Buku Kapita Umar Shihab Inspirasi dari Banyak Tokoh

bukuHMINEWS.Com – Menurut Prof. Dr. Umar Shihab, inilah orang-orang besar yang menginspirasinya menulis buku Kapita Selekta Mozaik Islam. Sebagaimana ia tulis dalam kata pengantar, pertama ada Dr. Mohammad Natsir (Ketua Masyumi), yang pernah memberinya buku ‘Capita Selecta’-nya yang terkenal itu dikala Umar Shihab masih SMA.

Di waktu itu Umar Shihab remaja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan tokoh yang pernah memimpin suatu partai yang mempersatukan semua partai Islam di Indonesia. “Saya yang saat itu masih kelas 2 SMA, memang memiliki cita-cita menjadi orang pandai. Seraya tersenyum, Pak Natsir megnatakan ‘Kamu harus banyak membaca dan belajar dari Abah, karena beliau orang alim!” tulisnya di paragraf pertama buku ini.

Buku Capita Selecta pemberian Pak Natsir itu ia baca halaman demi halaman, hingga akhirnya timbul harapan untuk bisa membuat buku seperti itu. “Tahun demi tahun harapan itu terngiang selalu, bahkan hingga saat setelah sarjana, sewaktu saya belajar di Kairo. Kini, setelah lebih dari lima dekade, keinginan saya untuk memebuat karya seperti Pak Natsir akhirnya dapat terwujud. Buku dengan judul Kapita Selekta Mozaik Islam ini tidak lain adalah terinspirasi dari karya Pak Natsir di atas.”

Kemudian ada tokoh Buya Hamka, yang pertama jumpa di Masjid As-Sa’id guna menghadiri perayaanMaulid Nabi. Buya sengaja diundang oleh Prof. Abdurrahman Shihab, ayah Umar Shihab, untuk berceramah.

Buya memberikan contoh toleransi dalam perbedaan sesama muslim, yaitu beliau ikut berdiri saat pembacan Maulid. Sedangkan dalam ceramahnya Buya Hamka mengajak hadirin pada persatuan Islam dan tidak mudah terpancing dan terprovokasi menanggapi isu-isu khlafiyah.

“Beliau menyebut bagaimana sikap Syafi’i saat berada di Baghdad, di mana mayoritas masyarakat muslim di sana penganut Hanafi. Wkatu salah subuh, Imam Syaafi’i tidakqunut. Orang bertanya, ‘Mengapa Anda tidak qunut?” Imam menjawab, “Aku menghormati penghuni kuburan di situ;” maksudnya adalah menghormati Abu Hanifah.”

Berturut-turut, tokoh lain disebutkan ada Abu Bakar Atjeh, Ustad Husain al-Habsyi pendiri Pesantren YAPI Bangil, Abdul Ghafar Ismail ayah dari Taufiq Ismail, yang dikenal sebagai mubalig ulung, yang juga dijuluki ‘pencerah qalbu.’ Ada pula A.R Baswedan,  yang pernah mendirikan Partai Arab Indonesia, serta K.H Saefuddin Zuhri, Menteri Agama di era Sukarno.

Semua tokoh tersebut juga menggambar beragamnya corak Islam di Indonesia, yang dengan demikian membuat Umar Shihab untuk berpandangan terbuka dan bisa menerima berbagai perbedaan itu sebagai suatu kekayaan atau khazanah yang patut dipelihara. Hal itu juga tak lepas dari corak yang diwariskan sang ayah, Prof. Abdurrahman Shihab, yang pada masanya merupakan tokoh yang dekat dengan semua kalangan.

Adapun buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama Tafsir Al Qur’an, yang membahas seputar orisinalitas Al Qurna, signifikansi dan relevansi aspek sosio-historis dalam penafsiran Al Qur’an, tafsir tematik, titik temu ijtiha dan tafsir.

Bagian dua membahas Ijtihad dan isu-isu kontemporer, perbedaan pendapat dan cara menyikapinya, dimanika sosial, signifikansi Islam terhadap perubahan perilaku dan pola pikir, dunia modern dan tantangannya terhadap Islam, serta manusia, hak asasi serta probelamtikanya.

Bagian tiga mengulas Hukum Islam dan Tantangan Zaman, meliputi hukum dalam ranah ibadah, pidana, perdata dan lainnya. Seputar pembaharuan hukum, orientasi hukum dalam Islam, serta fleksibiltas hukum dalam Al Qur’an. Buku setebal 464 halaman ini diberi pengantar oleh Din Syamsuddin.

Milad ke-75, Umar Shihab Luncurkan Buku

B0LsTvyCUAAKF0H
Prof. Dr. Umar Shihab memberikan buku kepada beberapa tamu kehormatan (foto: @khoirondurori)

HMINEWS.Com – Di usianya yang ke-75, Prof. Dr. Umar Shihab menerbitkan sebuah buku yang telah lama diidamkannya. Buku yang merupakan inspirasi dari sejumlah tokoh nasional yang pernah bertemu dan mewarnai corak keberagamaan sang professor.

Peluncuran buku digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014) malam. Dihadiri ratusan orang, termasuk sejumlah tokoh nasional seperti mantan Wapres Tri Sutrisno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan KH Ma’ruf Amin.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pertama dekat dengan Prof. Umar Shihab sewaktu sama-sama satu komisi DPR RI tahun 99 dan membahas Undang-undang, khususnya Undang-undang tentang penyelenggaraan haji dan undang-undang zakat. Saat itu Lukman Hakim Saifuddin pernah lebih dahulu berbicara, di forum, kemudian, Prof. Umar Shihab berbicara setelahnya, yang menyampaikan hal yang berbeda. Dengan itu ia pun mengetahui bagaimana keluasan ilmu Prof. Umar Shihab, sehingga..

“Sejak itulah saya kemudian tidak berani berbicara sebelum beliau bicara,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Din Syamsuddin, yang juga menyinggung apa yang ditulisnya dalam pengantar buku, menyampaikan tentang toleransi dan tafsir kontekstual atas problematika kontempores.

“Tasir semacam ini sejalan dengan ijtihad yang berfungsi sebagai instrumen yang dapat mengantisipasi sekaligus memberikan solusi bagi segala persoalan kemasyarakatan dalam dunia islam. Dua senjata intelektual Islam inilah, tafsir kontekstual dan ijtihad yang nantinya menghasilkan produk hukum maupun kebijakan yang menjadi jawaban bagi beragam persoalan yang datang,” ungkapnya.

Din juga menyinggung dinamika sunni-syiah, yang timbul pasca wafatnya Rasulullah. Untuk itu, ia mengajak, agar umat muslim Indonesia menyikapinya dengan arif, dan sebaiknya memakai ‘standar minimal’ dalam menilai keislaman seseorang, yaitu pengakuan atau persaksiannya terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini saja seharusnya bisa mencegah sesama muslim dari permusuhan.

Dari sekitar duaratus lebih hadirin, sebagian di antaranya merupakan masyarakat keturunan Arab. Di akhir acara, KH. Ma’ruf Amin membawakan doa untuk bangsa, para hadirin dan khususnya yang tengah berulang tahun ke-75, yaitu Prof. Dr. Umar Shihab sendiri. Seluruh peserta yang datang mendapatkan buku yang dicetak penerbit Mizan tersebut.