Menjadi Indonesia

Judul asli: Menjadi Indonesia
Pengarang: Parakitri T. Simbolon
Penerbit: Kompas
Hal: 846
Tahun terbit: 2007

Jika pernah membaca buku Imagined Community yang dikarang oleh Benedict Anderson, pasti tertarik untuk membaca buku ‘Menjadi Indonesia.’ Sebuah buku yang bercerita tentang sejarah meng-Indonesia. Sebuah negara yang dicita-citakan dari pengalaman penindasan, penjajahan, pergumulan intelektual hingga perpecahan pergerakan (PKI-Sarekat Islam hal.324). Dengan bahasa yang lugas namun padat, Parakitri Simbolon menggambarkan heroisme perlawanan kerajaan-kerajaan lokal terhadap Belanda, Inggris maupun Jepang, kebangkrutan VOC, munculnya gerakan nasional dan masalah kooperasi-non-kooperasi.

Ada hal menarik yang sangat disesali penulis buku ini, mengapa Sarekat Islam terpecah, hal tersebut memperlambat gerak perlawanan terhadap penjajah. Jika marxisme di dalam tubuh Sarekat Islam dapat bersatu di bawah panji Islam, maka niscaya kemerdekaan menjadi milik semua.

Menjelang peringatan kemerdekaan RI yang begitu-begitu saja, buku ini layak untuk dibaca oleh pencinta sejarah maupun aktivis gerakan mahasiswa. Menjadi Indonesia, menjadi melek terhadap sejarah, menjadi peka terhadap perubahan.

Memilih Sekolah Tak Seperti Memilih Kucing dalam Karung

Pada masa peralihan tahun ajaran baru seperti saat ini, orang tua mengalami dua perasaan sekaligus. Di satu sisi mereka merasa bahagia karena buah hati tercinta berhasil lulus TK/SD/SMP/SMA atau sekolah lain yang sederajat, di sisi lain mereka pun merasa was-was. Terutama terkait penentuan kelanjutan studi anak dan memilih sekolah yang baru.

Buku ini memuat beberapa penelitian mengenai efektifitas sebuah sekolah. Edmons (1979) menyebutkan bahwa ada lima karakteristik sekolah efektif, yakni: (1) kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran; (2) pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran; (3) iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran; (4) harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu; dan (5) peniliaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran nilai belajar siswa (halaman 119).

Setali tiga uang dengan pendapat Edward Henveld (1992). Ia pun mengungkapkan 16 indikator sebuah sekolah dapat disebut efektif, yakni: (1) dukungan orang tua siswa dan lingkungan; (2) dukungan yang efektif dari sistem pendidikan; (3) dukungan materi yang cukup; (4) kepemimpinan yang efektif; (5) pengajaran yang baik; (6) fleksibilitas dan otonomi; (7) waktu yang cukup di sekolah; (8) harapan yang tinggi dari siswa; (9) sikap yang positif dari guru; (10) peraturan yang disiplin; (11) kurikulum yang terorganisasi; (12) adanya penghargaan dan insentif; (13) waktu pembelajaran yang cukup; (14) variasi strategi pengajaran; (15) frekuensi pekerjaan rumah; dan (16) adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin.

Menurut penulis buku ini, orangtua jangan mudah tergiur oleh promosi heboh yang dilakukan oleh pihak sekolah jelang peralihan tahun ajaran baru. Selain itu, jangan pula silau dengan label standar nasional, label bertaraf internasional, dan label-label luaran lainnya. Pastikan terlebih dahulu sekolah tersebut memenuhi kriteria sekolah efektif dari Edmons (1979) dan Edward Henveld (1992) di atas. Sehingga saat memilih sekolah anak tidak seperti memilih kucing dalam karung.

