Opini : Islam Agama Toleran, bukan Agama Kekerasan

 HMINEWS.COM-Aksi teror di negeri ini tak pernah berhenti. Tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan khalayak ramai tak kunjung usai. Kasus terbaru ialah bom yang meluluhlantahkan 3 gereja di Surabaya. Perilaku salah kaprah yang seakan diakui sebagai titah Tuhan.

Jika benar Islam agama toleran, mengapa masih ada sebagian dari umatnya yang melakukan kekerasan? Jika Islam menjamin kebebasan beragama, mengapa masih ada umat Muslim yang melakukan serangan terhadap gereja? Jika Islam benar membawa rahmat bagi semua, mengapa masih ada sebagian fraksi Muslim yang melakukan bom bunuh diri? Betulkah ayat-ayat toleransi dalam Al quran sudah dihapus hukumnya dan tidak berlaku lagi, karena sudah diganti dengan ayat-ayat perang? Apakah toleransi selaras dengan Islam itu sendiri? Atau, jangan-jangan toleransi hanyalah konsep asing yang diekspor peradaban Barat yang sekuler dan liberal?

Segudang pertanyaan itulah yang kemudian menjadi isu sentimental dan menjadi bahan kajian yang debateble. Akar mula gejala ini menguak ke permukaan adalah penyerangan 11 September 2001 yang menyebabkan ribuan nyawa melayang. Akibat tragedi itu, menguatlah stereotyp Barat atas Islam. Maka merebaklah gejala Islamophobia, sebuah ketakutan non- muslim terhadap Islam dan umat Muslim.

Maka sebagai umat teladan, sudah selayaknya mengkaji Toleransi dan Intoleransi secara komprehensif.  

Gagasan toleransi yang menyuruh kita membiarkan kebebasan orang lain dalam menemukan kebenaran diri mereka sendiri merupakan gagasan yang ada sejak Socrates. Toleransi Socrates kala itu mengasumsikan bahwa pengetahuan menghasilkan kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan tidak dapat diproduksi oleh paksaan melainkan oleh dialog yang toleran. Model kehidupan etis filosofis ini memungkinkan kehidupan bersama-sama secara harmonis dengan orang lain yang berbeda pendapat.

Ide toleransi ala Socrates ia gambarkan dalam Charmides, sebuah karya yang mengekspresikan mimpinya tentang negara ideal yang di dalamnya semua warga negaranya bersikap moderat dan ahu tugas masing-masing sehingga tidak mengganggu orang lain. Warga negara yang saling menghormati adalah bentuk dari masyarakat toleran.

Moderasi Socrates tersebut sejajar dengan moderasi dalam konsep toleransi Imam Syafi’i, seperti tercermin dalam semboyanya : “Pendapatku benar tetapi mungkin salah, sedangkan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar”. Dengan prinsip ini, Imam Syafi’i berusaha terhindar dari dogmatisme dan absolutisme yang menganggap dirinya sendiri adalah yang benar sedangkan orang lain pasti salah. Di sisi lain, Imam Syafi’i juga berusaha menyingkir dari jebakan-jebakan relativisme yang membenarkan semua pendapat tergantung perspektif masing-masing. Imam Syafi’i aja legowo, kenapa pengikutnya masih banyak yang sok jago?

Dalam tradisi Islam, toleransi menolak absolutisme dogmatis yang memonopoli kebenaran tunggal dan mutlak. Sehingga, Ulama membedakan antara “pemikiran keislaman” dan “Islam”. Pemikiran keislaman sangatlah beragam dan kebenaranya bersifat relatif, dimana masing-masing ulama mengajikan asumsi tentang kebenaran, tetapi kebenaran Islam yang sejati adalah bersifat tunggal dan hanya Allah yang tahu. Kebenaran yang bisa diraih oleh manusia hanyalah (k)ebenaran dengan “k” kecil, sementara (K)ebenaran di mata Tuhan adalah dengan “K” besar. Cak Nur menyebut kebenaran pemikiran manusia dengan istilah “kebenaran nisbi”, sedangkan Al ghazali menyebutnya dengan “kebenaran asumtif”.

