PB HMI MPO Dukung Gerakan Intifada Rakyat Palestina

HMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) mendukung gerakan intifadhah Rakyat Palestina untuk menghadapi kesewenangan militer Israel.

Sebagaimana diketahui, bentrokan yagn disebut sebagai gelombang Intifadhah ketiga terjadi antara warga Palestina dengan militer Israel yang bersenjata lengkap di Betlehem, menewaskan seorang warga tewas dan 70an lainnya menderita luka-luka, Rabu (9/12/2015) lalu.

Bentrokan itu disebut sebagai buntut dari larangan Israel kepada warga Palestina mendekati situs Al Quds, yang dikeluarkan israel pada Oktober lalu.

“Beberapa bulan yang lalu hingga hari ini perlawanan rakyat Palestina melalui intifadah III terus berlanjut, dan PB HMI MPO mendudkung perjuangan tersebut. Hampir separuh abad rakyat Palestina menderita dalam pendudukan Israel, sumber kekeraasan di kawasan timur tengah, rakyat Palestina mengalami penindasan dan penghinaan di tanah mereka sendiri,” kata Ketua Umum PB HMI MPO, Muhamamd Fauzi, Sabtu (12/12/2015).

Selain itu, Muhamamd Fauzi juga menyerukan agar pemerintah Israel menghentikan pendudukan di wilayah Palestina. Menurut Fauzi, selama ini seolah-olah ada impunitas atas kejahatan-kejahatan Israel terhadap warga Palestina. Kurangnya tanggung jawab dan impunitas yang diberikan kepada zionis Israel oleh warga internasional turut menciptakan kondisi saat ini.

Saat ini, lanjutnya, Netanyahu menyatakan perang terhadap warga sipil palestina dengan menerapkan serangkaian kebijakan yang menindas. Membatasi akses rakyat palestina ke masjid Al Aqsa, meneruskan pembangunan pemukiman illegal, dan menolak hak-hak warga Palestina secara keseluruhan, termasuk berdaulat sebagai bangsa yang merdeka.

“Apa yang terjadi selama beberapa dekade terakhir di Palestina, semuanya bertentangan dengan hukum internasional. Namun, tanggapan internasional untuk beberapa hari terakhir jauh dari harapan. Kebanyakan hanya menyerukan untuk bernegosiasi antara zionis dan Palestina,” lanjutnya.

Negosiasi menurut Fauzi, bukanlah jalan keluar, Israel selalu melanggar kesepakan dan negosiasi yang di pernah disepakati selama ini. Masyarakat internasional diminta untuk tidak diam dan menyeret Netanyahu ke pengadilan internasional.

“Untuk mengakhiri pendudukan Israel sejak 1967 dengan melakukan pendudukan, penjajahan dan politik ala apartheid yang dilakukan oleh zionis Israel. Budaya impunitas ini harus diakhiri segera agar kejahatan  zionis tidak terulang lagi. Masyarakat internaasional harus memikul tanggung jawabnya dan menyeret Netanyahu ke pengadilan internaasional,” tegas Fauzi.

Jika Belajar dari Sejarah, Indonesia Berpeluang Besar Damaikan Palestina-Israel

Panglima Pasukan PBB, Rais Abin asal Indonesia. Insert: Buku Catatan Rais Abin, ditulis oleh Dasman Djamaluddin
Catatan Rais Abin

Jalur Gaza diserang Israel. Korban yang jatuh melebihi 100 jiwa terdiri dari warga sipil, anak-anak, perempuan dan orang tua. Dunia marah, mengecam dan memaki-maki Israel. Tetapi Israel tidak gentar dan terus melanjutkan pemboman. Bagi warga kita yang masih muda-muda sudah tentu pemboman seperti ini sangat kejam. Tetapi bagi warga seusia saya, pembantaian warga sipil ini sudah sering dilakukan Israel. Tetap saja Israel tidak pernah dihukum oleh dunia internasional, karena Amerika Serikat selalu membantu jika sudah dilakukan di sidang di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menggunakan hak vetonya.

