Massa Golkar Bebas Pilih Foke Atau Jokowi

HMINEWS.Com – Partai Golkar membebaskan kadernya di wilayah DKI Jakarta dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putara kedua, 20 September mendatang, antara pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan Jokowi-Ahok.

“Ke rakyat. Saya serahkan saja pada pemilih,” jawab Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie kepada wartawan dalam acara buka puasa bersama di DPP Golkar, Slipi Jakarta Barat, Sabtu (28/7/2012).

Ical, begitu panggilan calon presiden dari Partai Golkar tersebut, berharap berharap masyarakat khususnya basis Partai Golkar bebas menentukan dukungan. “Biar aja rakyat. Saya harapkan mereka datang ramai-ramai ke tempat pemungutan suara memberikan suaranya,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPP Partai Golkar, Hajriyanto Tohari.  “Partai tidak akan berikan dukungan secara resmi kepada calon gubernur yang mana pun,” tandasnya.

Keputusan tersebut diambil karena Partai Golkar melihat pemilih pada Pilkada DKI Jakarta menggunakan hak pilih secara rasional dan independen, serta berdasar harapan dan pandangan politik masing-masing  pemilih.

Fathur

Yogie Maharesi: Mitos-mitos Politik Sudah Gugur

HMINEWS.Com – Politik Indonesia sudah berkembang luarbiasa dan banyak ‘mitos politik’ menjadi tidak relevan lagi. Apa saja ‘mitos politik’ yang telah terdobrak itu?

“Mitos sipil-militer gugur sejak terpilihnya Gus Dur-Megawati. Mitos presiden harus laki-laki gugur sejak naiknya Megawati. Mitos Jawa-luar Jawa gugur sejak terpilihnya SBY-Boediono,” kata Wakil Sekretaris Balitbang DPP Partai Golkar, Yogie Maharesi kepada HMINEWS.Com, Ahad (1/7/2012).

Menurut Yogie, saat ini masyarakat sangat sadar bahwa yang diharapkan dari seorang pemimpin bukanlah faktor kesukuan, melainkan hadirnya keberanian, ketegasan dan kecepatan dalam menuntaskan berbagai masalah bangsa.

Sedangkan treatment Partai Golkar kaitannya dengan pencapresan Aburizal Bakri (ARB atau Ical) terhadap pemilih kalangan Jawa, kata Yogie, secara rasional ARB tentu akan memprioritaskan calon wakil presiden dari Jawa.

“Untuk merebut pemilih Jawa, ARB secara rasional tentu akan memprioritaskan calon wakil presiden dari Jawa. Nama-nama yang sudah muncul pun berasal dari Jawa, seperti Sri Sultan HB X, Jenderal Pramono Edhie dan Mahfud MD,” lanjutnya.

Untuk itu pula, lanjut mantan aktivis HMI itu, secara khusus ARB telah dan sedang melakukan roadshow ke seluruh penjuru Tanah Jawa, mulai dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Semua dikunjungi langsung oleh ARB,” tandas Ketua OC  Program Capacity Building Fraksi Golkar DPRD Provinsi dan Kota/Kabupaten se-Indonesia untuk Pemenangan Pemilu 2014 tersebut.

Fathur

Ical: Trilogi Pembangunan Ditambah Nasionalisme Baru

HMINEWS.Com – Calon Presiden dari Partai Golkar, Aburizal Bakrie (Ical) menginginkan, satu generasi ke depan Indonesia harus naik kelas. Dari negara berkembang menjadi negara maju. Visi tersebut, menurutnya, bisa diraih dengan program yang ia namakan Catur Sukses Pembangunan Nasional.

Yaitu Trilogi Pembangunan, sebuah konsep yang menurutnya terbukti sukses digunakan sebelumnya (pada era Orde Baru), dan sekarang masih relevan jika disesuaikan dengan semangat zaman.

“Trilogi Pembangunan yang dilengkapi gagasan nasionalisme baru Indonesia, sehingga menjadi sebuah formula yang saya namakan Catur Sukses Pembangunan Nasional,” kata Ical dalam pidato politiknya di Bogor, Ahad (1/7/2012).

Tri Logi pembangunan itu sendiri terdiri dari ‘Pertumbuhan Ekonomi,’ ‘Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan,’ dan Stabilitas Sosial Politik.’ Sedangkan nasionalisme baru, yaitu “Paham kebangsaan yang disesuaikan dengan konteks globalisasi,” kata Ical yang serak karena pidato tersebut.

Dalam pidato tersebut Ical juga banyak memuji presiden sebelumnya, mulai dari Sukarno yang berhasil mewariskan semangat persatuan dan kebangsaan Indonesia, Suharto yang mewariskan pembangunan ekonomi yang sukses dan dirasakan manfaatnya hingga kini sampai ke polosok desa, dan itulah yang coba Ical teruskan dengan satu formula tambahan tersebut.

Sedangkan Presiden Habibi, Megawati serta SBY secara bersama-sama dengan caranya masing-masing telah berhasil menggulirkan reformasi, demokratisasi dan desentralisasi kekuasaan. Pengusaha yang sukses terjun ke kancah politik tersebut secara tersirat mengkritik SBY sebagai pemimpin yang ragu dan tidak tegas.

Fathur