Kekerasan Budaya Pasca 65 dan Manuver Kapitalisme Global

HMINEWS.Com – Peristiwa G30 September atau lebih tepatnya seperti yang disebut oleh Bung Karno sebagai Gerakan Satu Oktober (Gestok) 65, berlanjut dengan tragedi kemanusiaan di Indonesia. Ada hal lain dari segi budaya yang memungkinkan kekerasan tersebut mendapat pembenarannya dan terus berlanjut selama Orde Baru, bahkan hingga kini. Siapa di balik kekerasan budaya itu?

Budayawan Kapitalis Di Balik Kekerasan Budaya Pasca 65

Hal inilah yang diungkap oleh Dr Wijaya Herlambang dalam disertasinya di Universitas Queensland Australia berjudul “Kekerasan Budaya Pasca 1965” yang dibedah dalam diskusi publik Lembaga Seni Budaya NU (Lesbumi NU) di Gedung PB NU, Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (5/10/2015).

Ternyata kelompok di balik kekerasan budaya tersebut justru kelompoknya Goenawan Mohamad dan Mochtar Lubis yang dekat dengan CIA. Meskipun waktu itu keduanya sama-sama terlibat dalam pembentukan Manifesto Kebudayaan bersama tokoh-tokoh Islam seperti Taufiq Ismail, namun semangatnya berbeda. Keduanya mewakili kepentingan kapitalisme Barat, yang pada saat yang bersamaan sedang gencar-gencarnya memerangi komunisme. Maka ketika komunisme telah hancur, kapitalisme global dengan mudah menghancurkan ekonomi kita dan kebudayaan kita.

“Kritik saya buat dia (Gunawan Mohamad), dia adalah tokoh yang paling akhir, paling senior yang mewarisi tradisi barat. Yang awal-awal membangun jaringan dengan kapitalisme barat adalah Mochtar Lubis. Awalnya semangat anti komunisme. Kemudian tergelincir. Ternyata mereka dekat dengan CIA, jaringan intelejen Amerika itu,” kata Wijaya Herlambang.

Begitu masifnya agen-agen menyebarkan faham / gagasan anti komunis dan dengan gampang melabeli orang-orang kritis dengan sebutan komunis atau PKI.

“Karena begitu semangatnya tokoh-tokoh kebudayaan kita waktu itu memerangi komunisme, saya melihatnya wajar, meskipun terdapat pertentangan. Seperti pertentangan Taufik Ismail dengan Gunawan M, dahulu bekerjasama karena musuhya satu; komunisme, lekra,” lanjutnya.

Pada saat seperti itulah konflik fisik terjadi. Di banyak tempat. Tapi yang jelas kolaborasi antara para penulis liberal dengan penulis Islam untuk melawan komunisme didukung penuh CCR, karena dilihat sebaagai potensi menghancurkan komnunisme di Indonesia. Ini sebagai selubung perang dingin. Perang kelompok liberal dengan Manikebu adalah bagian perang kebudayaan.

“Ketika Suharto naik, kemudian investasi asing, khususnya Amerika, dibuka lebar-lebar di sini. Akhirnya semua dikeruk. Tak ada satupun sumberdaya kita yang tidak dipegang oleh asing. Melalui bantuan-bantuan Bank Dunia, IMF, itu . kita berutang kepada mereka turun-temurun.”

“Saya menemukan data valid yang tidak bisa dibantah. Surat-surat Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, .. masih bisa dilihat di TIM. Bagaimana hubungan CIA, Mochtar Lubis dan Yayasan Obor. Ada review dari David Hill, penulis biografi Mochtar Lubis. Yang awalnya begitu dekat dengan Mochtar, akhirnya Mochtar marah karena disinggung hubungannya dengan CIA.

Sementara dalam pandangan saya dan David Hill pun bertentangan, walaupun sama2 meneliti tradisi liberalisme itu, dan David Hill meneliti ML, saya meneliti GM, ada yg sangat bertentangan.

“Gunawan Mohammad bukan orang kiri, dia kanan super. Kanan Kapitalis. Bertentangan dengan bapaknya yang di Digul. Deket sekali dengan Amerika.

