Pendidikan Vokasi Dukung Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan

Pendidikan Vokasional untuk Dukung Pembangunan Infrastruktur KetenagalistrikanHMINEWS.COM, Jakarta – Peningkatan kompetensi di bidang pendidikan vokasional diperlukan untuk mendukung pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 mega watt (MW). Hal ini menjadi salah satu bahasan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Terbatas tentang Ketenagalistrikan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution Rabu (5/10/2016) di Jakarta.

Rakor dihadiri Direktur Jenderal Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Surya Wirawan, Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir, Ketua Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Wahyu Utomo, dan perwakilan Kementerian/Lembaga terkait.
Jarman, Direktur Jenderal Kelistrikan Kementerian ESDM mengatakan pihaknya sudah bicara dengan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat seluruh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat memiliki sertifikat setelah lulus.
“Sistem regulasi dan sertifikasi sudah tersedia. Untuk vokasional, kami sudah kerja sama dengan Departemen Tenaga Kerja sehingga dapat segera kita implementasikan dan setelah lulus mereka langsung mendapatkan sertifikat,” ujarnya.
Sertifikasi ini diharapkan dapat tersedia dalam berbagai level serta perlu untuk menggaungkannya secara lebih luas.
“Saya sebetulnya mengharapkan jangan hanya 1 level saja, tetapi sediakan beberapa level. Jadi koordinasikan dengan Kementerian Ketenagakerjaan, Dikti, dan lembaga kejuruan,” harap Darmin.
Secara keseluruhan rapat juga membahas program pembangkit listrik 35.000 MW. Mulai dari kemajuan pekerjaan dan kendala pembangkit, transmisi, dan gardu induk, hingga kemampuan keuangan PLN dalam melaksanakan penugasan 35GW. Selain itu juga membahas pembangkit listrik Energi Baru/Terbarukan (PLT EBT) seperti solar, angin, PLTPanas Bumi.

Kongres ke-30 HMI MPO Lahirkan Gagasan Untuk Umat dan Bangsa

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) baru saja menyelenggarakan Kongres Ke XXX. Kongres ini dilaksanakan pada 12 – 19 November 2015 di Kabupaten Tangerang, Banten.

Hasil kongres ini menyatakan menerima laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar HMI MPO 2013-2015, menghasilkan sejumlah rekomendasi dan program kerja, serta menghasilkan Ketua Umum PB HMI MPO yang baru (periode 2015-2017) Muhammad Fauzi. Pembahasan demi pembahasan dalam kongres berlangsung alot namun tetap dalam suasana kekeluargaan.

Sebagai Ketua Umum terpilih Muhammad Fauzi berharap kepada seluruh kader HMI MPO se-Indonesia tetap solid dalam satu barisan untuk mengawal hasil kongres. Forum kongres selain menjadi memilih pemimpin dua tahun kedepan juga sebagai ajang konsolidasi nasional bagi seluruh cabang HMI MPO se-Indonesia.

“Ada tiga poin penting yang akan didorong oleh HMI MPO ke depan. Pertama, mendorong kedaulatan nusantara, kedua, menjadikan HMI sebagai pusat keunggulan bangsa, ketiga, mendukung tumbuhnya Islam yang ramah, toleran, dan terbuka,” ujar Muhammad Fauzi.

Muhammad Fauzi yang juga merupakan mahasiswa program pasca sarjana ilmu politik Universitas Indonesia menjelaskan terkait tiga poin tersebut.

Pertama, kedaulatan dianggap sangat urgen, kedaulatan merupakan syarat utama kemandirian bangsa, kedaulatan akan didorong pada aspek ekonomi, politik, dan budaya. Pada aspek ekonomi kedaulatan diwujudkan dengan mendorong penguatan ekonomi dalam negeri, khususnya ekonomi mikro. Pada aspek politik, bentuknya adalah mendorong kebijakan politik pro-rakyat, bukan malah menguntungkan segelintir elit, mendorong pemerintah agar keluar dari tekanan politik negara adidaya, dalam dimensi budaya, menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai ciri khas budaya Indonesia, di sisi lain, mendorong seluruh elemen masyarakat untuk meredam agresifitas budaya global yang berpotensi mengikis budaya lokal kita.

