Indonesia Masih Butuh 4,18 Juta Pengusaha Lagi

HMINEWS.Com – Saat ini jumlah wirausahawan di Indonesia 570.339 orang, atau hanya 0,24% dari 237,64 juta penduduk Indonesia. Jumlah tersebut masih jauh dari mencukupi sebagai prasyarat kemajuan dan kesejahteraan bangsa secara ekonomi dengan minimal 2% pengusaha dari total penduduknya.

“Wirausaha merupakan salah satu solusi untuk menekan tingkat pengangguran, terutama lulusan SD yang jumlahnya masih cukup besar di Indonesia. Selain bisa menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri, wirausaha juga dapat membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” kata Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/6/2013).

Untuk memecahkan masalah tersebut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) bertekad menciptakan 10 ribu orang wirausaha baru setiap tahunnya. Dengan program yang dilaksanakan di 33 Propinsi melalui bantuan pelatihan dan pembinaan dari lulusan SD hingga sarjana yang masih belum bekerja.

Cak Imin, demikian sapaan akrabnya, mengatakan Indonesia masih butuh sekitar 4,18 juta wirausahawan lagi, sehingga target 2% terpenuhi. Namun, lanjutnya, Indonesia menghadapi kendala, yaitu bahwa jumlah pekerja yang ada saat ini masih didominasi lulusan SD.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk bekerja dengan pendidikan SD ke bawah mencapai 54,6 juta orang (47,9%), lulusan SMP mencapai 20,3 juta orang, lulusan SMA 17,8 juta orang, dan SMK sebanyak 10, 2 juta orang. Penduduk yang bekerja dengan pendidikan diploma 3,2 juta orang (2,82%) dan berpendidikan universitas 7,9 juta orang (6,96%).

Mengembangkan Mental Wirausahawan

entrepreneur (ilustrasi)

Di zaman ini golongan kaya adalah para pengusaha atau entrepreneur. Bukan saja mandiri secara keuangan dengan usaha yang mengalirkan uang, golongan pengusaha juga bisa lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang. Betapa banyak orang yang bekerja pada mereka, yang dengan itu mereka mencukupi kebutuhan pribadi, berumah tangga dan menghidupi keluarga.

Kelangsungan ekonomi orang-orang kecil, yaitu para karyawan atau buruh sangat bergantung pada kestabilan iklim kerja. Jika terjadi goncangan yang menimpa dunia usaha seperti kebangkrutan, yang terkena dampaknya adalah orang-orang kecil yang segera menjadi pengangguran dan menimbulkan kerawanan. Orang-orang gajian, yang mengandalkan penghasilan dari bekerja kepada orang lain, pemasukannya ‘terbatas.’ Ditentukan atau dijatah sekian-sekian setiap bulannya. Beda dengan pengusaha yang bisa mendapatkan keuntungan berlipat, meski peluang kerugian juga sama.

Memulai Usaha

“Sebaik-baik usaha adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (hadits)

Usaha dipahami tidak hanya dalam bentuk dan skala kecil, tapi juga skala besar, nasional bahkan multinasional. Tentu banyak bisnis atau usaha halal yang dapat dikembangkan hingga level tersebut tanpa mengubah status kehalalannya dengan keuntungan yang besar.

Membuka usaha berarti tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga merintis kemandirian. Kemandirian ekonomi merupakan salahsatu sumber harga diri seseorang. Kebanyakan usahawan yang berhasil mengembangkannya dari hal-hal yang paling menarik dan mereka kuasai, karena di situlah passion dan energi yang membuat mereka bertahan. Apapun itu, yang penting halal, tidak merugikan orang lain dan bukan riba.

Berbisnis atau berwirausaha merupakan manifestasi kejujuran dan kerjakeras manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupan setahap demi setahap, mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit. Usaha seperti inilah yang terpuji dan diridhai Allah, sebagaimana telah Dia halalkan jual beli.

