Menentukan Target dan Strategi

Target atau tujuan merupakan penggerak dan acuan dalam semua aktivitas. Tanpa tujuan, gerak dan semua pekerjaan tidak akan terarah, hanya menjadi rutinitas menjemukan dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali membuang waktu saja. Dengan tujuan yang jelas, maka pelaku usaha, pedagang, pegawai atau karyawan, guru, aktivis dan semua orang yang melakukan aktivitas apapun bentuknya akan lebih bergairah.

Mereka tahu ke mana mereka sedang melangkah, meski mungkin saja saat ini belum menjadi apa-apa, namun ada optimisme bahwa mereka itu akan mencapai suatu kondisi atau posisi tertentu di kemudian harinya.

Seorang wirausahawan yang tahu betul apa yang menjadi tujuannya, akan lebih getol, lebih bersemangat dan lebih tahan menjalani setiap proses yang harus dilalui. Tujuan itulah yang menjadi energinya yang melimpah dan seolah tidak ada habis-habisnya. Seperti mesin diesel yang semakin panas justru semakin bertenaga. Karena dari setiap proses yang dilalui pasti ada satu pelajaran yang bisa dipetik untuk lebih menguatkan keyakinan dan memantapkan semua usahanya. Pengalaman demi pengalaman, bahkan meski itu berupa kegagalan, akan membuatnya semakin yakin bahwa tujuan yang dicita-citakannya semakin mendekati kenyataan.

Berbeda halnya dengan orang, organisasi atau perkumpulan, perusahaan atau apapun yang tidak punya target yang jelas. Atau, ada target secara tertulis dalam AD/ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) organisasi dan perusahaannya, namun tidak pernah menjadi komitmen bersama yang terus diperbaharui oleh tiap anggotanya yang juga selalu berganti karena proses regenerasi.

Bila demikian keadaannya, arah organisasi-perusahaan tersebut tidak lagi jelas dan bisa dipastikan semua aktivitasnya tidak akan membawa pengaruh apa-apa kecuali sebatas seremonial, hanya menjadi pelanjut tanpa inovasi, penghias surat kabar atau kliping kegiatan. Sementara potensi sumberdaya manusia yang ada di dalamnya tidak akan mencapai kemajuan maksimal atau mendapatkan pencapaian tertinggi yang semestinya bisa diraih dengan mengoptimalkan semua daya dan upaya, tenaga, fikiran serta totalitas. Keuntungan yang didapat pun akan semakin menurun. Jika pun bertahan stabil, tetap hanya akan habis untuk membiayai seluruh pegawai, dan lama-lama akan semakin surut dengan makin berkurangnya pelanggan dan merosotnya daya jual produk yang dihasilkan.

Cara Menentukan Target

Untuk menentukan target harus mencari dulu apa yang menjadi kebutuhan terbesar. Memikirkan apa yang akan dipilih, diraih dan dihasilkan, baik secara individu, kelompok atau secara kelembagaan. Target haruslah merupakan hal besar yang apabila dapat diraih akan mengangkat nama atau menjadi kemenangan individu dan kelompok, menjadi solusi atas kebutuhan paling mendesak yang tengah melanda zamannya. Membalikkan keadaan yang mandek menjadi bergairah, bangkit dari keterpurukan atau kondisi stagnan menjadi dinamis dan penuh capaian prestasi yang membanggakan.

Menentukan target harus  membaca kebutuhan, sehingga produk yang dihasilkan diminati dan ‘laku’ di pasaran. Sebaliknya, ketidakmampuan membaca kebutuhan zaman akan menghasilkan kegamangan dalam penentuan tujuan serta kehilangan langkah besar. Dari itu mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak sama pentingnya dengan kebutuhan terhadap prestasi itu sendiri.

Tujuan dapat ditentukan dengan mengumpulkan pendapat, ide atau gagasan dalam suatu brain storming. Dalam suatu rapat atau musyawarah besar, baik di dalam maupun di luar ruangan, dipilih sesuai kesepakatan dan terjamin dari kebocoran informasi ke pihak lain. Seperti di tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk atau keramaian, di tempat yang relatif jauh, sekaligus dalam rangka rekreasi.