Kedua, menjadikan HMI sebagai pusat keunggulan bangsa, hal tersebut sangat rasional dan realistis, HMI punya modal besar untuk mewujudkan hal tersebut. Modal tersebut berasal dari para kader HMI Se Indonesia, keragaman latar belakang akademik, penguasaan wacana keilmuan dan gerakan, merupakan jaminan guna mewujudkan agenda besar ini, hal tersebut semakin diperkuat dengan pengalaman lapangan yang didapatkan dalam organisasi, jadi formulasinya adalah, kader HMI mapan secara akademik, menguasai wacana keilmuan dan gerakan serta memiliki pengalaman lapangan yang layak.

Ketiga, mendukung tumbuhnya Islam yang ramah, toleran, dan terbuka, hal ini dianggap penting mengingat Indonesia adalah negara multi kultural, yang menghargai keberagaman, perlu mendudukkan Islam dan Negara dalam kerangka saling melengkapi. Hal ini juga sebagai manifestasi dari Islam rahmatan lilalamin. Pada posisi ini Islam tidak dijadikan sebagai hamba keberagaman, tetapi Islam menjadi pengarah keberagaman, hasilnya adalah keberagaman yang mampu dipertanggungjawabkan, Islam terbuka merupakan nafas penyebaran Islam di Nusantara.

Dedy Ermansyah

HMI MPO Harus Kembangkan Tantangan dan Leading dalam Isu

HMINEWS.COM – Suharsono, mantan pengurus PB HMI di masa awal berdirinya MPO, menyatakan bahwa komitmen ideologi-lah yang menyatukan mereka para aktivis HMI MPO dahulu. Sedangkan kini, berasas Islam ataupun tidak, hampir tiak ada bedanya.

“Waktu awal MPO kita itu sangat sederhana, dari segi jumlah maupun dari segi sumberdaya yang ada. Cuma waktu itu satu-satunya yang menyatukan kita itu komitmen. Komitmen ideologi, atau Islam. Kita waktu itu memiliki perasaan yang sama terhadap rezim Orde Baru. Tingkat risiko orang yang berada di HMI MPO waktu itu serius sekali. Sementara zaman sekarang bisa dikatakan berasas islam atau tidak berasas Islam sama saja,” kata Kanda Suharsono kepada HMINEWS usai pembukaan Kongres di Hotel Yasmin Tangerang, Jum’at (13/11/2015) malam.

Menurutnya, perkembangan HMI MPO ini sekarang semakin ‘meriah,’ sedangkan yang kelihatannya agak berat adalah godaan pragmatisme. Karena tantangan yang sifatnya ideologis itu seakan telah pudar.

Ia juga menyatakan, tantangan ideologi ini tidak mungkin bisa dikembangkan jika jajaran yang ada di HMI tidak memadai dalam memahami epistemologi. Untuk itu, ia berharap agar kedepan para penggerak organisasi ini tidak melihat organisasi secara pragmatis seperti menjadikannya tangga karir.

“Harapan kita itu kalau bisa HMI kedepan itu jangan sekedar melihat organisasi secara pragmatis karir sebagainya itu, kalau bisa leading dalam perkembangan isu. Mentransmisikan ideologi. Dan itu tantangan yang sangat berat. Kalau orang leading secara ideologi biasanya mempunyai integritas moral. Problemnya orang sekarang ini sudah terperangkap dalam jebakan-jebakan materialistis,” paparnya lebih jauh.

Di bawah tekanan rezim Orba dahulu, HMI MPO bisa mengembangkan training-training besar, menggodok isu-isu besar, dan berpikir mandiri serta bertarung pemikiran dengan pihak lain. Pemikiran itu HMI yang kembangkan, sedangkan intra kampus menyerap atau mengikutinya.

