HMI MPO Manado Gelar Konferensi ke-12

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Cabang Manado mengggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XII yang bertempat di Asrama Haji Tuminting, Jumat (06/11/2015).

Dalam konfernsi ke-12 HMI MPO Cabang Manado ini, para kader menetapkan tema “Reposisi Gerakan HMI; Ikhtiar Wujudkan Insan Ulil Albab.” Ketua Umum Fandi Umanahu dalam pembukaan acara ini menyampaikan, keseluruhan hidup manusia sebenarnya merupakan perjuangan dan perlawanan tiada akhir.

Sementara dalam konteks berorganisasi di HMI ini, menurutnya, merupakan langkah tepat untuk menempa dan memperbaiki kualitas diri. “HMI lahir untuk membuat perubahan sosial, dengan tujuan HMI menjadikan manusia menjadi insan Ulil Albab yang bertanggung jawab pada struktural dalam membina masyarakat,” ujar Fandi di depan puluhan kader HMI.

Fandi juga menambahkan, HMI juga bertanggung jawab dalam meraih ridhoi dari Allah Swt, dan  lebih lama organisasi ini berdiri maka akan semakin tinggi ujian yang ada, maka itulah dalam konferensi ini mengambil tema ‘Resposisi Gerakan HMI Ikhtiar Wujudkan Insan Ulil Albab.’

“Revolusi tidak hanya satu hari terjadi, tapi bahkan ratusan hari. Semoga HMI tetap konsisten dalam bergerak menuju Ridhoa Ilahi,” tuturnya, pukul 22.00.

Sementara itu, dalam sambutan Alumni HMI Cabang Manado Indra Arsiali yang langsung membuka Konfrensi Cabang menuturkan, HMI punya  karakter khas, yang pertama HMI umat terbaik diantara organisasi yang ada di Indonesia, karena hanya HMI yang berani menampung beraneka ragam kepentingan dan golongan.

“Hal itu membuat HMI sudah terbiasa dengan ‘konflik’ atas gesekan antara faksi-faksi yang ada, namun yang terpenting adalah HMI merupakan umat terbaik,” ungkapnya, sembari memberikan semangat pada kader-kader HMI Cabang Manado.

Sebelum mengetuk palu tanda pembukaan konferensi, Indar berharap agar resposisi pada tema benar diaplikasikan. “Mudah-mudahan resposisi ini bukan hanya berpindah posisi melainkan, berpindah posisi yang lebih baik lagi,” tandasnya.

(Arman Soleman, detikawanua)

HMI Cabang Manado Gelar Dialog Publik Sikapi ISIS

manadoHMINEWS.Com –  Issu ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) makin memanas, bahkan menimbulkan persepsi yang berbau paradoks dan kontroversial. Makin berkembang dan menjadi hal yang menakutkan di tengah masyaraka.

Di Sulawesi Utara (Sulut), geliat Isu ISIS beberapa pekan terakhir pun sempat menyita perhatian publik, bahkan Pemprov Sulut bersama TNI/Polri serta Kabupaten/Kota di Sulut, sampai-sampai melakukan deklarasi penolakan terhadap Kelompok tersebut.

Melihat hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Manado, melalui Komisariat Eksakta, yang bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN Manado, yang dinakhodai oleh Supriadi Haribay, menggelar Diskusi Publik, yang bertempat di Aula IAIN, Jum’at (24/04) sore.

Kegiatan ini juga dihadiri Kanit Intel Polda Sulut mewakili Kapolda. Diskusi bertajuk ‘Benarkah ISIS Ada?’ ini, berlangsung alot dan dramatis. Pasalnya, Ketiga Narasumber masing-masing Hi. Amir Liputo (Anggota Deprov Sulut), Dr. Delmus Puleri Salim (Dosen IAIN Manado) dan La Fendi Tulusa (Wasekjen PB HMI), memberikan pandangan yang berbeda dalam membedah wacana ISIS yang hangat diperbincangkan masyarakat Dunia.

Amir Liputo misalnya, ia mengatakan, secara umum ISIS memang ada, tapi khususnya di Indonesia keberadaannya belum teridentifikasi. Oleh karena itu, isu tentang ISIS terlalu berlebihan dan boombastis.

“Jika ISIS memang ada, maka perlu kita waspadai. Kemudian, aliran sesat lain seperti Syi’ah, yang tumbuh subur di Indonesia dan lagi-lagi mengatasnamakan Islam, juga harus kita antisipasi pergerakannya. Karena itu sangat bahaya. Dan dengan tegas saya mengatakan bahwa ISIS itu bukan Islam,” ucap Aleg Provinsi Sulut dari PKS ini.

Berbeda dengan Hi Amir yang mengatakan ISIS bukan Islam dan dengan terang-terangan menyatakan sikap anti Syi’ah, Dr Delmus Puleri Salim menganggap, perkataan itu merupakan pupuk diskriminasi yang sangat bahaya jika diserap dengan pengetahuan yang tak mumpuni.

“Ideologi ISIS seperti halnya ideologi-ideologi kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Dalam ideologi ini, lebih baik mati dan mendapatkan bidadari, ketimbang mati namun mendapatkan dosa. Menurut saya, diskriminasi terhadap kelompok lain akan bahaya jika dipahamkan dalam forum seperti ini. Oleh karena itu, saya takut mengatakan bahwa kelompok lain itu sesat karena nantinya persepsi masyarakat terhadap IAIN Manado akan keliru,” kata Dr Delmus yang pernah menimba ilmu di negeri Kangguru (Australia) ini.

Sedang, dalam pemahaman narasumber yang terakhir, yakni La Fendi Tulusa, aliran-aliran yang mengancam kedaulatan NKRI (seperti ISIS) disebabkan kebencian dari berbagai kelompok satu dengan yang lainnya. Menurutnya, “Perlu digaris bawahi. Isu ISIS di Indonesia merupakan peralihan isu politik di negara ini. Sebab, pemilihan kepala daerah sedang akan berlangsung. Oleh karena itu, perlu ada peninjauan benar tidaknya keberadaan ISIS di Indonesia,” tuturnya sambil mengelus kopiah yang berada di kepalanya.

Di tengah situasi yang sempat memanas akibat saling debat argumen antara narasumber, para peserta yang datang dari berbagai Universitas dan Institut yang ada di Sulut, sibuk menyusun konsep pertanyaan yang akan ditanyakan.

Untuk diketahui, ISIS adalah sebuah ‘negara’ dan kelompok militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah. Kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok pemberontak Sunni, termasuk organisasi-organisasi pendahulunya seperti Dewan Syura Mujahidin dan Al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok pemberontak Jaysh al-Fatiheen, Jund al-Sahaba, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah dan Jeish al-Taiifa al-Mansoura, dan sejumlah suku lain.