Sistematika buku bersampul kuning ini terdiri atas 6 bab. Antara lain “Sebuah Cermin untuk Berbenah”, “Terus Mencintai dan Membenahi Sekolah”, dan “Penerang Ilmu Bernama Pendidik Berliterasi”. Tesis dasarnya sederhana tapi mendalam, menurut aktivis Sekolah Guru Indonesia tersebut, pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Setiap manusia toh memiliki impian, oleh sebab itu sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk mewujudkan impian murid-murid di masa depan. Dalam konteks ini, guru merupakan sosok yang mesti mampu mengembangkan keberanian murid-murid untuk bermimpi. Mimpi untuk menjadi manusia seutuhnya, unik, otentik, dan paham kenapa mereka memang harus memiliki mimpi (halaman 4).

Selanjutnya, pembicara di berbagai pertemuan ilmiah tentang pendidikan di dalam dan luar negeri (Hong Kong, Brunei Darussalam, Jepang, dll) tersebut mengajak pembaca belajar dari negeri Sakura. Dalam acara Conference of Lesson Study 2010, sebuah SMP di Lembang kedatangan tamu dari negeri manca. Salah satunya bernama Kubochi Ikuya. Dia adalah guru sains dari Ohzu High School, Ehime-Pre, Jepang. Uniknya, saat dipanggil untuk menjadi guru tamu dalam pembelajaran sains, semua orang terheran-heran. Kenapa? Karena tampilannya lebih mirip pemain musiak daripada seorang guru. Fotonya dapat dilihat di halaman 12. Tapi saat mulai mengajar semua orang pun berdecak kagum.

Jika ada anak yang mengangkat tangan tanda bersedia menjawab pertanyaan dari Kubochi, luar biasa! Ia bergegas menyalami murid yang satu itu, lantas meminta semua siswa lainnya memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi atas kesediaan anak tersebut. Bahkan jika jawaban anak tersebut salah sekalipun, ia tetap melakukan hal serupa. Intinya, setiap ucapan dan sikap Kubochi selalu menunjukkan rasa hormat dan percaya kepada kemampuan siswa. Hal kecil tapi berdampak besar inilah yang sering dilupakan oleh dunia pendidikan nasional kita dewasa ini.

Kebetulan penulis sempat mewawancarai Kubochi pasca sesi open class. “Apakah Anda mencintai profesi guru? Mengapa Anda mencintai profesi guru?” tanya Asep Sapa’at untuk menggali sisi unik pribadi sosok guru muda nan inspiratif tersebut. Dengan santai, Kubochi menjelaskan bahwa dirinya sangat mencintai anak-anak dan pelajaran sains. “Ketika siswa berhasil dalam belajar mereka, hal itu menjadi sesuatu yang teramat sangat berharga dalam hidup saya,” tuturnya dengan mata berbinar. Senada dengan petuah dari sensei Kodama, “Sensei (guru) yang baik itu tahu potensi anak-anaknya. Dan dia bersungguh-sungguh menjadi jalan kesuksesan bagi anak-anaknya.” (halaman 18).

Buku setebal 288 halaman ini menandaskan bahwa menjadi guru bukan profesi main-main. Guru ialah sebuah panggilan jiwa (inner calling). Kendati pemerintah belum menjadikan profesi guru sebagai profesi mulia saat ini, teruslah mendidik dan menginspirasi siswa-siswi kita di kelas. Sehingga kelak mereka menjadi pemimpin bangsa yang kebijakannya sungguh memberi kemaslahatan bagi profesi guru di tanah air tercinta.

Judul: Stop Menjadi Guru!
Penulis: Asep Sapa’at
Penerbit: Tangga Pustaka
Cetakan: I/2012
Tebal: xxii + 288 halaman
ISBN: 979-083-069-6

Selamat membaca dan salam pendidikan! 

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Kontributor Tetap Majalah Pendidikan Online Indonesia, Tinggal di Yogyakarta

Muhammad di Mata Orientalis

Sebenarnya telah banyak karangan para orientalis yang mengisahkan tentang kepribadian Muhammad, Sang Nabi ummat Muslim. Karya tersebut beragam bentuk sesuai kapasitas kepandaian penulisnya. Mulai dari abad pertengahan, Dante menulis Divine Comedy yang melukiskan Nabi Muhammad menanggung siksaan abadi di jurang neraka yang terdalam. Dante menulis itu karena merasa aneh dengan datangnya ‘agama baru’ dan kemudian secara politis berhasil menguasai wilayah Laut Tengah, yang awalnya termasuk wilayah Kristen.