Belakangan juga diketahui ada bantuan dana dari George Soros untuk GM dan Kelompok Utan Kayu. Ini konspirasi intelektual. Jaringan-jaringan inilah yang berperan sangat besar dalam mempengaruhi dinamika kebudayaan dan politik di Indonesi. Amerika menginviltrasi kita dalam rangka persaingan dengan soviet. Melalui ekonomi, politik, militer.

Tanggapan Ki Agus Sunyoto. Trik dan inviltrasi Pesindo/ PSI.

Menurut penelitian Agus Sunyoto, dalam berbagai pemberontakannya, PKI justru ditunggangi oleh kalangan ‘PKI Siluman’, sedangkan yang menjadi korban hanya pengikut yang kebanyakan tak tahu apa-apa. Mereka memang dikorbankan oleh segelintir elit, yang apabila upaya itu berhasil maka merekalah yang tampil, sebaliknya jika gagal, cukuplah para korban itu sebagai kambing hitam.

Agus Sunyoto yang sewaktu menjadi wartawan Jawa Pos pernah menulis buku “Lubang-lubang Pembantaian, Petualangan PKI di Madiun” itu mengingatkan bahwa Tan Malaka pernah mengatakan, Alimin dan Muso itu hanyalah avonturis. Maka pemberontakan 1928 dan Madiun 1948 membuat generasi komunis Indonesia pada masing-masing periode itu hilang, musnah.

Begitu pun pada pemberontakan 1965. Namun yang kemudian dibunuh lebih banyak anggota atau simpatisan PKI yang relatif baru bergabung, pada periode 60-an, sedangkan tokoh-tokoh lamanya telah menduduki jabatan strategis, mereka selamat. Anggota ataupun simpatisan awam itu kembali ditunggangi dan dikorbankan.

Di madiun jumlah pelaku ini tanggal 18 september ini ada 1500 orang, 700-nya ada tentara terlatihnya Pesindo yang disusupkan. Tapi tidak ditulis. Bahkan ada tokoh Pesindo seorang mayor jenderal karena dia KNIL, dia dihapus dari sejarah. Baca tulisan Harry A Poeze, “PKI Bergerak.”

Bahwa yg merancang pemberontakan PKI 48 memang ada , dan Muso tahu, data dikasih oleh Muso ke Bung Karno. Akhirnya sama Pesindo, Muso diseret dan dihukum mati. Bagaimana Muso dieksekusi dihukum mati. Ada peran Mayjen Joko Suyono (non-muslim). Muso ini korban. Alimin juga.

Itu sebabnya pada peristiwa 48, BK perintahkan semua tokoh yg tertangkap ditembak tanpa diadili. Tapi begitu Alimin yg tertangkap, dibilang dia tokoh komunis internasional. Akibat ini, generasi komunis 48 habis. (Alimin orang PSI yang menyusup ke komunis. PSI dalang semua pemberontakan PKI).

Pemberontakan Permesta, bekas KNIL semua. Tahun 65 sama, pelaku2 disitu orang-orang 48 semua. Memang ada kesengajaan dari kapitalisme global tertama belanda untuk melindungi kapitalisme siluman ini.

Karena belanda tahu, coba baca memoarnya Adam Malik. Belanda sampai kiamat nggak akan mau berunding dengan Sukarno, belanda hanya mau berunding dengan orang-orang didikannya. Dalam perudingan Linggarjati, Roem Royen, Renville yang membuat luas indonesia tinggal Jogja, Surakarta dan Madiun. Itu sebabnya Muso datang dari Moskow.

Tokoh-tokoh KNIL dan PSI yang berontak di Madiun itu dikejar PNI, masuk wilayah belanda di Purwodadi. Bagaimana belanda yang katanya anti komunis menerima mereka itu? Tidak lepas dari skenario belanda lewat orang-orang KNIL itu, orang sosialis.

Agus Sunyoto juga menyangsikan jumlah korban yang menurutnya terlalu dibesar-besarkan, 3 juta nyawa. “Tahun 95 saya menulis buku ‘Banser dan PKI.’ Saya datang ke pabrik gula yang katanya milik PKI. Tanya saja data orang PKI, ternyata tidak banyak. Di sebuah desa juga ada 5 ribu penduduk, berapa orang yang mati? Cuma Pak ini dan pak itu, Oo… 3 juta data dari mana?.

