri rapat. Hanya saling tatap antara Soe Kiat dengan Musdiono maupun Meiliana, itu pertanda bahwa masalah tersebut harus selesai secepatnya. Dengan cara apapun. Sebab, blueprint Superblok tersebut telah dibuat, dan lahan 101 tepat menjadi lokasi gedung landmark Superblok Permata Pigland. Sungguh aneh, jika landmark tidak bisa dibangun, padahal justru landmark itu sendiri yang menjadi ikon dari design Superblok tersebut.

Akhirnya hati Musdiono sedikit terobati tatkala CEO PT. Pigland Tbk menyebut namanya dengan Pak Dion. Entah kenapa, setiap kali orang memanggilnya dengan Dion, rasa pedenya berkibar dan jiwa mudanya kembali hidup. Sedangkan jika orang memanggilnya Pak Mus, dia merasa seolah orang udik di pedalaman Jawa Tengah.

(Syahrul Efendi Dasopang)

Keterangan: foto Antara

Ali Jaka 2

Anak muda itu dengan gesit menunggangi trail Kawasaki-nya. Menerobos jalanan macet dari Pasar Rebo, melewati TB Simatupang, berkelok ke kiri menuju Lenteng Agung, seterusnya lurus menuju Depok, kampusnya di Fakultas Hukum UI. Banyak pengendara mobil memaki-maki gara-gara nyaris menyerempet trailnya. Bukan karena takut menabrak anak muda tersebut. Mereka lebih hawatir jika mobil-mobil kreditan mengkilap itu tergores. Tapi anak muda itu tidak peduli. Sekali gas ia melesat meninggalkan orang-orang kantoran yang dilanda stress itu.

Kali ini tanpa sengaja, akhirnya stang motornya menyenggol kaca spion sebuah sedan berwarna metalik. Di dalamnya seorang gadis bermata sipit, berusia 22 tahun, dengan cepat menghentikan mobilnya. Kaca jendela mobilnya ia turunkan. Anak muda itu dengan sportif ikut berhenti. Ia meminta maaf atas ketidaksengajaannya itu. Rupanya gadis itu tidak terima minta maaf begitu saja. Soalnya kaca spion mobilnya retak dan sebuah goresan besar menggaris gagang spionnya.

 “Apa katamu!? Minta maaf? Tidak semudah itu,” hardik gadis itu. Orang-orang di belakang mereka mulai ribut. Suara klakson beradu kencang.

“Ok. Lebih baik kita selesaikan di pinggir jalan,” kata anak muda itu dengan tenang. Ia dengan pelan-pelan menuntun motornya ke tepi jalan. Demikian juga gadis itu. Lalu turunlah gadis dengan tubuh semampai berkulit kuning langsat dibalut rok hitam setinggi lutut dengan blaser dengan warna sepadan.

“Hei! Kau taruh dimana matamu. Kenapa kau senggol mobilku?” serbu gadis itu sambil berkacak pinggang dengan tidak sabar.

“Sorry, Non. Tadi mataku saya taruh di kaca spion mobilmu. Makanya stang motorku mengarah ke situ,” jawab anak muda itu  dengan lembut, tenang, tapi rada menantang. Matanya tajam menusuk mata gadis itu.

“Kurang ajar, ya. Kau menantangku?”

“Saya sudah kelebihan ajaran. Aku tidak menantangmu. Kalau aku menantangmu, tentu aku tidak meminta maaf tadi. Dan kalau aku kurang ajar, aku tidak perlu repot-repot meladenimu sepagi ini. Kau bisa kutinggalkan di situ, dan aku ngebut,” jawab anak muda itu santai.

Baru kali ini gadis itu bertemu dengan seorang yang dingin, kukuh, sableng, namun agak nakal. Akan tetapi rasa nakalnya tidak biasa. Kenakalannya bertanggung jawab.

“Aku minta rugi,” kata gadis itu ketus.

“Apa yang merugikanmu?” balas anak muda itu.

“Hei. Kaca spion mobilku telah kau rusak. Dan kau harus ganti itu!”

