Nikmat Kemerdekaan

Membaca catatan Sidang BPUPKI, buku Yudi Latief ‘Negara Paripurna’ dan ‘Intelegensia dan Kuasa,’ dan beragam tulisan sejarah sekaligus biografi ataupun otobiografi para pendiri bangsa, kini ditambah film Soekarno (terlepas dari kontroversi pribadi sosok Sang Proklamator yang difilmkan), rasa-rasanya saya mulai menemukan makna, kata ini:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Kemerdekaan ini bukan karena pemberian Jepang, bukan pula atas pemberian AS yg membantu kalahkan Jepang, bukan pula karena Soekarno dan Hatta, bukan pula karena kenekatan-kenekatan para pemuda seperti Soepriadi, tapi hanya karena berkat dan rahmat Allah serta dorongan dari keingin luhur setiap orang yang berjasa. Soekarno, Hatta, Syahrir dan semua orang sampai kampung-kampung yang punya keinginan luhur untuk kehidupan yang lebih baik,

Kata berikut yang juga menarik adalah, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Ingat ke depan pintu gerbang, geguyon Cak Nun, ya pancen durung mlebu lawange, baru di depan pintu.

Untuk sampai di depan pintunya saja tak cukup seorang pemikir dan agitator seperti Soekarno, tak cukup pula ilmuwan, pemikir macam Hatta, tak cukup pula pemikir dan politisi macam Syahrir, atau si nekat Supriadi di Blitar. Ketika mereka semua berkumpul dan bersatu dengan rakyat itu pun baru sampai pintu gerbangnya, nah, kita ini generasi yang dituntut untuk membuka gerbang dan masuk. Itu jalan panjang yang harus dimulai dari setiap kita untuk memilih peran dan memilih tanggung jawab, karena kita tak akan pernah dituntut siapapun untuk memperjuangkan dan bertanggung jawab atas bangsa ini, tapi setiap kita perlu menuntut diri sendiri sebagai rasa syukur kita atas nikmat kemerdekaan ini.

Hafidz Arfandi

Mental Merdeka

Perayaan 17 Agustus kembali digelar, tahun 2015 menjadi penanda bahwa Indonesia telah merdeka selam 70 tahun. Sebuah usia yang cukup panjang. Selama rentang waktu tersebut, negeri ini telah mengalami ragam dinamika, berbagai masalah telah dihadapi, ada yang mampu dilalui dengan mulus, ada pula yang dilalui dengan tersendat, serta masih ada pula yang belum mampu diatasi. Dengan semua dinamika tersebut, seharusnya bangsa ini mapan, berdiri sejajar dengan bangsa lain, termasuk berdiri sejajar dengan bangsa yang pernah menindasnya di masa lalu. Indonesia mestinya mampu menampilkan diri sebagai bangsa besar, bukan hanya dalam semboyan, tapi juga dalam kenyataan.

Berbicara tentang kemerdekaan, maka berarti berbicara tentang manusia yang menghuni negeri tersebut, kemerdekaan sejati bisa dibuktikan bila manusianya adalah manusia merdeka yang sejati. Menyorot tentang manusia merdeka yang sejati, berarti menyorot mental dari manusia tersebut, mesti hadir mental merdeka guna mewujudkan kemerdekaan sejati. Secara sederhana, mental merdeka adalah mental yang meyakinkan individu bahwa ia mampu melakukan segalanya sebagai bangsa merdeka, mental ini hanya bisa diraih oleh bangsa yang merdeka, atau bangsa yang berjuang mendapatkan kemerdekaannya, kemerdekaan dalam arti seluas – luasnya.

Mari kita melihat mental manusia yang menghuni negeri ini, terima atau tidak, kita akan menjumpai fakta, bahwa masih banyak manusia Indonesia yang belum memiliki mental merdeka, belum muncul kepercayaan diri yang besar sebagai bangsa merdeka, masih selalu saja merasa manusia negara lain akan selalu lebih hebat dari dirinya, masih selalu lebih yakin, bahwa produk dari luar negaranya selalu lebih hebat dibandingkan produk dari dalam negerinya, masih beranggapan bahwa pemikiran dari luar selalu lebih brilian dari pemikiran rakyat Indonesia. Jika keadaan ini terus berlangsung, maka tentu bukan pertanda baik bagi bangsa kita, lebih parah lagi kalau kita menerimanya sebagai hal lumrah.

Ketidakmampuan merepresentasikan diri sebagai manusia merdeka merupakan efek postkolonialisme, penyakit yang dialami oleh sebagian besar bangsa yang pernah dijajah, walaupun tidak mustahil akan dialami pula oleh bangsa yang pernah menjajah, bila keadaan telah berbalik. Gejala seperti inilah yang disebut penjajahan mental, tubuhnya merdeka namun mentalnya belum, hal ini sebagai akibat dari terlalu lamanya kelompok manusia bersangkutan dicekoki doktrin penjajahan, doktrin menghamba pada penjajah, termasuk menghamba secara pikiran, ujungnya lahir mental budak, celakanya karena mental ini sering diwariskan secara tak sadar kepada generasi berikutnya, dan kadang pula penguasa setempat memanfaatkan mental ini untuk kemapanan kekuasan yang menyimpang. Perlu selalu kita ingat bahwa penjajahan mental lebih berbahaya dibandingkan penjajahan fisik, walaupun memang keduanya tetap merusak, penjajahan fisik masih lebih mudah diatasi dari penjajahan mental, bahkan seringkali mereka yang merdeka secara fisik, belum sadar bila mentalnya belum merdeka.

Kemerdekaan mental adalah sebuah keharusan, tak ada alasan pembenaran untuk menghindarinya, kemerdekaan mental bukan juga berarti menutup diri secara total, menutup diri terhadap kelebihan negara lain. Kelebihan itu boleh diambil sebagai pelajaran, namun tetap dalam posisi sejajar. Dengan kemerdekaan mental, akan lahir kepercayaaan diri yang sangat besar, dengan itu akan lahir pikiran besar, selanjutnya pikiran besar melahirkan sikap besar, sikap yang agung, hanya bangsa dengan sikap yang agung yang mampu melakukan terobosan besar di muka bumi. Optimisme harus terus dipupuk, memelihara pesimisme hanya semakin menenggelamkan negeri ke dasar jurang. Bangsa ini butuh optimisme produktif dari rakyatnya, sebuah model optimisme yang tetap memahami kelemahan, namun selalu meyakini bahwa kelmahan tersebut mampu dilampaui. Mari wujudkan mental merdeka, karena kita adalah manusia yang hidup di bangsa yang merdeka.

Zaenal Abidin Riam
Ketua HMI MPO Badko Sulambanusa