Alwi Shahab: Masid-masjid di Menteng Karya HMI

HMINEWS.Com – Wartawan senior Alwi Sahab menyambut kunjungan Pengurus Besar HMI MPO di kantor redaksi Republika, Rabu (11/11/2015). Langkahnya yang tertatih tak menghalangi semangatnya untuk berbagi pengalaman kepada generasi muda, khususnya kader HMI.

Begitu masuk ruang redaksi, personel PB HMI menyambut dan memapahnya ke tempat duduk. “Saya sengaja datang karena mendengar ada kunjungan HMI,’ ujar pria sepuh yang mengawali karirnya sebagai wartawan saat usianya mendekati 20.

Alwi Sahab mengaku, kenangan dengan HMI yang paling membekas baginya adalah saat terjadi upaya pengganyangan HMI oleh PKI, yang dipimpin langsung oleh Ketua CC PKI, DN Aidit, yang terkenal dengan ungkapannya kepada kader CGMI atau PKI, ‘Jika tidak bisa membubarkan HMI, lebih baik kalian pakai sarung saja!.”

“Saya ingat betul bagaimana bersemangatnya Aidit Waktu itu di hadapan Bung Karno untuk mengganyang HMI,” tambahnya.

Ia pun menceritakan bagaimana militannya kader-kader HMI menghadapi ancaman PKI yang begitu gencar waktu itu. Bahkan setelah terbunuhnya sejumlaah jenderal Angkatan Darat, HMI makin memantapkan sikap untuk membubarkan PKI. Dalam rangka ini banyak kader HMI memenuhi sekretariat PB di Jalan Diponegoro dan sekitarnya. Namun mereka kesulitan melaksanakan shalat sehari-harinya. Oleh karena itu HMI meminta pihak terkait agar gedung yang sekarang menjadi kantor BAPPENAS itu dijadikan masjid, akan tetapi ditolak.

Kemudian Istri Almarhum Jenderal Achmad Yani, Amelia, mempersikakan kader-kader HMI shalat di rumahnya di Jalan Latuharhary.

“Kalian harus ingat, di kawasan elit Menteng itu dulunya belum ada masjid, karena Belanda membangun kawasan itu sekaligus untuk program Kristenisasi. HMI lah yang berjasa atas adanya masjid-masjid di Menteng, seperti Masid Cut Mutia, Masjid Cut Nyak Dien, dan Masjid Sunda Kelapa,” ungkapnya.

Alwi yang hingga kini masih produktif menulis itu tak ragu menyebutnya sebagai masjid-masjid karya HMI.

Zawawi Imron: Generasi Muda Harus Belajar dari Sejarah!

HMINEWS.Com – Budayawan Zawawi Imron menyampaikan orasi dan membacakan puisinya khusus untuk H.O.S Tjokroaminoto dalam sarasehan 110 Tahun Sarekat Dagang Islam, yang diadakan oleh Yayasan Rumah Peneleh di Pelataran Tugu Proklamasi, Cikini – Jakarta Pusat.

Dalam orasinya, Zawawi mengingatkan agar generasi muda tidak sekedar menghafal atau mengingat sejarah Tjokro. Lebih dari itu, harus memberikan semangat dan peniruan kreatifitas dan karyanya yang luar biasa dan melampaui zaman.

“Ada orang yang belajar sejarah hanya mendapat abu-nya sejarah. Kenapa? Karena yang dipelajari hanya kaleidoskop, daftar-daftar tanggal yang berisi peristiwa, yang digali bukan apinya sejarah. Kenapa Pak Tjokro mau berjuang, kenapa Bung Karno rela ditahan, kenapa Pak Dirman dalam keadaan sakit paru-paru tinggal satu diusung dari Jogja-Kediri kemudian balik lagi, terus berjuang? karena beliau punya ati macinnong (istilah Bugis), hati yang bersih, yang di dalamnya tidak lain adalah semangat sejarah,” papar Zawawi, Jum’at (16/10/2015) malam.

Menurutnya, meremehkan sejarah akan mebuat kita bingung membangun masa depan, sebab sejarah masa lalu itu dijadikan guru untuk diambil semangatnya guna membangun hari esok.

“Sebab satu hari saja bagi seorang pahlawan itu seribu hari bagi orang yang bukan pahlawan yang sama sekali tidak pernah berjuang bagi tanah airnya. Sebagaimana ucapan Iqbal ‘Sehari usia singa di rimba, seratus tahun usia domba.’ itu perbedaannya. Sehari dalam kehidupan Sukarno, dalam kehidupan Tjokroaminoto, dalam kehidupan Haji Agus Salim, dalam kehidupan Bung Hatta, dalam kehidupan Diponegoro, sehari saja, itu sama dengan seratus tahun orang yang sama sekali tidak berjuang untuk tanah airnya. Jadi, bahaya tidak mengenal sejarah, karena tidak mengenal keteladanan yang baik,” lanjutnya panjang lebar.

Ia juga mengatakan, semangat keindonesiaan itu sangat kaya . Orang Melayu punya (pepatah) “belakang parangpun kalau diasah jadi tajam”, demikian pula kita bila sungguh-sungguh meneladani para pahlawan itu, maka juga akan bisa mendatangkan perubahan yang baik.

“Rumus menjadi pahlawan itu sederhana, kalau hatinya bersih, tidak punya semangat memiliki yang bukan miliknya. Orang hidup harus mampu menghidupkan orang lain,” tambahnya lagi.

Usai orasi, Zawawi membacakan puisinya untuk Tjokro yang 4 lembar itu, kemudian dilanjut pemaparan oleh sejarawan Prof. Anhar Gonggong. Acara ini dimoderatori oleh Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo Abubakar.