Dua Tokoh Maluku-Papua, Bantu Study Banding Guru

HMINEWS.COM, Jakarta- Dua tokoh Maluku-Papua Jakarta Bung Umar Key dan Komaruddin Watubun mendapat kunjungan dari peserta Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kabupaten Maluku Tenggara, di Jakarta.

Rombongan study banding guru yang dipimpin oleh Domitilla Teniwut, S.Pd Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Langgur, akan berada di Jakarta selama seminggu, dari tanggal 08 – 16 Oktober 2016.

Rombongan yang terdiri dari Kepala Sekolah berkunjung dan silaturahim dengan tokoh masyarakat Maluku-Papua di Jakarta diantaranya adalah Ketua Front Pemuda Muslim Maluku, Bung Umar Key dan Komaruddin Watubun Anggota DPR RI PDIP.

Peserta MMKS berkunjung ke tempat Bung Umar Key Kompleks Binalindung Perumahan Nirvana, Pondok Gede, Bekasi dan disambut dengan acara khusus. sementara Komaruddin Ubun menyambut rombongan di rumah makan Pelangi, Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.

Kedua tokoh Maluku-Papua tersebut mengapresiasi atas dedikasi para pendidik khususnya kepala sekolah yang hadir dan akan membantu menanggung seluruh biaya akomodasi, transportasi dan penginapan rombongan MMKS selama di Jakarta.

Umar Key maupun Komaruddin, menyampaikan harapan besarnya untuk kemajuan pendidikan di Maluku. Menurut keduanya kepala sekolah adalah ujung tombak dari keberhasilan pendidikan di Maluku. selain itu mereka juga mendiskusikan pendidikan masyarakat Maluku di Jakarta.

Dalam kesempatan ini, Mohamad Rabu Raharusun, S.Pd, Kepala Sekolah SMA Al-Hilaal Tual yang juga sahabat dari Bung Umar Key dan Pak Komarudin menyampaikan rasa terimaksih yang dalam. beliau mengatakan, sebagai tokoh keluarga besar Maluku-Papua di Jakarta sikap kekeluargaan Bung Umar dan Pak Komarudin perlu mendapatkan apresiasi yang baik dan patut menjadi contoh bagi masyarakat Maluku-Papua di rantau.

Mendikbud Apresiasi Upaya Pemda Merauke Majukan Pendidikan

Hasil gambar untuk mendikbud kunjungi papuaHMINEWS.COM, Merauke – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengunjungi beberapa satuan pendidikan di Kabupaten Merauke, Propinsi Papua, Kamis (6/10/2016).

Setelah meninjau proses pendidikan di SD Antonius, Mendikbud meninjau sekolah pencetak guru Kolese Pendidikan Guru (KPG) Papua di Kabupaten Merauke. Dalam kesempatan tersebut, ia sampaikan apresiasi terhadap peran serta masyarakat dalam memajukan pendidikan khususnya daerah Indonesia bagian timur.

“Saya apresiasi upaya pemerintah dan masyarakat dalam memajukan pendidikan di Papua,” ujar Mendikbud.

Pada kesempatan tersebut Mendikbud menyampaikan pesan dari Presiden Joko Widodo mengenai pentingnya pendidikan karakter pada pendidikan dasar, yaitu tingkat SD dan SMP. Selain itu, ia juga sampaikan rencana pemerintah dalam meningkatkan profesionalisme guru. Digambarkannya, bahwa seorang guru harus memiliki 3 hal, yaitu keahlian sebagai pendidik, tanggung jawab sosial, serta semangat kesejawatan.

“Tanggung jawab sosial seorang guru merupakan hal penting karena guru bukan sekadar pekerjaan namun panggilan jiwa,” pesan Mendikbud.

Bupati Merauke Frederikus Gabze menunjukkan perhatiannya pada isu pendidikan di daerah tapal batas. Pria yang akrab dipanggil Freddy itu mengungkapkan keseriusannya dalam memperluas akses pendidikan untuk anak-anak di pelosok, salah satunya melalui penyediaan guru.

“Saya jamin lulusan KPG Papua akan menjadi guru-guru di daerah pelosok, daerah terpencil,” ujarnya.

Acara tersebut juga dihadiri Sekretaris Jenderal (Sesjen) Didik Suhardi, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Sumarna Surapranata, Staf Ahli bidang Hubungan Pusat dan Daerah James Modouw, Direktur Pembinaan SMK Mustaghfirin Amin, Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Pendidikan Kesetaraan Erman Syamsudin, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Asianto Sinambela.

Try out Ujian Nasional Online Pertama di Indonesia yang Menggunakan Smartphone

HMINEWS.Com – Penyelenggaraan Ujian Nasional Utama tahun 2016 yang rencananya akan dilaksanakan pada April 2016 sudah mulai berbasis komputer. Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan teknologi dalam penilaian pendidikan merupakan keharusan dengan pertimbangan untuk kemudahan, keakuratan, dan kecepatan dalam penilaian.