Hal itu terjadi disebabkan “Karena banyak yang saya kader itu membawa isu itu ke dalam kampus. Sekarang HMI kelihatannya isu dari luar dimasukkan kedalam. Mengekor,” kritiknya.

Sikap mengekor itulah yang menurutnya membuat sebuah gerakan tidak bisa disebut sebagai gerakan Islam, padahal yang terjadi harusnya sebaliknya.

HMI Harus Kembali Pada Gerakan Intelektual

HMINEWS.Com – Mantan Ketua Umum PB HMI MPO Masyhudi Muqarrabin berpesan agar HMI MPO yang tengah berkongres di Tangerang itu tetap menjaga independensi tradisi intelektualnya.

“Saya berharap bahwa keputusan-keputusan kongres itu betul-betul independen, tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan alumni terutama yang membantu pelaksanaan kongres,” ujar Masyhudi Muqarrabin kepada HMINEWS usai acara pembukaan Kongres ke-30 di Hotel Yasmin, Jum’at (13/11/2015) malam.

Ia menjelaskan, HMI MPO dan HMI itu sendiri di masa awalnya dibangun dengan heroisme dan semangat revolusioner untuk melakukan perubahan. Oleh karenanya jangan sampai HMI bergeser idealismenya karena politik akomodatif.

Yang kedua,  lanjutnya, persoalannya pada kapasitas intelektual HMI secara institusional maupun individu-individu kadernya. Ia mengaku para pembangun awal HMI MPO adalah untuk menjadikan HMI sebagai institusi di mana karakter intelektual  betul-betul unggul dan bisa distinguish, berbeda karena kualitasnya.

“Awal-awal pemikiran HMI MPO dianggap punya framework tersendiri ke arah Islam, kemudian diturunkan ke arah konteks keilmuan dan dalam konteks sosial, sehingga wacana-wacara epistemologi Islam, islamisasi ilmu, itu menjadi bagian penting dari kegiatan-kegiatan kita,” urainya lagi.

Namun menurutnya, pasca reformasi, ia melihat ada sejumlah pergeseran, yaitu dari intelektualisme menjadi lebih berorientasi action. Ia menilai bahwa pilihan action tersebut sudah lebih memiliki muatan politik yang lebih tinggi, meskipun politik tidak diartikan condong ataupun akomodatif terhadap kekuasaan.

“Itu berbeda. Tapi itu mengurangi porsi pemikiran HMI,” tandasnya.

Dunia Berharap pada Indonesia

Pemikiran yang distinguish tersebut terjadi ketika dipakai banyak orang  dan diterapkan dimana-mana meski tidak harus diakui secara formal. Untuk itulah dalam berbagai training HMI ia selalu menyerukan untuk kembali kepada gerakan intelektual. Sebab jika semua berpikir praktis dan pragmatis, bangsa ini tidak memiliki masa depan, tidak memiliki karakter yang benar, padahal bangsa ini diharapkan menjadi pelopor kebangkitan dunia.

“Itu sudah mendapat pengakuan banyak orang (dunia), tetapi jika tidak kita buktikan, kita membuat banyak orang kecewa. Yang punya kapasitas membuktikan itu sebetulnya HMI,” ujarnya optimis.

Menurutnya di HMI jika tradisi intelektual HMI tidak kembali diperkuat dengan berbagai cara termasuk dengan frekuensi diskusi, pengembangan pemikiran dalam bentuk yang lain, maka kedepan harapan bangsa ini jadi tidak menentu.

“Maka kita kembali kepada gerakan intelektual. Apalagi jika kita bicara tentang islamisasi, saintifikasi Islam atau islamisasi ilmu, maka itu mengharuskan kita melakukan inovasi kegiatan-kegiatan HMI, apalagi tuuntutan-tuntutan dalam perkuliahan yang semakin ketat itu mengharuskan kader-kader itu dihadapkan pada dua pilihan, pilih kuliah apa pilih ber-HMI. Maka satu-satunya jalan ya kuliah sambil ber-HMI diintegrasikan,” jelasnya lagi.