Rekonsiliasi

Agus Sunyoto mengatakan sudah terlambat 50 tahun lebih baru rekonsiliasi. Mengapa? karena begitu tahun 65 selesai, janda dan anak yatim itu banyak. Saya ambil contoh ketua Ansor Kabupaten Blitar, mengambil 30 yatim anak orang PKI, disekolahkan dengan atas nama Abdurokhmin, bukan atas nama orangtuanya. Hingga sampai mereka menjadi pegawai negeri. Inilah bentuk rekonsiliasi dari umat islam. Ini kejadian di Blitar dan bisa dilacak di lapangan.

Di Kediri ada desa Trisula yang 100 persen PKI, banyak orang diambil dan tidak kembali. Bagi penduduk desa, kalau keluarganya itu hilang atau dianggap mati, itu harus ada selamatan, karena mereka yakin, orang mati yang tidak dislameti itu menyakitkan bagi yang mati. Tapi mereka tidak berani slametan karena ketakutan tuduhan sebagai PKI itu. Akhirnya orang sebelah desa (kelompok Islam), mendatangi mereka dan mengadakan slametan untuk orang-orang yang hilang tersebut.

Sampai 97 ketika dibuka ranting NU di sana, ketua PCNU kediri tidak berani datang. Ini saya laporkan ke Gus Dur, akhirnya Gus Isom aja yang datang. Model-model rekonsiliasi itu sudah lama dilakukan NU. Malah yang dilakukan pemerintah kontra produktif.

Semua anak2 PKI tidak bisa menjadi pegawai negeri, tentara, dan lain-lain. Banyak orang tersangkut karena keluarganya PKI. Itu kekerasan lain itu. Memang faktanya begitu. NU tidak pernah melakukannya dari awal. Karena tuntunanya agama.

Ada peristiwa Ansor di Kediri, ini ketuanya adalah Pak Abdul Wahid santrinya pak Wahab Hasbullah. Ketika operasi penumpasan PKI, sebagai orang setempat, Pak Wahid tahu, agar tidak semua orang PKI diambil. Disitulah dia membawa anak-anak Ansor agar turun ke jalan menempeli rumah-rumah orang PKI dengan stiker NU agar selamat. Itu yang sempat masuk loporan jurnal. Itu yg terjadi di lapangan. NU sejak awal sudah rekonsiliasi.

Kita khawatir tuntutan rekonsiliasi yang sekarang ini, pemerintah minta maaf, ujung-ujungnya, akhirnya minta ganti rugi, duitnya hanya bisa diambil orang-orang tertentu. Tanya aja orang-orang Rawa Gede (korban pembataian Belanda yang kemudian mendapat dana) berapa dapatnya? Recehan.

Pandangan Taufiq Ismail

Saya berpikir, istilah kekerasan budaya. Betul, betul terjadi yang seperti ini. 15 tahun lalu saya sampai pada sebuah ide, para pendukung kebudayaan Lekra. Saya menyatakan kita harus berdamai. Kok bisa terjadi kita bisa dikecol oleh Marx, Engel, yang kulit putih itu. Kita harus berdamai.

Bagaimana kalau ketemu tokoh-tokoh Lekra dengan tokoh-tokoh manifesto kebudayaan. Selama ini hanya melalui surat kabar. Mahasiswa UI memprakarsai Bagaimana kalau ketemu, berdebat di hadapan kami. Setuju.

Begitu Pram ngomong. Terkejut saya. Dia bicara dengan istilah kuno: sama rata sama rasa. Ekonomi rakyat. Pramudya bukan komunis. Dia tidak paham ideologinya itu. Saya tidak rela seorang pengarang besar seperti Pramudya diperalat PKI. Di Lekra tidak ada seniman yang dapat disebut namanya dengan bangga, kecuali tiga orang termasuk Pramudya yang dipancing dengan uang dan diberangkatkan ke luar negeri bersama Utuy Tatang Sontani dan Rivai Amin. Di Lekra itu tidak adaseniman yang punya nama.