Indonesia sebagai negara yang sangat dekat sekali berhubungan dengan negara-negara Arab ikut mengecam. Presiden RI dan Menteri Luar Negerinya sama-sama mengecam dan meminta agar serangan itu dihentikan karena sudah melanggar kemanusiaan. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan sudah menelpon salah satu negara di Timur Tengah dengan mengemukakan konsep-konsepnya. Menteri Luar Negeri RI juga berusaha semaksimal mungkin menekan Israel agar menghentikan serangan-serangannya ke Jalur Gaza melalui dunia diplomasi.

Masyarakat Indonesia tidak ketinggalan dan menunjukkan solidaritasnya dengan berdemo. Suatu ungkapan kemarahan yang tidak bisa dibendung di depan Kedutaan Besar AS, karena faktanya memang Amerika Serikat merupakan pendukung utama negara Yahudi tersebut. Seandainya ada Kedutaan Besar Israel di Jakarta sudah tentu menjadi sasaran kemarahan mereka. Tetapi sejauh ini Indonesia tidak mengakui keberadaan negara Israel dan tidak menjalin hubungan diplomatik untuk menjaga perasaan negara-negara Arab lain, terutama Palestina yang terus memperjuangkan hak-haknya untuk merdeka penuh baik secara de facto maupun de jure.

Memang Palestina pernah menyatakan kemerdekaannya dan memiliki Duta Besar di berbagai negara, termasuk di Jakarta. Tetapi hal itu masih sebatas de facto dan belum diakui secara de jure. Bahkan banyak di antara negara-negara pemenang Perang Dunia II, terutama Amerika Serikat belum mengakuinya secara de jure. Singkatnya Dunia Internasional masih terbelah mensikapi kemerdekaan Palestina tersebut.

Akan halnya Indonesia, sudah tentu sikap mendukung perjuangan Palestina selalu diungkapkan di berbagai forum internasional. Indonesia bersama negara-negara Arab lainnya berpendapat, kemerdekaan Israel tahun 1948 tidak sah karena tidak adil. Kemerdekaan Israel itu dinyatakan di tanah Palestina sendiri di mana negara-negara pemenang Perang Dunia II lah yang melakukannya di bawah naungan badan dunia PBB tahun 1947. Mana mungkin warga Yahudi yang semula tidak mempunyai wilayah kemudian mendapatkan pembagian dari tanah Palestina cuma-cuma. Pembagiannya pun tidak adil. Kaum Yahudi memperoleh 56 persen dari seluruh wilayah Palestina, sementara Arab Palestina pemilik sah wilayah itu memperoleh 42 persen. Dua persennya lagi, termasuk kota tua Jerusalem masuk dalam pengawasan internasional.

Setelah Israel memerdekakan diri tahun 1948, sehari sesudahnya terjadi perang Arab-Israel. Ketidakadilan pembagian wilayah Palestina tersebut membuat negara-negara Arab lain marah seperti Jordania, Mesir, dan Suriah. Singkatnya negara-negara Arab ini kalah. Persenjataan modern Israel yang dipasok dari negara-negara Barat menghancurkan wilayah-wilayah negara-negara Arab itu, bahkan mencaplok serta menduduki wilayah yang direbutnya.

Wilayah Palestina pun semakin lama semakin sempit. Pembantaian warga Palestina terjadi di mana-mana, karena warga Palestina mengungsi ke sana. Perjuangan gerilyawan Palestina pun berpindah-pindah. Perdamaian antara negara Arab dan Israel selalu menemui jalan buntu. Perseteruan memuncak pada tahun 1972 ketika pejuang Palestina yang menamakan dirinya Black September membunuh 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich.

