Konferensi Terlama HMI Yogya telah Usai, Makruf Riyanto Terpilih

makrufHMINEWS.Com – Setelah melalui dinamika yang cukup alot dan proses yang lumayan panjang, 12 hari, akhirnya Konferensi ke-64 HMI (MPO) Cabang Yogyakarta selesai.

Konferensi kali ini merupakan yang terlama sepanjang sejarah HMI Cabang Yogya, dan pelaksanaannya pun sempat berpindah tempat hingga empat kali. Pertama pembukaan dan demisionernya jajaran pengurus cabang yang diketuai Muhtar Nasir, pada 16 Januari 2015 di SCC UII di Jalan Kaliurang.

Kedua di kantor Sekretariat Bersama LEM UII, lalu di Aura Darul Hira di Jalan Maguwoharjo, dan terakhir di Asrama Merapi Singgalang di Jalan Magelang.

Formatur terpilih adalah Makruf Riyanto yang sebenarnya masih menjabat Ketua HMI Korkom UII. Ia mahasiswa Fakultas Ekonomi salah satu universitas tertua dan yang menjadi tempat lahirnya HMI tersebut.

Beberapa kandidat lain seperti Noviyanti, merupakan satu-satunya orang yang dicalonkan oleh rekan-rekannya sejak awal. Namun jalannya konferensi menjadikannya menjadi mide formatur bersama Rusdiyanto dan M Quthub (UIN Sunan Kalijaga) serta Muhibbuddin AM (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Mide formatur ini dipilih sebelum pemilihan formatur.

Harun Aroni

Pemuda Yogya Menolak Premanisme

HMINEWS.Com – Sekitar 100 massa yang menamakan Pemuda Yogyakarta menggelar aksi damai menolak segala bentuk kekerasan dan premanisme. Massa dari berbagai elemen tersebut berharap segala kasus kekerasan dan premanisme segera diselesaikan secara hukum tanpa intervensi kelompok.

Aksi dimulai pada pukul 15.30 di Tugu Yogyakarta, kemudian massa bergerak menuju DPRD Yogya dengan berjalan kaki secara tertib. Arus lalu lintas di Jalan P Mangkubumi dan Jalan Malioboro sempat macet akibat aksi tersebut.

“Kami Pemuda Yogyakarta mengajak masyarakat memperteguh Yogyakarta sebagai daerah tanpa kekerasan. Yogya bukan daerah premanisme,” kata koordinator aksi, ‘Mas Gosong’ berorasi, Ahad (7/4/2013).

Aliansi pemuda yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Yogya (Himayo), FKPPI, Rembuk Community, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), klub motor Megapro, Supra, dan lainnya tersebut juga mengapresiasi keberanian Kopassus memberangus preman yang dinilai meresahkan warga Yogya, meski tindakan Kopassus tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.

Massa menyayangkan negara yang seolah tak berdaya menghadapi maraknya tindakan premanisme yang memicu keresahan dan balas dendam.

Aksi berakhirdi DPRD Provinsi DIY dengan doa bersama para budayawan Yogyakarta dan tabur bunga di depan patung Jendral Sudirman. Terakhir, elemen massa menegaskan Yogyakarta masih dan tetap dan nyaman untuk ditinggali atau dikunjungi.

Harun Aroni