Umat Islam tidak tinggal diam setelah muncul penggambaran Nabi mereka yang tidak patut. Syed Ameer Ali menulis buku berjudul Life and Teaching of Muhammad, or The Spirit of Islam yang diterbitkan pada 1897 M. Setelah itu muncullah biografi Sang Nabi yang dirujuk dari sumber-sumber Arab klasik dengan penelitian mendalam, Le Prophete d’Islam karya Muhammad Hamidullah. Ada lagi biografi Muhammad yang ditulis Martin Lings. Bahkan biografi Nabi terbaru ditulis bernuansa sastra, novel biografi Muhammad yang ditulis Tasaro GK. Sebuah gerakan baru dan menyegarkan.

Dalam pandangan umum, karya orientalis lebih objektif dalam menilai karena mereka terbebas dari kewajiban menghormati. Referensi buku yang menuliskan tentang kehidupan Sang Nabi begitu banyak, tetapi belum ada yang menuliskan tentang seberapa besar rasa cinta dan penghormatan seorang muslim pada Nabinya. Annemarie Schimmel memberikan perspektif baru tentang Nabi Muhammad saw. Buku bertajuk dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan ini mengeksplorasi perwujudan rasa cinta dan penghormatan umat Muslim yang mendalam pada Nabinya.

Schimmel mengawali dengan menyebutkan catatan biografis karya terdahulu para orientalis dan orang muslim sendiri. Dia menjelaskan perubahan-perubahan pandangan orientalis pada Nabi. Dari karya yang sekadar berupa rasa kesal, karya apologis, hingga karya yang dilakukan dengan riset yang mendalam. Ketidakpahaman orang non-muslim bahwa sebegitu mulianya Muhammad di mata muslim menjadi landasan ricuhnya sebuah karya.

Buku ini mencoba menengahi dua kubu tersebut. Selanjutnya Schimmel memaparkan kepribadian Nabi Muhammad. Mulai dari masa kecil, remaja, berkeluarga, bahkan sikap istri-istrinya. Teladan sikapnya begitu memukau. Nabi Muhammad merasa bahwa apapun yang terjadi atas dirinya adalah anugerah Allah swt yang tak dapat dijelaskan. Nabi tidak pernah menyangka bahwa wahyu akan diturunkan kepadanya. Semuanya bukanlah inisiatif Nabi Muhammad sendiri. (hlm. 43)

Kecintaan umat Islam sendiri pada Nabi Muhammad begitu tinggi. Begitu banyak syair yang menyanjung sang nabi dengan bahasa Arab dan Persia. Semua tahu bahwa sastra Arab dan Persia begitu indah dan syahdu. Segala bentuk pujian tersanjung pada Sang Nabi. Al-Khaqani mendiskripsikan dalam sajaknya “Dengan pakaian putih, dia tampak bagai mutiara. Dengan baju merah, dia bagaikan bunga mawar.” Muslim Indonesia mengenal burdah dan diba’an. Keduanya berisi sajak-sajak sanjungan dan shalawat pada Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Schimmel melhat posisi Muhammad sebagai pribadi yang unik. Sebagaimana Nabi lainnya, ia adalah lelaki ma’shum (terpelihara dari dosa). Nabi Muhammad juga memiliki predikat ulul azmi (memiliki keteguhan hati yang kuat). Ada lima Nabi yang mendapat gelar ulul azmi; Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Nuh. (hlm. 89) Dengan istilah lain, ulul azmi diartikan sebagai orang yang memiliki kesabaran yang teguh. Tetapi, ini bukanlah dalil bahwa Nabi lain tidak sabar, karena semua Nabi adalah penyabar.