Akhirnya Asrul Sani ajak bicara Rivai Amin yang menyatakan menyesal karena salah jalan masuk PKI. Utuy penulis drama yang sangat terkenal. Tapi ekonominya payah. Datang orang PKI kemudian memperbaiki rumahnya dan memberinya uang. Disuruhnya bicara di forum tentang Leninisme dan Marxisme tentang perjuangan sastra. Dengan mudah dipatahkan Ayip Rosidi. Ia pergi ke Soviet dan meninggal di sana.

Kemudian terdengar gagasan rekonsiliasi, itu bagus sekali. Tapi modelnya kenapa Afrika Selatan yang konflik antar ras?. Itu ada hitung-hitungannya ganti rugi. Padahal di Malaysia antara PKM sudah terjadi perdamaian total. Chen Peng mendandatangani perjanjian tersebut dengan pemerintahan Malaysia.

Kita bangsa besar, tapi kalau dilihat dari segi ini, kita tidak besar. Ayo sekarang kita membangun bangsa kita. Bangsa kita sudah makmur. Perdamaian total, bukan rekonsiliasi, tapi di atas rekonsiliasi.

Simpulan

Di zaman ini perang dan dimunculkannya kembali ketakutan terhadap PKI hanyalah untuk mengelabuhi agar bangsa ini agar kapitalisme dapat masuk dengan lebih mudah lagi. Bahkan seperti yang dilakukan oleh kalangan pengusaha China yang ditakutkan membawa ideologi komunis, justru mereka menenteng kapitalisme.

Mereka kini sangat leluasa masuk ke Indonesia dan mendapatkan lahan, berapapun mereka inginkan. Mendikbudpar tahun 2013 mengatakan wisatawan dari China 2,6 juta masuk Indonesia. Dia bilang dengan bangga. 10 persen yang datang ke sini tidak balik ke China, tapi bekerja disini. Mereka bekerja di pabrik-pabriknya orang China itu.Negara China sendiri meminjamkan hutang ke Amerka sebesar triliun USD ke China. Makanya China tak mau Amerika kolaps.

Antara Futuh Mekah dan Pembersihan PKI

Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi) merupakan mata air hikmah bagi umat Islam. Dengan mengetahuinya, maka kita akan tahu bagaimana mengaplikasikan berbagai hukum yang terdapat dalam Al Qur’an maupun hadits, sebab semua hukum itu diturunkan tidak keluar dari konteks kesejarahan, dan dari itu kita kenal yang namanya Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat – Al Qur’an) dan Asbabul Wurud (sebab diwahyukannya hadits atau sunnah Rasul)

Pembahasan ini hendak mengungkap dua peristiwa yang terjadi di dua zaman yang berbeda, yaitu penaklukan Mekah oleh Nabi dan para sahabatnya, dengan pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Akan ditarik garis antara dua peristiwa tersebut. Mengenai kejadian pembersihan PKI, bukan untuk mengorek luka lama atau menyalahkan semua yang terlibat, namun bagaimana mengambil pelajaran dan mendewasakan pemikiran berkaca dari peristiwa tersebut.

Penaklukan Mekah

Penaklukan Mekah merupakan buah perjuangan panjang Nabi Muhammad dengan para sahabatnya dalam mengemban agama dan misi kemanusiaan. Sejak memproklamasikan da’wah, yang itu artinya selain menyatakan keislaman di tengah penduduk yang masih musyrik dan juga para ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka juga mensyiarkan agama Islam mengatasi semua agama dan ideologi yang ada. Dimulai pulalah penentangan terhadap Nabi dan para pengikutnya.

Nabi mendapat serangan, cemoohan, fitnah, upaya pembunuhan dan pengusiran. Demikian juga yang dialami para sahabatnya, bahkan di Periode Mekah saja, ketika Allah belum memperkenankan mereka melawan dengan mengangkat senjata, sejumlah sahabat terbunuh. Syahid pertama Ammar bin Yasir dan istrinya, Sumayyah. Untuk menghindari berbagai tekanan tersebut, terbagi ke dalam beberapa rombongan, para sahabat nabi itu hijrah ke Habasyah. Kemudian setelah 13 tahun, mereka berhijrah secara besar-besaran termasuk Nabi, hijrah ke Yatsrib yang kemudian namanya diubah menjadi Madinah.