Organisasinya ini meresahkannya juga negara-negara Arab yang ditumpangi warga Palestina. Pada tahun 1970, Raja Jordania, Hussein terpaksa menghentikan gerak organisasi tersebut. Memerintahkan pasukannya membantai ribuan pengikut Black September yang terdiri dari warga Palestina di pengungsian Jordania. Oleh karena itu, warga Palestina ini tidak hanya dimusuhi Israel, tetapi juga negara Arab yang ditumpangi menganggap gerakan Palestina di wilayahnya sangat membahayakan.

Belum lagi kita berbicara mengenai warga Palestina yang mengungsi ke Suriah, Irak dan Libanon. Oleh karena itu warga nasib bangsa Palestina ini tidak memiliki harapan. Diharapkan dukungan dari negara-negara Arab, juga tidak mungkin karena negara-negara Arab sendiri terpecah-pecah dalam menyikapi masalah Palestina ini. Jordania sendiri malah sudah menjalin hubungan dengan Israel pada tahun 1970. Mesir pada Perjanjian Camp David tahun 1979, yaitu perdamaian antara Mesir dan Israel.

Menarik untuk disimak adalah mengenai Perjanjian Camp David tersebut. Usaha perdamaian ini dikarenakan laporan seorang Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Sinai, yang tidak lain adalah putera bangsa Indonesia, Mayor Rais Abin, kepada Sekjen PBB kala itu, Kurt Wardheim bahwa di lapangan, kedua belah pihak Mesir-Israel sudah mau duduk di meja perundingan. Laporan dari Rais Abin inilah yang ditindaklanjuti Sekjen PBB untuk menggelar Perjanjian Perdamaian Camp David yang ditengahi oleh Amerika Serikat.

Lebih menarik lagi adalah bahwa Israel menyetujui putera bangsa Indonesia untuk menjadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB. Sementara negara Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Waktu itu Rais Abin sengaja bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel Shimon Peres di Jerusalem. Shimon Peres mengatakan kepada Rais Abin:” Terus terang saja , merupakan suatu preseden yang unik bahwa kami menyetujui Panglima Pasukan PBB dari negara yang tidak mengakui Israel. Dari kami tidak ada keberatan, tetapi masih ada masalah politis.”

Melihat sejarah masa lalu keberhasilan Rais Abin tersebut, sebetulnya peluang Indonesia menciptakan perdamaian antara Palestina dan Israel sangat besar. Bisa saja hubungan tidak resmi dilakukan terus menerus agar Israel mau duduk bersama dengan Palestina di meja perundingan. Tujuannya hanya untuk menciptakan perdamaian. Bagaimana pun sejarah perdamaian Mesir-Israel dilakukan oleh putera bangsa Indonesia, Rais Abin dan bisa melobi pihak Israel untuk mengakuinya. Bangsa ini sangat mampu berdiplomasi. Hal ini kita lihat ketika Presiden RI Soekarno menggagas Konferensi Asia Afrika dan Presiden RI Soeharto menggagas berdirinya Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara, ASEAN. Kenapa untuk menjadi inisiator perdamaian Israel-Palestina tidak? Bukankah kita pernah mencoba melobi Israel secara tidak resmi agar mendukung putera bangsa Indonesia sebagai Panglima pasukan Perdamaian PBB 1976-1979 ? Sudah ada modal Indonesia menjadi inisiator, kenapa tidak dilakukan?

DDjDasman Djamaluddin, biographer.
(tulisan telah dimuat di kompasiana, 13 Juli 2014)

HMI MPO Galang Solidaritas Palestina

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) dari berbagai cabang dan Pengurus Besar melakukan aksi solidaritas untuk Palestina. Aksi dilakukan dengan menggelar unjukrasa damai serta penggalangan dana.