Mental Wirausahawan

Nilai-nilai positif yang dapat diambil dari semangat berwirausaha tidak hanya kejujuran dan kerjakeras. Masih ada semangat kesabaran. Dengan kesabaran inilah wirausahawan mampu melewati fase-fase sulit, menghadapi banyak penolakan, bahkan cibiran dan cemoohan. Sabar mengumpulkan modal dan keuntungan sedikit demi sedikit, sabar menghadapi keluh kesah, komplain, protes dan pengaduan pelanggan, pembeli barang dan jasa yang ditawarkannya.

Wirausahawan diharuskan menjalin hubungan dan komunikasi dengan sebanyak mungkin orang. Jatuh bangun dalam menjalani bisnis atau segala jenis usaha itu wajar, bahkan ‘wajib’, tidak dapat dielakkan. Karena dari proses itulah, mental wirausahawan ditempa, daya tahannya diuji, semangat, daya juang dan keyakinannya dibuktikan. Dari modal yang kecil, keuntungan terus ditabung, dikumpulkan sedikit demi sedikit dan makin lama bisnis makin berkembang. Meski jatuh berkali-kali, usaha untuk bangun pun harus berkali-kali pula, bahkan lebih dari jumlah kejatuhan.

Rangkaian pengalaman itulah yang pada akhirnya turut membentuk diri sang wirausahawan. Ia menjadi jeli, teliti, sabar, tidak tergesa-gesa mengambil jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan. Enjoy dengan keuntungan-keuntungan kecil, telaten terhadap setiap orang dan  memperlakukan mereka itu dengan perlakuan paling baik.

Kesan-kesan mendalam, kepercayaan dan simpati yang diberikan kepada tiap-tiap orang yang pernah berhubungan nantinya akan menjadi ‘penolong’. Merekalah yang akan menjadi mitra bisnis yang solid, rekan atau partner serta menjadi pelanggan setia bagi jasa dan produk yang kita tawarkan.

Setidaknya, jikapun bukan mereka yang langsung akan berhubungan dengan bisnis kita, orang-orang yang demikian itu akan dengan sukarela mem-promote produk kita atau merekomendasikan teman-teman mereka. Atau saat kita jatuh, kepercayaan orang-orang lainlah yang akan datang menawarkan solusi. Meski bangkrut hingga minus, kepercayaanlah jalan untuk kembali bangkit. Sebab orang-orang itu tahu kita berkualitas, dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Semua orang besar mengakui hal itu.

Fathur

PNJ Fair 2013, Politeknik Gudangnya Entrepreneur

HMINEWS.Com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) bersiap menggelar PNJ Fair 2013, ‘The Primacy of PNJ’. Acara tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan segala keunggulan PNJ dari segi akademik, kemahasiswaan dan profesi.

Berdasar agenda, PNJ Fair 2013 akan diisi dengan kegiatan “PNJ Goes to School,” “Seminar Nasional,” “Lomba Nasional” dan “Job, Education & Scholarship Fair.” Masing-masing kegiatan akan dilaksanakan di tempat berbeda.

a. PNJ Goes to School (selama Februari 2013) di SMA/SMK dan MA se-JABODETABEK.

b. Lomba Nasional (1-5 April 2013), meliputi: Debat Internal PNJ, Orasi Internal PNJ, Poster (pelajar SMA se-Jabodetabek), Debat Nasional, Orasi Nasional, Menulis Essay, Cipta Karya, dan Mural.

c. Seminar Nasional “1.000 Polypreneur” (16 April 2013 di Balairung UI Depok). Menghadirkan Uya Kuya (entertainer, entrepreneur), Andrew Darwis (pendiri Kaskus), dan Mario Teguh (motivator).

d. Job, Education & Scholarship Fair (17-18 April 2013 di Gedung Patra Jasa Jln Gatot Subroto Kav 32-34 Jakarta Selatan).

PNJ Fair merupakan program kerja tahunan BEM PNJ (atau yang juga dikenal sebagai Politeknik UI). Dengan mengusung tema “The Primacy of PNJ,” dan konten yang sarat nuansa entrepreneurshp, politeknik tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Info dapat diakses langsung di: pnjfair.com