Terkait hal tersebut, Yayasan Generasi Cerdas Mandiri dan Geschool, website jejaring sosial berbasis edukasi, akan menyelenggarakan event akbar, yakni simulasi “Ujian  asional Online 2016” untuk siswa SMP dan SMA pada Februari-Maret 2016 yang pendaftarannya sudah dimulai sejak November 2015.

Yulia Linguistika, Ketua UNO 2016, menyatakan bahwa Ujian Nasional Online 2016 adalah bentuk simulasi Ujian Nasional pertama di Indonesia yang dilangsungkan secara online. Event UNO dilengkapi dengan paket soal yang predictable dengan UN SMP-SMA 2016, try out ujian tingkat nasional, dan akses pengerjaan yang dapat dilakukan melalui PC desktop, laptop, serta smartphone.

Sedangkan menurut Muhammad Syarifudin yang akrab disapa Jenderal Tawon yang juga merupakan Koordinator UNO Wilayah Jakarta Pusat menuturkan bahwa Try Out UNO 2016 ini merupakan salah satu karya anak Bangsa yang ingin mendukung rencana KEMENDIKBUD dalam pelaksanaan UN dengan CBT (Computer Based Test), makanya sangat bijaksana jika pemerintah mendukung dengan menghimbau seluruh SMP dan SMA untuk mengikuti kegiatan ini.

Pengerjaan try out UNO melalui PC dilakukan dengan mengakses website www.geschool.net. Sementara itu, pengerjaan melalui smartphone dapat dilakukan dengan mengunduh secara gratis aplikasi android di layanan google playstore dengan menuliskan kata kunci Geschool Learning Try out.

Selain itu, pengerjaan ujian bisa dilakukan di manapun sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh panitia dengan menggunakan media PC desktop, laptop, atau smartphone.

“Event ini bertujuan untuk mendekatkan siswa dengan aktivitas online yang positif serta sebagai bentuk support motivasi jelang UN SMP-SMA 2016.

Rencananya event UNO 2016 akan diupayakan untuk masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai try out ujian nasional pertama menggunakan smartphone,” tutur Yulia.

“Event Ujian Nasional Online 2016 kali ini merupakan event yang kedua kalinya diadakan oleh Yayasan Generasi Cerdas Mandiri dan Geschool setelah sebelumnya diadakan pada 2015. Selain event UNO, Yayasan Generasi Cerdas Mandiri dan Geschool juga sudah pernah sukses dalam penyelenggaraan Olimpiade Online Nasional – Ainun Habibie Award 2013 dan 2014 yang bekerja sama dengan Orbit Digital,” imbuh Yulia.

Informasi lebih lanjut tentang UNO 2016 dapat dilihat melalui website Geschool di www.geschool.net/uno serta mengontak (0274) 633181 atau 0856-93-666-963 (Muhammad Syarifudin).

Upacara Hari Guru, Mantan Aktivis Jadi Pengibar Bendera

HMINEWS.Com – Hari ini 25 November 2015 di seluruh sekolah di Kabupaten Maluku Tenggara di gelar Upacara Bendera dalam rangka Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) ke-70. Hal yang berbeda dari upacara yang rutin dilaksanakan setiap hari senin pagi ini adalah jika pada hari senin sebagai pelaksana upacara dilaksanakan oleh siswa atau pengurus OSIS maka pada Upacara Peringatan HUT PGRI sebagai pelaksana upacara adalah para Guru.

Para guru lah yang mengambil alih seluruh rangkaian pelaksanaan upacara. Mulai dari menyiapkan barisan, inspektur upacara, dirigen, paduan suara, dan tim pengibar bendera. Pada upacara guru secara full berpartisipasi dan tidak hanya itu pelayaanan ekstra bahkan senyum ekstra baik sesama juga kepada siswa dilakukan oleh guru.

Di SMA Negeri 2 Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara tidak ketinggalan Upacara Peringatan HUT PGRI juga dilaksanakan dan bertindak sebagai pembina upacara Ibu Kepala Sekolah Domitila Teniwut, S.Pd. Upacara Peringatan HUT PGRI di SMA Negeri 2 Kei Kecil juga diselingi dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua OSIS, Enjel Luturkey yang diserahkan secara simbolis kepada Ibu Kepala Sekolah sebagai perwakilan guru.