Dari itu maka pengembangan disiplin ilmu atau keislaman itu adalah bagaiman nilai-nilai atau ajaran-ajaran Islam itu dipahami dalam konteks ilmiah bukan dogmatis seperti selama ini.

Kongres XXX HMI MPO Dibuka di Hotel Yasmin Tangerang

kongres 30HMINEWS.Com – Kongres XXX HMI MPO diadakan di Hotel Yasmin, Kabupaten Tangerang. Dihadiri perwakilan kader-kader HMI MPO se-Indonesia yang terdiri dari utusan dan peninjau maupun yang khusus hadir pada pembukaan kongres saja. Dihadiri pula oleh alumni-alumni dari berbagai kota, utamanya yang berdomisili di Jabodetabek.

Acara dimulai dengan pembacaan Al Qur’an, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Himne HMI dan Mars Hijau Hitam. Disusul dengan sambutan-sambutan; Ketua Panitia Kongres, Ketua PB HMI MPO dan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar yang sekaligus membuka acara tersebut secara resmi dengan pemukulan bedug.

Persidangan-persidangan dan musyawaran dalam kongres itu sendiri dilangsungkan di Pusdiklat Kabupaten Tangerang hingga 17November 2018.

Seminar Pra Kongres XXX HMI MPO

HMINEWS.Com – Seminar Pra-Kongres  XXX HMI MPO digelar di Gedung KNPI Kota Tangerang, Kamis (12/11/2015) siang. Menghadirkan tiga pembicara, Dr Aji Dedi Mulawarman (penulis buku Jang Oetama, Jejak Perjuangan HOS Tjokroaminoto), Dr Abdullah Hehamahua (mantan Ketua Umum PB HMI) serta Dr Isran Noor (Mantan Ketua APKASI, penggerak kemaritiman di Indonesia).

Harapan Mahfud MD pada Dua HMI yang Berkongres

HMINEWS.Com – Ketua Presidium KAHMI Mahfud MD menyatakan tema kongres ke-30 HMI MPO di Tangerang sesuai kondisi bangsa. Sebagaimana diketahui, HMI MPO mengangkat tema kemandirian bangsa, sama dengan tema milad KAHMI sebelumnya, meskipun antara PB HMI MPO dengan KAHMI Nasional tidak pernah ada pembicaraan mengenai tema ini.

“Kongres anda ini tepat sekali, kembali kepada semangat menjaga kedaulatan, karena negara ini terancam,” ujar Mahfud MD saat menerima kunjungan PB HMI MPO di kediamannya di Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Ancaman kedaulatan tersebut datang dari luar maupun yang datang dari dalam. Ancaman luar datang dari negara lain yang tidak menghormati kedaulatan kita, dan yang menginginkan kekayaan negeri ini jatuh ke tangan mereka. Sedangkan ancaman dari dalam adalah orang-orang yang hanya ingin mencari keuntungan untuk diri dan kelompoknya saja.

“Kami mengucapkan selamat kongres mudah-mudahan bisa meningkatkan hikmah untuk keberhasilan bangsa dan negara karena HMI lahir dulu karena ingin menjaga bangsa dan negara ini sebagai bangsa yang berdaulat. Berdaulat itu artinya ke luar dihargai eksistensinya, ke dalam bisa menaklukkan orang-orang yang destruktif terhadap kehidupan bernegara,” lanjut Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.

Belakangan diketahui juga HMI ‘Dipo’ yang akan berkongres ke-29 di Pekanbaru, sama-sama mengangkat tema kemandirian bangsa. Mahfud menyampaikan  harapan untuk kedua HMI yang berkongres di bulan yang sama ini.

“Kalau boleh saya mengimbau dari Kongres ini (HMI MPO) dan Kongres Riau (HMI ‘Dipo’-red) itu timbul kembali benih-benih penyatuan. Harus kita akui organisasi mahasiswa di Indonesia yang paling sukses mencetak pemimpin politik dan pemimpin intelektual itu ndak bisa dibantah, HMI. Nah ini kalau kita galang lagi menyatukan organisasi dengan visi yang sama saya kira bisa dilakukan untuk masa depan bangsa,” harapnya.