Tangerang Palestina
Aksi Solidaritas HMI MPO Tangerang

Seperti aksi solidaritas HMI MPO Cabang Tangerang di Bundaran Tugu Adipura (11/7) menuju Tangerang City Mall menyerukan boikot produk pendukung zionisme. Sebagai kecaman terhadap kekejaman terhadap rakyat Palestina itu, mereka juga melakukan aksi tidur di jalan serta menggalan dana untuk korban di Gaza. Dalam orasinya, salah seorang kader, Khotibyani mendesak sikap aktif pemerintahan Indonesia terhadap penyerangan militer di Gaza tersebut.

Di Riau, HMI MPO Pekanbaru menggelar aksi solidaritas dan penggalangan dana di Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Tuanku Tambusai. Aksi dipimpin Ketua Umum HMI MPO Pekanbaru, Ganjar Stiawan. Massa selain berorasi dan menggalang dana juga mendoakan keselamatan warga Gaza.

HMI MPO Pekanbaru
HMI MPO Pekanbaru

Di Palu, Sulawesi Tengah, aksi bersama Solidaritas Pemuda Islam Sulteng ditujukan untuk solidaritas Palestina dan Suriah. Ketua HMI MPO Cabang Palu, Sadli Naharuddin mengajak partisipasi seluruh warga Kota Palu terhadap tragedi kemanusiaan yang terkesan dibiarkan oleh dunia internasional itu. HMI MPO Cabang Palu juga telah mengumpulkan sumbangan Rp 2,827 juta.

HMI MPO Palu
HMI MPO Palu

Sementara aksi yang dilakukan di Jakarta oleh beberapa cabang dengan personel Pengurus Besar HMI MPO, bersama sejumlah elemen seperti Voice of Palestine (VOP) serta yang lainnya dalam aksi bersama di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (USA) di Jakarta. PB HMI MPO mengutuk serangan israel yang tidak beralasan dan pembiaran oleh USA serta Dewan Keamanan PBB (UNO).

PB HMI MPO menyerukan agar Dewan Keamanan PBB  melakukan tindakan nyata yaitu menurunkan pasukan untuk menjaga wilayah Palestina. Tiga poin lain dalam tuntutannya, HMI MPO menyerukan agar;

  1. PBB dan masyarakat internasional mendorong Israel untuk menjalankan Konvensi Jenewa  1948 secara konsisten.
  2. Pemerintah Indonesia untuk menekan Israel hentikan serangan ke Palestina.
  3. Menuntut Israel untuk diadili di Mahkamah HAM Internasional

    Aksi solidaritas Palestina oleh PB HMI MPO di depan Kedutaan Amerika Serikat
    Aksi solidaritas Palestina oleh PB HMI MPO di depan Kedutaan Amerika Serikat

PB HMI Instruksikan HMI Cabang Galang Solidaritas Palestina

peduli gazaHMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menyerukan HMI se-Indonesia melakukan aksi kemanusiaan untuk Palestina. Instruksi bernomor 036/A/SEK/08/1435 H tentang Instruksi Aksi Nasional Mengutuk Penyerangan Militer Israel.

“Sehubungan dengan aksi brutal militer israel yang menyerang Jalur Gaza Palestina, maka PB HMI (MPO) menginstruksikan kepada seluruh Cabang HMI (MPO) agar melakukan aksi damai mengutuk aksi militer Israel terhadap Palestina.

Aksi dilakukan juga dengan penggalangan dana untuk Palestina. Dana yang terkumpul di kirim via rekening PB HMI dan akan diteruskan melalui jaringan internasional PB HMI. Duka Palestina Duka Seluruh Umat Islam Dunia,” demikian instruksi yang ditandatangani Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo dan Sekretaris Jenderal Abdul Malik Raharusun.

Berdasar instruksi, aksi dilakukan pada : Jumat 11 Juli 2014, jam 09.00 – selesai.

Gaza Diserang, Dimana Dewan Keamanan PBB?

gazaHMINEWS.Com – Dunia internasional, khususnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) diam atas seraengan israel ke Gaza, Palestina. Hal itu menandakan matinya keadilan, sebab DK PBB selalu tidak bisa berkutik jika kekerasa dilakukan pihak israel.