“Enak saja. Kau yang merugikanku. Kau telah menyita waktuku terbuang percuma. Coba sekiranya kau tidak berada di jalan itu, aku bisa lebih mulus mengendarai motorku. Dan aku bisa tiba tepat waktu ke kampus. Dan perlu kau tahu ya, kerugian immateril yang menimpaku gara-gara kau di jalanan ini, jauh lebih besar ketimbang hanya sepotong kaca spion mobilmu. Sebetulnya aku berniat menuntut ganti rugi atas hal itu, tapi mengingat kau seorang gadis, aku urungkan niat itu,” ujar anak muda itu dengan sorot mata tajam menghunjam.

Rambut ikalnya sebahu, yang sedikit awut-awutan karena tidak di sisir, dengan jaket jins salju yang tampaknya sudah sebulan tidak pernah ketemu Rinso, membuat nyali gadis itu menciut. Apalagi ia sendirian pula.

Dengan perasaan kesal, ia memalingkan diri. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Untuk melampiaskan rasa dongkolnya, pintu mobilnya ia hempaskan. Sekali lagi ia mencoba menatap anak muda itu. Alis anak muda yang tebal, memancarkan pesona kejantanan yang membuat dirinya terhanyut. Untunglah gadis itu pintar menguasai diri sehingga tidak ketahuan bahwa diam-diam ia menaruh rasa tertarik kepada anak muda tersebut.

Sepeninggal gadis itu yang telah menyita waktu perjalanannya menuju kampus, ia pun kembali mengendarai motor trailnya. Suaranya yang keras, meraung-raung membelah menuju Margonda Raya. Bagi sopir-sopir angkot jurusan Rambutan – Depok, tingkah anak muda yang satu ini di jalanan, bukan barang baru. Mereka selalu berpapasan dengan dia. Apalagi jika sore hari, anak muda itu suka nongkrong bersama mereka di terminal Depok sambil bermain kartu.

Motor trailnya yang tinggi, membuat gayanya laksana sedang menunggang kuda Arab. Motornya sengaja diberi warna hitam putih belang-belang layaknya seperti Zebra. Bagi sopir angkot temannya yang kepingin mencicipi garangnya motor itu, dia biarkan saja. Asal tanggung jawab menungganginya dengan baik.

“Li, emang lu di UI ngapain aja, sih?” tanya Johan, sopir angkot teman main kartunya. Maklumlah, Johan Simorangkir, hanya sampai merasai SMP. Dia pikir kuliah itu seperti SMP, jika hari Senin, harus apel bendera dulu. Masuk kelas ramai-ramai, tertib, dan tidak boleh sembarang masuk. Diabseni satu per satu oleh ketua kelas, dan pakai seragam sekolah.

“Gua lihat lu banyakan nongkrong di sini. Lu nggak takut distrap sama guru?” tanya Johan polos dengan penasaran.

“Distrap apaan? Nggak ada acara strap-strapan,” jawab Ali Jaka.

“Lalu kalau bolos, diapain dong sama Kepala Sekolah, lu?”

“Gini, Han. Unversitas itu sistemnya beda sama sekolah. Kita anak mahasiswa yang nentuin. Bukan dosen atau rektor. Kita mau lulus cepat, bisa. Mau mahasiswa abadi, juga bisa. Di situ ada namanya SKS. Gua mau bilang apa ya sama lu. Habis lu bandinginnya sama SMP, sih. Mana nyambung, Han,” terang Ali Jaka pada sohibnya itu.

“Apa tuh SKS?” tanya Johan.

“Sistem Kejar Setoran,” jawab Ali Jaka. Dia tidak sedang bermaksud meledek Johan, tapi supaya alam pikiran Johan dapat nyambung membandingkan dengan dunia sopir angkot.

“Wah, kayak sopir angkot, dong,” kata Johan gembira karena merasa dapat memahami.

“Iya,” jawabnya pendek.

“Pantesan lu cocok di sini.” Maksud Johan, Ali Jaka merasa cocok bergaul dengan mereka, sopir-sopir angkot yang selalu kejar setoran.

“La iya.”