Ia juga berharap HMI tetap mempertahankan jatidirinya, mengedepankan sisi inovasi dan intelektualitas serta pengabdian untuk kebaikan umat dan bangsa.

PB HMI Berkunjung Ke Redaksi Republika

HMINEWS.Com – Jelang kongres ke-30, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) berkunjung ke kantor redaksi Republika di Warung Buncit – Pasar Minggu – Jakarta Selatan. Rombongan PB HMI terdiri dari Ketua Umum Puji Hartoyo, Sekjen Abdul Malik Raharusun, bersama tim pekerja Kongres, disaambut Pemred Nasihin Masha, Waredpel Subroto beserta sejumlah asred dan wartawan.

Subroto menyatakan, antara media massa Islam dan gerakan atau ormas Islam haruslah selaras, seiring seperjuangan, tidak semestinya jalan sendiri-sendiri.

“Sebab pada dasarnya kita bergerak menuju ke arah yang sama,” ujar Wakil Redaktur Pelaksana Republika, Subroto, Rabu (11/11/2015).

Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo, mengungkapkan kunjungannya itu adalah dalam rangka bersinergi dengan media massa Republika, yang diketahui selama ini sudah menjadi corong aspirasi bagi umat Islam.

Puji juga menyampaikan sejumlah program kerja yang telah dan sedang dijalankan PB HMI, serta menjawab pertanyaan wartawan Republika berkenaan dengan sejumlah isu nasional seperti Kabinet Jokowi-JK hingga persidangan HAM di Den Haag Belanda yang hendak menggugat pemerintah Indonesia atas apa yang terjadi di masa lalu, yaitu pembersihan golongan PKI, pasca gagalnya pemberontakan G30S/ PKI atau Gerakan Satu Oktober (Gestok).

Dalam kesempatan ini hadir juga sejarawan Jakarta, Alwi Sahab yang sengaja datang untuk menemui rombongan HMI, guna menceritakan sejumlah pengalamannya bersentuhan dengan HMI di masa mudanya.

HMI Cabang Yogya: Kami Belum Tentukan Calon untuk Kongres 30!

HMINEWS.Com – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Yogyakarta merasa keberatan dengan publikasi nama-nama bakal calon ketua umum PB HMI pada kongres ke-30 yang akan digelar di Tangerang. Ketua dan Sekum HMI Cabang Yogya menyatakan pihaknya hingga saat ini belum bersepakat, figur mana yang akan mereka usung nantinya.

“Beberapa kader Yogya agak keberatan dengan muatan berita soal kandidat. Pembaca menafsirkan berbeda-beda dan tentu akan mempengaruhi sikap cabang-cabang, padahal Yogya sampai sekarang tidak mengusung siapa-siapa, tapi cabang selain Yogya malah menafsirkan kalau Yogya mengusung kandidat dan Yogya dianggap tidak tahu diri,” kata Sekum HMI MPO Cabang Yogya, Muhibbuddin A Muqorrobin kepada hminews, Selasa (10/11/2015) malam.

Muhib menambahkan, pengusulan nama hanya terjadi di Kongres (seperti biasanya).

Kemudian, Rabu (11/11/2015) pagi, Ketua Umum HMI MPO Yogya, Makruf Riyanto, juga melalui pesan yang disampaikan Sekumnya, menegaskan kembali keberatan tersebut.

“Sebab berita itu cukup mengganggu mengingat Cabang belum mengeluarkan pendapat resmi, smentara nama-nama sudah beredar. Pasalnya muatan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yang tidak diinginkan,” tulisnya.

Sebagaimana diketahui, hminews telah merilis 16 nama bakal calon yang beredar, yang tiga di antaranya merupakan kader Yogya, yaitu Ahmad Sahide, Bambang Suherly, serta Zuhad Aji Firmantoro.