Sebagai seorang Nabi, tentulah memiliki mukjizat dan legenda. Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa dan berfungsi dapat melemahkan sesuatu yang lain. Biasanya mukjizat lebih diidentikkan dengan keistimewaan yang ada dalam diri Nabi dan Rasul. Artinya mukjizat ini mucul manakala ada seseorang yang meminta bukti kebenaran berita kenabian. Sedangkan legenda, maksudnya peristiwa-peristiwa istimewa dan biasanya tidak masuk akal. Seperti kisah masa kecil Nabi yang hatinya dicuci oleh malaikat atau pun kisah perjalanan malam (isra’ mi’raj) Sang Nabi.

Schimmel tidak hanya merekam jejak Nabi Muhammad saja. Dia juga mengeksplore pemikiran muslim pramodern yang mengulas tentang kepribadian Sang Nabi. Seperti adanya Thariqah Muhammadiyah di India. Kemudia, jika berbicara penghormatan pada Nabi, aspek ini tidak akan lepas dari karya Muhammad Iqbal, seorang filsuf India-muslim. Dalam karya Iqbal, Nabi tampil menjadi pusat spiritual muslim. Bahkan secara radikal Iqbal dalam Javidnama mengungkapkan “Tuhan dapat kau ingkari, namun Nabi tidak!”. (hlm. 344)

Dengan risetnya yang cukup komplit, dapat dikatakan karya Annemarie Schimmel ini sebagai karya monumental. Sebagai seorang orietalis, Schimmel menceritakan sosok Muhammad sebagai pribadi nomor wahid di dunia. Ia sepakat dengan riset yang dilakukan Michael H. Hart dalam karya terkenalnya 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Agar tidak terjadi kealpaan pemahaman, buku ini wajib dibaca siapapun yang ingin mengenal Sang Nabi secara personal, terutama umat muslim sendiri. Wallahua’lam bishhawab.

Data Buku

Judul: dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan
Penulis: Annemarie Schimmel
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: I, Juni 2012
Tebal: 474 Halama

Peresensi: Achmad Marzuki
Kader HMI Komisariat Syariah IAIN Walisongo Semarang, Pegiat Farabi Institute Semarang

n

 

Kembali Pada Kearifan Jawa Melalui Puisi

Judul buku    : Ziarah Tanah Jawa, Kumpulan Puisi 2006-2012
Pengarang      : Iman Budhi Santosa
Penerbit           : Penerbit Intan Cendekia
Terbitan           : cetakan pertama maret 2013
Tebal                  :  x + 128 halaman

Dalam bentangan sejarah, Iman Budi Santosa mengekspresikan karya sastranya dalam bentuk puisi. Ekspresi jiwa dalam perjalanan spiritual selama ini. Hiruk pikuk dan kebisingan dunia modern di tengah kehidupan manusia yang sedang mengalami krisis identitas dan krisis eksistensialnya, dan cendrung materialistis Iman Budi Santosa dengan kearifan lokalnya, melalui puisi yang telah diterbitkan dalam buku yang berjudul Ziarah Tanah Jawa hendak mencari jawaban, bahwa tidak ada jalan lain kecuali kembali. Yaitu kehendak terus mencari jati diri yang dalam istilah Jawa adalah Sangkan Paraning Dumadi, dari mana dia berasal, dengan apa ia mengada dan kemana akan berakhir.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya, Wong Jawa anggone semu, sinamun samudana, sesadone ing adu manis. Artinya orang Jawa cendrung semu atau terselubung, menutup kata-katanya apik dan tersamar, masalah apapun dihadapi dengan muka manis. Makna yang lebih luas yang dimaksud adalah seperti halnya isbat  yang sering didendangkan ki dalang, yaitu pergulatan mencari jati diri dibalik simbol atau pertamsilan. Karena dunia pasemon (nalar simbolis) orang Jawa adalah lelakon, untuk menemukan hakikat kedirian, dengan berpikir bijak dan olah batin (spiritual) yang cendrung bersifat simbolik, penuh sanepa, kiasan dan perlambangan. Semuanya itu berkecimpung dengan olah batin, dalam terminologi Abdul Karim al-Jilli disebut potensi ruhani (ruhiyah robbaniyah). Sehingga terminal terakhir yang didatangi manusia adalah berupa perjumpaan dengan Tuhan (Manunggaling kawulo Gusti). Drajat ini bisa diraih oleh manusia sempurna (insan kamil).