Johan cengengesan. Kini ia merasa derajatnya tidak lebih rendah dari Ali Jaka. “Sama-sama kejar setoran ternyata kita…” katanya. Selama ini ia berpikir, kalau orang sudah kuliah, pasti kelasnya sudah beda dengan dirinya yang cuma tamatan SMP. Sedikit-dikitnya, orang kuliahan nantinya akan jadi manager.

Manager, menurut bayangan Johan, orang yang memberi gaji dan mengatur sopir-sopir seperti dirinya. Pakaiannya necis, dan bermobil, seperti Bu Tarni, manager perusahaan yang memiliki armada angkot tempatnya bekerja sebagai sopir. Kini pandangannya tentang orang kuliah itu, diam-diam ia koreksi. Orang kuliah ya…orang kejar setoran juga seperti dirinya.

“Han, gua cabut dulu, ya,” kata Ali Jaka, sembari berdiri dari tempat ia duduk dari tadi. “Hei, bos. Gue cabut, ya,” katanya lagi kepada sopir-sopir angkot yang juga ikut nongkrong di situ.

Tempat nongkrong mereka itu ialah sebuah meja kayu besar selebar satu meter kali dua meter dikitari empat kursi panjang dari papan. Di samping tempat nongkrong itu, tante Surmin membuka warung kopi dan rokok. Konsumennya adalah sopir-sopir angkot.

“Buset lu, Li. Baru gua pesanin kopi, udah cabut aja, lu,” ujar salah seorang sopir dengan maksud bergurau.

Ali Jaka sudah paham gaya tersebut sehingga ia merasa tidak perlu menanggapinya. Ia dengan tenang naik ke atas trailnya dan langsung hidupkan mesin. Bruuumm!! Motor itu mengaum. Dia pun melaju meninggalkan mereka. Kali ini tujuannya menuju Fakultas Hukum UI. Ada kabar melalui SMS yang dikirimkan temannya. Prof. Jonky baru saja pulang dari Leiden, Belanda, sekarang sedang mengisi stadium general di kampus. Prof. ini seorang ahli hukum agraria terkemuka, mempunyai informasi yang lengkap tentang sejarah landreform di Indonesia, konlik agraria, hingga data-data mengenai manipulasi oleh berbagai perusahaan dan kroni rezim Orde Baru. Ali Jaka merasa sayang sekali jika melewatkan waktu tanpa sempat berkenalan dengan Profesor yang terkenal suka keluyuran ke berbagai lokasi konflik agraria tersebut.

Setibanya di kampus, tanpa membuang waktu, ia buru-buru menuju ruang auditorium. Ratusan orang dengan tekun menyimak ulasan Prof. Jonky. Ali Jaka sudah tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya ia memutuskan berdiri saja. “Konflik agraria di Indonesia akan tetap menjadi bom waktu. Jika suatu waktu disulut, maka akan dapat meledak menjadi malapetaka bagi integritas bangsa ini. Pada masalah inilah sebenarnya bermuara segala harapan rakyat akan mendapatkan kehidupan yang lebih adil dan pemerataan yang lebih efektif. Hanya dengan menyiagakan tangan-tangan negara yang represif, sehingga konflik agraria dapat diulur untuk tidak meletus. Pertanyaannya, diulur sampai kapan?”

Itulah beberapa materi studium general yang disampaikan oleh Prof. Jonky. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh hadirin, dia layani dengan tuntas. Sampai kemudian stadium generale itu ditutup oleh moderator, dan orang-orang bubar dengan teratur.

Ali Jaka kemudian menemui Prof. Jonky. Ia menyalaminya dengan hangat. Tapi karema Prof. Jonky sibuk meladeni koleganya yang lain, maka dia cuma dengan dingin membalas sapaan Ali Jaka. Padahal Ali Jaka ingin sekali berbincang-bincang dengan Profesor tersebut. Akhirnya Ali Jaka meninggalkan Prof. Jonky yang sedang sibuk menyambut kolega-kolega kampusnya itu. Betapa tidak, sudah setahun ini, Prof. Jonky meninggalkan UI dan diminta oleh Universitas Leiden untuk mengajar dan meneliti di sana.

Ali Jaka berjalan menuju taman. Dia duduk sambil memesan segelas kopi di kantin. Makalah stadium generale Prof. Jonky kebali dia baca. Di makalah itu tertera biodata Profesor Jonky sekaligus nomor telepon dan email. Dia berpikir, suatu waktu dia dapat menghubungi profesor tersebut terkait masalah konflik agraria di Indonesia.