Hal yang juga menarik dari Upacara Peringatan HUT PGRI di SMA Negeri 2 Kei Kecil adalah para tim pengibar bendera. Tim pengerek bendera terdiri dari tiga guru yakni Bapak Muhamad Kiyam Suatkab, S.PdI (guru Pendidikan Agama Islam), Bapak Muhammad Ali Banyal, S.Pd (Guru Pendidikan Kewarganegaraan) dan Ibu Eltin Notanubun, S.Pd (Guru Pendidikan Sosiologi). Ketiga guru ini sesungguhnya adalah “mantan” aktivis organisasi pergerakan semasa kuliah. Bapak Muhamad Kiyam Suatkab, S.PdI adalah Ketua Umum HMI-MPO Cabang Tual-Maluku Tenggara, Bapak Muhammad Ali Banyal, S.Pd adalah mantan Pengurus Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Cabang Malang dan Ibu Eltin Notanubun, S.Pd. adalah aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Manado.

Tidak disangka di bawah Sang Merah Putih, dalam rangka menghargai jasa para guru ketiga mantan aktivis gerakan ini disatukan sebagai tim pengibar bendera. Dedikasi ini perlu menjadi teladan aktivis sebagai pendidikan, pengajar bahkan pengibar bendera.

Selamat Hari Ulang Tahun Guru Republik Indonesia. Baktimu melampau zaman !

Abdul Malik Raharusun

Ketua BPK Resmikan Pusat Belajar Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong

Masjid Nurul Izzah di komplek Sekolah Insan Cendekia Madani
Masjid Nurul Izzah di komplek Sekolah Insan Cendekia Madani

HMINEWS.Com – Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) di Serpong, Tangerang Selatan, punya pusat belajar yang baru. Gedung pusat belajar itu diresmikan oleh Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Dr. Harry Azhar Azis, Ahad (11/10/2015).

Sebelum peresmian terlebih dahulu diadakan orasi dan diskusi bersama Harry Azhar Azis dengan siswa dan guru-guru. Untuk memotivasi para siswa dan guru, mantan Ketua Umum PB HMI itu bercerita pengalaman masa mudanya dalam menempuh pendidikan. Menurutnya, ia pernah ‘nakal’ sewaktu SMA, namun beruntung karena ada orangtua (sang ayah) yang benar-benar mengarahkannya untuk menggapai pendidikan yang tinggi. Sehingga meski sang ayah hanya tamat STM, dirinya bisa menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar doktor di bidang ekonomi. Dengan pendidikan yang ia tempuh secara serius itu pun, akhirnya kemudian ia selalu mendapatkan posisi yang terbaik di segala bidang yang dimasukinya.

Peresmian ini dihadiri oleh Ketua Dewan Pembina ICM, Tamsil Linrung, sejumlah mantan aktivis HMI seperti Bursah Zarnubi, serta jajaran Pengurus Besar HMI (Dipo maupun MPO).

Pusat Belajar ICM itu terdiri dari laboratorium, perpustakaan, ruang teater, dan segala perlengkapannya yang dimaksudkan untuk mendukung proses belajar mengajar di lingkungan sekolah tersebut. Saat ini ICM sudah berdiri selama 5 tahun dan telah menorehkan berbagai prestasi, baik yang diraih oleh para murid maupun guru-gurunya.

Mengenai sejarah pendirian sekolah ini, Tamsil Linrung menyatakan, awalnya lahan tersebut hendak dijadikan perumahan. Namun tiap kali ke tempat itu ia selalu melewati sejumlah sekolah unggulan di BSD yang tak satupun merupakan representasi umat Islam. Sehingga ia tergugah mendirikan sekolah yang dapat menjadi kebanggaan umat.

Terbukti setelah beberapa lama, banyak guru bahkan kepala sekolah dari sekolah-sekolah unggulan di sekitar itu yang berpindah ke ICM. Di ICM ini kualitas sangat dijunjung tinggi. Selain itu terdapat alokasi 20 persen untuk siswa tidak mampu yang tidak hanya digratiskan, bahkan diberi tunjangan.

Anies Baswedan: Guru Sejarah Harus Menginspirasi dan Mencerahkan

HMINEWS.Com – Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Ph.D memberikan sambutan pada Seminar Pendidikan Sejarah yang dilaksanakan Prodi Pendidikan Sejarah Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Seminar yang diadakan di Gedung Sertifikasi Guru, Kamis (27/8/2015) ini mengambil grand tema “Pengejawantahan Nawa Cita dalam Pembelajaran Sejarah di Sekolah.”

Anies Baswedan dalam sambutannya lewat video tele konferensi berdurasi 3 menit 48 detik itu di awali dengan apresiasi Anies terhadap seminar yang dilaksanakan. Selanjutnya Anies ia mengatakan bahwa Mata Pelajaran Sejarah adalah salah satu chanel yang sangat mendasar di dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.

Bagi Anies pengalaman yang telah dilewati bangsa ini adalah bahan pembelajaran yang luar biasa, karena itu ia pun berharap agar pembelajaran sejarah di sekolah dan guru-guru sejarah menjadi guru-guru yang menarik, menyenangkan dan dapat menyampaikan sejarah sebagai narasi yang menginspirasi bukan sebagai sekedar catatan yang dihafal tetapi hikmah-hikmah dalam perjalanan bangsa yang membuat anak-anak kita terinspirasi.

