HMI Harus Kembali Pada Gerakan Intelektual

HMINEWS.Com – Mantan Ketua Umum PB HMI MPO Masyhudi Muqarrabin berpesan agar HMI MPO yang tengah berkongres di Tangerang itu tetap menjaga independensi tradisi intelektualnya.

“Saya berharap bahwa keputusan-keputusan kongres itu betul-betul independen, tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan alumni terutama yang membantu pelaksanaan kongres,” ujar Masyhudi Muqarrabin kepada HMINEWS usai acara pembukaan Kongres ke-30 di Hotel Yasmin, Jum’at (13/11/2015) malam.

Ia menjelaskan, HMI MPO dan HMI itu sendiri di masa awalnya dibangun dengan heroisme dan semangat revolusioner untuk melakukan perubahan. Oleh karenanya jangan sampai HMI bergeser idealismenya karena politik akomodatif.

Yang kedua,  lanjutnya, persoalannya pada kapasitas intelektual HMI secara institusional maupun individu-individu kadernya. Ia mengaku para pembangun awal HMI MPO adalah untuk menjadikan HMI sebagai institusi di mana karakter intelektual  betul-betul unggul dan bisa distinguish, berbeda karena kualitasnya.

“Awal-awal pemikiran HMI MPO dianggap punya framework tersendiri ke arah Islam, kemudian diturunkan ke arah konteks keilmuan dan dalam konteks sosial, sehingga wacana-wacara epistemologi Islam, islamisasi ilmu, itu menjadi bagian penting dari kegiatan-kegiatan kita,” urainya lagi.

Namun menurutnya, pasca reformasi, ia melihat ada sejumlah pergeseran, yaitu dari intelektualisme menjadi lebih berorientasi action. Ia menilai bahwa pilihan action tersebut sudah lebih memiliki muatan politik yang lebih tinggi, meskipun politik tidak diartikan condong ataupun akomodatif terhadap kekuasaan.

“Itu berbeda. Tapi itu mengurangi porsi pemikiran HMI,” tandasnya.

Dunia Berharap pada Indonesia

Pemikiran yang distinguish tersebut terjadi ketika dipakai banyak orang  dan diterapkan dimana-mana meski tidak harus diakui secara formal. Untuk itulah dalam berbagai training HMI ia selalu menyerukan untuk kembali kepada gerakan intelektual. Sebab jika semua berpikir praktis dan pragmatis, bangsa ini tidak memiliki masa depan, tidak memiliki karakter yang benar, padahal bangsa ini diharapkan menjadi pelopor kebangkitan dunia.

“Itu sudah mendapat pengakuan banyak orang (dunia), tetapi jika tidak kita buktikan, kita membuat banyak orang kecewa. Yang punya kapasitas membuktikan itu sebetulnya HMI,” ujarnya optimis.

Menurutnya di HMI jika tradisi intelektual HMI tidak kembali diperkuat dengan berbagai cara termasuk dengan frekuensi diskusi, pengembangan pemikiran dalam bentuk yang lain, maka kedepan harapan bangsa ini jadi tidak menentu.

“Maka kita kembali kepada gerakan intelektual. Apalagi jika kita bicara tentang islamisasi, saintifikasi Islam atau islamisasi ilmu, maka itu mengharuskan kita melakukan inovasi kegiatan-kegiatan HMI, apalagi tuuntutan-tuntutan dalam perkuliahan yang semakin ketat itu mengharuskan kader-kader itu dihadapkan pada dua pilihan, pilih kuliah apa pilih ber-HMI. Maka satu-satunya jalan ya kuliah sambil ber-HMI diintegrasikan,” jelasnya lagi.

Dari itu maka pengembangan disiplin ilmu atau keislaman itu adalah bagaiman nilai-nilai atau ajaran-ajaran Islam itu dipahami dalam konteks ilmiah bukan dogmatis seperti selama ini.

Kepemimpinan Transformatif Paling Cocok Wujudkan Perubahan

HMINEWS.Com – Kepemimpinan Transformatif adalah yang paling cocok untuk mewujudkan perubahan dan perbaikan masyarakat. Contoh nyatanya kepemimpinan Rasulullah yang telah berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat Islam yang penuh rahmat.

Demikian disampaikan mantan Ketua Umum PB HMI MPO, Masyhudi Muqorrobin, dalam diskusi Prapleno III PB HMI MPO di Wisma KAGAMA (UGM), Sleman Yogyakarta, Kamis (28/5/2015) sore.

“Kepemimpinan Transformatif” didefinisikan sebagai kepemimpinan inklusif. Menganggap orang-orang yang dipimpin tidak sebagai objek, tetapi subjek. Pemimpin tidak mendominasi. Semua orang setara,” ungkap doktor ekonomi tersebu.

Ia juga menegaskan, kepemimpinan transformatif sangat relevan untuk diterapkan pada zaman sekarang guna mewujudkan masyarakat madani sebagaimana tema.

Pembicara kedua, Ashad Kusuma Jaya, mantan Ketua HMI Cabang Yogya yang kini aktif menulis dan menjadi direktur Siti Jenar Institute, menyampaikan empat langkah memperbaiki bangsa.

Pertama, revolusi mental, yang sudah ia sampaikan pada 2011, waktu itu tema ini ia sampaikan pada pengurus HMI Cabang Yogya. Merevolusi mental sesuai yang diinginkan Islam. Kedua, revolusi pendidikan, revolusi teknologi dan terakhir, revolusi pengelolaan sumber daya alam.

“Sumber daya alam itu harus dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi,” tegasnya. Bukan hanya dimanfaatkan segelintir elite yang berkuasa atau dikuasakan kepada asing, sedangkan nasib rakyat sendiri terlupakan.

Diskusi ini dimoderatori Zuhad Aji Firmantoro, mantan Ketua HMI Cabang Yogya yang kini menjabat Ketua Komisi Hukum dan HAM PB HMI MPO.