Kawasan Timur Harus Dikembangkan untuk Saingi Singapura

HMINEWS.Com – Indonesia adalah negara kepulauan atau negara maritim yang mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia. Posisi Indonesia juga sangat strategis bagi jalur pelayaran dunia, namun belum mampu memanfaatkanya untuk pembangunan ekonomi.

“Sebenarnya kalau kita manfaatkan kemaritiman kita, luar biasa bagi pembangunan ekonomi. Posisi kita berada di dua belah benua, dua samudra. Pelayaran kita dari Pasifik Barat: Jepang, Korea, China, Filipina, pasti lewat wilayah kita, daripada lewat Selat Malaka yang sibuknya luar biasa. Nilai pelayaran di lautan kita. Kita hanya 16 persen dari jasa pelayaran kita, selebihnya Singapura menguasai 60-70 persennya,” ujar Isran Noor, mantan Ketua Umum APKASI yang kini menggantikan Sutiyoso memimpin PKPI, Kamis (22/10/2015).

Kata Isran, kondisi tersebut dikarenakan infrastruktur kita yang tidak memadai, jadi kapal-kapal asing itu lebih suka parkir di Singapura. Karenanya Singapura-lah yang mengambil manfaat jalur pelayaran kita.

“Posisi Singapura sangat strategis. Sekarang kita mau menyaingi dimana? Fasilitas pelabuhan kita tidak lengkap, pelayanan kita bertele-tele. Harusnya mudah, murah, ada insentif,” lanjutnya.

Mantan Bupati Kuta Timur itu menyarankan, sebaiknya Indonesia mengembangkan kawasan timur Indonesia untuk menyaingi Singapura. Hal ini perlu dilakukan segera, sebab jika sampai didahului Malaysia yang berencana memotong Tanah Genting Kra untuk dibuat terusan, maka kita akan bertambah sulit.

Menurutnya Singapura maupun Malaka sudah sangat crowded, dan dengan dikembangkannya kawasan timur dengan pelabuhan yang memadai, maka secara otomatis armada pelayaran dunia akan meramaikannya. Hal ini akan membuat kawasan timur makin makmur dan makin meratanya kesejahteraan.

“Pembangunan kita masih terfokus di barat, malah mendekati Singapura. Salah besar. Harus jauh-jauh, dilempar ke tengah, timur. Suapya tidak crowded, jadi kenyamanan pelayaran terjamin. Potong pelayaran Sulawesi-Kalimantan. Bangun disitu pelabuhan-pelabuhan,” ujarnya.

Ia sangat menyayangkan rencana pemerintah pusat membangun kereta cepat Jakarta-Bandung, yang sebenarnya di kawasan ini fasilitas transportasi telah sangat lengkap. “Sekarang lagi, mau bangun kereta cepat Jakarta-Bandung, ngapain? Fasilitas sudah terlalu banyak di sini. Harusnya kerjasama dengan Jepang bangun di Papua sana,” lanjut dia.

Sedangkan untuk pertahanan dan keamanan, ia menyarankan untuk memperbanyak armada angkatan laut, yang saat ini baru ada dua yaitu Armabar dan Armatim. Dan itu pun berada di satu pulau. Maka perlu dibangun lagi di Papua, Kalimantan dan Sulawesi.

 

Isran Noor: Pemerintah Lembek Sikapi Klaim China atas Kepulauan Natuna

HMINEWS.Com – Klaim Pemerintah Republik Rakyat China atas sebagian wilayah Kepulauan Natuna milik Indonesia mengundang polemik. Pemerintah Indonesia dinilai lembek menyikapi permasalahan tersebut, tidak ada reaksi keras seperti Filipina, Malaysia dan Vietnam yang juga meradang karena wilayah mereka di Laut China Selatan juga diklaim RRC.

Menyikapi hal tersebut, mantan Bupati Kutai Timur, Isran Noor, menduga ada agenda tertentu di balik diamnya pemerintahan Jokowi-JK.

“Mungkin ada suatu hidden agenda membangun kekuatan dengan China. Perkiraan saya seperti itu. Mungkin ada kebijakan SBY (dahulu), kebijakan Jokowi sekarang, mungkin ada di balik itu. Tapi kalau diam saja dan tidak ada alasan lain, betapa lemah martabat kita, dan betapa tidak terhormatnya kita,” kata Isran Noor dalam kepada HMINEWS.Com, Kamis (22/10/2015).

Menurut Isran Noor, China tidak akan mau melepaskan wilayah yang telah mereka klaim itu. China telah menempatkan armada lautnya di Pulau Spratly di Kepulaaun Natuna.

“Kulihat China nggak akan pernah menyerah, nggak akan membagi wilayah itu. China lebih memilih perang. China sudah melakukan reklamasi, mengurug itu. Sudah ada bandaranya,” lanjut Isran.

Menurut Isran Noor kasus ini seperti upaya invasi China-Mongol di masa lampau yang pernah meminta Raja Kertanegara tunduk. Saat itu Raja Kertanegara mempermalukan utusan Kaisar Kubilai Khan, hingga berujung pengiriman 30.000 pasukan Mongol ke Jawa, namun dapat ditumpas oleh Raden Wijaya.

“Sebenarnya ini menjadi referensi penting, mempertahankan harga diri, meski beda konteksnya. Waktu itu Prabu Kertanegara punya 28 ribu armada. Sekarang tidak. 15 ribu pun nggak punya. Zaman begitu luar biasa dengan teknologi yang biasa, menguasai wilayah yang begitu luas. Sekarang mau perang kita gerakkan semua mesin perang kita hanya 8 sampai 12 jam habis BBM-nya,” kata politisi PKPI tersebut.

Kekuatan Angkatan Laut Indonesia, kata Isran, memang tidak lagi disegani dan diperhitungkan dunia seperti di zaman Sukarno. Untuk itulah, kata Isran, Indonesia harus memperkuat armada lautnya demi menjaga kedaulatan NKRI.