Demikian biasanya tempat dan waktu yang dipilih, sehingga semua individu berfikir tidak dalam tekanan atau dalam suasana jenuh yang membatasi kemampuan berfikir maksimalnya. Sejenak meninggalkan rutinitas sehingga otot dan fikiran lebih rileks dan diharapkan mampu berfikir yang ‘keluar dari kotak.’ Semua ditampung untuk kemudian dipilah-pilih mana yang paling bagus dan diurutkan sesuai skala prioritas. Kemudian dengan suara bulat diputuskan untuk menjadikannya sebagai tujuan bersama. Setelah itu adalah proses penentuan strategi untuk mewujudkan tujuan. Dipilih yang paling jitu, paling mudah dan paling ringan secara biaya serta paling cepat untuk mewujudkannya.

Merumuskan Strategi Pencapaian.

Dari semua cara serta kemungkinan yang telah diusulkan harus disaring mana yang paling efektif (jitu) dan efisien (praktis, murah dan cepat). Jangan hanya satu cara yang diandalkan, akan tetapi harus ada cara 1, cara 2 dan seterusnya. Rencana 1, rencana 2 atau plan A, plan B dan seterusnya sebagai langkah antisipatif apabila strategi pertama tidak berhasil atau berhenti di tengah jalan karena berbagai kendala yang muncul. Kendala yang muncul selama proses berjalan bisa diprediksi bentuk dan jenisnya sebelumnya, atau yang tidak terprediksi jenisnya namun terprediksi secara garis besar dan telah disiapkan antisipasinya dengan plan B, rencana 2 dan sebagainya sehingga gerakan atau pekerjaan tidak gagal total.

Dengan kewaspadaan tinggi, semua gangguan dan ancaman dapat terdeteksi. Jangan sampai terlambat mengambil langkah penyelamatan dengan berganti taktik. Dari plan A ke plan B, dari rencana 1 ke rencana 2 dan seterusnya. Boleh jadi tidak semua mendukung dan sepakat pada awalnya, dan karena itu perlu proses memahamkan, membuat mereka yakin dan berbalik mendukungnya. Pastikan semua sepakat dan mendukung rencana yang dijadikan sebagai rencana atau strategi bersama, meskipun mereka yang pada awalnya menolak dengan keras. Di sinilah mekanisme organisasi-perusahaan berlaku, dan semua harus mematuhinya dalam semangat kesatuan, esprit de corps. Buatlah komitmen agar tidak ada yang saling menjatuhkan karena perbedaan pandangan mengenai strategi dan taktik atau cara yang ditempuh dalam mencapai tujuan bersama ini.

Kesalahan salah satu bagian akan berpengaruh dan mengganggu proses secara keseluruhan. Kesalahan kecil yang fatal bisa menggagalkan keseluruhan rencana besar dan strategi pencapaiannya. Karenanya mekanisme reward and punishment harus tetap diberlakukan sebagai kontrol bersama.

Pembagian Peran

Jika strategi sudah ditentukan, langkah berikutnya adalah pembagian fungsi dan peran semua yang terlibat. Siapa sebagai apa, sesuai spesifikasi keahlian masing-masing agar kerja-kerja yang dilakukan dapat efektif langsung pada sasaran. Tiap orang, unit atau kelompok bekerja sesuai peran atau fungsi yang telah disepakati. Jangan mengambil garapan yang lain dengan mengabaikan pekerjaan sendiri, kecuali yang sifatnya hanya membantu atau pekerjaan sendiri telah terselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Banyak godaan yang menggiurkan sewaktu proses berjalan untuk mengambil peran orang lain atau mengerjakan pekerjaan unit lain. Hal itu bisa jadi karena beberapa hal, di antaranya adalah, bisa jadi karena melihat individu atau unit lain yang tidak maksimal, sementara dirinya menganggap hal itu sebagai pekerjaan mudah saja, sehingga mengundang rasa ‘geregetan’ dan kemudian turut campur tangan.

Sebaliknya, meski harus fokus pada pekerjaan masing-masing bukan berarti cuek dan tidak peduli sama sekali dengan pekerjaan sesama anggota tim. Berlomba-lomba dalam kebaikan atau berpacu dalam prestasi memang harus, tetapi tidak dengan membiarkan kesalahan orang lain. Kesalahan orang atau unit lain harus ditegur dan diingatkan agar tidak menambah pekerjaan di belakang hari yang akan menghambat seluruhnya.

Penting juga diperhatikan pihak mana saja yang dapat diajak berkoalisi, baik itu untuk jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang. Tentunya yang diajak adalah mereka yang dapat memberikan manfaat langsung dalam mencapai sasaran.