Anies berpendapat bahwa perjalanan sejarah bangsa Indonesia adalah perjalanan yang memukau yang menunjukan hadirnya orang-orang yang mencintai bangsa ini secara total, orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai yang membuat mereka terhormat. Anies berharap pengalaman yang memukau tersebut dapat dijadikan bahan ajar sehingga akan lahir generasi muda yang juga mencintai bangsa ini secara total sebagaimana para pahlawan.

Di akhir sambutan Anies berharap lewat seminar pendidikan yang dilaksanakan dapat melahirkan terobosan-terobosan. “Bagaimana pelajaran sejarah di sekolah menjadi menyenangkan, bagaimana caranya membuat pelajaran sejarah menginspirasi, bagaimana caranya menjadikan guru-guru kita menjadi guru yang menginspirasi,dan bagaimana caranya menjadikan guru sejarah yang mencerahkan,” paparnya.

Turut hadir pada seminar ini Wakil Gubernur DKI Jakarta Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, M.Si, Rektor UNJ Prof. Dr. Djaali, Anggota DPR-RI Komisi Pendidikan Ibu Puti Guntur Soekarno, Sejarawan Hilmar farid, Ph.D, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Dr. Arie Budhiman dan Guru-guru Besar Pendidikan Sejarah UNJ serta melibatkan guru-guru pendidikan sejarah pada Musyawarah Guru Mata Pelajaran DKI Jakarta.

Abdulmalik Raharusun

Pasca Ujian Nasional 2015

Ujian Nasional (UN) akan berlangsung pada 13-15 April untuk SMU/SMK sederajat dan 4-7 Mei untuk SMP sederajat. Sedangkan untuk tingkat SD tidak diberlakukan UN. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, UN kali ini tidak mencekam lagi. UN sudah tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Perbandingan hasil UN dan ujian sekolah sudah 50:50. Kelulusan siswa diserahkan kepada sekolah masing-masing.

UN sekarang apa adanya. Ini akan menghilangkan stress pikiran yang menyertai UN tahun sebelumnya. Dulu yang stress bukan hanya siswa peserta ujian, tapi juga kepala sekolah yang apabila ada siswanya yang tidak lulus ujian maka jabatannya akan terancam dicopot. Demikian juga Kepala Dinas Pendidikannya. Ujung-ujungnya kepala daerah juga ikut stress karena akan merasa malu kepada Pemda tetangga bila ada di daerahnya siswa yang tidak lulus ujian. Apalagi kepala daerah incumbent akan merasa popularitasnya berkurang apabila kelulusan tidak 100%. Kesibukan mendadak para guru yang mengawasi ujian secara diam-diam dikerahkan mengajari siswa yang ujian tidak akan terdengar lagi.

Di sisi lain, UN apa adanya ini telah memicu sebagian besar siswa untuk merasa tidak perlu lagi belajar mati-matian menghadapi UN. Sebagian kecil (?) malah merasa UN ada atau tidak ada sepertinya tidak ada bedanya, toh pasti lulus, pikir mereka. Demikian juga di kalangan guru dilanda hal yang sama. Yang akan belajar mati-matian hanyalah beberapa persen siswa yang termasuk kategori pintar dan kutu buku serta berniat melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan sekolah yang akan serius menghadapi UN diperkirakan hanya pada sekolah tertentu seperti sekolah favorit.

Bila kita perhatikan angka partisipasi kasar untuk jenjang perguruan tinggi maka hanya 23 % total siswa yang berkesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Artinya 77 % tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Dari 77 % tersebut sebagian di antaranya memasuki dunia kerja, sebagian lagi terombang-ambing menjadi pengangguran, sebagian mencoba berwirausaha dan sebagian memasuki kehidupan berumah tangga.

Biasanya yang berminat melanjutkan ke pendidikan tinggi adalah tamatan SMU. Sedangkan yang siap memasuki lapangan kerja adalah tamatan SMK. Dengan angka 23% yang melanjutkan ke perguruan tinggi maka persentase tamatan SMU yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi cukup besar jumlahnya.

Jumlah SMU di Indonesia 10.765 unit sekolah, sedangkan jumlah SMK sebanyak 7.592 unit sekolah. Perbandingan ini tidak linear dengan jumlah perguruan tinggi, dengan kata lain andai semua pelajar ingin melanjutkan ke perguruan tinggi minimal setingkat D-1 maka jumlah perguruan tingginya tidak mencukupi.

Untuk itu maka UN selain berfungsi sebagai instrumen pemetaan kondisi pendidikan nasional juga harus dipergunakan sebagai instrumen memproyeksi jumlah dan komposisi pendirian dan pengembangan perguruan tinggi.