Ajakan ziarah kembali ke tanah (kearifan) Jawa oleh IBS ini menjadi obat penawar bagi kesadaran manusia modern (untuk orang Jawa sendiri), tentang bahasa dan kata-kata yang kian hari kian berhamburan di media massa, hiruk pikuk politik dan kekuasaan, yang kerap dipandang menentukan besar kecil perbuatan yang dilakukannya. Sehingga siapapun yang gagal melewati nalar simbolis, maka ia akan tenggelam dalam pemahaman Wong Jawa ora nJawani (Jawa yang tidak melakoni ke-Jawa-annya).

Kedua, pusi pembuka ziarah tanah jawa ini sebuah manifesto yang mengejutkan di tengah-tengah nasib selintir perpuisian kita yang paling mutakhir yang cendrung mengalienasi diri kita dari menjadi manusia seutuhnya, lahir dan batin. Betapa banyaknya puisi kini yang hanya seperti puisi, puisi yang terjebak hanya dalam permainan bunyi dan diksi semata, sekedar menonjolkan sensualisme bahasa yang akrobatik yang sepi dengan makna.

Karenanya puisi-puisi yang IBS yang telah dibukukan dalam bentuk buku yang berjudul ziarah tanah jawa dalam bentuk perlawanan zaman. Seperti dalam kutipan puisi berikut ini: 

Maka, aku tak akan memainkan gelap terang
Dalam puisi dan membuat tercengang
Aku hanya mendendangkan tembang
Ketika lebah kumbang datang dan pergi
Menghisap madu dan terang

Terlebih dari semua itu, seni hanya untuk seni sendiri. Puisi yang hanya berlaku kepada mereka yang hidup di dalamnya, yang entah untuk siapa ia tulis puisi itu, karena hening makna batin, baik dalam konteks spiritual individual maupun sosialnya, ia mungkin semacam pameo “Yang bukan penyair ambil bagian”. Sebuah ironi yang tampak mirip dengan gambaran karya Yunani, Tuhan yang tak dikenal. Kita tahu bahwa Dia ada, tetapi karena ia jauh dan sukar dipahami, maka pengetahuan atas-Nya pun menjadi kuasa yang sok saja.

Selanjutnya puisi-puisi yang tercatat dalam tinta emas sejarah, tidaklah  lahir dari kekosongan budaya, dan canggihnya akrobatik bahasa. Namun puisi-puisi itu langsung berhubungan dengan proses membangun makna hidup dalam konteks pribadi maupun sosial, baik dalam ruang temporal maupun prennial. Puisi yang berjudul Ziarah Tembuni bait pertama: berkaca pada lantai pendapa, malam wangi wijayakusuma// keriput uban serentak melawan, karena di sudut// dekat pot bunga berlumut, saudaraku// tembuni yang ikut serta dari gua garba bunda// masih tersimpan aman dan patut.

Selanjutnya pada bait ke 3 yang berbunyi: tetapi engkau merasa jadi tamu..// padahal, di sana masih ada makam leluhur// ada nisan kayu ditatah dengan goresan paku//mereka tak penah lupa siapa anak cucu// yang dulu nakal, suka mencuri ketela// dan membakarnya malam-malam saat bulan puasa// maka seperti terbangun dari mimpi, kucabuti  rumput teki// yang berakar pada dahi mereka, yang menjalar// menatap nama yang pernah mendongengkan kisah nabi// ramayana hingga mahabarata.

Buku Ziarah Tanah Jawa ini mengajak kita untuk bangkit dan mengingat kembali pada tanah kelahiran. Kembali menjadi orang Jawa beneran bukan Jawa sing ora njawani. Laku spiritual yang dituangkan dalam bentuk puisi oleh Iman Budi Santosa sangat menggugah ke dalam rohani sebagaimana semestinya orang Jawa, selain itu juga  mampu mengangkat kembali pemikiran-pemikiran orang jawa tempo dulu. Kemasan kata yang menghiasi pusi dalam buku tersebut, membuat kita tercengang, bahasanya amat lugas dan bersahaja.

