Zawawi Imron: Generasi Muda Harus Belajar dari Sejarah!

HMINEWS.Com – Budayawan Zawawi Imron menyampaikan orasi dan membacakan puisinya khusus untuk H.O.S Tjokroaminoto dalam sarasehan 110 Tahun Sarekat Dagang Islam, yang diadakan oleh Yayasan Rumah Peneleh di Pelataran Tugu Proklamasi, Cikini – Jakarta Pusat.

Dalam orasinya, Zawawi mengingatkan agar generasi muda tidak sekedar menghafal atau mengingat sejarah Tjokro. Lebih dari itu, harus memberikan semangat dan peniruan kreatifitas dan karyanya yang luar biasa dan melampaui zaman.

“Ada orang yang belajar sejarah hanya mendapat abu-nya sejarah. Kenapa? Karena yang dipelajari hanya kaleidoskop, daftar-daftar tanggal yang berisi peristiwa, yang digali bukan apinya sejarah. Kenapa Pak Tjokro mau berjuang, kenapa Bung Karno rela ditahan, kenapa Pak Dirman dalam keadaan sakit paru-paru tinggal satu diusung dari Jogja-Kediri kemudian balik lagi, terus berjuang? karena beliau punya ati macinnong (istilah Bugis), hati yang bersih, yang di dalamnya tidak lain adalah semangat sejarah,” papar Zawawi, Jum’at (16/10/2015) malam.

Menurutnya, meremehkan sejarah akan mebuat kita bingung membangun masa depan, sebab sejarah masa lalu itu dijadikan guru untuk diambil semangatnya guna membangun hari esok.

“Sebab satu hari saja bagi seorang pahlawan itu seribu hari bagi orang yang bukan pahlawan yang sama sekali tidak pernah berjuang bagi tanah airnya. Sebagaimana ucapan Iqbal ‘Sehari usia singa di rimba, seratus tahun usia domba.’ itu perbedaannya. Sehari dalam kehidupan Sukarno, dalam kehidupan Tjokroaminoto, dalam kehidupan Haji Agus Salim, dalam kehidupan Bung Hatta, dalam kehidupan Diponegoro, sehari saja, itu sama dengan seratus tahun orang yang sama sekali tidak berjuang untuk tanah airnya. Jadi, bahaya tidak mengenal sejarah, karena tidak mengenal keteladanan yang baik,” lanjutnya panjang lebar.

Ia juga mengatakan, semangat keindonesiaan itu sangat kaya . Orang Melayu punya (pepatah) “belakang parangpun kalau diasah jadi tajam”, demikian pula kita bila sungguh-sungguh meneladani para pahlawan itu, maka juga akan bisa mendatangkan perubahan yang baik.

“Rumus menjadi pahlawan itu sederhana, kalau hatinya bersih, tidak punya semangat memiliki yang bukan miliknya. Orang hidup harus mampu menghidupkan orang lain,” tambahnya lagi.

Usai orasi, Zawawi membacakan puisinya untuk Tjokro yang 4 lembar itu, kemudian dilanjut pemaparan oleh sejarawan Prof. Anhar Gonggong. Acara ini dimoderatori oleh Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo Abubakar.

110 Tahun SDI, Kebangkitan Nasional Dimulai dari Sini

HMINEWS.Com – Yayasan “Rumah Peneleh” yang bergerak di bidang pemikiran Islam di Indonesia, khususnya pemikiran H.O.S Tjokroaminoto, mengadakan Sarasehan 110 tahun Syarikat Dagang Islam (1905-2015). Bertema “Kebangkitan Nasional Politik dan Bisnis Saudagar Muslim Indonesia.”

Sarasehan ini digelar di Pelataran Tugu Proklamasi, Cikini Jakarta Pusat, Jum’at (16/10/2015) malam. Dihadiri penyair budayawan Zawawi Imron dan sejarawan Anhar Gonggong, serta Ketua Rumah Peneleh, Aji Dedi Mulawarman.

Ketua penyelenggara, Azwar Muhammad, menyatakan bahwa acara ini sebagai upaya untuk membaca ulang sejarah kebangkitan nasional, yang dimulai dari pendirian SDI pada tahun 1905 di Solo, yang pada perjalanan berikutnya di bawah kepemimpinan Cokroaminoto menjadi Sarekat Islam (SI).

Sebagai sejarawan, Prof. Anhar Gonggong tidak menyalahkan inisiatif seperti ini, justru ia membenarkannya.

“Pemerintah tentukan itu (Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei), itu haknya dia. Tapi kita punya  hak juga kita mengatakan yang lain tanpa mengatakan itu salah. Jangan mengatakan bahwa 20 Mei itu salah, oleh karena itu anda memperingati itu,” ungkapnya.

Ia mengingatkan, tiap tanggal 20 Mei selalu ada protes mengapa yang dijadikan acuan adalah Budi Utomo yang lahir belakangan, yaitu pada 1908.

“Kalau itu yang dipersoalkan tidak akan pernah selesai, masing-masing punya kekuatan argumen. Oleh karena itu kita peringati saja ini sebagai bagian daripada bagaimana tokoh Tjokro membawa SI kemudian menjadi SII 1927 kemudian menjadi Partai. Dari Sarekat Dagang menjadi Sarekat Islam, menjadi Sarekat Islam Indonesia 1927 baru kemudian menjadi partai dan merupakan partai pertama yang menghendaki kemerdekaan,” paparnya.

Lebih penting daripada perdebatan itu, lanjutnya, adalah bagaimana mengambil pelajaran dari para pemimpin bangsa itu dan kiprah mereka.

“Mengapa ada orang seperti Tjokro, Hatta, Sukarno, Sahrir dan segala macam dalam masa pergerakan itu. Ada istilah dari presiden kita sekarang sewaktu kampanye, revolusi mental, kita merdeka dari revolusi mental itu. Tetapi para pemimpin memulainya dari diri sendiri dulu. Sukarno itu insinyur, Hatta anak orang kaya. Kalau dia mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial belanda, akan dapat hidup enak. Kenapa tidak mau melakukannya, karena ia merevolusi mental dirinya sendiri dulu. Baru setelah itu ia melangkah menjadi pemimpin. Dan ia tahu risikonya; masuk penjara. Kalau tidak tahu risikonya ngapain maju ia. Sama dengan Cokro, Pak Jokowi melontarkan ide itu tapi tidak ada revolusi mental yang terjadi sekarang,” Prof. Anhar Gonggong melanjutkan.

Setelah merevolusi diri, baru menciptakan alat untuk merevolusi bangsanya. Jadi SI itu alat kegiatan untuk rakyat menyadari bersedialah berjuang meraih kemerdekaan. Landasan pikirnya seperti itu. Karena yang ‘menciptakan’ Indonesia adalah orang-orang yang berilmu, tidak sekedar berilmu, tapi sekaligus tercerahkan, karena itu mereka mampu melampaui dirinya.