Yang pertama yang harus dicermati adalah bahwa sebagian dari tamatan SMU/SMK ingin langsung memasuki dunia kerja. Selain faktor ekonomi juga faktor keinginan pribadi. Apalagi telah berkembang pemahaman bahwa apabila telah memiliki uang maka pendidikan yang lebih tinggi bisa diikuti sambil bekerja. Hal ini harus diimbangi dengan meningkatkan jumlah SMK baru di seluruh pelosok negeri. SMK baru ini harus disesuaikan dengan potensi daerahnya sehingga jangan sampai semua SMK baru ditempatkan di ibukota kabupaten. Sedangkan pada tamatan SMU yang belum memiliki keterampilan teknis bisa belajar praktis di lembaga latihan kerja. Untuk ini maka lembaga latihan kerja baik milik pemerintah maupun swasta harus didirikan di seluruh pelosok negeri.

Yang kedua yang harus dicermati adalah sebagian besar tamatan SMU/SMK berada di pedesaan. Sedangkan sebagian besar perguruan tinggi berada di perkotaan, terutama di ibukota provinsi. Maka akan terjadi urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota dalam rangka menempuh pendidikan tinggi. Dan setelah selesai menempuh pendidikan tinggi lebih cenderung mencari pekerjaan di kota. Untuk itu maka perlu dikembangkan pendirian perguruan tinggi setingkat D-1 sampai D-3 berbasis pedesaan seperti jurusan pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, perikanan dengan kombinasi mata kuliah praktek wirausaha berbasis pedesaan tersebut. Sedangkan status SMK perlu dikaji untuk dikembangkan menjadi setingkat D-1 sesuai jurusannya. Di satu sisi ini akan dapat menghambat laju urbanisasi. Di sisi lain akan dapat meningkatkan kualitas pembangunan desa. Serta mendukung ketahanan pangan.

Yang ketiga adalah beasiswa pendukung kesehatan dan pendidikan desa. Aparat birokrasi pedesaan terutama di bidang pendidikan dan kesehatan selalu kurang karena PNS yang ditugaskan ke desa sebagian besar berasal dari kota sehingga ketika bertugas di pedesaan tidak betah dan berusaha mengurus kepindahan kembali ke kota asalnya. Perlu dipikirkan beasiswa ikatan dinas di bidang pendidikan (guru) dan kesehatan (dokter, bidan, perawat) di mana siswa terbaik dari desa tersebut diberikan beasiswa ikatan dinas, dengan kata lain setelah selesai pendidikan akan bertugas di desanya selama jangka waktu ikatan dinas misalnya selama 10 tahun.

Pola ini akan lebih murah daripada Kemenkes membuat program dokter spesialis masuk desa atau dokter PTT yang gajinya lebih tinggi dari gaji seorang kepala RSUD. Atau bidan desa yang gajinya lebih tinggi dari gaji bidan desa PNS. Juga akan lebih efektif karena dengan berasal dari desa tersebut dipastikan akan lebih betah tinggal di desanya. Apabila telah melewati masa ikatan dinas diperbolehkan pindah ke kota sebagai pemberian kesempatan untuk mengembangan karir yang lebih baik.

UN sebagai sebuah parameter harus menghasilkan terobosan baru, bukan hanya sekedar otak-atik angka-angka.

Salam reformasi
Rahmad Daulay

Kementrian Pendidikan Dasar Libatkan Publik Evaluasi dan Kembangkan Kurikulum

HMINEWS.Com – Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan, mengundang partisipasi khalayak dalam pembahasan kurikulim pendidikan. Hal ini dilakukan setelah ditundanya Kurikulum 2013 yang dinilainya masih belum tuntas, terutama dari sudut proses dan kualitas isinya.

Undangan yang disampaikan 8 Maret tersebut disambut oleh LLE (Lifelong Leaners School of Education) dan Bincang Edukasi dengan mengadakan Forum Publik Kajian Kurikulum 2013 bertempat di Indonesia Jentera School of Law, Kuningan, Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Forum publik ini menganalisis kompetensi dasar Kurikulum 2013 yang sebelumnya sempat dikritik oleh banyak kalangan. Berusaha mengenali kompetensi yang harus dikuasai siswa pada satu jenjang pendidikan, sebelum anak menguasai kompetensi yang lebih sulit pada jenjang berikutnya.

Kurikulum merupakan kerangka proses pembelajaran mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Kerangka tersebut bukan saja harus konsisten alurnya dan mengacu pada tujuan pendidikan nasional, juga harus sesuai tahap perkembangan anak, relevan dengan disiplin keilmuan, serta  berpijak pada kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Seorang peserta dari Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo, menyatakan ini kesempatan baik bagi publik dalam penyusunan kurikulum yang sungguh terbuka, setelah sekian lama hanya sedakar jadi pendengar. Sementara Profesor Iwan Pranoto berharap dapat berkonstribusi dalam menghasilkan  suatu kurikulum yang utuh dan masuk akal.