Peresensi : Moh. Fuad Hasan

HMI Komfak Dakwah UIN Sunan Kalijaga
No hp. 085725816448//email:cahbagus8763@yahoo.com/

Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan

Judul : Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis : N. Mursidi
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 1/Februari 2013
Tebal : xiv + 243 halaman
ISBN : 978-602-020-594-6
Harga : Rp44.800

“Di jalanan aku mengenal kehidupan. Dari halaman koran, aku bisa belajar menulis.” – Nur Mursidi

Tatkala masih kuliah di Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis pernah mengontrak rumah di dekat rel kereta api Sapen. Agar lebih murah, mereka urunan (membayar) beramai-ramai. Total penghuninya ada genap 8 orang. Uniknya, hampir setiap lima belas menit lantai rumah tersebut berguncang dan menimbulkan gempa lokal.

Alhasil, selama tiga bulan pertama, ia tak bisa tidur nyenyak di malam hari. Tapi ibarat blessings in disguise alias berkah terselubung, ia malah jadi lebih produktif menulis. Suara mesin ketiknya bertalu memecah kesunyian malam. Saat kereta api melintas, otomatis kantuknya sirna akibat guncangan kecil yang tercipta. Tahun 2003 merupakan puncak kreativitas Nur Mursidi. Ada total lima puluh enam tulisan dalam aneka genre seperti – resensi buku, cerpen, esai sastra, esai film, opini, dan puisi – bertebaran di berbagai media lokal dan nasional.

Begitulah sekilas perjuangan hidup penulis buku ini. Kini pria kelahiran Lasem, Jawa Tengah tersebut hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah Islam bernama Hidayah. Pada saat seleksi wawancara calon jurnalis, pimpinan redaksi kagum dengan karya tulisnya yang dilampirkan dalam surat lamaran. Ternyata ijazah sarjananya lebih sebagai formalitas belaka. “Rupanya banyak tulisanmu yang sudah dimuat di lembaran koran. Bahkan kau mampu menulis dalam banyak genre,” puji sang redaktur saat itu.

Tulisan-tulisan N. Mursidi ialah – meminjam istilah Tukul Arwana – hasil kristalisasi keringat. Dulu ia harus naik-turun bus antarkota untuk menjajakan koran di jalanan kota Gudeg. Lewat buku “Tidur Berbantal Koran” ini ia berbagi pengalaman tersebut. Setiap hari bertemu dengan tukang becak, penjual rokok, sopir bus, anak jalanan, pengamen, bahkan pencopet. Bahkan pada suatu siang perutnya pun nyaris ditikam preman yang mabuk. Uang Rp2.000 hasil menjual koran ludes seketika.

Kendati demikian, sederet pelajaran berharga dapat ia peroleh di jalanan. Dari kernet bus, ia belajar bagaimana naik dan turun bus agar tak jatuh terjerembab. Dari penjual rokok, ia belajar kesabaran kalau koran-korannya tak laku. Ia kerap kali menjumpai si penjual rokok menunggui kios sampai larut malam. Dari sopir bis, ia belajar mengendalikan emosi karena setiap sopir bus diburu waktu ngetem yang terbatas dan harus bersaing mencari penumpang. Dari tukang becak, ia sadar untuk rutin membaca koran di pagi hari. Dari gerombolan pencopet, ia belajar cara mencari uang dengan halal. Sebab ia jadi tahu kalau cara yang mereka tempuh tidak barokah itu justru merugikan orang lain (halaman 55).

“Tidur Berbantal Koran” merupakan potret perjuangan seorang anak manusia yang tak kenal lelah. Hingga ia mampu meraih mimpi di tengah keterbatasan. Sepakat dengan pendapat Effendi Bepe, “Buku ini perlu dibaca orang muda atau siapa saja yang sedang “galau” merajut masa depan. Sukses memang harus diperjuangkan, sebab tidak akan pernah jatuh dari langit.”