“Hai, Li! Lu kan nyari referensi buat skripsi, Lu? Minta aja sana Prof. Jonky. Dengar-dengar dia semingguan berada di Jakarta,” kata Winny dengan maksud membuka percakapan dengan Ali Jaka. Sebab sudah seminggu Winny tidak melihat batang hidung Ali Jaka di kampus. Ali Jaka yang diajak bercakap-cakap oleh Winny, cuma memandanginya sekejap, lalu matanya kembali tertuju kepada makalah Prof. Jonky.

Winny mencoba duduk di atas batu dekat Ali Jaka, lalu mulutnya kembali bersura, “Nah, di makalah itu ada emailnya. Lu bisa deh email ke dia. Prof. itu nggak pelit, kok. Siapa saja yang punya urusan dengan dia, pasti dilayani.”

“Kok lu tahu, Win?” tanya Ali Jaka.

“Secara gue pernah min referensi ke dia. Tahu nggak, lu. Gue dikirimin langsung bukunya dari Leiden.”

“Oh, ya?; ngomong-ngomong, Prof. itu tinggal di Jakarta, dimana, ya?” tanya Ali Jaka.

“Biasanya di rumah kerabatnya di Pondok Pinang. Lu sms dia deh,” jawab Winny.

Ali Jaka manggut-manggut. Kemudian tangannya menari lincah menekan huruf-huruf dan angka-angka di HP-nya. Akhirnya terkirimlah pesan ke Prof. Jonky. Tidak berapa lama, sms-nya dibalas. “Silakan datang ke Pondok Pinang. Persis di seberang Mesjid Pondok Indah, di tepi kali. Tanya saja, rumah Pak Kadirun.”

Ali Jaka berbinar-binar. Di benaknya tersimpan rencana untuk menjumpai Prof. Jonky besok sore. Tak lupa ia berterima kasih kepada Winny. “Win, gue terima kasih, ya,” ucapnya.

“Benar, kan? Sms lu dibalas?” Winny bukannya bilang, ya, tapi menanyakan soal sms.

“Ya.”

“Li, gue ada keperluan lagi, nih. Entar lu cerita ya, jika ketemu Prof. Jonky.”

“Siip.”

“Daa..!” Winny cabut meninggalkan Ali Jaka.

“Da,” jawab Ali Jaka.

Ali Jaka

I

Pagi itu, seperti biasanya, matahari terbit dari ufuk timur. Semburat merah saga dan keperakan dari awan yang berarak menakjubkan mata yang menyaksikan. Kokok-kokok ayam jago berangsur-angsur sudah berhenti bersahut-sahutan. Hijau dedaunan pohon-pohon yang menghiasi pinggir-pinggir jalanan kota pun sudah terlihat semakin kentara.

Seperti halnya matahari yang tetap tidak berubah garis edarnya, demikian pun jalanan Jakarta, masih tetap seperti sebelumnya. Bahkan waktu telah memasuki abad 21. Macet, berisik, penuh polusi, dan bikin stres para penggunanya. Hampir semua ruas jalan ibu kota dilanda kemacetan yang parah. Jalan tol yang sedianya menjadi jalan bebas hambatan, tak ada bedanya dengan kondisi jalan-jalan besar lainnya yang menghubungkan pusat-pusat bisnis di Jakarta. Jalan tol Cibubur, Jagorawi, Simatupang, Sedyatmo, dan seterusnya, jika pagi menghampiri, berubahlah jalan-jalan raksasa itu menjadi showroom mobil terpanjang di dunia.

Pada deretan mobil yang berhimpit keluar dari mulut tol Jagorawi, seorang gadis bermata sipit, kulit kuning langsat, tinggi semampai, berambut panjang hitam sebahu, keluar dari mobil land cruiser berwarna hitam yang besar. Sepertinya gadis itu sudah tidak sabar berhenti setengah jam tanpa bergerak semeter pun. Sopirnya seorang pria Sunda berusia 40 tahun, bingung dengan tindakan nekat majikannya itu. Bagaimana pun, sebagai sopir, ia juga bertanggung jawab dengan keselamatan gadis itu selama dalam perjalanan. Namun belum sempat ia memanggil, gadis itu sudah bergegas meninggalkannya di mobil tersebut. Pikirannya beradu antara mengejar majikannya dengan memikirkan keselamatan mobil seharga 1 milyar itu.