Penjelasan Redaksi Hminews

Redaksi Hminews mengakui dan membenarkan fakta bahwa pengusulan calon-calon ketua dilakukan sewaktu kongres berlangsung, dan selama ini yang terjadi Cabang-cabang HMI MPO belum pernah ada yang mendeklarasikan calon yang mereka usung menjelang kongres. Redaksi menegaskan, nama-nama telah dipublish itu memang bukan usulan resmi cabang-cabang.

Pada kenyaataannya berdasar pengalaman berkongres sejak tahun 2007 di Depok, Kongres 2009 di Jogja, Kongres 2011 di Pekanbaru dan Kongres 2013 di Bogor, sebenarnya nama-nama calon itu sudah lama beredar di kalangan tertentu; di sejumlah alumni penyokong, dan tim pengusung atau tim sukses yang juga telah bergerak melakukan lobby-lobby ke personel-personel yang dinilai berpengaruh terhadap masing-masing cabang.

Namun begitu, karena tidak setiap Cabang memiliki kandidat yang akan diusung, dan nama-nama baru beredar secara terbuka pada saat kongres berlangsung, maka peserta kongres kurang memiliki waktu yang panjang untuk menimbang dan menilai serta menelusuri track record calon-calon yang bermunculan pada hari-H.

Sebagian peserta kongres kebingungan menentukan pilihan, dan hal ini yang dimanfaatkan tim-tim lobby. Peserta yang belum mempunyai pilihan itu juga tak jarang bertanya kepada senior masing-masing yang sebenarnya kepada mereka telah disampaikan visi kandidat yang diusung itu, oleh tim pendukungnya. Maka dari itu redaksi menganalisis nama-nama yang telah beredar itu dan mempublikasikannya. Itu saja sebenarnya masih ada yang mempertanyakan mengapa tidak ada nama dari cabang atau wilayah mereka, padahal dilihatnya potensial.

Demikian penjelasan redaksi

Inilah Para Bakal Calon Ketua yang Akan Bersaing di Kongres HMI MPO

Inilah nama-nama kader yang akan meramaikan bursa calon ketua umum HMI MPO pada Kongres ke-30 di Tangerang, 12-16 November 2015, versi redaksi hminews.