Yusuf Al qardawi, menjelaskan bahwa iman yang tertutup oleh fanatisme bermazhab memang merupakan salah satu dari berbagai pemicu radikalisme. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya-upaya dari para agamawan agar mendorong kembali terbukanya pintu ijtihad dan terbangunya kedaran inklusif sehingga perbedaan pendapat bisa disikapi dengan toleran. Fanatisme dan talid buta sejatinya bertentangan dengan spirit inklusif dan toleran yang ditunjukan oleh as-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal.

Abdurahman Wahid pun menganjurkan keterbukaan dalam beriman, terutama bagi para pemeluk agama di tengah kebhinekaan dan kemajemukan rakyat Indonesia. Gusdur menyadari bahwa pengembaraan intelektual merupakan pengalaman pribadi yang unik dan tidak akan pernah dirasakan atau dialami orang lain. Sehingga Gus Dur mengajukan tesis Islamku, Islam Anda dan Islam Kita.

Memang dibutuhkan kedewasaan dalam menghadapai berbagai perbedaan. Bukan sikap egois, sok jago, dan mau menang sendiri yang ditonjolkan. Saya teringat ketika nyantri di sebuah pesantren yang mengajarkan nilai toleransi yang begitu luar biasa. Semboyannya adalah jadilah negarawan yang berjiwa Muslim Moderat, Mukmin Demokrat dan Muhsin Diplomat. Trilogi yang layak digaungkan ke permukaan untuk mengatasi gejala disharmonisasi keagamaan dan kebangsaan.

Terakhir, marilah kita menjadi agent umat Islam yang bijak dan moderat. Insan yang mampu menempatkan dirinya sebagai bagian umat Islam secara keseluruhan, bukan sebagai sebuah kelompok yang merasa memiliki dan memonopoli kebenaran Islam. Yakusa

 

Mohammad Fadli Hidayat, Direktur LDMI HMI Cabang Yogyakarta

HMI Jakarta, Pernyataan Ahok Berdampak Pada Generasi Kedepan

HMINEWS.COM, Jakarta – Pernyaataan dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menyebut bahwa Al-Quran  surah Al Maidah Ayat 51 sebagai kitab yang membodohi umat Islam dianggap akan berdampak pada generasi kedepan. Hal itu disampaikan oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Barat, Satria Alza Perdana

Menurut Satria, Pernyataan Gubernur tersebut adalah pernyataan yang sangat provokatif dan tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin.

“sungguh tidak pantas seseorang itu mengatakan hal demikian, Apalagi status yang mengatakan adalah sosok figur di Ibu Kota saat ini. Tentunya nanti akan berdampak tidak baik terhadap generasi penerus bangsa kedepannya”. Kata Satria

Senada dengan hal itu, Rizka Istiani (Wasekum HMI Cabang Jakbar) menambahkan bahwa “seharusnya Ahok tidak lagi bersikap tendensius kepada Umat Islam, Apalagi sampai berbuat hal demikian dan ini sudah tentu akan terjadi kecaman-kecaman kepadanya”. Ujar Rizka

Rizka juga menambahkan, Apa yang telah terjadi kini ibarat nasi sudah menjadi bubur, Semoga kedepannya tidak ada lagi sosok figur masyarakat yang mudah berbicara seperti itu sebelum ia tahu apa yang akan di bicarakan dan bagaimana dampak yang akan di timbulkannya.

Reaksi kemarahan HMI kini tidak hanya di kalangan Cabang saja, Melainkan di tingkat Pengurus Besar HMI melalui Komisi Hukum dan HAM tengah berencana melaporkan Ahok kepada pihak berwajib terkait hal ucapannya yang melukai perasaan umat muslim di Indonesia.

 

Milad ke-75, Umar Shihab Luncurkan Buku

B0LsTvyCUAAKF0H
Prof. Dr. Umar Shihab memberikan buku kepada beberapa tamu kehormatan (foto: @khoirondurori)

HMINEWS.Com – Di usianya yang ke-75, Prof. Dr. Umar Shihab menerbitkan sebuah buku yang telah lama diidamkannya. Buku yang merupakan inspirasi dari sejumlah tokoh nasional yang pernah bertemu dan mewarnai corak keberagamaan sang professor.