Selamat membaca!

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta

Menanti Kemandirian Ekonomi Indonesia

Data Buku
Penulis    : M. Dawam Rahardjo
Judul       : Pembangunan Pascamodernis. Esai-Esai Ekomoni Politik
Penerbit : INSIST Press, 2012
Tebal        : xxi + 182 halaman ISBN: 978-602-8384-50-6

Membayangkan kemandirian ekonomi Indonesia, layaknya membayangkan masa depan pasar tradisional. Derap modernisasi, menghendaki keberadaan pasar tradisional untuk kian ditinggalkan, dilupakan, sampai suatu saat nanti layak untuk ‘dimusiumkan’. Terlihat laju perkembangan pasar modern jauh lebih pesat, dibandingkan pasar trasidional. Kadang malah berdampingan. Kesan yang terbangun pun berbeda, yang satu bersih, bermandikan cahaya dan berpendingin udara, yang satunya lagi, kumuh, bermandikan peluh keringat dan pengap. Bukan tawar menawar yang terjadi, tetapi sejauh mana utilitas hasrat berbelanja termanifestasi. Pasar tradisional sebagai arena gerak akar rumput dalam memenuhi hal ihwal urusan rumah tangga, kian ‘diambang batas kemusnahan’, akibat laju developmentalisme, patut menjadi perhatian.

Pada tahun 1949, saat Presiden Harry S. Truman mengumumkan diskursus developmentalisme sebagai bahasa dan doktrin resmi kebijakan luar negeri AS, (Mansour Fakih, 2006: 200). Mulailah kerja developmentalisme yang menitikberatkan pada usaha pengentasan persoalan ekonomi dalam negeri, serta dari jerembab utang luar negeri. Berkaitan dengan usaha ini, dirumuskanlah kebijakan-kebijakan kepada Negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, untuk menjalankan ‘perintah-perintah’ dari pihak pemberi utang, agar ekonomi negara tersebut keluar dari krisis ekonomi. Perintah-perintah pihak pengutang, sukses dijalankan oleh masa Orde Baru, sekaligus menjadi daya tahan (status quo) rezim berkuasa. Cara pandang Negara Dunia Pertama terhadap ‘kelesuan’ ekonomi yang menerpa Negara Dunia Ketiga, dinilai akibat dari gejolak masyarakat yang tradisional. Agar beranjak kepada yang modern, pembangunan harus dilakukan.

Pembangunan sebagai rumusan jalan keluar ekonomi yang ditawarkan, kentara terlihat sebagai penundukan kembali negara-negara bekas jajahan. Penundukan bukan lagi secara fisik, tetapi secara ideologis, melalui kekuasaan, ketergantungan ekonomi dan langkah demi langkah mengikuti anjuran Bank Dunia, IMF, WTO, perusahaan/bank transnasional serta agen kapilatis yang lain. Dengan kata lain, dari pembangunan terus berlanjut ke globalisasi. Selain menancapkan dominasi asing di Indonesia dalam bentuk dana, developmentalisme adalah tameng menangkal kekuatan sosialis, pasca perang dingin. Sembari terus mendorong laju Negara-Negara Dunia Ketiga melalui sektor pembangunan, tirai penjajahan baru justru terlihat di dalamnya. Kolonialis format baru dalam bentuk utang luar negeri. Ketika rezim Orde Baru gencar melanjarkan agenda pembangunanisme, justru kemalangan didapat semenjak bantuan dana asing mulai beroperasi; peristiwa Malari, dan berdampak negatif; kemiskinan kian menggelayut di pelosook negeri.

Gelombang krisis moneter 1997 berlanjut dengan tumbangnya rezim. Lahirlah masa harapan baru; Reformasi. Reformasi 1998 satu sisi merupakan keberhasilan gerakan massa, memaksa mundur sang Bapak Pembangunan. Pada sisi lain, ekonomi politik dalam negeri tak serta merta beranjak keluar dari krisis. Akibat lanjut dari krisis adalah korupsi, kolusi dan nepotisme menggerogoti dari pusat sampai daerah. Desentralisasi kekuasaan memicu raja- jara kecil. Disintegrasi bangsa kian mengkhawatirkan. Basis ekonomi yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 seperti menjadi hiasan dinding, dan ditinggalkan. Justru, terlihat usaha menjalankan paradigma ekonomi bercorak neoliberalisme.