Mobil itu bukanlah mobil kijang. Mobil itu mewah land cruiser yang sudah dilengkapi fasilitas tambahan. Apa jadinya jika penjahat seperti kapak merah menemukan mobil itu tergolek tanpa orang. Apalagi di jalanan. Akhirnya sopir itu memutuskan tetap bertahan di dalam mobil.

Sementara gadis tersebut bergegas menyusuri pinggir jalan tol. Hampir setengah jam ia berjalan hingga akhirnya ia sudah tiba di luar jalan tol. Sesekali ia melompati pagar pembatas jalan, lalu kemudian berjalan menuju jalan menuju Universitas Kristen Indonesia (UKI). Beberapa tukang ojek yang mengincar penumpang, sudah siap untuk membawa kemana pun. Gadis itu memilih tukang ojek yang tampangnya garang. Pertimbangan dia adalah kalau garang biasanya lebih nekat menyalib di jalanan yang macet sehingga lebih cepat tiba di tujuan. Betul saja, jarak antara UKI dan Rasuna Said tidak lebih dari empat puluh menit yang dibutuhkan oleh tukang ojek tersebut untuk sampai di kantor gadis itu, Pigland Tower.

Saat sopirnya yang dia tinggalkan di Jagorawi masih tersendat di jalan MT Haryono, gadis itu sudah menyalakan laptopnya. Pagi itu sudah 09.30 WIB. Ponco, teman sekantornya, menyapa, “Pagi, Mei!”

“Pagi,” jawabnya.

“Bos tadi mengabarkan, supaya kamu menghubungi PT. Securty Andalan.”

“Ok,” jawabnya. Dia sudah mengerti mengapa perusahaan tersebut mesti dihubungi. Hal itu terkait dengan lambatnya proses pembebasan lahan yang sedang mereka hadapi.

Sementara itu, di sebuah komplek perumahan di Bekasi, seorang ayah lagi sibuk memandikan balitanya. Kedua anak lelakinya itu dengan riangnya mandi di bak plastik. Setelah menyabuni anaknya yang tertua, kemudian menyabuni anak yang kedua. Satu per satu dengan cermat ia bersihkan anaknya itu dengan sabun bayi. Keduanya juga dia ajari menggosokn gigi. Sedangkan istrinya menyiapkan roti selai untuk bekal kedua anak itu. Keduanya sekolah di sebuah TK yang tidak berapa jauh dari rumahnya.

Setelah anaknya dihanduki, kemudian satu per satu anak-anaknya dipakaikan seragam TK.

“Ma, bekal anak-anak sudah siap belum?” tanya lelaki muda itu.

“Sudah,” jawab istrinya. Istrinya pun memasukkan roti-roti selai itu ke dalam kotak plastik. Lalu masing-masing tas anaknya diisikan bekal.

“Kami pergi, ya!” seru lelaki itu dengan kedua balitanya yang sudah duduk di atas motor.

“Dadaa Mamaa! Assalamu’alaikum!” Kedua balita itu melambaikan tangan ke Mamanya.

“Wa’alaikum salam,” jawab Mamanya.

Pada saat yang sama, seorang laki-laki berumur 60 tahun dengan tenang menyeruput kopi panasnya dari cangkir tua putih bergambar ayam jago. Dia baru saja selesai mandi dan kemudian bersantai di beranda rumahnya. Sekali-sekali, tangannya naik turun menyuguhkan kopi di cangkir itu ke bibirnya yang tebal. Kopi itu tidak leluasa masuk ke kerongkongannya karena kumis tebalnya yang menghalang-halangi. Kepalanya yang sebagian sudah ditumbuhi uban, ditutup dengan kopiah hitam. Dialah Haji Maih, pemilik lahan yang kini bersengketa dengan PT. Pigland Tbk.