“Dunia internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB gagal menetapkan resolusi dan mengkriminalisasikan pelaku kejahatan perang Israel. Negara pembela keadilan bagi Palestina selalu kalah oleh Hak Veto yang menjadi andalan negara-negara adidaya anggota Dewan Keamanan PBB,” kata Staf Komisi Hukum dan Hak Asasi Manusia PB HMI MPO, R Aria Bima Sakti, Kamis (10/7/2014).

Bima mengingatkan tidak berfungsinya Deklarasi untuk Hak Asasi Manusia 10 Desember 1948 Duham bagi Palestina. Sedangkan Israel selalu melakukan invasi militer dengan alasan peluncuran roket Hamas ke wilayahnya.

“Memang Konvensi Jenewa menjelaskan substansi bahwa ‘Anggota DK PBB berhak mempertahankan diri dari serangan negara tau kelompok lain. Namun pada kenyataannya hal tersebut tidak terbukti. Amerika dan sekutunya pun menyatakan itu adalah upaya pertahanan diri, dan pasal 55 menjelaskan agar ‘Penjajah, dalam hal ini Israel, harus menyediakan barang yang diperlukan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan warga sipil.’ Kenyataannya waga sipil lah yang banyak menjadi korban. Israel sama sekali tidak mematuhi hukum pada pasal tersebut,” tandas Bima.

Bima mendesak warga dunia harus mempersoalkan kejahatan serta pelanggaran hukum dan hak asasi manusia ke Mahkamah Internasional yang memiliki kewenangan atas  hal tersebut.

“Invasi terus-menerus yang dilakukan israel jelas melanggar Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949. Pada pasal 46 dijelaskan ‘Untuk menghukum setiap orang (negara dan kelompok) yang diduga melakukan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa,” tegas Bima.

Deklarasi Pemuda-Mahasiswa Yogya untuk Palestina

HMINEWS.Com – Dalam rangka menumbuhkan kepedulian sekaligus menggalang bantuan bagi rakyat Palestina, sejumlah elemen gerakan pemuda dan mahasiswa di Yogya menggelar sarasehan dan deklarasi.

Acara dilangsungkan di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM), menghadirkan pembicara M Wajdi Rahman (Ketua KNRP DIY), Ustaz Jazir ASP (Ketua Jogokaryan), Giovani Van Empel (Presiden Mahasiswa UGM) dan dimoderatori oleh Aqil Wilda Arief (delegasi Viva Palestine).

Peserta merupakan gabungan dari Jama’ah Shalahudin, HMI MPO Cabang Yogya, DPD IMM Yogya, PII Yogya, KAMMI Daerah Sleman.

“Acara ini di saat sebagian kelompok menyatakan tidak perlu mengurusi persoalan negara lain karena di dalam negeri sendiri masih banyak masalah,” kata Ketua HMI Cabang Yogya, Zuhad Aji Firmantoro usai mewakili pembacaan deklarasi, Selasa (27/11/2012) sore.

Deklarasi menghasilkan sejumlah poin, yaitu;

  1. Mengutuk dan mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh israel terhadap Palestina
  2. Mengajak seluruh elemen masyarakat internasional untuk mendukung terwujudnya perdamaian dan kemerdekaan bagi Palestina
  3. Menuntut kepada pemerintahan SBY-Boediono untuk berani mengambil peran dalam menyelesaikan konflik Palestina-israel dan memutuskan segala bentuk hubungan degan israel.
  4. Mengajak kepada segenap masyarakat Indonesia untuk memboikot semua produk yang dihasilkan israel

Zuhad mengimbau semua masyarakat terutama kader-kader HMI untuk membantu saudara di Palestina, jika tidak mampu untuk ikut berjuang langsung, mungkin bisa membantu dengan material atau sejenisnya seandainya tidak mampu juga hendaknya berdoa buat mereka disana dan itu selemah-lemah iman.