Peluncuran buku digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014) malam. Dihadiri ratusan orang, termasuk sejumlah tokoh nasional seperti mantan Wapres Tri Sutrisno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan KH Ma’ruf Amin.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pertama dekat dengan Prof. Umar Shihab sewaktu sama-sama satu komisi DPR RI tahun 99 dan membahas Undang-undang, khususnya Undang-undang tentang penyelenggaraan haji dan undang-undang zakat. Saat itu Lukman Hakim Saifuddin pernah lebih dahulu berbicara, di forum, kemudian, Prof. Umar Shihab berbicara setelahnya, yang menyampaikan hal yang berbeda. Dengan itu ia pun mengetahui bagaimana keluasan ilmu Prof. Umar Shihab, sehingga..

“Sejak itulah saya kemudian tidak berani berbicara sebelum beliau bicara,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Din Syamsuddin, yang juga menyinggung apa yang ditulisnya dalam pengantar buku, menyampaikan tentang toleransi dan tafsir kontekstual atas problematika kontempores.

“Tasir semacam ini sejalan dengan ijtihad yang berfungsi sebagai instrumen yang dapat mengantisipasi sekaligus memberikan solusi bagi segala persoalan kemasyarakatan dalam dunia islam. Dua senjata intelektual Islam inilah, tafsir kontekstual dan ijtihad yang nantinya menghasilkan produk hukum maupun kebijakan yang menjadi jawaban bagi beragam persoalan yang datang,” ungkapnya.

Din juga menyinggung dinamika sunni-syiah, yang timbul pasca wafatnya Rasulullah. Untuk itu, ia mengajak, agar umat muslim Indonesia menyikapinya dengan arif, dan sebaiknya memakai ‘standar minimal’ dalam menilai keislaman seseorang, yaitu pengakuan atau persaksiannya terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini saja seharusnya bisa mencegah sesama muslim dari permusuhan.

Dari sekitar duaratus lebih hadirin, sebagian di antaranya merupakan masyarakat keturunan Arab. Di akhir acara, KH. Ma’ruf Amin membawakan doa untuk bangsa, para hadirin dan khususnya yang tengah berulang tahun ke-75, yaitu Prof. Dr. Umar Shihab sendiri. Seluruh peserta yang datang mendapatkan buku yang dicetak penerbit Mizan tersebut.

Antara Futuh Mekah dan Pembersihan PKI

Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi) merupakan mata air hikmah bagi umat Islam. Dengan mengetahuinya, maka kita akan tahu bagaimana mengaplikasikan berbagai hukum yang terdapat dalam Al Qur’an maupun hadits, sebab semua hukum itu diturunkan tidak keluar dari konteks kesejarahan, dan dari itu kita kenal yang namanya Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat – Al Qur’an) dan Asbabul Wurud (sebab diwahyukannya hadits atau sunnah Rasul)

Pembahasan ini hendak mengungkap dua peristiwa yang terjadi di dua zaman yang berbeda, yaitu penaklukan Mekah oleh Nabi dan para sahabatnya, dengan pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Akan ditarik garis antara dua peristiwa tersebut. Mengenai kejadian pembersihan PKI, bukan untuk mengorek luka lama atau menyalahkan semua yang terlibat, namun bagaimana mengambil pelajaran dan mendewasakan pemikiran berkaca dari peristiwa tersebut.

Penaklukan Mekah

Penaklukan Mekah merupakan buah perjuangan panjang Nabi Muhammad dengan para sahabatnya dalam mengemban agama dan misi kemanusiaan. Sejak memproklamasikan da’wah, yang itu artinya selain menyatakan keislaman di tengah penduduk yang masih musyrik dan juga para ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka juga mensyiarkan agama Islam mengatasi semua agama dan ideologi yang ada. Dimulai pulalah penentangan terhadap Nabi dan para pengikutnya.

Nabi mendapat serangan, cemoohan, fitnah, upaya pembunuhan dan pengusiran. Demikian juga yang dialami para sahabatnya, bahkan di Periode Mekah saja, ketika Allah belum memperkenankan mereka melawan dengan mengangkat senjata, sejumlah sahabat terbunuh. Syahid pertama Ammar bin Yasir dan istrinya, Sumayyah. Untuk menghindari berbagai tekanan tersebut, terbagi ke dalam beberapa rombongan, para sahabat nabi itu hijrah ke Habasyah. Kemudian setelah 13 tahun, mereka berhijrah secara besar-besaran termasuk Nabi, hijrah ke Yatsrib yang kemudian namanya diubah menjadi Madinah.