Matanya masih nanar tertuju pada pohon kurma yang tumbuh rimbun di halaman rumahnya. Namun sebetulnya dia sebetulnya bukanlah sedang mengamati pohon kurma itu, tapi memikirkan lahannya yang hendak dibeli oleh perusahaan pengembang raksasa. Menurut keterangan orang perusahaan tersebut, mereka akan menyulap lahan itu menjadi superblok yang diisi oleh gedung-gedung perkantoran, lusinan apartemen, hotel, mall dan fasilitas penunjang lainnya. Tanah Pak Maih memang tidak terlalu luas untuk ukuran keperluan sebuah kawasan superblok. Hanya 1000 meter persegi. Akan tetapi mengingat letaknya yang strategis, maka membiarkan lahan itu tetap dimiliki oleh Pak Maih, akan membuat tata kawasan superblok itu menjadi aneh. Apalagi cetak birunya telah menempatkan lahan Pak Maih tersebut sebagai lokasi bagi bangunan landmark superblok tersebut. Padahal cetak biru tersebut telah dirancang demikian matang. Berbagai pertimbangan telah dipikirkan. Termasuk faktor fengshui. Justru di tanah Pak Maih itulah yang paling bagus tempat didirikannya landmark. Di situlah titik keberuntungan bagi kawasan superblok tersebut. Dalam alur pikir pihak pengembang, nantinya landmark tersebut akan laris diborong oleh konsumen, karena signifikansinya dari berbagai faktor, mulai dari faktornya sebagai ikon kawasan, keunikan arsitektur gedung, dan tentu saja fengshuinya.

Yang menjadi soal sekarang bagi pengembang itu ialah soal keras kepalanya Pak Maih. Pak Maih tidak bergeser seinci pun dari sikap awalnya yang tidak melepas tanah seluas 1000 meter tersebut kepada mereka. Secara persuasif mereka telah menawari Pak Maih dengan harga lima kali dari harga NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Padahal harga NJOP tanah tersebut 4 juta rupiah per meter. Mereka sudah menawarkan untuk membeli tanah tersebut 20 milyar rupiah. Namun Pak Maih tidak bergeming. “Saya nggak mau jual. Titik!” jawab Pak Maih tegas kepada orang PT. Pigland Tbk. Orang PT. Pigland Tbk tersebut bingung mau mengatasi seperti apalagi.

“Halo. Selamat pagi,” kata gadis bermata sipit itu menindaklanjuti pesan bosnya.

“Ya, halo. PT. Security Andalan di sini. Bisa kami bantu?” jawab seorang perempuan pula di seberang telepon. Tentu saja kalimat jawaban itu prosedural komunikasi bisnis. Nyaris laksana ritual.

“Saya Meiliana, dari PT. Pigland. Bisakah saya disambungkan ke pimpinan Anda?” tanya gadis yang meninggalkan sopir di tol Jagorawi karena macet.

Mendengar PT. Pigland disebut, sekonyong-konyong timbul rasa segan bercampur penasaran pada hati pegawai front office PT. Security Andalan.

“Oh, ya. Tentu saja bisa,” jawabnya. Beberapa detik kemudian line telepon tersebut telah tersambung kepada seorang laki-laki bersuara berat.

“Halo! Bisa saya bantu Bu Mei?” tanya laki-laki itu.

“Begini, Pak. Kami meminta perusahaan bapak menyelesaikan pembebasan lahan untuk kami.”

“Bisa,” jawab laki-laki itu memastikan.

“Ok. Kalau gitu segera kami emailkan resume masalah, lokasi, dan update informasinya.”

“Silakan Bu Mei. Kami tunggu.”

“Baik Pak. Terima kasih.”

Tidak berapa lama kemudian email telah sampai di inbox email PT. Security Andalan. Dengan seksama Bos PT. Security Andalan mempelajari isi email yang bernilai 2 milyar tersebut. Order itu meminta untuk sesegera mungkin membebaskan lahan 1000 meter atas nama pemiliknya, Tuan Maih. Disebutkan, jika PT. Security Andalan berhasil menebusnya dengan harga kurang 2 milyar dari harga penawaran akhir PT. Pigland sebesar 20 milyar, maka 2 milyar itu diserahkan untuk jasa PT. Security Andalan.