Tidak kalah penting adalah menentukan sarana apa yang akan dipakai sebagai pendukung agar pekerjaan dapat lebih efektif dan efisien. Disesuaikan dengan tingkat kemampuan dari segi biaya, efektifitas, serta berbagai pertimbangan lain seperti kemampuan individu menggunakan sarana pendukung itu, yang tidak hanya asal modern dan paling canggih namun masih gaptek dalam pengoperasiannya. Dari itu tidak perlu gengsi menggunakan sarana atau alat lawas. Sedangkan jika alat atau sarana yang terbaru dan termodern bisa memberikan penyelesaian lebih cepat, efisien dan murah, maka terlebih dahulu harus ada training untuk menggunakannya sampai pada tingkat mahir, sehingga tidak justru menghambat kinerja.

Menjaga Ritme dan Memelihara Kesinambungan

Ritme atau irama kerja perlu terus dijaga agar tetap terpelihara, meskipun berdinamisasi, akan tetapi tetap pada koridornya. Hal ini sebenarnya sama saja dengan kegiatan evaluasi. Ada evaluasi yang dilakukan selama proses berjalan, evaluasi untuk tiap waktu tertentu (periodik) dan evaluasi setelah semua pekerjaan terlselesaikan.

Evaluasi selama proses berjalan berfungsi agar kerja-kerja yang dilakukan tidak keluar dari garis yang telah ditentukan di awal, sehingga tetap fokus dan makin mendekatkan pada keberhasilan. Untuk menghindarkan yang sebaliknya yang tidak makin mendekatkan pada tujuan yang diinginkan, atau malah menjauhkannya.

Evaluasi periodik gunanya untuk menilai pekerjaan pada tiap tahap dan waktunya, sehingga diketahui sejauh mana efektifitas fase-fase kerja yang telah diprogramkan. Dengan begitu, sebelum melangkah lebih jauh lagi sudah diketahui apa saja kekurangan yang perlu ditambal, serta kelebihan mana yang perlu terus ditekankan agar pekerjaan lebih cepat selesai dan dengan hasil memuaskan.

Sementara evaluasi finish bertujuan agar mengetahui efektivitas, kekurangan dan kelebihan dari keseluruhan proses yang telah dijalani. Evaluasi harus menyimpulkan garis besar dan hasilnya dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk kerja-kerja yang akan datang, sehingga berbagai kesalahan sekecil apapun dapat dihindarkan, sedangkan hal-hal yang positif terus dikembangkan dan menjadi strategi atau taktik yang dapat digunakan dalam kerja-kerja di masa mendatang.

Fathurrahman

Loyalitas, Solidaritas dan Soliditas

Ada sejumlah faktor yang membuat orang loyal terhadap kesatuan, kelompok, organisasi atau perusahaannya. Faktornya tidak hanya nilai materi, terbukti banyak orang yang bertahan meski ditawari gaji yang lebih tinggi di tempat lain, jika dalam kelompoknya itu merasa dapat lebih memperjuangkan tujuan-tujuan yang lebih besar, tanpa harus mengubur impian pribadi.

Sebaliknya, jika organisasi atau perusahaan sudah dianggap tidak lagi akomodatif terhadap tujuan tersebut, maka kemungkinan untuk bertahan amat kecil dan hengkangnya orang-orang yang kecewa tersebut tinggal menunggu waktu saja.

Solidaritas tumbuh dari kebersamaan. Kebersamaan dijalin tidak hanya saat berada dalam lingkungan pekerjaan atau organisasi, tetapi banyak hal dan kesempatan lain yang dapat memperkuat solidaritas. Mulai dari yang paling sederhana dan  tidak mesti yang berkaitan dengan pekerjaan, namun bisa dari hal-hal pribadi dan keluarga. Yaitu dengan memahami persoalan apa saja yang dihadapi orang lain dan kemudian menawarkan bantuan, langsung membantu atau mencarikan solusi tanpa harus diminta.