Setelah itu terjadi perang berulangkali antara kubu Islam dengan golongan kafir Quraisy dan sekutunya. Yang pertama adalah Perang Badar, dilanjut dengan perang-perang lainnya seperti Perang Uhud, Khandaq, Khaibar, Mu’tah, Hunain, Tabuk dan perang-perang lain, baik yang dipimpin langsung oleh Nabi (disebut ghazwah) maupun yang dipimpin oleh selain Nabi (disebut sariyyah). Sudah tentu, namanya perang menimbulkan korban di kedua belah pihak. Korban juga tidak sedikit, dan di antaranya ada kerabat dan sahabat terdekat Nabi semisal Hamzah bin Abdul Muthalib.

Tidak jarang pula umat Islam di zaman Nabi dikhianati oleh kafir Quraisy maupun kelompok-kelompok Yahudi seperti Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Qainuqa. Terhadap perang dan pengkhianatan tersebut, hukum ditegakkan terhadap orang-orang yang bersalah saja, ada yang dieksekusi dan tidak sedikit yang diampuni, sedangkan orang yang tidak bersalah, termasuk wanita dan anak-anak dibiarkan hidup.

Baru setelah 22 tahun, setelah kafir Quraisy mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah, Nabi memimpin langsung pasukan besar untuk merebut Mekah. Pasukan Islam sudah demikian besar dan tak terbendung lagi memasuki kota suci. Kaum kafir Mekah ketakutan. Mereka mengira nasib mereka akan berakhir di ujung pedang, mengingat sebelumnya mereka selalu memerangi Muhammad dan mengusirnya dari bumi kelahirannya, Mekah itu.

Tetapi, inilah isi pidato Nabi Muhammad kala itu:

Inna hadzal yaum laisa yaumul malhamah, walakinna hadzal yaum yaumul marhamah, wa antumuth thulaqa’. Sesungguhnya hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua memperoleh kebebasan.”

Emha Ainun Nadjib menyatakan, peristiwa tersebut “memuat keberanian militer dan permaafan politik yang radikal di ujung peperangan besar merebut kembali Mekkah. Mengandung kearifan sosial, kerelaan kemanusiaan dan keindahan budaya yang kadar nilainya sangat tinggi. Para tawanan perang baru saja ditaklukkan bukan hanya dimaafkan dan dimerdekakan, tapi juga diberi pesangon harta yang besar jumlahnya.”

Bagaimana dengan Pembersihan PKI?

Berkebalikan dengan yaumul marhamah (hari kasih sayang) peristiwa pembersihan PKI di Indonesia benar-benar merupakan yaumul malhamah (hari penyembelihan).

Memang PKI, sejak kemunculannya yang pertama mendompleng Sarikat Islam (lalu menimbulkan faksi ‘SI Merah’) dan kemudian setelah merasa kuat dan banyak pengikut memisahkan diri dari SI hingga kemudian SI kehilangan separoh anggotanya. Beberapa kali memberontak dan membunuhi sesama anak bangsa, seperti pada Pemberontakan PKI Madiun 1948 dan Pemberontakan 30 September 1965.

Permusuhan PKI dengan kelompok Islam terjadi dari pucuk pimpinan hingga tingkat ‘akar rumput’. Selain dua peristiwa besar Madiun dan G30S, ada ‘Peristiwa Kanigoro’ ketika massa PKI menyerang santri dan Pelajar Islam Indonesia, peristiwa ‘Gorang Gareng’ dan cerita-cerita di berbagai desa di Jawa mengenai teror PKI terhadap golongan Islam (meskipun orang-orang PKI itu pun beragama Islam juga).

Namun, selain permusuhan dengan terhadapap sesama anak bangsa, PKI pun sebenarnya punya andil dalam perjuangan kemerdekaan, di mana mereka pernah memberontak terhadap Belanda pada tahun 1926, juga para pemuda yang ‘penculik’ Sukarno-Hatta agar memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, sebagiannya ada yang komunis anak asuh Tan Malaka yang adalah pemikir top komunis dari Indonesia.

