Mahasiswa UIR Sampaikan Petisi Perbaikan Ekonomi Bangsa

HMINEWS.Com – Mahasiswa Iniversitas Islam Riau (UIR) dan HMI MPO Pekanbaru berunjukrasa di Kantor DPRD Riau. Memprotes kebijakan pemerintah yang dinilai membuat ekonomi Indonesia terpuruk. Mereka berorasi dan menyampaikan petisi yang ditandatangani bersama.

Aksi diikuti 200-an mahasiswa dari beberapa fakultas di UIR. Mereka menaiki sepeda motor dan menumpang bus kampus. Namun kedatangan mereka tertahan di halaman kantor DPRD, sehingga berujung pada aksi pembakaran keranda ‘Presiden Jokowi’ selama sejam.

“Mahasiswa Riau menginginkan adanya perbaikan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu kami sampaikan petisi ini untuk diteruskan kepada Pak Presiden. Petisi ini dirumuskan kawan-kawan mahasiswa dan dosen UIR pada 3 September,” Kata Mensospol BEM UIR, Henky Fernando, Jum’at (4/9/2015).

Khusus untuk perbaikan ekonomi Riau, mereka menuntut agar menempatkan orang-orang yang ahli dalam bidangnya, mereformasi birokrasi, melaksanakan land reform atau pembebasan lahan pertanian yang selama ini selalu beralih fungsi menjadi lahan industri. Mahasiswa Riau juga menginginkan pemerintah agar lebih nasionalis dan berpihak kepada rakyat, apalagi di tengah krisis yang sedang melanda seperti saat ini.

Bambang S

20 Mei, Mungkinkah Jokowi Digulingkan?

Dunia politik dan aktivis makin sibuk dan terlihat menghangat mendekati peringatan 17 Tahun Reformasi,  dan Hari Kebangkitan Nasional. Kesempatan ini juga sekaligus digunakan untuk mengevaluasi 7 bulan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Melihat gejala yang muncul, telah tampak berbagai ketidakpuasan terhadap kinerja Jokowi-JK dan kabinetnya. Pemerintahan yang awalnya diharap benar-benar sebagai representasi kehendak rakyat kecil untuk berdaya ini, malah kini dituduh membelakanginya. Untuk itulah, berbagai kelompok aktivis, mulai dari aktivis mahasiswa, aktivis kawakan, serta sejumlah politisi berniat turun ke jalan untuk menyuarakan perubahan.

Turunnnya mahasiswa ke jalan telah berlangsung dari pertengahan Maret 2015 di berbagai daerah, dipicu naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan melambungnya harga kebutuhan pokok lain, ditambah kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tanggap terhadap penegakan hukum, pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi, melindungi bumi-air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, serta berbagai aspek lain yang langsung maupun tak langsung bersentuhan dengan kehidupan rakyat secara umum.

Aksi mahasiswa ini pun tak urung dimanfaatkan sementara pihak, khususnya orang-orang yang hendak mengambil keuntungan politis dengan menekan Jokowi-Jk dan kabinetnya, untuk menyegerakan reshuffle kabinet atau bila  perlu pelengseran Sang Presiden. Bahkan di media-media online pun bermunculan provokasi terhadap mahasiswa ini, agar melakukan aksi turun ke jalan.

Apakah akan terjadi pelengseran Jokowi-JK?

bemuiMelihat motif dan bentuk aksi-aksi mahasiswa, yang kebanyakan dilakukan organisasi internal kampus seperti BEM UI, IPB, ITB, UNS, UGM, dan BEM-BEM lain di Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, serta yang berasal dari organisasi eksternal kampus seperti cabang-cabang HMI, PMII, KAMMI maupun yang lainnya, gerakan teresbut masih sebatas gerakan protes. Protes yang bertujuan untuk mengoreksi kebijakan pemerintah yang dinilai salah.

Ada pula terdengar tuntutan agar Jokowi menanggalkan jabatannya karena dinilai tidak mampu, namun lebih banyak berisi tuntutan agar Jokowi benar-benar memperhatikan rakyat dalam setiap pengambilan kebijakannya. Tuntutan lengsernya Jokowi, tampak lebih sebagai bentuk ‘jeweran’ mahasiswa agar suara mereka lebih didengarkan, dan pemahaman sebaliknya (atau mafhum mukhalafah-nya) yang bisa ditarik adalah: mereka hanya menginginkan Jokowi berubah dari perilakunya yang tampak selama menjabat, dan agar melaksanakan janji-janji kampanyenya, itu saja, dan Belum Benar-Benar Menuntutnya Mundur dari Jabatan.bemuns

Mahasiswa masih berharap Jokowi bisa berubah. Itu sebabnya mereka pun menginginkan Jokowi menemui mereka dalam dialog-dialog publik yang mereka ajukan dalam demonstrasi belakangan ini.

Faktor lain yang tak bisa diabaikan tentang lengsernya presiden sebelum waktunya, adalah bahwa rakyat sampai saat ini terlihat masih cukup bersabar. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa sebagian dari mereka (52 persen pemilih dalam Pilpres 2014) memilihnya secara langsung, dan berharap Jokowi benar-benar merupakan gambaran diri mereka sendiri (wong cilik) dan akan mampu menakhodai mereka dalam kehidupan berbangsa setidaknya 5 tahun ke depan, meski usai pencoblosan dan begitu dilantik, mereka melihat satu per satu harapan mereka terbentur dinding.