Forum Publik Kajian Kurikulum 2013  dibuka oleh Menteri Anies Baswedan sebagai bentuk dukungan terhadap inisiatif dan partisipasi publik dalam pengembangan kurikulum. Menteri Anies menyatakan pihaknya terbuka terhadap masukan dari seluruh pelaku pada ekosistem pendidikan mulai siswa, sekolah, guru, ahli, orang tua serta dunia usaha, assosiasi profesi dan lembaga-lembaga lintas sektor.

Dengan proses ini, diharapkan lahir kurikulum nasional yang melahirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menantang bagi siswa, yang mendorong percepatan mutu sekolah, serta memberikan keleluasaan pada guru untuk mengembangkan proses dan alat belajar yang bermutu dan beragam sesuai potensi lokal.

Kepala Puskurbuk Kemdikbud, Ramon Mohandas menegaskan adanya perubahan proses dalam mengembangkan kurikulum yang lebih matang dengan melibatkan publik untuk setiap tahapannya. Belajar dari persoalan sebelumnya, keterlibatan publik diharapkan menghasilkan pemahaman bersama dan dokumen kurikulum yang lebih solid dan koheren.

Proses pengembangan dokumen kurikulum akan terus berlangsung, demikian juga proses pendampingan dan pelatihan untuk mendorong kesiapan sekolah dan guru. Hasil pengembangan kurikulum nasional  ini akan diterapkan secara bertahap di lebih banyak sekolah rintisan mulai tahun ajaran 2016/2017.

Pendidikan Instan

Kecenderungan serba instan dalam memperoleh ilmu pengetahuan, dari hari ke hari semakin kuat. Dalam memperoleh ilmu pengetahuan, seorang serjana yang sangat cepat memperoleh gelar sarjana S1 atau S2 tanpa melalui proses semester berjalan. Mereka hanya membayar semua ketertinggalan semester lalu didaftarkan masuk menjadi peserta ikut wisuda dan langsung saja mendapatkan ijazah. Pelajar/mahasiswa hari ini ingin ‘sekali seduh langsung jadi’ siap disantap, layaknya makanan instan. Padahal kenyataannya, ilmu pengetahuan tidak seperti makanan instan yang cukup diseduh langsung dinikmati.

Seorang sarjana instan akan memunculkan kecemburuan sosial dan memunculkan ketidakpercayaan terhadap lembaga pendidikan yang mengeluarkan ijazah tersebut. Sarjana yang sudah berproses mati-matian selama pendidikan berlangsung, mengikuti semester berjalan, melaksanakan kewajiban di kampus seperti membayar SPP, mengerjakan tugas-tugas. Sementara ada orang yang tiba-tiba mendapat gelar serjana namun selama pergaulan sosialnya tidak pernah terdengar kabar bahwa dia pernah kuliah. Tentu masyarakat mempertanyakan dari mana gelar itu didapatkan.

Hasil kerja keras akan menghasilkan kepuasan tersendiri. Mengutip dari pernyataan Gus Dur, ”Saya tidak menilai berapa indeks prestasi seorang sarjana yang didapatkan dari kampus tapi saya menilai sebesar apa proses perjuangan dalam memperoleh nilai tersebut.” Selain dari pada itu Mahatma Gandi mengatakan bahwa “kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil , berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.”

Proses Instan

Terkadang kita hanya menunggu sesuatu yang untuk suatu kejutan yang datang dari langit. Belajar di institusi pendidikan formal itu, sebetulnya merupakan proses untuk mendapatkan pengetahuan, pendewasaan diri, pematangan pribadi, berkomunikasi, berorganisasi, dan membangun relasi dengan sesama, agar menjadi pribadi yang dewasa, berwawasan luas, berjiwa matang, tidak ‘kuper,’ punya prinsip hidup yang kuat, memiliki integritas yang tinggi dan tidak plin-plan. Pada hakikatnya bahwa proses pendidikan mengajarkan diri menjadi seseorang yang rasional, objektif, dan sistematis agar memiliki kerangka pikir yang fundamental dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap problematika sosial yang terjadi di sekeliling.

Maka dari itu didalam kampus bukan hanya diajarkan tentang displin ilmu sesuai jurusan masing-masing namun, juga diajarkan dengan moral, etika pergaulan dan nilai-nilai karakter dalam bermasyarakat. Bagaimanapun, pengetahuan yang sempit sama berbahayanya dengan pengetahuan tanpa karakter. Pengetahuan intelektual yang tinggi tanpa diimbangi nilai-nilai karakter diibaratkan seorang pemuda memegang sebilah pedang sementara dalam keadaan mabuk. Maka seorang sarjana yang hanya langsung menerima ijazah tentu akan kewalahan dalam menghadapi tantangan sosial apalagi mempertanggung jawabkan nilai akademiknya. Aktualisasi terhadap nilai-nilai akademik tercermin dari seorang sarjana yang betul-betul melewati sistem pendidikan yang baik, bukan sarjana kampungan, seperti Tarzan masuk kota, tetapi dia dapat menjadi agen of change di tengah arus problematika yang ada.