Beberapa hal yang membuat PKI dicintai rakyat (yaitu anggota dan simpatisan PKI), adalah bahwa garis perjuangan PKI yang begitu kental dengan kepentingan rakyat. PKI sangat anti kapitalisme, anti penjajahan (kolonialisme) serta mencita-citakan kemandirian bangsa, meski tentu saja terdapat berbagai irisan dengan kelompok Islam, di mana dalam perlawanan terhadap kapitalisme itu, tak jarang PKI kebablasan dengan menyerang kepentingan ‘kelompok Islam’. Di desa-desa, para haji kerap disebut sebagai ‘setan desa’ dikarenakan mereka menjadi tuan tanah, sebenarnya penyebutan ini wajar, mengingat sepak terjang tuan tanah itu memeras rakyat dengan sistem rente mereka, akan tetapi kadang penyebutan itu terlalu digeneralisir tanpa memandang asal-usul kekayaan dan semua lawan politiknya dicap sebagai musuh yang harus diperangi. Karena perbedaan haluan politik pula, massa PKI begitu memusuhi kelompok Masyumi, NU dan PSI, serta pada segmen mahasiswa, dikenal dengan aksi Ganyang HMI.

Setelah G30 S mengalami kegagalan, militer Indonesia terutama Angkatan Darat menggandeng seluruh elemen rakyat (sebagian besar tentu umat Islam) memukul balik PKI. Terjadi pembantaian besar-besaran terhadap semua anggota PKI, bahkan yang hanya simpatisan tak luput dari kejaran. Apalagi setelah pemerintah mengumumkan PKI sebagai partai terlarang, makin bersemangatlah massa rakyat menuntaskan dendam. Kopkamtib melaporkan pembantaian itu mencapai 800.000 anggota dan simpatisan PKI di Jawa dan 100.000 di Bali dan Sumatera. Pada saat itulah, semua gelap mata dan menjadi pembunuh yang mendapat legitimasi kekuasaan.

Semua anggtoa PKI ditumpas, diuruk dalam kuburan-kuburan massal. Eksekusi berlangsung begitu mengerikan tanpa kenal ampun. Di antara korban itu tentu saja terdapat orang-orang yang hanya ikut-ikutan atau hanya pernah ikut didata sebagai anggota atau menerima bantuan PKI tetapi tidak pernah ikut dalam pertumpahan darah sebelumnya dan tak tahu menahu.

Tidak hanya itu, keluarga dan anak-anak orang PKI sampai berpuluh tahun kemudian masih harus ‘menanggung dosa’ warisan, tidak utuh diakui sebagai warga negara dengan cap khusus di KTP mereka dan perlakuan ‘istimewa’ dari negara.

Jika diukur dengan prinsip Islam, maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Hukum perang mengatur dengan jelas siapa yang bisa dibunuh dan siapa yang tidak. Selain itu dikenal juga yang namanya pengampunan, sebagaimana sering dilakukan Nabi termasuk dalam peristiwa Fathu Makkah tersebut, yang hanya memerintahkan untuk membunuh sekitar 17 gembong kekafiran. Itu pun, ternyata tidak semua dapat tertangkap, seperti Ikrimah bin Abu Jahal yang berhasil melarikan diri lalu datang dalam keadaan Islam, akhirnya diampuni.

Mengubur Konflik

Peristiwa seperti yang terjadi pada tahun 65 memang begitu rumit. Setelah pembunuhan 7 jenderal yang disebut sebagai peristiwa pemberontakan PKI itu, elemen bangsa hanya terbelah menjadi PKI atau bukan PKI. Massa non-PKI menganggap hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Meski bukan PKI, jika tidak ikut menumpas maka bisa-bisa dituduh sebagai PKI, apalagi jika menghalang-halangi penangkapan dan pembunuhan itu. Dan kita pun tidak dapat menyalahkan begitu saja terhadap semua elemen yang turut dalam gerakan penumpasan, meski seharusnya yang ditumpas hanya gembong PKI yang dianggap bertanggungjawab.

Kita harus jadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran, meskipun pahit, agar ke depan tidak terulang kembali dalam sejarah kemanusiaan kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan. Kita tatap masa depan bangsa tanpa dendam dan konflik.

Kepada-Nya lah semua akan kembali dan Dia yang akan menjadi hakim yang adil di Hari Akhir kelak.

Fathurrahman (@fathur_bekasi)