Urusan pribadi misalnya rekan kita si “A” sedang mempersiapkan pernikahan. Dari satu hal ini saja terbuka kesempatan lebar untuk membantunya mulai dari mengurus undangan, tempat resepsi, baju pengantin, hingga persoalan mahar. Proses menjelang pernikahan biasanya amat menguras energi dan pikiran, apalagi waktunya yang semakin dekat, sedangkan persiapan belum sempurna. Bisa jadi karena biaya yang masih kurang, konflik keluarga atau entah apa lagi. Dari kejadian yang sudah-sudah, ada saja sahabat dekat yang terlewatkan dan tidak diundang. Bukan kesengajaan, tapi karena berbagai persoalan yang karenanya harus dibantu oleh sahabat-sahabat lain untuk mengurusnya.

Selain itu, jangan sepelekan pemberian penghargaan meskipun terkesan remeh dan jangan sungkan-sungkan berterimakasih kepada sesama anggota, bawahan serta semua yang terlibat. Jangan pelit pujian. Perlakuan yang ‘meng-orang-kan’ tersebutlah yang kerap dapat membuat musuh berbalik menjadi kawan, kompetitor berubah jadi mitra, serta mengubah kesinisan orang menjadi simpati. Apalagi orang-orang yang telah menjadi bagian dari tim dan kesatuan.

Mempelajari Hal-hal Baru

Manusia secara umum adalah makhluk yang terus-menerus belajar. Setua apa pun pasti tertarik pada hal-hal baru, ingin mencoba berbagai hal yang tidak biasa, tergoda menguasai berbagai kemampuan baru. Selain bermanfaat bagi organisasi atau perusahaan, pola semacam itu pun menguntungkan karyawan atau anggota organisasi secara pribadi, sebab kapasitas diri mereka bertambah. Kemampuan mereka pun tidak itu-itu saja, tapi terus berkembang. Dengan dasar yang demikian itulah setiap pemimpin perlu memberi tugas atau pekerjaan yang menantang bagi karyawan, bawahan atau anggota organisasi – perusahaan yang dipimpinnya. Pekerjaan yang menantang tersebut sekaligus menjadi ajang pembelajaran hal-hal baru agar iklim kerja lebih bergairah dan tidak monoton.

Kegairahan semacam itu perlu dijaga dan terus ditumbuhkan agar produktivitas tidak merosot. Karena kehilangan kegairahan bisa berarti pula sebagai kehilangan orientasi. Meski tujuan yang dirumuskan sejak semula untuk dicapai begitu muluk, tapi jika kegairahan bekerja telah hilang, mustahil semua dapat tercapai. Semua aktivitas bisa tanpa makna dan tidak berarti apa-apa, tidak berdampak pada kemajuan, tidak menambah keuntungan, tidak menghasilkan karya dan prestasi. Itu artinya sia-sia sajalah waktu yang telah dilewatkan, padahal waktu amat berharganya. Demikian juga dengan cost atau biaya atas semua yang dikeluarkan seperti biaya perjalanan, listrik, sewa rumah, makan-minum, serta biaya-biaya lain yang semestinya tidak hilang begitu saja, tetapi harus mendatangkan hasil.

Tetapi dalam mempelajari dan beradaptasi dengan hal baru itu sangat mungkin terjadi kesalahan, entah kecil atau besar. Pemimpin harus memaklumi dan memaafkan kekeliruan itu dan menumbuhkan sikap percaya diri bawahannya, memastikan tidak terjadi apa-apa, mereka tidak akan dihukum kecuali karena kesalahan yang disengaja. Kesalahan-kesalahan itu akan menjadai guru yang mengajarkan bagaimana semestinya, bagaimana benarnya dan apa saja yang tidak benar dan tidak perlu diulang.

Pelibatan Termasuk dalam Pengambilan Keputusan

Sebagaimana umum pahami, pengambilan keputusan merupakan tugas pimpinan. Sedangkan anggota yang lain atau bawahan menjalankan keputusan yang telah dibuat itu. Akan tetapi secara psikologis perlu diingat kembali bahwa ‘mengambil hati’ orang meskipun bawahan tidaklah mudah. Pemimpin yang tidak berhasil mengambil hati orang yang dipimpinnya bisa saja dipatuhi atau ditakuti, tetapi tidak mempunyai wibawa. Ketakutan bawahan hanya bersifat karena pimpinan itu bisa memutuskan perkara yang menyangkut ‘nasib’ atau posisi dan jabatannya dalam suatu lingkaran pekerjaan organisasi-perusahaan.

Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja. Bisa saja keputusan-keputusan itu bersesuaian atau tidak sesuai dengan keinginan banyak orang. Jika demikian halnya, hampir bisa dipastikan maka mereka akan setengah hati menjalankannya, sehingga hasilnya pun tidak akan maksimal.

Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja

Seperti ketika Walikota Solo -Jokowi- yang terlebih dahulu berdialog dengan pedagang-pedagang pasar sebelum mereka dipindahkan (direlokasi) ke tempat lain. Sebelum mengatakan bahwa mereka harus pindah, Jokowi telah berdialog dengan mereka sebanyak 53 kali. Dalam dialog tersebut sambil mempererat silaturahmi, ia memahamkan dan meyakinkan para pedagang. Kemudian pada pertemuan ke 54 barulah dinyatakan keinginannya, tepatnya tawaran kepada para pedagang kakilima tersebut untuk pindah ke lokasi baru.

Belajar dari Peristiwa Pemindahan Hajar Aswad

Pemindahan Hajar Aswad (batu hitam) yang merupakan bagian dari bangunan Ka’bah atau Baitullah nyaris memicu perpecahan Kaum Quraisy di zaman jahiliyah. Sebagai bagian penting dan simbol utama bangunan utama tersebut, semua golongan merasa paling berhak atasnya, tidak rela jika kelompok lain yang mendapat kehormatan mengangkat dan menempatkannya pada posisi semula seusai pemugaran Ka’bah.

Ketegangan makin memuncak sebab tidak ada yang mau mengalah. Bahkan untuk mempertahankan kehormatan kelompok masing-masing, jalan kekerasan pun bisa ditempuh untuk itu. Karena tidak kunjung didapatkan jalan keluar, akhirnya semua sepakat untuk mengangkat penengah dari orang yang pertama kali datang ke Baitullah, dan ternyata Muhammad adalah orangnya.

Muhammad mengemukakan usul agar dibentangkan kain dan para pemimpin kabilah memegang tiap tepinya, kemudian Muhammad yang mengangkat Hajar Aswad ke atas sorban panjang, dan mereka menggotongnya. Pelibatan itu tidak hanya menenteramkan, tapi juga mengangkat harga diri semua kelompok. Dan Muhammad pun makin dipercaya dalam menyelesaikan berbagai persoalan maupun mengemban amanah kemasyarakatan.

Satu contoh ini menunjukkan bahwa penting meletakkan dasar kesatuan kelompok dengan mengangkat harga diri dan membuat masing-masing kelompok tersebut berperan dalam mewujudkan cita-cita bersama. Tidak ada yang merasa dikorbankan sebagai objek pelengkap bagi kelompok lain dalam satu kesatuan masyarakat.

Ya Allah himpunkanlah hati kami dan perbaikilah keadaan kami, berilah kami petunjuk jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkanlah kami dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Berkahilah kami dalam pendengaran kami, penghilatan kami, hati kami dan pasanga-pasangan kami serta keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat Maha Penyayang

Fathur

Perlakuan Terhadap Konsumen ‘Sekali Lewat’

Nasi Padang (ilustrai, net)

Pepatah yang sangat populer, dan sama-sama kita tahu, mengatakan: “Konsumen adalah raja,” “Pembeli adalah raja.” Maksudnya pun sama-sama kita ketahui bahwa konsumen harus diperlakukan dengan baik, karena merekalah yang diharap membeli, baik berupa barang ataupun jasa dijual.

Saya begitu terharu terhadap perlakuan seorang ibu pemilik sebuah Rumah Makan Padang di Medan. Ibu tersebut begitu ramah dalam melayani penjual. Tapi bukan hanya itu, ia menenteramkan dan menenangkan kami agar tetap tenang saat pegawai di loket karcis bus tujuan Medan-Tanjung Balai menyuruh kami cepat-cepat menuju bus, saat kami makan di warung tersebut yang letaknya di sebelah pangkalan. Waktu itu kami dalam perjalanan menuju HMI Cabang Asahan dalam rangka mengisi training.

Si ibu mengatakan, “Nggakpapa, dik, biasa.. Duduk aja, makan dulu. Tenang aja, itu sopirnya masih main catur, yang pakai baju hijau,” sambil mengarahkan pandangannya pada seorang lelaki yang tengah bermain catur dengan lelaki lainnya. Menurutnya hal itu sudah biasa, karena memang begitulah kurang lebihnya kebiasaan pegawai loket tersebut. Kami pun meneruskan makan, meski tentu saja kami percepat. Begitu juga teh manis panas yang kami pesan akhirnya kami minum dengan es agar lebih cepat.