Maraknya Plagiat

Keengganan untuk melakukan sesuai jalannya sistem akademik, tidak jarang di antara para calon sarjana meng-copi-paste skripsi (plagiat) yang suda jadi, atau bahkan menggunakan biro jasa pembuatan skripsi, atau tesis. Karena bagi mereka yang diutamakan memang bukan pengetahuan melainkan status, ijazah, atau gelar. Agar bisa diakui eksistensinya di masyarakat kalau dia itu punya title akademik.

Menjamurnya institusi yang menawarkan gelar hanya dengan harga Rp 5 sampai 8 juta, ini tidak terlepas dari berfikir instan, padahal yang demikian itu merupakan suatu pelanggaran sistem dan pengkhianatan terhadap prinsip akademik. Membuat tesis sering dipandang calon serjana sebagai suatu yang amat berat, sehingga timbul rasa enggan untuk melaksanakan bahkan memulainya. Maka jalan pintas adalah “plagiat.” Memang, menyusun suatu karangan ilmiyah bukanlah pekerjaan yang mudah. Apa saja yang dikemukakan dalam skripsi, tesis, harus dapat dipertanggugjawabkan berdasarkan data empiris. Namun keharusan itulah yang sangat berharga bagi seorang yang nantinya menyebut dirinya seorang sarjana.

Bagi sarjana harus dapat berpikir ilmiah objektif dan rasional. Ia harus mampu d membiasakan dirinya bersikap ilmiah. Membuat tesis memaksa calon sarjana untuk melakukan penelitian secara ilmiah dan dengan demikian merupakan latihan yang sangat bermanfaat bagi persiapan sebagai seorang ilmuwan. Dan sikap seperti itu telah dipupuk dalam perkuliahan, maka skiripsi, tesis merupakan bukti tentang sikap, cara berfikir dan menghasilkan karya ilmiah.

Sebaliknya cara ‘potong kompas’ atau proses yang serba instan yang diterapkan dalam sebuah institusi sekolah dan perguruan tinggi tidak akan pernah menghasilkan generasi bangsa yang kompeten dan kreatif tetapi hanya akan menghasilkan produk-produk pragmatis.

Berikut ini ada beberapa sistem yang sering diterapkan di kampus-kampus di antaranya: pertama proses pembelajaran dalam semester pendek. Sistem semester pendek itu, pasti tergesa-gesa karena waktu yang singkat harus menghabiskan bahan banyak. Akibatnya dosen pun memberikan secara serampangan sedangkan mahasiswa pun menerimanya juga sepintas lalu tanpa pengendapan.

Kedua Program semester panjang. Karena waktu pertemuannya selalu mengalami jeda, memungkinkan mahasiswa yang rajin untuk membaca ulang memahami materi yang diajarkan mengunyah, merenungkan, dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari tetapi dalam semester pendek apa yang diterima mahasiswa dari dosen tidak sempat diserap, dikunyah, direnungkan, apalagi direfleksikan, tetapi langsung ditelan begitu saja ujian. Persis seperti orang menelan obat: agar tidak pahit, obat itu ditelan dengan air minum atau buah-buahan untuk memanipulasi rasa pahitnya.

Menelan itu berbeda dengan mengunyah yang memiliki ritme dan unsur rasa, memerlukan proses kesabaran dan waktu sampai 32 kali (pesan dokter) sedangkan ketika menelan akan terasa nguntal. Sekali barang dilempar ke mulut, langsung ditelan.

Penulis masih teringat waktu kecil dulu saat belajar mengaji, sebelum memulai pelajaran mengaji diharuskan agar setiap santri terlebih dahulu mengangkat air dari sumur ke rumah guru ngaji tersebut, satu orang santri satu jergen berukuran 5 liter air, kalau yang kelas 5-6 SD diharuskan membawa 2 buah jerigen dengan ukuran yang sama diangkat dengan terseok-seok. Jarak dari sumur dengan rumah guru ngaji sekitar 100 M. Setelah semua santri mengangkat air selanjutnya mengambil sapu lidi untuk menyapu, ada yang menyapu di bawah kolong rumah, ada juga yang menyapu lantai atas sampai bersih. Tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya kami diarahkan ke dapur untuk mencuci piring. Setelah semuanya beres barulah mulai membuka Al Qur’an untuk dibaca. Dan dibaca berkali-kali sekitar 5-8 kali yang disebut Mandarras (istilah Mandar) barulah datang guru ngaji didepan kita untuk mengajar sambil membawa sebuah rotan kecil yang berukuran panjang kira-kira 60 CM. Satu kali melakukan kesalahan rotan tersebut meluncur kearah bagian paha atau tangan. Begitulah proses panjang terus menerus berjalan sampai masa Khatam bacaan Al-Qur’an