Yang juga tak kalah penting, adalah elemen militer. Sebagaimana terjadinya Reformasi 98 karena dukungan militer terhadap gerakan mahasiswa. Kini militer terlihat belum terpancing untuk terjun langsung dan menyegerakan suksesi di luar kebiasaan (karena memang masih 4 tahun lagi), dan kehendak berbagai pihak yang tak ingin militer terlalu mengendalikan politik di negeri ini, yang dikhawatirkan mengancam demokrasi.

Tak bermaksud meremehkan gerakan mahasiswa atau meremehkan aksi turun ke jalan, namun fase yang terjadi saat ini memang belum mencapai kekuatan untuk terjadinya pelengseran seorang presiden. Meski begitu, patut disayangkan adanya upaya mobilisasi relawan sebagai gerakan tandingan, karena bisa mengadu-domba rakyat.

Redaksi

Datang ke Jambi, Wapres JK Didemo Soal Kenaikan Harga

HMINEWS.Com – Mahasiswa menyambut kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jambi dengan aksi unjukrasa. Kunjungan Wapres tersebut dalam rangka meresmikan Menara Gentala Arasy dan Jembatan Pedestrian, sebagai ikon baru Jambi, Sabtu (28/3/2015) siang.

Dalam penolakannya tersebut, para orator mewakili ratusan mahasiswa yang berkumpul, menyampaikan orasi mereka secara bergantian. Protes mereka terutama mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang telah secara resmi diumumkan Sabtu dini hari, serta telah didahului dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok lainnya.

“Kami mahasiswa menolak pemimpin tidak pro-rakyat datang ke Jambi,” teriak para mahasiswa dalam  unjukrasa di halaman Kampus Universitas Negeri Jambi di Telanaipura, Kota Jambi, sejak pagi tersebut.

Peserta aksi berasal dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unja, KAMMI dan yang lain. Saat hendak menuju simpang empat BI, mereka dihadang oleh pihak kepolisian dan terjadilah bentrok, hingga jatuh korban terluka dari kedua belah pihak, terutama mahasiswa akibat dikeroyok oleh polisi.

Sebagaimana diagendakan, selain peresmian dua ikon Provinsi Jambi itu, Wapres JK juga mengukuhkan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jambi.

Menyikapi seorang rekan mereka yang terluka karena pengeroyokan, Yulianto, mahasiswa akan menggelar aksi lanjutan, solidaritas, esok harinya (29/3/2015).

Ke Istana Bogor, Takkan Luput Jokowi Didemo Mahasiswa

HMINEWS.Com – Mahasiswa gabungan dari berbagai kampus di Jabodetabek, Bandung dan Lampung berunjukrasa di Istana Bogor. Menyerukan protes terhadap Pemerintahan Jokowi- JK yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Massa gabungan itu berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kampus UPI Bandung, Unjani Bandung, UNIDA Bogor, Pakuan, PNJ Depok, BSI, IPB, Ibnu Khaldun Bogor, dan Universitas Lampung. Berkumpul di Istana Bogor, yang kini menjadi tempat berkantornya Presiden Jokowi, Jum’at (27/3/2015).

Mahasiswa dari PNJ yang berorasi menyatakan tidak akan berhenti mengingatkan Jokowi. Aksi damai ini bertujuan untuk menegur Jokowi yang menurut mereka, kinerjanya selama 4 bulan memimpin, menunjukkan hasil yang mengecewakan. Untuk itulah mereka menghadiahi Jokowi dengan ‘Rapor Merah.’ Ia juga menganggap Jokowi sebagai pemimpin yang mengkhianati rakyatnya.

“Janjinya akan cinta pada Ibu Pertiwi namun kini berpaling pada ibu Megawati. PHP rekan – rekaaaan,” teriaknya.

Mahasiswa dari berbagai kampus kemudian bergiliran berorasi menyampaikan protes mereka. Diselingi pula dengan pembacaan puisi oleh mahasiswa seni.

Mereka menjanjikan akan terus melakukan unjukrasa hingga Jokowi menunjukkan perubahan yang berpihak kepada nasib rakyat. Jika tidak, “Jokowi tidak akan lama memimin kawan-kawan. Dan saya membenarkan itu!” kata mahasiswa.

Unjukrasa Di Asahan Aman, Toko Sepanjang Jalan Tutup

HMINEWS.Com – Unjukrasa ratusan mahasiswa IMM, HMI MPO, PMII, HMI Dipo serta elemen masyarakat dan pedagang berlangsung di Asahan, Sumatera utara. Dalam aksi tersebut Bupati Asahan juga setuju dengan mahasiswa yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Konsentrasi massa terpusat di kampus Universitas Asahan (UNA), bergerak menuju Kantor Bupati Asahan dengan konvoi sepeda motor. Sepanjang jalan massa meneriakkan penolakan kenaikan harga BBM. Mereka berorasi di tiap titik strategis dan berhasil membujuk Bupati menandatangai penolakan tersebut.

“Bapak Bupati Asahan, Taufan Gama Simatupang juga menolak kenaikan harga BBM. Dia setuju menandatangani pernyataan yang kami ajukan,” kata koordinator aksi aliansi mahasiswa di Asahan, Raja Imansyah kepada HMINEWS.Com, Kamis (29/3/2012).

Dari Kantor Bupati, massa bergerak menuju pusat kota. Meski unjukrasa berjalan relatif tertib, namun karena kekhawatiran terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, toko-toko sepanjang Jalan Raya Lintas Sumatera tutup. Keributan terjadi ketika polisi menghalangi mahasiswa yang membakar ban. (Aditia)