Tidak berapa lama, pegawai loket datang lagi menyuruh kami cepat-cepat. Ibu pemilik warung makan kembali menetralisir suasana. Sedangkan sang sopir pun masih belum beranjak dari tempat duduknya bermain catur. Setelah itu, pegawai berseragam tersebut menghampiri sopir dan memperlihatkan kertas berisi daftar penumpang yang telah membeli tiket serta bus siap diberangkatkan. Kami pun membayar makanan dan menyelesaikan minum teh, namun karena tidak habis, si ibu kembali dengan keramahannya yang kami rasakan begitu tulus, menawarkan untuk membungkus teh kami dengan kantong plastik, kami iyakan. Tak hanya itu, dia pun akan mengambilkan sedotan, namun kami katakan tidak perlu, cukup diplastik saja.

Perjalanan berlanjut dan saya terus terfikir pada perlakuan si ibu tadi. Padahal, apalah pentingnya dua pembeli di warungnya pada tengah malam itu, yang dia tahu pula kami berdua tidak tinggal di dekat situ dan yang akan jadi pelanggannya. Meskipun ia tetap pada hukum jual-beli, yang artinya dengan keramahan tersebut toh saya tetap membayar dengan harga yang sama, akan tetapi saya tidak bisa mungkir bahwa saya sangat terkesan dan sekaligus terharu.

Banyak kita temui acapkali para pedagang dari kalangan kita sendiri menjual kepada kita dengan harga tinggi hanya karena mereka tahu kita hanya sekali membeli di tempatnya tersebut saat sedang kebetulan lewat, berwisata atau karena kunjungan lainnya. Yang terfikir dan menjadi orientasi mereka adalah bagaimana mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Tidak jadi pelanggan tidak masalah, toh kita hanya sekali itu membeli. Selanjutnya tidak. Begitu kira-kira dari pengalaman transaksi di berbagai tempat. Sudah demikian, perlakuannya pun kerap kurang ramah.

Tapi si ibu pemilik warung Padang di Medan itu berbeda. Dia perlakukan kami yang baru satu kali mampir, dan belum pasti entah kapan lagi bisa mampir ke warungnya tersebut,  dengan pelayanan yang ‘sempurna.’ Pelayanannya pada pembeli itu sudah seperti orang-orang dari suatu perusahaan yang tengah berusaha mendapatkan tender besar yang menjamu konsumen atau bahkan calon konsumen dengan service memuaskan karena berharap keuntungan yang lebih besar, bahkan keuntungan yang berlipat-lipat.

Si ibu tadi demikian dalam pelayanannya, meski dia, saya kira, sadar tidak sedang berharap keuntungan berlipat bahwa saya kemudian akan memborong dagangannya atau menjadi pelangganya. Karena saya pas lewat saja. Dia ikhlas meski terhadap satu dua musafir yang tengah mampir dan satu dua kali pula membeli di tempatnya tersebut.

Begitulah memang idealnya perilaku standar para pelaku usaha, entrepreneur, wiraswasta, pedagang atau siapapun yang berhubungan dengan bisnis. Memperlakukan semua konsumen dengan baik. Memperlakukan konsumen secara ‘kacamata kuda,’ karena tidak diketahui yang mana satu-dua dari ribuan orang yang singgah, melihat-lihat dan syukur-syukur membeli itu, yang akan jadi pelanggan besar.

Memperlakukan dengan tidak meremehkan satu dua konsumen, meski penampilannya tidak ‘wah,’ karena kadang penampilan seseorang bisa menipu. Apalagi banyak orang kaya yang berpenampilan sederhana dan tidak menampakkan diri secara berlebihan bahwa mereka orang-orang sukses.

Semua orang dianggap berpotensi sama dan satu dua pembeli yang dikira datang hanya untuk satu kali itu saja tetap tidak dikecewakan, karena bisa jadi justru mereka calon pembeli potensial. Di lain sisi, sudah menjadi sunnatullah bahwa kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan. Tidak selalu oleh orang yang menerima kebaikan itu secara langsung, akan tetapi teramat sering ‘balasan kontan’ (di dunia) tersebut datang melalui pihak-pihak yang tidak terduga sama sekali. Belum lagi doa-doa tulus orang untuk kita. Itulah cara Allah membalas.

Fathur