Pihak penyelenggarapun berharap kedepannya kegiatan-kegiatan seperti ini terjadi dimana-mana, hingga menjadi suatu gelombang besar persatuan, terutama didalam umat Islam sedunia sehingga kembalilah kejayaan di tangan Islam.

Rangga

Memerdekakan Palestina Mudah Dengan Bersatu

HMINEWS.Com – Memerdekakan Palestina sebenarnya mudah jika negara-negara di kawasan Timur Tengah bersatu. Akan tetapi selama ini Palestina sendirian, sehingga upaya mewujudkan kemerdekaan belum membuahkan hasil.

“Dalam berbagai forum antar parlemen, Israel itu kecil, di tengah-tengah negara Timur Tengah. Kalau negara-negara di sana bersatu saya pikir suatu hal yang sederhana untuk bebaskan dan kebebasan Palestina itu,” kata Ketua DPR RI, Marzuki Alie, usai meresmikan Konferensi Internasional Pembebasan Palestina di Hotel Savoy Homann Kota Bandung, Rabu (4/7/2012).

Menurut Marzuki, selain belum bersatunya negara-negara di Timur Tengah, di internal Palestina sendiri masih terpecah, seperti antara sayap Fatah dengan Hamas yang selalu berseteru.

Ia menyatakan dirinya di forum antar parlemen berulangkali menyuarakan perlunya persatuan negara-negara Arab serta internal Palestina.  “Tapi beberapa bulan lalu mereka sudah menandatangi kesepakatan untuk bersatu,” lanjutnya.

Dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, lanjut Marzuki, sudah menjadi kebijakan luar negeri Pemerintah RI serta merupakan bagian dari amanat konsititusi negara. Kemerdekaan Palestina sudah sepatutnya menjadi perhatian semua pihak di dunia karena bukan lagi mengenai kemerdekaan sebuah bangsa semata, akan tetapi menyangkut hak asasi manusia.

“Konflik yang terjadi di sana telah merampas hak asasi manusia. Sehingga tidak alasan lagi bagi kita semua untuk tidak mendukung kemerdekaan Palestina,” ucapnya.

Antara

Indonesia Selenggarakan Konferensi Pembebasan Palestina

HMINEWS.Com – Konferensi Pembebasan Palestina kembali digelar sebagai dukungan masyarakat Indonesia untuk kemerdekaan Palestina. Diadakan di bandung yang merupakan tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (KAA), dan karena satu-satunya negara peserta KAA yang belum merdeka.

“Dipilihnya Bandung juga karena dulu merupakan tempat berlangsungnya KAA,” kata penggagas konferensi, Yakhsyallah Mansur, Rabu (4/7/2012).

Konferensi diikuti 20 negara seperti Inggris, Yordania, Palestina, Malaysia, Yaman dan Indonesia. Menurut Yakhsyallah, hasil konferensi akan dikirim ke PBB karena pada Oktober mendatang akan berlangsung Sidang Umum PBB.

Sementara Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi menyatakan sesungguhnya Palestina telah merdeka dan mempunyai pemerintah, parlemen dan universitas serta rakyat sendiri. Akan tetapi Israel menolak mengakui kemerdekaan tersebut.

Menurut Mehdawi sudah ada 135 negara yang mendukung kemerdekaan Palestina. Ia juga menyampaikan penghargaan terhadap dukungan masyarakat Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, sejak ia mulai bertugas di Indonesia pada 2006, bahkan dukungan Indonesia sudah jauh sebelum iyu.

“Ketika itu, Presiden SBY bertanya kepada saya apa yang bisa Indonesia lakukan untuk kemerdekaan Palestina? Saya mengatakan tentang konferensi Bandung. Pada tahun berikutnya, Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Afrika dan seluruh negara yang hadir berjanji untuk mendukung kemerdekaan Palestina,” ucapnya.

Antara