Politisi Senior PDIP: Usul Hak Angket Tidak Serius

HMINEWS.Com – Anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI, Effendy Simbolon, ngotot mengusung hak angket mempertanyakan kebijakan Presiden Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Ketidakkompakan seperti ini dinilai janggal menurut pengamat politik Ikrar Nusa Bakti.

“Ini anomali. Tidak ada di negara manapun anggota dari partai yang berkuasa mendorong hak angket terhadap presiden yang berasal dari partainya sendiri,” kata Ikrar Nusa Bakti dalam diskusi “Oligarki Kepartaian, Hilangnya Kedaulatan Rakyat dan Terabaikannya Kesejahteraan umum dan Keadilan Sosial” yang diadakan Petisi 50 di Pasar Minggu, Selasa (31/3/2015).

Ikrar pun menyebut contoh, seperti terjadi di negara-negara Amerika, tidak ada hal seperti ini. Ia menilai langkah golongan muda di internal PDIP merupakan buah dari masih terbawanya mereka pada suasana sepuluh tahun berada di luar pemerintahan dan terbiasa beroposisi.

Namun berbeda dengan Ikrar, politisi senior PDIP, Panda Nababan, justru menyangkal anggapan tersebut. Menurut Panda, perbedaan sikap seperti ditunjukkan Effendy Simbolon hanya ‘lucu-lucuan’ semata.

“Itu hanya ‘lucu-lucu’ saja. PDIP tetap solid dan kompak mendukung Presiden Joko Widodo,” kata Panda Nababan.

Selain persoalan Effendy Simbolon, Panda juga menyinggung isu ‘koalisi permanen’ dalam Koalisi Merah Putih (KMP), yang dianggapnya sebagai lelucon saja, sebab belum ada dalam sejarahnya ada koalisi permanen, yang ada hanya kepentingan yang permanen.

Gender dalam Politik

imageHMINEWS.Com – Selama ini sering terjadi kesalahpahaman bahwa bicara soal gender hanya bicara soal perempuan saja. Padahal membicarakan gender adalah membicarakan soal perempuan dan laki-laki, jadi harus menghadirkan kedua-duanya. Demikian disampaikann oleh peneliti gender dari Cornell University USA Rebakah Daro dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Atmajaya, Jakarta (Senin, 18/8/2014).

Pada kesempatan tersebut Rebakah yang sedang meneliti soal gender pada suku Badui di Jawa Barat, mengemukakan bahwa keseimbangan peran perempuan dan laki-laki sangat penting dalam mendukung ketahanan pangan di masyarakat suku pedalaman. Khususnya, perempuan memegang peranan penting dalam memenej keseimbangan produksi dan konsumi. “Perempuan biasanya lebih peka dalam menjaga keseimbangan alam”, ungkap kandidat doktor tersebut.

Sementara itu pembicara lain, anggota DPR RI terpilih dari PKB Nihayatul Wafiroh memaparkan pengalamannya sebagai seorang perempuan yang berjuang mendapatkan suara menjadi Caleg. Sebagai Caleg perempuan, dirinya merasa lebih banyak tantangan karena seringkali dipandang miring oleh masyarakat yang mempertanyakan peran publiknya.

“Masyarakat banyak yang bertanya kepada suami saya, koq diizinkan untuk nyaleg, apakah urusan rumah tangganya tidak keteteran?’ ungkap kader PKB jebolan Universitas Hawaii USA tersebut.

Diskusi yang diselenggarakan oleh Universitas Atmajaya bekerja sama dengan American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) tersebut juga menghadirkan pakar gender Nani Nurrachman yang memberikan penjelasan menarik soal peran perempuan dalam politik. Menurutnya, seringkali perempuan yang terjun dalam dunia politik tercerabut dari karakternya sebegai perempuan, ia lebih mengadopsi sifat-sifat laki-laki untuk eksis dalam politik. Ekspresinya bisa dalam bentuk kekerasan, oportunistik dan sebagainya. Padalah menurutnya, justru perempuan perlu mengetengahkan sisi perempuannya dalam berpolitik untuk memberikan keseimbangan kosmik dalam politik.

“Perempuan itu identik dengan preservasi, pertumbuhan dan penerimaan sosial. Mustinya hal-hal itulah yang perlu diketengahkan oleh perempuan dalam politik’, pungkas pengajar fakultas psikologi Universitas Atmajaya tersebut.