Berebut Gembala Di Lokasi Banjir

Siang itu kami relawan banjir LAZIS (Lembaga Amil Zakat Ifaq dan Shadaqah) Dewan Da’wah mendatangi Desa Segara Makmur, Kecamatan Taruma Jaya, Kabupate Bekasi. Berkoordinasi untuk menyalurkan bantuan dengan aktivis dakwah di desa yang menjadi sasaran pemurtadan tersebut – sudah tiga kepala keluarga berpindah aqidah.

Kami tiba di sana tepat ketika adzan ashar berkumandang, Sabtu (19/1/2013). Seusai shalat kami bersilaturahmi dengan ketua masjid dan beberapa aktifis dakwah yang getol membendung arus kristenisasi di sana. Beliau bercerita awal kedatangan para aktifis gereja untuk mendirikan Bimbel (bimbingan belajar), lembaga pendidikan non formal usia TK dan SD, yang berada di kampung Sarang Nyamuk Desa Segara Makmur.

“Melihat kondisi ini saya pun tidak tega, dengan dana seadanya, kami dan teman-teman pengajian  mendirikan yayasan Raudhatul Mutafakkirin” jelas Pak Eko, salah seorang aktivis dakwah di desa tersebut. Akhirnya aktifis gereja pun merasa segan dan memindahkan tempet bimbel di kampung sebelah, Kampung Poncol.

Bukan hanya sekedar mendirikan yayasan pendidikan yang dirintis Pak Eko, namun beliau juga berusaha mengimbangi dengan memberikan makanan bagi yang mengikuti pendidikan di yayasannya. “Karena mereka (aktifis gereja) memberikan berbagai makanan mahal kepada anak-anak, hampir setiap bulannya warga di sini mendapat sembako, bahkan kemarin ketika lebaran pun mereka memberikan bantuan dana dan sembako kepada warga desa,” lanjutnya.

Beliau juga menceritakan pernah suatu ketika aktifis gereja membawa satu mobil Hoka-hoka Bento dan membagikannya secara gratis kepada warga. Sempat juga dulu (sebelum banjir) mereka membawa sembako dengan menggunakan truk TNI. Masyarakat yang sebagian besar bermata-pencaharian sebagai petani tambak dan nelayan dengan penghasilan yang sangat minim, begitu dahsyatnya menerima ujian keimanan dengan dalih  bantuan sosial dan pendidikan.

“Untuk menyekolahkan anak-anak mereka di bangku TK dan SD banyak warga yang tidak mampu,” ungkap Pak Eko. Kondisi inilah yang dimanfaatkan aktifis gereja Cilincing memurtadkan warga, dengan mengirim mahasiswa kristen setiap minggunya mereka mengajarkan berbagai ilmu yang disisipi ajaran kristen kepada warga muslim.

“Sudah hampir 15 tahun mereka memberikan bantuan tersebut. Namun belum ada lembaga sosial Islam yang membantu kami. Ketua masjid mengharapkan bantuan dari lembaga maupun personal muslim untuk meringankan beban mereka, terlebih ketika banjir datang, tentunya pihak gereja lebih masif memberikan bantuannya.

Hadiid, Mahasiswa STID Mohammad Natsir