  1. Abdul Malik Raharusun
    Aktif di Pengurus Besar selama dua periode (2011-2013 dan 2013-2015). Saat ini masih menjabat Sekjen PB HMI MPO. Telah menamatkan pendidikan Magister Pendidikan di UNJ dan tengah menempuh program doktoral di UNJ juga.
    Tipe organisatoris dan pemikir taktis. Telah menulis beberapa buku. Prediksi diusung dari HMI MPO Cabang Tual Maluku Tenggara, sejumlah cabang di Maluku dan Papua. Telah menikah dengan mantan Ketua Umum HMI Cabang Jakarta, Dona Marliza (2015). Namun tampaknya kurang berminat duduk untuk ketiga kalinya di PB HMI MPO.
  2. Agus Thohir
    Alumni IAIN Walisongo Semarang. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Semarang 2009-2010, Sekjen PB HMI 2011-2013 selama satu semester awal.
    Tipe organisatoris, konseptor dan penggerak. Pengalaman menyatukan elemen gerakan mahasiswa se-Semarang.
    Kemungkinan cabang pengusung: Semarang. Mendekati kongres ini Agus Thohir tidak menampakkan minatnya maju untuk PB HMI 1. Tidak pula terdengar melakukan komunikasi politik untuk hal itu.
  3. Ahmad Sahide
    Kader HMI Cabang Yogya, menyelesaikan S1 di UMY dan S2 di UGM. Pernah menjabat wasekum HMI MPO Cabang Yogya, 2007-2008, setelah itu menjadi anggota pengader di KPC Yogya.
    Setelah demisioner dari kepengurusan Cabang Yogya belum pernah menjabat kepengurusan Badko hingga PB sehingga bisa dibilang minim pengalaman memimpin, namun cukup produktif menulis buku yang dinilai sebagai penanda intelektualitasnya. Hal ini yang lantas menyatukan alumni/ senior Makassar untuk memuluskan jalannya ke PB 1. Bahkan menjelang kongres ini senior Makassar turun tangan mempertemukan pengurus Cabang Makassar dengan pengurus Cabang Makassar versi KLB yang sudah hampir dua tahun kepengurusan dan belum konferensi.
    Yang bersangkutan telah menjalin komunikasi dengan personel PB HMI dan alumni, yang bisa diartikan sebagai keinginannya maju pada bursa calon Ketua Umum PB HMI MPO. Didukung sejumlah senior UMY dan cabang binaan mereka di Mataram NTB. Selain itu salah seorang alumni UMY yang pernah duduk PB HMI periode kepengurusan M Chozin (2009-2011), yaitu Hamdani, saat ini aktif nongkrong di PB HMI dan tampaknya hal ini dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan menggalang dukungan itu.
  4. Bahtiar Rambangeng
    Mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar. Menamatkan S1 filsafat di Universitas Islam Negeri Sultan Alauddin Makassar. Pernah duduk di Korps Pengader Nasional (KPN) periode 2011-2013 yang dipimpin Muhammad Yusuf sebelum dibekukan pada periode itu oleh Ketua Umum Alto Makmuralto.
    Telah menjalin komunikasi dengan sejumlah senior dan cabang untuk maju di Kongres. Kemungkinan cabang pengusung masih berbagi dengan Fauzi, Ahmad Sahide maupun Ari mantan ketua Badko Sulambanusa. Telah menikah (2015).
  5. Bambang Suherly
    Alumni UMY. Saat ini merupakan Staf Komisi PAO PB HMI. Tipe pribadi kinestetis yang enerjik dan menyukai pekerjaan lapangan, suka berkunjung ke cabang-cabang. Telah menikah dan mempunyai 2 anak. Sebenarnya punya ‘sedikit’ keinginan untuk maju, namun ia punya pertimbangan lain soal keluarga, dukungan cabang, serta pertimbangan terhadap bakal calon lain yang akan bersaing di Kongres nanti.
  6. Endri Somantri
    Mantan Sekum HMI MPO Cabang Bogor saat Herdiana menjadi Ketua Umumnya. Saat ini merupakan Ketua Badko HMI MPO Jawa Bagian Barat (Jabar, Banten dan DKI Jakarta). Pengurus aktif maupun sejumlah mantan pengurus Cabang Bogor terlihat hendak mengusungnya pada kongres ke-30 ini. Pernah juga Endri menyampaikan niatnya itu, namun ia masih berhitung, apalagi mungkin akan bersaing dengan senior se-cabangnya atau sesama bakal calon dari wilayah barat.
  7. Fendi Tulusa
    Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Gorontalo. Tidak menujukkan minat untuk bersaing di kongres dan tidak terlihat pula menjalin komunikasi atau mencari dukungan untuk menuju kesana. Saat ini telah menikah dengan Novawati van Gobel, yang juga mantan pengurus di cabang yang sama dengannya.
  8. Herdiana Abdussalam
    Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Bogor, mantan Ketua Badko Jawa Bagian Barat, serta menjabat Ketua Komisi Pemuda PB HMI MPO 2013-2015. Saat ini telah berkarir sebagai Kepala Desa di sebuah desa di Banten. Dengan pilihannya saat ini, tentu Herdi tidak akan maju pada bursa calon Ketua Umum PB HMI MPO meski punya kans dan dukungan di wilayah barat. Herdi juga telah menikah dan mempunyai seorang anak.
  9. Herman Haerudin
    Pendiri dan ketua pertama HMI MPO Cabang Majene. Alumni S1 Ilmu Keguruan Bahasa Inggris di Mejene dan S2 UNINDRA Jakarta. Pernah menjabat Sekjen PB HMI MPO di zaman kepengurusan Alto Makmuralto, semester 2. Telah menikah dan mempunyai seorang anak. Bekerja satu kantor dengan Bahtiar dan Fauzi. Beberapa kali menyatakan keinginan untuk maju di PB satu, namun belakangan sepertinya keinginan tersebut tidak sekuat dulu.
  10. Muhammad Fauzi
    Mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar. Alumni Fakultas Teknik Elektro UNM dan masih menempuh pendidikan S2 Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, tengah mengambil cuti. Pernah menjabat Staf Komisi Politik PB HMI periode 2011-2013 sebelum direshuffle oleh Alto. Telah menjalin komunikasi dengan sejumlah alumni/ senior dan cabang untuk menghadapi Kongres nanti. Kemungkinan diusung dari Cabang Bima, atau bisa juga dari Cabang Makassar yang merupakan cabangnya dahulu, serta sejumlah cabang lain.
  11. Muhammad Rafi
    Mantan Ketua umum Badko Sumatra Raya 2011-2013 dan Ketua Komisi Kebijakan Strategis PB HMI 2013-2015. Selama menjabat di PB HMI lebih banyak aktif di Sumatra. Alumni Fakultas aktif sebagai dosen di Pekanbaru.
    Prediksi diusung Cabang Pekanbaru, jika memang berniat maju di kongres. Telah menikah dan mempunyai anak.
  12. Muhammad Zaki
    Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Jakarta Selatan. Alumni S1 UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Menjabat sebagai Wakil Sekjen pada semester pertama kepengurusan PB HMI MPO 2013-2015 dan setelah reshuffle menjabat sebagai Komisi Ekonomi PB HMI MPO. Belakangan aktif menjalin komunikasi untuk maju bursa Ketua Umum pada Kongres 2015 di Tangeran ini. Disayangkan ia tidak begitu aktif di kepengurusan ini yang seharusnya bisa menjadi pertimbangan banyak pihak dan untuk melihat kinerjanya.
  13. Nurul Huda
    Alumni S1 STAI Laa Tansa Mashiro, Lebak Banten. Mantan Ketua Badko Jawa Bagian Barat, dan saat ini menjabat Ketua Komisi PAO PB HMI saat ini. Telah menikah dengan salah satu personel Kornas KOHATI (2015). Tidak menunjukkan minat untuk maju atau mencalonkan diri sebagai Ketua PB HMI MPO pada kongres ini, dan tampaknya sudah mulai fokus pada kehidupan keluarganya.
  14. Subardin Zuhdi
    Mantan pengurus HMI MPO Cabang Palu, dan menjadi Ketua Komisi Lingkungan PB HMI MPO 2013-2015, namun lebih banyak aktif di daerahnya, tidak begitu aktif di Jakarta. Yang bersangkutan sebenarnya pernah mengutarakan niatnya maju di kongres 2015 ini, namun terlihat mengendur dan tidak melakukan komunikas intensif lagi.
  15. Syafrimal Akbar
    Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor. Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Bogor tahun 2010, dan pernah menjabat Ketua Komisi Ekonomi PB HMI MPO 2013-215 pada semester pertama.
  16. Zuhad Aji Firmantoro
    Mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta 2012-2013, setelah itu menjadi sekretaris KPC Cabang Yogya. Saat ini menjabat Ketua Komisi Hukum dan HAM PB HMI MPO. Alumni S1 Fakultas Hukum UII dan hampir menyelesaikan S2 di kampus yang sama. Cukup aktif di kepengurusan dan menyikapi dinamika politik tanah air. Tidak terlihat menjaln komunikas politik untuk maju pada kongres ini. Dan lagi, Ketua Umum PB HMI MPO saat ini sama-sama satu almamater dengannya. Selain itu secara tradisi ada rolling kewilayahan untuk memimpin PB HMI, sehingga tampaknya ia mempertimbangkan faktor ini. Sekarang advokat di Yogya.Selain nama-nama tersebut, mungkin masih bisa muncul nama lain pada pelaksanaan kongres nanti. Semoga semua bisa bersaing secara sehat.