Tentu saja Bos perusahaan jasa keamanan tersebut berbinar-binar. Bagi dia, ini hanya persoalan sepele. Telah terbayang baginya beberapa cara untuk membujuk dan bahkan memaksa Tuan Maih agar melepaskan tanah tersebut kepada PT. Pigland. Lalu diapun merancang langkah-langkah untuk itu.

PT. Security Andalan telah lama bekerja sama dengan PT. Pigland Tbk untuk urusan jasa keamanan, pembebasan lahan, parkir, menyalurkan tenaga office boy, cleaning service, dan sebagainya. Pendeknya, jika jalan normal dan persuasi tidak bisa dilakukan lagi oleh PT. Pigland dalam urusan usahanya, maka sudah lazim bagi mereka menyewa PT. Security Andalan untuk menuntaskan urusan tersebut.

Adapun Bos PT. Security Andalan adalah seorang pensiunan perwira menengah tentara. Latar belakangnya sebagai tentara sekaligus intelijen, mendorong dirinya untuk mengembangkan usaha layanan jasa keamanan yang banyak dibutuhkan oleh berbagai perusahaan. Reputasinya sebagai orang disegani dalam dunia kekerasan, telah membentuk daya tawar tersendiri bagi nilai perusahaannya. Jaringannya, luas di dunia preman. Hampir setiap RW di Ibu Kota, tersedia orang-orang yang loyal kepadanya. Hal itu terbina bukanlah kerja satu malam. Puluhan tahun masa dinasnya, dihabiskan untuk membangun koneksi intelijen di setiap kelurahan di Ibu Kota. Dari tukang ojek, preman kelas teri hingga kakap, anggota ormas pemuda, hingga pemulung menjadi jaringan intelijennya. Mereka semua merupakan mata telinganya yang siap melayani keperluan informasi baginya.

Ia pun mengumpulkan informasi tentang sengketa lahan antara Pak Maih dengan PT. Pigland Tbk. Mulai dari asal muasalnya hingga perkembangan terakhir hubungan Pak Maih dengan orang-orang PT. Pigland. Kemudian ia mengumpulkan pula informasi profil Pak Maih, keluarganya, aktivitasnya, hingga orang yang Pak Maih tunduk padanya.

Setelah mempelajari kebiasaan Pak Maih, ia pun mulai beraksi. Seperti biasanya, sehabis magrib, Pak Maih tidak langsung pulang ke rumah, tapi menunggu Isya di mesjid yang tidak jauh dari kediamannya.

Maghrib itu, ia sengaja shalat di mesjid tempat Pak Maih shalat. Dengan berpura-pura sebagai musafir, ia mendekati Pak Maih sambil mengajaknya bercakap-cakap. Penampilannya memang meyakinkan sebagai musafir. Sepeda motor Yamaha RX King ia parkirkan dekat beranda mesjid. Dengan kemeja lengan pendek biru yang sudah lusuh, ia menyalami Pak Maih. Sedangkan Pak Maih dengan tenang menyambut salamnya. Ia mulai percakapan.

“Nikmat bangat shalat di sini ya, Pak?” ujarnya. Pak Maih yang diharapkan menyahut, diam saja. Justru menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Saya habis dari perjalanan jauh, Pak. Dari Indramayu seharian naik motor. Sebelum sampai ke rumah, saya shalat dulu di sini. Rasanya nikmat banget. Jarang saya merasa senikmat ini…”

Pak Maih yang diharapkan tertarik meladeni pembicaraannya, diam seribu bahasa. Tak ada sedikit pun timbul minat pada Pak Maih untuk menanggapi cerita rekaannya. Ia menjadi gelisah sendiri. Dalam hatinya berkata, “Jangan-jangan aktingnya kelihatan sekali.” Padahal bukan kali ini ia berakting dalam rangka menggali informasi.

“Pak, dimana jalan yang dekat menuju Rumah Sakit Pertamina?” tanyanya lagi.

“Saya nggak tahu,” jawab Pak Maih.

“Masa Bapak nggak tahu? Bapak kan orang sini.” Dia mulai geregetan, kehilangan kesabaran.