Setelah itu terjadi perang berulangkali antara kubu Islam dengan golongan kafir Quraisy dan sekutunya. Yang pertama adalah Perang Badar, dilanjut dengan perang-perang lainnya seperti Perang Uhud, Khandaq, Khaibar, Mu’tah, Hunain, Tabuk dan perang-perang lain, baik yang dipimpin langsung oleh Nabi (disebut ghazwah) maupun yang dipimpin oleh selain Nabi (disebut sariyyah). Sudah tentu, namanya perang menimbulkan korban di kedua belah pihak. Korban juga tidak sedikit, dan di antaranya ada kerabat dan sahabat terdekat Nabi semisal Hamzah bin Abdul Muthalib.

Tidak jarang pula umat Islam di zaman Nabi dikhianati oleh kafir Quraisy maupun kelompok-kelompok Yahudi seperti Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Qainuqa. Terhadap perang dan pengkhianatan tersebut, hukum ditegakkan terhadap orang-orang yang bersalah saja, ada yang dieksekusi dan tidak sedikit yang diampuni, sedangkan orang yang tidak bersalah, termasuk wanita dan anak-anak dibiarkan hidup.

Baru setelah 22 tahun, setelah kafir Quraisy mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah, Nabi memimpin langsung pasukan besar untuk merebut Mekah. Pasukan Islam sudah demikian besar dan tak terbendung lagi memasuki kota suci. Kaum kafir Mekah ketakutan. Mereka mengira nasib mereka akan berakhir di ujung pedang, mengingat sebelumnya mereka selalu memerangi Muhammad dan mengusirnya dari bumi kelahirannya, Mekah itu.

Tetapi, inilah isi pidato Nabi Muhammad kala itu:

Inna hadzal yaum laisa yaumul malhamah, walakinna hadzal yaum yaumul marhamah, wa antumuth thulaqa’. Sesungguhnya hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua memperoleh kebebasan.”

Emha Ainun Nadjib menyatakan, peristiwa tersebut “memuat keberanian militer dan permaafan politik yang radikal di ujung peperangan besar merebut kembali Mekkah. Mengandung kearifan sosial, kerelaan kemanusiaan dan keindahan budaya yang kadar nilainya sangat tinggi. Para tawanan perang baru saja ditaklukkan bukan hanya dimaafkan dan dimerdekakan, tapi juga diberi pesangon harta yang besar jumlahnya.”

Bagaimana dengan Pembersihan PKI?

Berkebalikan dengan yaumul marhamah (hari kasih sayang) peristiwa pembersihan PKI di Indonesia benar-benar merupakan yaumul malhamah (hari penyembelihan).

Memang PKI, sejak kemunculannya yang pertama mendompleng Sarikat Islam (lalu menimbulkan faksi ‘SI Merah’) dan kemudian setelah merasa kuat dan banyak pengikut memisahkan diri dari SI hingga kemudian SI kehilangan separoh anggotanya. Beberapa kali memberontak dan membunuhi sesama anak bangsa, seperti pada Pemberontakan PKI Madiun 1948 dan Pemberontakan 30 September 1965.

Permusuhan PKI dengan kelompok Islam terjadi dari pucuk pimpinan hingga tingkat ‘akar rumput’. Selain dua peristiwa besar Madiun dan G30S, ada ‘Peristiwa Kanigoro’ ketika massa PKI menyerang santri dan Pelajar Islam Indonesia, peristiwa ‘Gorang Gareng’ dan cerita-cerita di berbagai desa di Jawa mengenai teror PKI terhadap golongan Islam (meskipun orang-orang PKI itu pun beragama Islam juga).

Namun, selain permusuhan dengan terhadapap sesama anak bangsa, PKI pun sebenarnya punya andil dalam perjuangan kemerdekaan, di mana mereka pernah memberontak terhadap Belanda pada tahun 1926, juga para pemuda yang ‘penculik’ Sukarno-Hatta agar memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, sebagiannya ada yang komunis anak asuh Tan Malaka yang adalah pemikir top komunis dari Indonesia.