CPNS Berijasah palsu

Maraknya CPNS yang berijazah palsu belakangan ini, marupakan suatu fanomena pendidikan yang memilukan dan memalukan. Kita tidak bisa bayangkan suatu perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur bisa-bisanya mengeluarkan ijazah palsu. Seperti yang terjadi pekan lalu UNM berhasil mengidentifikasi setidaknya 11 CPNS yang berijasah palsu. Institusi yang dulunya dikenal sebagai penghasil guru terbaik ini komplain lembaga mereka digunakan sebagai alat untuk mendupliksi ijazah lalu, dimanfaatkan untuk mendaftar CPNS.

Anehnya bahwa yang menggunakan ijazah palsu ini di BKD masing-masing telah dinyatakan lulus. (Fajar 28 Des 2014). Kalau yang orang berijazah palsu menjadi abdi negara dalam suatu instansi, maka dikhawatirkan akan menjadi orang tidak bertanggung jawab dan cenderung korup karena ijazah yang digunakan dalam mendaftar PNS berasal dari proses yang tidak benar. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang berasal dari yang tidak benar pasti akan berakhir degan tidak benar pula.

hhKita berharap pemerintah betul-betul dapat menyeleksi CPNS dengan penuh hati-hati, agar proses ijasah palsu tidak lagi terulang dalam proses penelimaan CNPS berikutnya. Aparat hukum sekiranya dapat menindak tegas sesuai perundang-undangan yang berlaku.   bagi siapa yang kedapatan menggunakan ijasah palsu

Herman Haerudin

Mendikbud: Lomba dan Festival Kemdikbud Terbuka Bagi Pelajar Indonesia dari Jalur Pendidikan Manapun

HMINEWS.Com – Mendikbud Anies Baswedan hari ini [12/3] menyatakan akan membuka kesempatan bagi seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun untuk mengikuti berbagai lomba dan festival yang diadakan Kemdikbud. Hal ini sebagai respon terhadap dijegalnya siswa madrasah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi baru-baru ini.

“Pada dasarnya dengan berbagai lomba ini Kemdikbud ingin memberi wahana belajar dan memunculkan bakat-bakat terbaik dari jutaan anak Indonesia, bukan cuma siswa sekolah di bawah naungan Kemdikbud,” kata Anies, Kamis (12/3/2015).

Oleh karena itu, lanjutnya, Kemendikbud telah memutuskan akan membuka akses kepesertaan berbagai kompetisi ini kepada seluruh anak Indonesia dari jalur pendidikan manapun. Baik ia dari sekolah formal, maupun dari jalur pendidikan nonformal dan informal, seperti sekolah alam dan sekolahrumah.

“Kami juga membuka akses kepesertaan kepada peserta didik dari jalur pendidikan di luar naungan Kemdikbud, seperti madrasah yang bernaung di bawah Kemenag, maupun sekolah-sekolah yang bernaung di bawah kementerian-kementerian lain seperti sekolah-sekolah kedinasan,” lanjut Anies.

Tahun ini Kemdikbud akan menyelenggarakan berbagai macam kompetisi dan festival seperti Olimpiade Sains Nasional [OSN], Olimpiade Olahraga Siswa Nasional [O2SN], Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional [FLS2N], Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional [LCSPN], Kuis Kihajar [Kita Harus Belajar], Lomba Motivasi Belajar Mandiri [Lomojari], Lomba Karya Jurnalistik Siswa Nasional [LKJS], Lomba Cipta Puisi, Cipta Lagu, Melukis dan Membatik, dan lain sebagainya.

“Akses kepesertaan pada berbagai lomba dan festival ini akan dibuat terbuka. Tentu ada sedikit pengecualian, seperti misalnya terkait sekolah pembinaan khusus, misal sekolah olahraga. Kalau diperbolehkan ikut olimpiade olahraga yang diikuti sekolah umum malah akan menghilangkan prinsip keadilan dan pembelajaran. Hal-hal demikian akan diatur lebih detail dalam petunjuk teknis setiap lomba,” jelas Anies.

Mendikbud menyatakan dalam beberapa waktu ke depan akan mengeluarkan surat edaran terkait keterbukaan akses kepesertaan kompetisi ini untuk disampaikan kepada dinas-dinas pendidikan di daerah. Surat edaran tersebut akan menjadi dasar penyesuaian petunjuk teknis lomba dan festival yang akan diadakan ke depannya.