Geliat (neo)liberalisme sebenarnya sudah terlihat, semenjak pasal 33 UUD 1945 sebagai tulang punggung tegaknya ekonomi Indonesia, tak lantas menjadi punggawa. Kemandirian ekonomi dijalankan justru menengok pihak asing, membuka investasi, perdagangan bebas dan liberasi eksploitasi sumber daya alam kepada swasta seraya terlibat aras perdagangan global. Apa yang dicitakan Bung Karno; berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, berkepribadian di bidang kebudayaan, seolah menjadi angin lalu. Tiga prinsip berdaulat itu, kalah oleh rayuan praktis Negara Dunia Pertama.

Hadirnya buku Pembangunan Pascamodernis karya M. Dawam Rahardjo, setidaknya membawa hawa baru. Dalam buku ini, terpapar melacak kembali jalan dalam menatap pembangunanisme, dalam ulasan Esai-Esai Ekonomi Politik. Ada enam belas esai. Satu esai dengan esai lainnya menyusun bersambung, meski tidak bersatu utuh, tetapi memiliki keterikatan dalam konteks pokok bahasan. Secara keseluruhan, buku ini merunut praktik developmentalisme. Mencakup aspek; ontologis, perekonomian Indonesia di awal perkembangannya; epistemologis, khususnya paradigma pembangunan; dan aksiologis, terutama dampaknya terhadap perekonomian Indonesia desawa ini. (hlm. xvii).

Menurut M. Dawam Rahardjo, untuk melangkah ke depan, agar ekonomi Indonesia belajar mandiri dan berdiri di kaki sendiri. Segera beranjak dari ekonomi modernisasi menuju ekonomi pascamodernis. Dengan berciri pada; kembali pada cita-cita Proklamasi yang tercermin dalam Pancasila dan UUD 1945 sebelum perubahan, membangun kembali tradisi, desentralisasi dan pembangunan yang merata, membangun ekonomi rakyat sebagai bentuk praktis dari fondasi pembangunan berbasis kerakyatan, dan pembangunan sebagai gerakan rakyat. (hlm. 8-9).

Bagian bab akhir dari esai buku, didapati jalan, dalam bentuk rekayasa ulang manajemen pembangunan. Jalannya adalah ekonomi kerakyatan. Suatu konsep strategi pembangunan dalam konteks Indonesia. Inti dari konsep ini adalah pembangunan pedesaan dan industrialisasi pedesaan dalam rangka pemberantasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan rakyat kecil. (hlm. 167). Secara konsep seperti terumuskan diatas terpapar jelas, tetapi belum menyentuh aspek operasional praksis untuk bagaimana ekonomi kerakyatan itu mewujud dalam praktek ekonomi Indonesia.

Dalam realitasnya saat ini, menunjukkan hal yang berbeda, ketika ingin ber-daulat dalam politik dan ber-ekonomi secara kerakyatan dari pada pendahulu (founding fathers), dalam prakteknya seperti adagium “besar pasak dari pada tiang”. Perjalanan ekonomi Indonesia, kian bergerak mengikuti mekanisme pasar, peran negara dikesampingkan. Kedaulatan atas bumi, tanah, air, energi dikelola perusahaan asing. Rakyat tak berkuasa di tanah air negeri sendiri, merana. Ekonomi kerakyatan, sejatinya menjadi langkah nyata penyelenggara negara, bila memang benar-benar berpihak kepada rakyat, tak semata hanya sebatas retorika politik belaka. Sudah seharusnya Indonesia mandiri secara ekonomi. Merdeka dari belenggu pembangunanisme.

*Nur Wahid
Ketua Bidang Perkaderan HMI (MPO) Badko Jawa Bagian Tengah dan Timur