Beberapa hal yang membuat PKI dicintai rakyat (yaitu anggota dan simpatisan PKI), adalah bahwa garis perjuangan PKI yang begitu kental dengan kepentingan rakyat. PKI sangat anti kapitalisme, anti penjajahan (kolonialisme) serta mencita-citakan kemandirian bangsa, meski tentu saja terdapat berbagai irisan dengan kelompok Islam, di mana dalam perlawanan terhadap kapitalisme itu, tak jarang PKI kebablasan dengan menyerang kepentingan ‘kelompok Islam’. Di desa-desa, para haji kerap disebut sebagai ‘setan desa’ dikarenakan mereka menjadi tuan tanah, sebenarnya penyebutan ini wajar, mengingat sepak terjang tuan tanah itu memeras rakyat dengan sistem rente mereka, akan tetapi kadang penyebutan itu terlalu digeneralisir tanpa memandang asal-usul kekayaan dan semua lawan politiknya dicap sebagai musuh yang harus diperangi. Karena perbedaan haluan politik pula, massa PKI begitu memusuhi kelompok Masyumi, NU dan PSI, serta pada segmen mahasiswa, dikenal dengan aksi Ganyang HMI.

Setelah G30 S mengalami kegagalan, militer Indonesia terutama Angkatan Darat menggandeng seluruh elemen rakyat (sebagian besar tentu umat Islam) memukul balik PKI. Terjadi pembantaian besar-besaran terhadap semua anggota PKI, bahkan yang hanya simpatisan tak luput dari kejaran. Apalagi setelah pemerintah mengumumkan PKI sebagai partai terlarang, makin bersemangatlah massa rakyat menuntaskan dendam. Kopkamtib melaporkan pembantaian itu mencapai 800.000 anggota dan simpatisan PKI di Jawa dan 100.000 di Bali dan Sumatera. Pada saat itulah, semua gelap mata dan menjadi pembunuh yang mendapat legitimasi kekuasaan.

Semua anggtoa PKI ditumpas, diuruk dalam kuburan-kuburan massal. Eksekusi berlangsung begitu mengerikan tanpa kenal ampun. Di antara korban itu tentu saja terdapat orang-orang yang hanya ikut-ikutan atau hanya pernah ikut didata sebagai anggota atau menerima bantuan PKI tetapi tidak pernah ikut dalam pertumpahan darah sebelumnya dan tak tahu menahu.

Tidak hanya itu, keluarga dan anak-anak orang PKI sampai berpuluh tahun kemudian masih harus ‘menanggung dosa’ warisan, tidak utuh diakui sebagai warga negara dengan cap khusus di KTP mereka dan perlakuan ‘istimewa’ dari negara.

Jika diukur dengan prinsip Islam, maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Hukum perang mengatur dengan jelas siapa yang bisa dibunuh dan siapa yang tidak. Selain itu dikenal juga yang namanya pengampunan, sebagaimana sering dilakukan Nabi termasuk dalam peristiwa Fathu Makkah tersebut, yang hanya memerintahkan untuk membunuh sekitar 17 gembong kekafiran. Itu pun, ternyata tidak semua dapat tertangkap, seperti Ikrimah bin Abu Jahal yang berhasil melarikan diri lalu datang dalam keadaan Islam, akhirnya diampuni.

Mengubur Konflik

Peristiwa seperti yang terjadi pada tahun 65 memang begitu rumit. Setelah pembunuhan 7 jenderal yang disebut sebagai peristiwa pemberontakan PKI itu, elemen bangsa hanya terbelah menjadi PKI atau bukan PKI. Massa non-PKI menganggap hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Meski bukan PKI, jika tidak ikut menumpas maka bisa-bisa dituduh sebagai PKI, apalagi jika menghalang-halangi penangkapan dan pembunuhan itu. Dan kita pun tidak dapat menyalahkan begitu saja terhadap semua elemen yang turut dalam gerakan penumpasan, meski seharusnya yang ditumpas hanya gembong PKI yang dianggap bertanggungjawab.

Kita harus jadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran, meskipun pahit, agar ke depan tidak terulang kembali dalam sejarah kemanusiaan kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan. Kita tatap masa depan bangsa tanpa dendam dan konflik.

Kepada-Nya lah semua akan kembali dan Dia yang akan menjadi hakim yang adil di Hari Akhir kelak.

Fathurrahman (@fathur_bekasi)