“Memangnya kalau orang sini, harus tahu, gitu?” jawab Pak Maih.

“Keras juga orang tua yang satu ini,” batinnya. “Pantesan PT. Pigland kewalahan.” Ia beringsut menjauh dari Pak Maih. “Permisi, Pak,” ujarnya.

Pak Maih hanya menatap matanya dengan tajam, tanpa membalas ucapan permisi tersebut. Pertemuan baru pertama kali dengan Pak Maih telah menimbulkan kesan tersendiri bagi bos PT. Security Andalan. Ia tidak langsung pulang. Berhenti sejenak di sebuah cafe yang tidak jauh dari mesjid saat bertemu dengan Pak Maih.

Kemudian jari-jarinya sibuk mencari nama Wikarta di phone book HP-nya. “Karta, dimana kau!?” serunya.

“Ee…ya, Dan. Siap!” jawab Wikarta dari jauh. Ucapannya melafalkan ee…ya, Dan, malah terdengar di telinga Bos perusahaan jasa keamanan tersebut seperti lafal “edan”, sehingga menimbulkan rasa tersinggung di hatinya.

“Hey, Karta! Saya belum edan, ya. Dengar itu!!”

“Siap, Dan!”

“Kamu dimana?”

“Saya lagi di Gajah Mada, Dan.”

“Ente kan satu RW dengan Pak Maih?”

“Ya. Kenapa, Dan?”

“Lu, gak tahu? Pak Maih lagi sengketa dengan PT. Pigland.”

“Ooo….itu. Kurang tahu, Dan.”

“Makanya lu korek informasi dari Pak Maih. Gue perlu. Ngerti?!!”

“Ngerti, Dan.”

“Pokoknya dua hari ini, laporan dari Lu gua harus sudah terima. Target lu, bagaimana caranya Pak Maih harus ikut jual tanahnya.”

“Siap, Dan. Tapi bensin tinggal dikit, nih”

“Akh….kau. belum kerja, udah nagih. Entar. Sms-in saja rekening lu,” jawab Bos PT. Security Andalan.

“Siap, Dan!” jawabnya dengan girang.

***
Bersambung

keterangan foto: jepretan Firmanto H, fotografer Bekasi

HMINEWS Terbitkan Cerbung Anti Korupsi

Syahrul Efendi D, penulis cerbung "Ali-Jaka"

HMINEWS.Com – Ali Jaka merupakan cerita bersambung pada HMINEWS.COM. Berkisah tentang seorang anak muda yang sedang menyelesaikan penelitian untuk skripsi, dibimbing seorang Profesor yang ahli masalah land reform.

Penelitian ini membawanya kepada  persoalan yang lebih rumit tentang praktik korupsi yang melibatkan perusahaan pengembang raksasa bernama “PT. Pigland Tbk,” oknum pemerintah, dan perusahaan jasa keamanan yang dipimpin seorang purnawirawan yang lama bertugas di dinas intelijen.

Di luar dugaan, seorang warga bernama Pak Maih yang tanahnya hendak dicaplok secara halus oleh PT. Pigland untuk dikembangkan menjadi Superblok, bersikeras tidak melepaskan kepemilikannya pada tanah yang hendak diambil itu. Maka meletuslah konflik. Di sini pulah munculnya keterlibatan peranan PT. Security Andalan, pimpinan sang purnawirawan, yang disewa untuk membebaskan lahan. Konflik ini menjadi laboratorium hidup bagi Ali Jaka, meneliti konflik agraria, mencermati bagaimana korupsi terjadi akibat kolaborasi antara pengusaha dan pemegang kebijakan, dan yang penting, Ali Jaka akhirnya tercebur aktif menolong masyarakat yang dimangsa oleh kolabarasi jahat tersebut.

Dan yang menarik, Meiliana, asisten Vice President PT. Pigland Tbk yang bertanggung jawab terhadap humas dan citra perusahaan, jatuh hati pada sosok Ali Jaka yang dingin, slebor, egaliter, dan keras hati.

Silakan menikmati sajian ini. Khusus dipersembakan untuk pembaca HMINEWS.COM dari pengarang Syahrul Efendi D.